Sabtu, 10 Desember 2011

Novelet Cinta Sang Sufi

Nur ad-Din Abd ar-Rahman Jami (Persian; August 18, 1414 – November 19, 1492) Kata-kata diatas merupakan prolog darinovel Yusuf Zulaikha karya Abdurrahman Jami,. Bagi anda yang suka novel, ini sebuah karya menarik. Yusuf dan Zulaikha judulnya.Novel ini memang beda dengan kebanyakan novel yang ada.



Isinya mengandung unsur-unsur sufistik seperti karya Fariduddin Atthar. Karya dari Hakim Al Jami ini, menjadi bacaan yang memikat dengan bahasa yang indah.Yusuf Zulaikha telah diterjemahkan di berbagai negara dan mendapatkan respon yang luar biasa.

Menurut Ralph T.H Griffith, salah seorang penterjemah karya Jami dari bahasa Persia kepada bahasa Inggris memujinya dengan mengatakan bahwa Jami boleh dikatakan sebagai penyair agung terakhir yang pernah dilahirkan Persia. Jami telah menghabiskan usianya dengan belajar dan sastra dan menghasilkan sekurang-kurangnya 50 puisi,tata bahasa, teologi yang mana masih dibaca dan dikagumi di dunia barat. penghargaan terhadap karya Al Jami juga ada di India. Karya-karya sufi ini menjadi bacaan wajib bagi mereka yang ingin belajar bahasa Persia. Di Eropa, karya Jami juga diberi penghargaan tinggi. Sehingga seorang karyawan Eropa pernah berkata” Puisi Jami tentang cinta Yusuf a.s dan Zulaikha adalah salah satu komposisi terhebat yang patut dan selayaknya diterjemahkan kepada setiap bahasa yang ada di Eropa.”
Siapakah Abdurahman sehingga mempunyai kemasyhuran yang luar biasa. Al Jami bernama lengkap Nuruddin Abdurrahman Al-Jami. Dia adalah satu di antara sejumlah orang genius dari Persia. dalam sebuah biografinya di kitab Rasyah-i bal fi Syarh-i hal menyebutkan lahir pada 817 H. Ada juga yang menyebutkan dilahirkan di Kharjad pada 1414 M (817 H) dan wafat di Herat pada 1492 M (898 H). dalam kitab tersebut disebutkan bahwa al Jami dikirim ke sekolah ketika usianya masih kanak-kanak. Setelah memperoleh cukup pengalaman dalam membaca dan menulis ia mulai mempelajari Al Quran. setelah hafal kitab suci ini berlanjut dengan mempelajari tata bahasa, logika dan filsafat.
Setelah itu merampungkan pelajaran matematika, logika, filsafat. Akhirnya dikuasailah ilmu fiqih, tafsir dan hadist.



Jami lahir dari keluarga terpelajar dan soleh. Kakeknya dikenal sebagai seorang ulama yang masyhur di kota Isfahan yang kemudian pindah ke Khurasan. Ayahnya juga dikenal sebagai seorang ahli fiqih. Diantara guru-gurunya adalah Syeikh Sa’aduddin Kasyghari
dan Khwaja Ahrar. kedua gurunya ini yang paling berpengaruh dalam pemikiran sufisme al Jami. Keduanya berasal dari Tarekat Naqsyahbandiyah. Hubungannya dengan tarekat naqsyahbandi, ternyata terjalin sedari kecil. Dikisahkan oleh jami bahwa ketika masih umur 5 tahun, berjumpa dengan Khwaja Muhammad parasa, seorang ulama tarikat Naqsyhabandiyah. ulama tersebut memberikan gula-gula pada al Jami, yang hingga akhirnya terngiang hingga dewasa.

“Wujud Semesta tak lebih dari khayalan
Atau pantulan dalam cermin dan bayangan”

Ia merupakan salah satu mata rantai ajaran Ibn Arabi bagi tradisi sufi Persia. Dalam hal ini, perlu dicatat 3 karya penting yang membuatnya dianggap sebagai salah satu komentator (penafsir) ajaran Ibn Arabi, yakni Naqd al-Nushush fi Sharh Naqsy al-Fushush dan sebuah komentar berbahasa Persia dan Arab terhadap istilah-istilah sufistik Ibn Arabi dalam Fusus al-Hikam. Letak penting Jami, tenyata bukan hanya pada signifikansinya bagi perkembangan tasawuf di Persia, namun lebih dari itu, ternyata ia juga menjadi jembatan bagi tersebarnya ajaran Islam sufistik di Nusantara dan China. Di Nusantara, ajaran Jami masuk melalui tasawuf Hamzah Fansuri, Yusuf al-Maqassari dan Abdurrauf al-Singkel. Sedangkan di China, signifikansi pemikirannya baru saja tersingkap pada abad ke-21 ini oleh cendekiawan kontemporer Sachiko Murata, melalui penelitiannya terhadap dua karya berbahasa China yang banyak terpengaruh ajaran-ajaran sufistik Jami.

Karya al Jami sangat banyak. Ada yang menyebut 46 buah, tapi sumber mengatakan tidak kurang dari 90 buah buku dan risalah. Kebanyakan karya tulisnya berbicara dalam bidang tasawuf. Al jami juga menulis komentar tafsir atas sejumlah surah dalam Al-Qur’an, komentar terhadap 40 hadis dan hadis-hadis yang riwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari. Menulis juga tentang biografi Nabi Muhammad, biografi para sufi dan pengajaran mereka tentang para penyair, raja-raja, puisi, musik, dan tata bahasa Arab. Di antara karyanya, yang berbentuk prosa adalah Nafahat Al-Uns (hadiah-hadiah persahabatan), yang menyajikan biografi dan pengajaran para sufi. Juga Lawami’ (percikan cahaya-cahaya), yang merupakan komentar terhadap karya Ibnu Arabi.

Abdurahman Jami menjadi salah satu ikon dalam dunia sastra sufi. karya-karyanya sampai sekarang masih menjadi bahan kajian dan diterjemahan di berbagai negara. Tidak jarang karyanya banyak memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar