Sabtu, 10 Desember 2011

Khauf

Allah swt, benar-benar memberi anugerah kepada orang-orang yang takut Kepada-Nya, berupa hidayat, rahmat ilmu dan ridha, Itu sudah cukup bagi Anda.

Allah Swt. berfirman: “... petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya....” (Q.s. Al-A’raaf: 154).
Firman-Nya, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Q.s. Fathir: 28).

”Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.s. Al-Bayyinah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda, “Induk hikmah itu adalah rasa takut kepada Allah.”
Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang takut kepada Allah Swt, segala sesuatu takut kepadanya. Dan barangsiapa yang takut kepada selain Allah, Allah menjadikannya takut kepada segala sesuatu.”
Sabda Rasulullah Saw: “Dalam Hadis Qudsi Allah Swt. berfirman, ‘Demi Kegagahan dan Keagungan-Ku, Aku telah mengaruniakan dua bentuk rasa takut kepada hamba-Ku secara bersamaan, dan tidak mengaruniakan dua bentuk rasa aman secara bersamaan. Karena itu, bila ia merasa aman dari (sanksi)-Ku di dunia, maka Aku jadikan ia takut pada hari Kiamat. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Kujadikan ia aman pada hari Kiamat.”

Esensi Khauf
Esensi rasa takut (khauf) adalah rasa pedih dan terbakarnya hati disebabkan oleh kejatuhannya pada situasi yang dibenci pada masa yang akan datang. Rasa takut itu dapat bersumber dari mengalirnya dosa-dosa yang tiada pernah berhenti. Adakalanya, rasa takut kepada Allah Swt. itu bersumber dari ma’rifat terhadap sifat-sifat-Nya. Ini benar-benar khauf paling sempurna, karena orang yang mengenal Allah, pasti takut kepada-Nya.

Karena itu, Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Q.s. Fathir: 28).

Allah Swt. telah menurunkan wahyu kepada Nabi Daud As, “Takutlah kepada-Ku seperti kamu takut pada binatang buas!”

Itulah sebabnya Rasulullah Saw. bersabda, ”Aku adalah orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah swt.”

Orang yang terjerat di sarang binatang buas, tidak akan merasa takut kepadanya, kalau ia tidak tahu akan sifat binatang tersebut. Orang yang tahu persis terhadap binatang buas, bahwa binatang itu pasti membinasakan, jika ia meninggalkannya, sudah barang tentu tidak akan mendekati dan menyenanginya.

Merupakan tindakan hina baginya menyayangi binatang buas itu, karenanya ia pasti merasa takut kepadanya. “Dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Namun orang yang tahu bahwa andaikata Dia telah membinasakan orang-orang terdahulu dan yang kemudian, tidak sedikit pun dari kekuasaan-Nya yang berkurang.

Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah, ‘Maka siapakah (gerangan) yang.dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al-Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?”(Q.s. Al-Maidah: 17).

Berapa banyak hamba-hamba-Nya yang telah dibinasakan di dunia, dan telah ditampakkan aneka ragam siksa kepada mereka tanpa ampun dan rasa belas kasih. Sekalipun tidak demikian, Dia itu tetap harus ditakuti. Kenal akan rasa keagungan dan kegagahan Allah Swt. melahirkan rasa takut yang dahsyat (haibah). Inilah rasa takut yang sempurna.

Terapi pencapaian khauf ada dua tahapan; satu diantaranya adalah ma’rifat terhadap Allah. Ma’rifat ini pasti menyebabkan khauf Orang yang terjerembab ke sarang binatang buas, dimana ia telah tahu dan kenal terhadap binatang itu, tidaklah butuh terapi khusus agar ia menjadi takut pada binatang itu.

Begitupun dengan orang yang kenal akan keagungan dan keperkasaan Allah Swt, bahwasanya Dia itu telah menciptakan surga berikut penghuninya dan menciptakan api neraka berikut penghuninya, serta telah menetapkan kebahagiaan dan kesengsaraan setiap orang secara benar dan adil, yang tidak dapat diubah oleh siapa pun, atau disimpangkan dan ketentuan azali-Nya. Seseorang tidak tahu ketetapan qadha’-Nya dan ketetapan akhir kehidupannya, sementara ia dibebani pikiran, jangan-jangan kesengsaraan abadi ada padanya. Maka persepsi rasa takut tidak perlu dihadirkan lagi, karena ia sudah pasti takut.

Bagi orang yang tidak mampu menembus hakikat ma’rifat, terapinya adalah melihat, menyaksikan, memperhatikan dan menyimak perihal orang-orang yang takut (al-khaufun). Manusia yang paling takut kepada Allah ialah para Nabi, wali, ulama dan ahlul bashirah. Sedangkan manusia yang paling merasa dirinya aman dari ancaman Allah adalah orang-orang lalai, pandangan mereka tidak ke masa lampau, tidak pula ke masa depan, serta tidak mengarahkan pandangannya untuk mengenal Allah Swt.

Hal ini sama dengan anak kecil. Dia tidak akan merasa takut pada ular, kalau tidak pernah melihat ayahnya takut dan lari dari ular, serta ketakutan bila melihat ular. Anak kecil itu melihat ayahnya, lalu menirunya dan merasa takut pula, walaupun ia tidak tahu benar tentang sifat-sifat ular. Rasulullah saw. telah bersabda, “Malaikat Jibril tidak pernah datang kepadaku, kecuali rasa takutnya terhadap api neraka bergemuruh.”
Dikatakan, ketika tragedi menimpa iblis, maka Jibril dan Mikail menangis. Lalu Allah menurunkan wahyu kepada mereka berdua, “Mengapa kamu berdua menangis?”
“Tuhan, kami tidak dapat aman dari azab-Mu, jawab mereka.
“Demikianlah, jadilah kalian berdua tidak aman dari azab-Ku!”
‘‘Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” (Q.s. Al-A’raaf 99).

Ketika Allah menciptakan api neraka, hati para malaikat terbang dari tempatnya, kemudian kembali lagi ketika Allah menciptakan Adam As. Gemuruhnya hati Nabi Ibrahim as. ketika salat terdengar dari jarak satu mil.
Nabi Daud As. tetap sujud selama empatpuluh hari tanpa mengangkat kepalanya, hingga air mata beliau dapat menumbuhkan rumput.

Abu Bakar As-Shiddiq ra, pernah berkata kepada seekor burung, andaikata aku sepertimu wahai burung, dan aku tidak pernah menjadi makhluk?”
Abu Dzar ra pernah juga berkata, ”Aku suka andaikata aku adalah pepohonan yang dipotong-potong.”
Aisyah ra berkata, ”Aku suka andaikata aku menjadi barang yang tidak berarti dan dilupakan.”
Dalam Bab “Al-Khauf”, kami telah menuturkan perihal orang-orang yang takut (al-khaufun). Karenanya, orang yang belum mencapai puncak ma’rifat hendaklah merenungkan perihal para Nabi, para wali dan orang-orang yang arif; agar dia tahu, bahwa dia lebih berhak merasa takut daripada mereka. Kemudian jika ia benar-benar merenungkan hal itu, niscaya rasa takut itu menguasainya.

Khauf merupakan cambuk yang menggiring seorang hamba pada kebahagiaan. Tidak seharusnya takut itu diabaikan, hanya karena putus asa. Tindakan itu merupakan perilaku yang tercela. Bahkan ketika khauf menguasainya, harus dicampur dengan rasa harap (ar-raja’).

Benar, rasa takut itu harus dikuasai rasa harap, selama seorang hamba masih dekat dengan dosa-dosa.
Sementara orang yang patuh, semata menyendiri bersama Allah, rasa takut dan rasa harapnya harus seimbang. Sebagaimana Umar ra pernah berkata, ”Andaikata seluruh manusia dipanggil untuk masuk surga, kecuali satu orang; maka aku khawatir orang itu adalah aku. Dan andaikata seluruh manusia dipanggil untuk masuk ke dalam api neraka, kecuali satu orang, maka aku berharap orang itu adalah aku.”
Namun apabila mendekati maut, ar-raja’ dan baik sangka (husnudzan) terhadap Allah lebih utama baginya.
Rasulullah saw. bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka terhadap Tuhannya.”

Rasa harap berbeda dengan angan-angan. Orang yang tidak bercocok tanam dan tidak menaburkan benih, kemudian ia menunggu tumbuhnya tanaman, maka dia itu orang yang berangan-angan, yang tertipu dan bukan orang yang berharap. Orang yang berharap adalah orang yang bercocok tanam, mengairinya dan menaburkan benih, serta melakukan segala sesuatu yang merupakan faktor yang berkaitan dengan ikhtiarnya. Kemudian ia tinggal berharap, semoga Allah menjauhkan dan menghindarkan segala bentuk marabahaya, sehingga ia dapat menuai panennya.
Karena itulah Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Al-Baqarah: 218).

Jadi, buah rasa harap adalah kegairahan meminta dan memohon, sedangkan buah dan rasa takut adalah semangat untuk lari menjauh dari dosa. Orang yang mengharapkan sesuatu, ia berupaya dan memohonnya. Orang yang takut pada sesuatu, ia lari menjauh darinya. Tingkatan khauf yang terendah adalah segala sikap meninggalkan dosa dan berpaling dari dunia. Segala hal yang tidak mendorong terhadap sikap yang demikian itu, merupakan ucapan nafsu dan bisikan-bisikan yang tidak bermanfaat yang serupa dengan belas kasih seorang wanita, yang tidak membuahkan apa pun. Bahkan khauf yang sempurna dapat membuahkan perilaku zuhud di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar