Sabtu, 10 Desember 2011

Kefakiran

Syeikh Abul Qosim Al-Qusyairi
Allah Swt berfirman: “(Infaq itu) untuk orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena (mereka) memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (Q.s. Al-Baqarah: 273).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi saw telah bersabda :
“Orang-orang miskin akan memasuki surga limaratus tahun sebelum orang-orang kaya. (Limaratus tahun itu) sama dengan setengah hari (surga).” (H.r. Tirmidzi).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw telah bersabda:
“Orang miskin itu bukanlah dia yang berkeliling ke sana kemari dengan harapan diberi orang sesuap dua suap, sebutir atau dua butir kurma. “ Seseorang bertanya, “Kalau begitu, siapakah orang miskin itu wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Dia adalah orang yang tidak menemukan kepuasan atas kekayaannya, dan malu minta manusia, tidak pula orang banyak mengetahui hal ihwal mereka hingga mereka bisa diberi sedekah.” (H.r. Ahmad).

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkomentar, tentang ucapan Nabi saw, “dan malu meminta,”artinya adalah bahwa mereka malu kepada Allah swt. untuk meminta-minta dari orang banyak, bukan malu kepada manusia.

Kefakiran adalah simbol para wali dan hiasan para Sufi, pilihan Allah swt. pada orang takwa pilihan dan para Nabi. Sedangkan para Sufi fakir merupakan pilihan Allah swt. bagi hamba-hamba-Nya. Mereka adalah pengemban rahasia-rahasia-Nya di antara para hambaNya, yang dengan mereka Dia menjaga para makhluk dan dengan keberkatan mereka rezeki disebarkan di kalangan manusia.

Orang-orang fakir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah swt. pada Hari Kebangkitan, seperti dikatakan dalam hadis riwayat Umar bin Khathab r.a, yang mengatakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda, “Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai orang-orang miskin. Kaum fakir yang sabar akan menjadi sahabat-sahabat Allah Swt. pada Hari Kebangkitan.” (H.r. Ibnu Laal, dari Ibnu Umar).

Diceritakan bahwa seorang laki-laki membawa.kan uang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Ibrahim bin Adham, tetapi Ibrahim tidak menerimanya dan berkata, “Engkau mau menghapus namaku dari daftar orang-orang miskin dengan uang sepuluh ribu dirham! Aku tidak akan menerimanya!”
Mu’adz an-Nasafi menegaskan, “Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum, apa pun kejahatan yang mereka lakukan, kecuali jika mereka merendahkan dan menghina kaum miskin.

“Dikatakan, manakala para fakir tidak memiliki kebajikan lain dalam pandangan Allah selain keinginan mereka agar rezeki dilimpahkan dan dimurahkan di kalangan kaum Muslimin, niscaya itu sudah cukup bagi mereka, sebab mereka perlu membeli barang-barang dan orang-orang kaya perlu menjualnya. Begitulah halnya dengan kaum miskin yang awam, maka bagaimana pula halnya dengan kaum yang terpilih di kalangan mereka?
Ketika Yahya bin Mu’adz ditanya tentang kefakiran, dia menjawab, “Hakikat kefakiran adalah bahwa seseorang tidak butuh lagi selain Allah, clan tanda kefakiran adalah tidak adanya harta benda.”

Ibrahim al-Qashshar mengatakan, “Kefakiran adalah pakaian yang mewariskan ridha, apabila fakir memakainya.”
Seorang fakir dari Zauzan datang kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq pada tahun 394 atau 395 Hijriyah. Dia memakai pakaian yang terbuat dari kain yang sangat kasar dan kopiah dari kain yang sama. Salah seorang sahabat syeikh itu bertanya dengan nada bergurau, “Berapa harga pakaianmu ini?” Dia menjawab, “Aku membayarnya dengan dunia ini, dan akhirat ditawarkan kepadaku untuk ditukar dengannya. Tapi aku tidak akan menjualnya dengan harta tersebut.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq menuturkan, “Suatu ketika seorang miskin mendatangi sebuah pertemuan untuk meminta sedekah, seraya berkata, ‘Saya sudah tiga hari tidak makan.’ Salah seorang syeikh yang hadir di situ berkata, ‘Engkau dusta! Kemiskinan adalah rahasia Tuhan. Dia tidak mempercayakan rahasia-Nya kepada orang yang memamerkannya kepada siapa pun yang dikehendakinya’!”

Hamdun al-Qashshar menyatakan, “Manakala iblis dan tentaranya berkumpul, mereka tidak bergembira sebagaimana kegembiraan mereka yang disebabkan tiga hal: seorang Muslim membunuh sesama Muslim, seseorang yang mati dalam keadaan kafir, dan sebuah hati yang menyimpan ketakutan pada kemiskinan.”

Al Junayd berkata, “Wahai orang-orang fakir, kamu semua dijadikan terkenal oleh Allah swt. dan dihormati karena-Nya. Tetapi perhatikanlah bagaimana keadaanmu manakala kamu berada sendirian bersama-Nya.” Al-Junayd ditanya, “Keadaan manakah yang lebih baik: miskin dan bergantung pada Tuhan, ataukah dijadikan kaya oleh-Nya?” Dia menjauvab, “Jika kemiskinan seseorang adalah shahih, maka kekayaannya adalah shahih di sisi-Nya. Jika kekayaannya di sisi-Nya adalah shahih, maka kemiskinan dan ketergantungannya pada-Nya juga tersempurnakan. Janganlah bertanya, ‘Manakah yang lebih baik?’ sebab keduanya. adalah keadaan yang salah satunya tidak akan lengkap tanpa yang lain.”

Ruwaym ditanya tentang tanda seorang miskin, “Miskin berarti menyerahkan jiwa kepada ketentuan-ketentuan Allah swt.” Dikatakan pula bahwa ada tiga tanda seorang miskin: dia melindungi batinnya, dia melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya,dia menyembunyikan kemiskinannya.

Seseorang bertanya kepada Abu Sa’id al-Kharraz, “Mengapa kemurahan hati orang kaya tidak sampai kepada orang miskin?” Dia menjawab, “Karena tiga alasan: kekayaan mereka didapatkan dengan jalan yang tidak halal, mereka tidak dimampukan untuk memberi sedekah, dan penderitaan orang miskin itu memang dikehendaki. ” Dikatakan bahwa Allah swt. mewahyukan kepada Musa as, “Jika engkau berjumpa dengan orang-orang miskin, tanyakanlah tentang mereka seperti engkau tanyakan kepada orang-orang kaya. Jika hal itu tidak engkau lakukan, maka campakkanlah ke tanah semua yang telah Ku ajarkan kepadamu.”

Diriwayatkan bahwa Abu Darda’ menegaskan, “Aku lebih suka jatuh dari tembok istana dan remuk daripada duduk bersama orang kaya, karena aku mendengar Rasulullah saw bersabda:
‘Waspadalah untuk duduk-duduk bersama orang mati!’ Seseorang bertanya, ‘Siapa orang mati itu?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang kaya.’ (H.r. Tirmidzi dan Hakim).”2’

Seseorang berkata kepada ar-Rabi’ bin Khaitsam, “Harga-harga telah naik!” Dia menjawab, “Kita tidak berharga untuk dibuat lapar oleh Allah. Dia hanya melakukan hal itu pada wali-wali-Nya.”

‘Dalam riwayat -Tirmidzi (kata aghniya’ sebagai ganti kata mauta) dalam bab al-Libas. Dan beliau menganggapnya hadis dha’if. Namun menurut al-Hakim, hadis tersebut shahih.
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Kami meminta kemiskinan tapi diberi kekayaan; orang lain meminta kekayaan tapi kemiskinan datang kepada mereka.”

Seorang laki-laki bertanya kepada Yahya bin Mu’adz, “Apakah kemiskinan itu?” Dia berkata, “Takut pada kemiskinan itu sendiri.” Orang itu bertanya lagi, “Lantas, apa kekayaan itu?” Dia menjawab, “Rasa aman di sisi Allah swt.”

Ibnul Kurainy berkata, “Orang miskin yang sejati menjauhi kekayaan agar kekayaan tidak mendatanginya dan merusak kemiskinannya, sebagaimana halnya orang kaya menjauhi kemiskinan agar kemiskinan tidak mendatanginya dan merusak kekayaannya.”
Abu Hafs ditanya, “Dengan cara apa orang miskin mendekati Allah swt.?” Dia menjawab, “Orang miskin tidak memiliki apa-apa selain kemiskinannya yang dengan kemiskinan itu dia mendekati Allah swt.”

Allah swt. mewahyukan kepada Musa as, “Maukah engkau memperoleh pahala amal kebajikan yang setara dengan pahala seluruh ummat manusia di Hari Kiamat nanti?” Musa menjawab, “Ya.”Allah swt. berfirman, “Kunjungilah orang sakit dan pastikanlah bahwa orang-orang miskin punya pakaian.”Musa lalu menyisihkan tujuh hari setiap bulan untuk mengunjungi orang-orang miskin dan memeriksa pakaian mereka serta mengunjungi orang sakit.

Sahl bin Abdullah menyatakan, “Ada lima mutiara jiwa: seorang miskin yang berpura-pura kaya, seorang lapar yang berpura-pura kenyang, seorangyang bersedih yang berpura-pura bahagia, seseorang yang punya musuh tapi memperlihatkan kecintaan terhadapnya, seseorangyang berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari tanpa memperlihatkan. kelelahan.”,

Bisyr ibnul Harits berkata, “Maqam yang paling baik adalah maqam keyakinan yang kokoh dalam kesabaran melalui kemiskinan sampai masuk liang lahat.”
Dzun Nuun mengatakan, “Satu tanda kemurkaan Allah kepada seorang hamba adalah bahwa si hamba merasa takut kepada kemiskinan.”

Asy-Syibly berkomentar, “Tanda kemiskinan yang paling kecil adalah jika seluruh kekayaan dunia ini diberikan kepada seseorang dan kemudian disedekahkannya sampai habis dalam waktu satu hari, tetapi kemudian terlintas dalam pikirannya untuk menyimpan hartanya bagi esok harinya. Yang demikan itu tidak bisa dianggap benar dalam kemiskinannya.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Orang bertanya mana yang lebih baik: kemiskinan ataukah kekayaan. Menurut pendapatku, yang paling balk adalah bahwa seseorang diberi rezeki yang cukup untuk menghidupinya dan dia lalu menjaga dirinya dalam batas tersebut.”

Ibnul Jalla’ ditanya tentang kemiskinan. Dia diam saja, kemudian mengundurkan diri dan pergi. Sesaat kemudian dia kembali dan berkata, “Aku punya empat keping mata uang itu. Aku malu kepada Allah swt. untuk membicarakan kemiskinan.” Kata Ibnul Jalla’, “Kemudian aku pergi dan mengeluarkan uang itu. Barulah aku berbicara tentang kemiskinan.”

Ibrahim ibnul Muwallad berkata, “Aku bertanya kepada Ibnul Jalla’, ‘Kapankah orang-orang miskin patut disebut miskin? Dia menj awab, ‘Jika tak ada lagi sesuatu pun darinya yang tersisa padanya.’ Ibrahim bertanya, ‘Bagaimana bisa begitu?’ Dia menjawab, ‘Jika dia memilikinya, berarti dia tidak memiliki kemiskinan. Tapi jika dia tak lagi memilikinya, berarti dia memiliki sebutan kemiskinan itu’.”

Dikatakan bahwa keadaan miskin yang benar adalah jika si miskin tidak merasa puas dengan aspek mana pun dari kemiskinannya selain dengan Dia yang dibutuhkannya.

Abdullah ibnul Mubarak menyatakan, “Membuat diri sendiri tampak kaya sedangkan la dalam keadaan miskin, adalah lebih baik daripada kemiskinan.”

Banan al-Mishry menuturkan, “Suatu ketika aku sedang duduk-duduk di Mekkah, dan seorang pemuda berada di depanku. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan membawa sebuah pundi-pundi berisi uang dan meletakkannya di hadapan pemuda itu. Pemuda itu berkata, ‘Aku tak membutuhkannya.’ Orang itu berkata, ‘Kalau begitu, bagi-bagikanlah kepada orang-orang miskin.’ Petang harinya kulihat pemuda itu ada di lembah sedang mengemis. Aku bertanya, Alangkah baiknya jika engkau menyimpan sedikit dari uang tadi untuk dirimu sendiri.’ Dia menjawab, ‘Siapa yang tahu kalau aku masih akan terus hidup sampai petang ini’?”

Abu Hafs berkata, “Cara yang paling baik bagi seorang hamba untuk menemui Tuhannya adalah dengan terus-menerus fakir kepada-Nya dalam setiap keadaan, mematuhi Sunnah dalam semua amal perbuatan, dan mencari rezeki dengan jalan yang halal.”

Al-Murta’isy berkomentar, “Yang paling baik adalah bahwa cita-cita orang miskin itu tidak melampaui langkah-langkahnya.” Ahmad bin Muhammad ar-Rudzbary menuturkan, “Ada empat orang yang merupakan model manusia pada masa mereka. Yang pertama, yaitu Yusuf bin Asbat, tidak mau menerima pemberian apa -pun dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Dia mewarisi uang sebanyak tujuh puluh ribu dirham dari saudara laki-lakinya tapi dia tak mau menerima satu sen pun darinya. la hidup dengan menjual daun kurma. Yang kedua, Abu Ishaq al-Fazzary, mau menerima pemberian dari saudara-saudaranya ataupun dari penguasa. Pemberian itu dihabiskannya untuk kebutuhan orang-orang miskin yang kemiskinannya tersembunyi dan yang tidak meminta-minta sedekah. Adapun pemberian dari penguasa, maka itu diberikannya kepada orang-orang yang patut menerimanya di kalangan warga Tarsus. Yang ketiga,Abdullah bin Mubarak, mau menerima pemberian dari saudara-saudaranya, lalu dibagi-bagikannya kepada orang lain secara adil, tetapi ia tidak mau menerima dari penguasa. Yang keempat, Makhlad bin al-Hussian, mau menerima pemberian dari penguasa, tapi tidak dari saudara-saudaranya. Dia mengatakan, ‘Penguasa tidak menganggap ada orang yang wajib untuk diberi, sedangkan saudara-saudara menganggap ada’.”

Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq - semoga Allah swt. merahmati - berkata, “Ada sebuah hadis yang mengatakan, ‘Orang yang merendahkan diri di hadapan orang kaya dikarenakan kekayaannya, berarti dia telah kehilangan dua pertiga agamanya.’ Ini disebabkan karena seorang manusia terdiri dari hati, lidah dan nafsu. Jika dia merendahkan diri dengan nafsu dan lidahnya, maka dia kehilangan dua pertiga agamanya. Tetapi jika dia merendahkan diri di hadapan orang kaya itu dengan hatinya juga, maka dia kehilangan seluruh agamanya.”

Dikatakan, “Seorang miskin dalam menjalani kemiskinannya dituntut paling tidak agar dia memiliki empat hal: ilmu yang akan menjadi pertimbangannya, sikap zuhud yang akan mengendalikan dirinya, keyakinan yang akan menguatkan imannya, dan dzikir yang akan membawakan kegembiraan jiwanya.”
Dikatakan juga, “Orang yang menginginkan kemiskinan untuk kemuliaannya, ia mati dalam keadaan fakir. Barangsiapa ingin miskin agar tidak disibukkan dengan selain Allah, akan mati dalam keadaan kaya.”

Al-Muzayyin menyatakan, “Berbagai jalan kepada Allah swt. lebih banyak daripada bintang di langit. Tetapi sekarang tak satu pun diantaranya yang tersisa selain kemiskinan, dan kemiskinan adalah jalan yang terbaik di antara jalan jalan itu.”
Ketika ditanya tentang hakikat kemiskinan, asy-Syibly menjawab, “Hakikat kemiskinan adalah bahwa si hamba tidak merasa puas selain Allah swt.”

Manshur bin Khalaf al-Maghriby menuturkan, “Abu Sah1 al-Khasysyab al-Kabir mengatakan kepadaku, ‘Kemiskinan adalah kemiskinan dan kehinaan.’ Aku menjawab, ‘Bukan, justru katakan, ‘Kemiskinan adalah kemiskinan dan kemuliaan.’ Dia balik berkata, ‘Kemiskinan dan lumpur.’ Aku membalas, ‘Bukan, kemiskinan dan tahta Ilahi’.”
Syeikh Abu All ad-Daqqaq berkomentar tentang hadis Nabi saw.:
“Hampi-hampir kefakiran itu menjadi kekufuran.” (H.r. Abu Nu’aim dan Thabrani).

Maka Syeikh mengatakan, “Bahaya yang bisa timbul dari sesuatu adalah berbanding terbalik dengan manfaat dan kebajikan yang terkandung di dalamnya. Apa pun yang sangat bermanfaat dalam dirinya sendiri, mengandung bahaya yang paling besar pada sisi lainnya. Begitulah halnya dengan iman. Karena ia adalah sifat yang paling baik, maka kebalikannya adalah kekafiran. Karena bahaya yang terkandung dalam kemiskinan adalah bahwa ia bisa menjadi kufur kepada Allah swt, menunjukkan bahwa kemiskinan adalah sifat yang paling mulia.”

Al Junayd mengajarkan, “Jika engkau bertemu dengan seorang miskin, hadapilah dia dengan budimu, bukan dengan ilmumu. Kebaikan budi akan mendekatkannya, sedang ilmu akan menakutkannya.” Saya bertanya, “Wahai Abul Qasim, apakah ilmu benar-benar menjauhkan orang miskin?” Dia menjawab, “Ya. Jika si orang miskin bersikap benar dalam kemiskinannya, dan engkau mencurahkan ilmumu kepadanya, maka ilmumu itu akan meleleh seperti melelehnya timah kena api’.”

Mudzaff’ar al-Qurmisainy berkata, “Orang miskin adalah orang yang tak membutuhkan suatu kebutuhan dirinya kepada Allah swt.” Ucapan ini mempunyai makna yang samar-samar jika dipahami oleh orang yang tak memahami tujuan sang Sufi. Ucapan ini semata-mata menunjukkan dihentikannya mengajukan tuntutan, berakhirnya pilihan, dan ridha terhadap apa pun yang ditakdirkan Allah swt.”

Abdullah bin Khafif mengatakan, “Kemiskinan berarti tidak memiliki harta benda dan meninggalkan aturan-aturan manusiawi.” Abu Hafs berkata, “Kemiskinan tidaklah sempurna bagi siapa pun sampai dia lebih mengutamakan memberi daripada menerima. Kemurahan hati bukanlah orang yang berpunya memberi kepada yang tidak punya, melainkan orang yang tidak berpunya memberi kepada orang yang punya.”

Ibnul Jalla’ menegaskan, “Seandainya tidak karena adanya tujuan lebih agung dalam tawadhu’, niscaya akan menjadi cara orang miskin untuk berjalan dengan sikap penuh kebanggaan.”
Yusuf bin Asbat berkata, “Selama empat puluh tahun aku hanya memiliki dua lembar baju.”
Salah seorang Sufi menuturkan, ‘Aku melihat seolah-olah Hari Kiamat sudah tiba. Sebuah suara mengatakan, ‘Bawalah Malik bin Dinar dan Muhammad bin Wasi’ ke dalam surga.’

Maka aku perhatikan siapa di antara keduanya yang lebih dahulu masuk, dan ternyata orang itu adalah Muhammad bin Wasi’. Ketika aku bertanya mengapa dia didahulukan, dijelaskan kepadaku, ‘Dia hanya memiliki selembar baju, sedangkan Malik dua’.”

Muhammad al-Masuhy berkata, “Orang miskin adalah orang yang tidak membutuhkan terhadap sesuatu pun bagi dirinya dari harta benda duniawi.”

Sahl bin Abdullah ditanya, “Kapankah orang miskin bisa beristirahat?” Dia menjawab, “Jika dia tidak mengharapkan apa pun bagi dirinya sendiri selain dari saat kekiniannya.”

Di hadapan Yahya bin Mu’adz, orang-orang Sufi berdiskusi soal kefakiran dan kekayaan, dia berkata, “Bukanlah kemiskinan atau kekayaan yang memiliki bobot di Hari Perhitungan. Hanya kesabaran dan syukurlah yang akan ditimbang. Jadi kelak akan dikatakan, ‘Orang ini bersyukur, atau orang ini bersabar’.”
Dikatakan, “Allah swt. mewahyukan kepada sebagian para Nabi-Nya, ‘Jika kamu ingin mengetahui ridha-Ku padamu, maka lihatlah bagaimana ridhanya si fakir kepadamu’.”

Abu Bakr bin Nashr az-Zaqqaq berkata, “Orang yang tidak punya rasa takut kepada Allah swt. bersama dengan kemiskinannya berarti seluruh makanan yang dikonsumsinya benar-benar makanan haram.”

Dikatakan bahwa orang-orang miskin di pengajian-pengajian Sufyan ats-Tsaury adalah laksana para pangeran. Abu Bakr bin Thahir menyatakan, “Di antara aturan-aturan orang miskin adalah bahwa dia tidak punya keinginan, kalaupun dia berkeinginan juga, jangan sampai keinginannya melebihi kebutuhannya.”
Ibnu Atha’ membacakan syair untuk para Sufi:
Mereka berkata, esok adalah hari raya.
Apa yang akan kau pakai? Kukatakan,
Jubah kehormatan yang diberi-Nya
yang mencurahkan cinta dengan penuh kemurahan hati. Kemiskinan dan kesabaran,
adalah pakaianku yang di bawahnya ada satu hati bagi kekasihnya, yaitu hari Jum’at dan hari Raya.

Pakaian yang paling layak untuk menemui Kekasih pada hari ziarah adalah pakaian yang dicintai-Nya.
Tahun-tahun penuh berkabung bagiku
jika Kau tak ada, wahai Harapanku,
Hari Raya adalah hari ketika
aku melihat dan mendengar suara-Mu.
Ketika ditanya tentang orang miskin sejati, Abu Bakr al-Mishry menjawab, “Dia adalah orang yang tidak memiliki sesuatu dan tidak pula berkeinginan memiliki sesuatu.”

Dzun Nuun al-Mishry berkata, “Aku lebih menyukai rasa fakir kepada Allah swt. secara langgeng, dibanding memasuki dunia Sufi dengan penuh takjub.”

Abu Abdullah al-Hushry menuturkan, “Abu Ja’far al-Haddad bekerja selama dua puluh tahun, dengan penghasilan satu dinar setiap hari. Uang itu dibelanjakannya untuk orang-orang miskin sementara dia sendiri berpuasa; setelah itu dia akan berkeliling mencari sedekah setelah shalat maghrib untuk berbuka puasa.”
An-Nury menyatakan, “Tanda seorang miskin adalah kerelaan manakala dia tidak punya apa-apa dan memberi dengan murah hati manakala dia punya banyak rezeki.”

Muhammad bin All al-Kattany berkata, “Ada seorang pemuda bersama kami; di Mekkah yang memakai pakaian kum’al dan bertambal-tambal. Dia tidak pernah ikut serta dalam percakapan kami ataupun duduk bersama kami. Dalam hati aku sangat merasa sayang kepadanya. Suatu ketika aku diberi uang dua ratus dirham dari sumber yang halal. Uang itu kubawa kepadanya, ‘Uang ini telah datang kepadaku dari sumber yang halal.

Belanjakanlah untuk keperluanmu.’ Seraya memandang kepadaku dengan sikap merendahkan, dia mengungkapkan apa yang selama itu tidak kuketahui, ‘Saya membeli kesempatan untuk bisa duduk bersama Allah swt. dalam pengabdian yang leluasa ini dengan harga tujuhpuluh ribu dinar dari harta benda dan kebun-kebun saya. Sekarang Anda hendak menyesatkan saya dari keadaan saya sekarang ini dengan uang itu ke tanah.’ Ia lalu berdiri dan menolaknya. Aku duduk dan mengumpulkan uang itu dari tanah. Belum pernah aku menyaksikan kegagahan seperti kegagahan pemuda itu ketika dia berjalan pergi, ataupun kehinaan seperti kehinaanku ketika aku mengumpulkan uang itu.”

Abu Abdullah bin Khafif mengatakan, “Aku belum pernah diwajibkan membayar zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan selama empat puluh tahun, sementara aku diterima dengan penuh penghormatan di kalangan kaum terpilih maupun kaum awam.”
Ketika ad-Duqqy ditanya tentang perilaku buruk di kalangan para fakir di hadapan Allah dalam, urusan-urusan mereka, dia berkata, “Perilaku buruk itu adalah kejatuhan mereka dari upaya mencari hakikat menjadi upaya mencari ilmu.”

Khayr an-Nassaj menuturkan, “Aku memasuki sebuah masjid dan kulihat ada seorang fakir di situ. Ketika dia melihatku, dipegangnya bajuku sambil memohon, ‘Wahai syeikh, kasihanilah aku, karena penderitaanku sangat besar!’ Aku bertanya, Apa yang kau derita?’ Dia menjawab, Aku telah tidak lagi diberi cobaan, dan selalu dalam keadaan sehat walafiat!’ Aku memandangnya, tiba-tiba la telah dibukakan sedikit dari harta dunia.”

Abu Bakr al-Warraq berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di dunia dan di akhirat.” Ketika ditanya apa maksud perkataannya itu, dia menjawab, “Penguasa di dunia ini tidak menuntut pajak darinya, dan Yang Maha Kuasa di akhirat tidak membuat hisab dengannya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar