Senin, 04 Juni 2012

Surat-Surat Sufi

Ibn ‘Abbad ar-Rundy Biografi Dan Surat-Surat Ibn ‘Abbad Ibn ‘Abbad lahir pada 1332 di Ronda, sebuah kota puncak bukit di Spanyol, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mariniyah. Pada usia tujuh tahun, dia menghafal Al-Quran dan mulai mempelajari hukum Maliki yang dikodifikasikan oleh Ibn Abi Zayd dari Qayrawan (meninggal 996) dalam Risalah. Pada tahun 1340, Sultan Mariniyah, Abu Al-Hasan, menderita kekalahan di Spanyol dan terpaksa membatasi upaya militernya di sana. Meningkatnya penaklukan-kembali oleh orang-orang Kristen, membuat kehadiran kaum Muslim di Spanyol semakin sulit. Pada 1347, Ibn ‘Abbad pindah ke Fez, ibukota Maroko. Sultan Abu Al-Hasan (1331-1348) berupaya menjadikan ibukotanya sebagal pusat utama ilmu dan kebudayaan. Dia melindungi seni, membantu kolese-kolese teologi baru, dan mengundang guru-guru ternama. Ayah Ibn ‘Abbad menjadi khatib di masjid Qashbah, sementara Ibn ‘Abbad melanjutkan kembali studinya di bidang agama. Mentor paling termasyhur Ibn ‘Abbad, Al-Syarif Al-Tilimsani (meninggal 1369), diakui secara luas sebagai pemimpin kebangkitan kembali Malikisme. Dia amat alim dalam ilmu prinsip-prinsip hukum (ushul) sehingga dianugerahi hak yang langka, yaitu berhak melakukan ijtihad. Tilimsani mengajar Ibn ‘Abbad, pertama di Tlemcen, dan kemudian ketika sang guru datang ke Fez atas undangan Sultan Abu ‘Inan. Selama masa tinggal pertama di Fez, Ibn ‘Abbad mungkin tinggal di pondokan pelajar di kolese teologi tertua yang masih ada, yaitu madrasah Halfawiyin. Dan Al-Abili (meninggal 1356) dia mempelajari risalah teologi Asy’ariyah, Al-Irsyad, yang ditulis oleh Al-Juwayni (meninggal 1086), salah seorang guru Al-Ghazali, dan beberapa tulisan Ibn Al-Hajib (meninggal 1248) tentang hukum. Seperti Tilimsani, Al-Abili mendorong pembaruan hukum Maliki; dia mengkritik kekakuan mazhab-mazhab yang disponsori negara dan stagnasi yang dialami mazhab-mazhab itu. Dengan diawasi Al-Maqqari (meninggal 1337), Ibn ‘Abbad membaca himpunan hadis Nabi karya Muslim dan juga karya-karya lain yang telah dipelajarinya sebelumnya dari Tilimsani. Dari Al-’Imrani (meninggal 1286) dia mempelajari himpunan hadis Malik ibn Anas (meninggal 795), Al-Muwaththa’. AI-‘Imrani adalah seorang faqih kenamaan yang disebut-sebut sangat tertarik kepada tasawuf. Seperti alim-alim Maliki lainnya, dia menulis beberapa ulasan tentang Al-Mudawwanah karya Sahnun (meninggal 854) — bagaimanapun juga karya paling berpengaruh di bidang fiqih Afrika Utara. Ikhtisar klasik Al-Baradzi’i (Qayrawan abad kesepuluh) tentang Mudawwanah merupakan sumber lain bagi pendidikan Ibn ‘Abbad, mungkin ketika dia tinggal di Madrasah Bou ‘Inaniyah yang baru selesai pembangunannya itu. Dalam Surat 6 dia memuji Abu Thalib Al-Makki, dengan mengatakan bahwa Qut AI-Qulub karya Abu Thalib itu amat penting bagi kehidupan spiritual, sebagaimana pentingnya Mudawwanah bagi fiqih: sempurna dan tak bisa digantikan oleh yang lain. Dua alim lain Maliki perlu disebutkan di sini. Ibn ‘Abbad menulis Surat 16 untuk Abu Ishaq Ibrahim Al-Syathibi dari Granada (meninggal 1388). Muwafaqat karyanya merupakan sumbangsih utamanya pada suasana studi-studi keagamaan yang kiranya telah berkembang secara dramatis meskipun memiliki banyak sekali luka lama yang perlu disembuhkan. Akhirnya Ibn ‘Abbad menyebut-nyebut Ahmad Al-Qabbab (meninggal 1375), juga dalam Surat 16. Seperti Al-Abili, Al-Qabbab berupaya menyuntikkan kehidupan baru ke dalam studi-studi keagamaan yang terhuyung-huyung akibat pukulan keras yang dilancarkan Almuhadiyah terhadap studi-studi itu. Ibn Khaldun mengatakan bahwa “kalangan ulama Maliki tidak pernah henti-hentinya menulis komentar, penjelasan, dan sinopsis tentang karya-karya utama ini.” Pendidikan yang diterima Ibn ‘Abbad di bangku sekolah tentang hukum agama itu luas, namun sangat tradisional dan agak kaku, dalam gaya Maroko. Nwiya menunjukkan tidak adanya secara menyolok-mata nama Fakhr Al-Din Al-Razi (meninggal 1209) dari sekian nama tokoh yang dibaca Ibn ‘Abbad. Sekitar tahun 1300 ada pemisahan antara gaya studi hukum yang dilakukan di Fez dan di Tunis. Tunis menjadi lebih spekulatif di bawah pengaruh Falchr Al-Din Al-Razi, yang, menurut M. Mahdi, “mempengaruhi persesuaian baru antara pengetahuan filsafat rasional dan studi-studi agama.” Sementara itu Fez tetap lebih konservatif di bawah pengaruh Ibn Al-Hajib. Meskipun dengan latar belakang studi-studi hukum tradisional yang luas, Ibn ‘Abbad menolak, dalam Surat-suratnya, untuk membahas langsung pertanyaan-pertanyaan tentang hukum dengan mengatakan bahwa dia kurang memiliki keahlian yang diperlukan untuk itu. Barangkali Ibn ‘Abbad mengenal tasawuf lewatsalah seorang guru hukumnya, sebab banyak di antara mereka itu adalah sufi. Beberapa gurunya resmi berhubungan dengan tarikat-tarikat yang sudah diakui, tapi mereka mengajar tasawuf secara pribadi, dengan memakai karya-karya klasik Al-Maliki, AlGhazali, dan Suhrawardi. Setelah meninggalnya Sultan Abu ‘Inan, pada tahun 1358 Fez rupanya mengalami suatu periode yang amat kacau. Terdapat tujuh belas sultan antara 1358 dan 1465, dan enam orang yang berusaha merebut kesultanan antara 1358 dan 1367. Tak lama setelah meninggalnya sultan, Ibn ‘Abbad pergi ke barat, ke Sale, kota di tepi laut Atlantik. Di sana Ibn ‘Asyir (sekitar 1300-1362) menjadi tokoh- poros dalam kebangkitan tasawuf di luar tarikat. Penziarah dan segenap penjuru Maroko datang mengunjungi syaikh ini untuk mendapatkan barakahnya. Ibn ‘Abbad terus menjadi murid terbaik syaikh ini. Dia banyak membaca tasawuf dan berbagai cabang setelah gayanya. Setidak-tidaknya dia memutuskan untuk mendukung Syadziliyah. Itulah informasi dan Ibn Al-Sakkak (meninggal 1451), penulis Maghribi pertama yang menulis dengan jelas tentang Syadziliyah. Dia pun mengatakan bahwa, ketika masih anak-anak, dia pernah bertemu Ibn ‘Abbad yang usianya jauh lebih tua dan sering makan bersamanya. Ibn ‘Abbad pergi ke Sale untuk menghindari kondisi hidup yang sedang sekarat di Fez, dan untuk mencari keselamatan spiritual. Gurunya memandangnya “dalam kelas tersendiri.” Berkat kemandirian dan keinginannya untuk menempuh jalannya sendiri, sang murid tidak terkuasai oleh intensitas gurunya. Ibn ‘Asyir sangat halus perasaannya, karena terus-menerus berpuasa dan makan hanya dua hari sekali. Inilah praktik lama sufi yang disebut “Puasa Daud”, yang dimaksudkan untuk menjaga agar sang zahid tidak terbiasa dengan puasa atau rasa kenyang. Selaras dengan kecintaannya kepada tulisan-tulisan Al-Muhasibi, Ibn ‘Asyir menekankan praktik menguji hati nurani. Dia adalah sufi shahw yang tegar. Pada sekitar 1362 atau 1363, setelah meninggalnya Ibn ‘Asyir, Ibn ‘Abbad meninggalkan Sale menuju Tangiers. Di sana dia berguru kepada sufi yang kurang begitu dikenal, Abu Marwan ‘Abd Al-Malik. Setelah tinggal di sana untuk waktu yang tidak diketahui, sang pencari muda ini kembali ke Fez. Selama berada-kembali di Fez, Ibn ‘Abbad berkenalan kembali dengan Yahya Al-Sarraj (sekitar 1344-sekitar 1400), pendiri cabang-Fez dari sebuah keluarga yang berakar di Ronda, dan penerima beberapa Surat ini. Ibn ‘Abbad juga menjadi sahabat karib Abu Al-Rabi’ Sulayman Al-Anfasi (sekitar 1377-1377). Atas permintaan kedua sahabat inilah dia menulis Tanbih, yang diselesaikan antara 1370-1372. Ibn ‘Abbad kembali ke Sale pada tanggal yang tidak jelas, dan tinggal di sana sampai sekitar 1375. Kebanyakan, jika tidak semuanya, korespondensinya dilakukan sejak sebelum tahun itu. Sekitar 1375 dia diangkat menjadi Imam dan Khatib masjid Qayrawiyin di Fez, institusi agama dan ilmu tertua dan paling bergengsi di Afrika Utara. Sultan Abu Al-’Abbas Ahmad (pemerintahan pertama 1373-1384) rupanya melakukan pengangkatan itu berdasarkan reputasi Ibn ‘Abbad akan integritas pribadinya, dan kemasyhuran Tanbih-nya. Prospek pengambil-alihan pos khatib ketika khutbah telah turun derajatnya menjadi sedikit Iebih dari sekadar menyampaikan sesuatu secara hafalan tanpa pemikiran mendalam bagi banyak khatib, tentunya menimbulkan tantangan. Dengan merenungkan keadaan seni dalam salah satu Surat, terlihat dia mencatat lima jenis khatib yang menurutnya tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Sebagian hanya mengulang-ulang khutbah yang sama setiap Jumat; sebagian mengulangnya dengan sedikit variasi; sebagian berkhutbah tanpa mengaitkan pesan-pesan mereka dengan kebutuhan-kebutuhan yang berubah; sebagian memperhatikan kebutuhan-kebutuhan itu, namun tidak dapat mengaitkan pesan mereka secara efektif dengan kebutuhan-kebutuhan itu; dan sebagian juga kurang taat, dan semata-mata aktor-aktor yang berlagak. Khatib sejati adalah khatib yang memberikan nasihat dan mengajar orang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari mereka yang mendesak, dan mampu memadukan gaya penyampaiannya dengan tema yang telah dipilihnya. Ibn ‘Abbad lebih menyukai gaya didaktis ketimbang gaya nasihat atau peringatan, karena orang itu memerlukan peringatan, dia selalu menempatkan dirinya sebagai terikat kepada kewajiban yang diwajibkan pada audience nya. Masih ada seratus dua puluh empat khutbah dalam sebuah manuskrip, yang telah dianalisis oleh Paul Nwiya. KhutbahJumat lazimnya terdiri atas dua bagian: Bagian pertama mengembangkan tema yang sesuai dengan keadaan, dan bagian kedua membahas topik baku, yaitu shalawat atas Nabi, para Shahabatnya, para istrinya, para penerusnya, dan umat Islam, dengan menyebutkan nama khalifah atau sultan umat Islam. Hanya satu di antara khutbah-khutbah Ibn ‘Abbad yang masih ada yang mengandung bagian kedua itu. Tapi bagian pembuka dari tiap-tiap bagian itu dimulai dengan doksologi (zikir), doa pendek untuk Nabi, dan Syahadat, yang semuanya diikuti oleh jamaah. Khutbah itu disampaikan sekitar dua puluh menit. Frasa-frasa yang memukau, ritmis, pendek dan tepat, dimaksudkan untuk menandingi prosa-bersajak kitab suci. Karena doktrin dasar Islam itu sederhana, maka pembicara perlu mengandalkan keahlian berbahasa Arab, tanpa sekaligus membawakan sekadar suara yang indah namun tidak mengandung pengaruh personal dan tantangan moral. Ibn ‘Abbad suka menggugah-langsung hati nurani jamaahnya, dengan didukung oleh Al-Quran dan hadis, dan berupaya menanik perhatian melalui intonasi yang tepat. Dia mengaitkan tematemanya dengan keadaan: Selama bulan Ramadhan, dia berbicara tentang puasa, dan tentang perlunya terlebih dahulu menyucikan hati agar tindakan fisik ini memiliki makna spiritual. Selama bulan haji, yaitu bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam tahun Hijriah, dia menyerukan agar memeriksa keadaan hati nurani selama tahun-tahun yang lewat. Bila datang tahun baru, di bulan Muharram, dia menganjurkan agar bersedekah. Ibn ‘Abbad tidak memandang khutbah umum itu sebagai forum yang tepat untuk menyampaikan masalah-masalah tasawuf. Dia membahas masalah tasawuf dalam surat-surat pribadi yang berisi bimbingan spiritual. Selama seperempat terakhir abad keempat belas, dinasti Mariniyah mengalami kemunduran. Kota besar Fez mengalami kesulitan politik besar dan lebih dan sekadar sedikit keresahan spiritual. Gambaran sosok Ibn ‘Abbad yang tinggal di rumah kecil di dekat masjid, yang menarik sederetan anak kecil berjalan di belakangnya ketika Ibn ‘Abbad berjalan menuju ke masjid, dan yang memperhatikan kebutuhan orang sedapat mungkin, merupakan gambaran tentang keyakinan dan harapan pada saat terjadi ketidakstabilan dan ketidakpastian. Menjelang akhir hayatnya, dia menulis kepada seorang sahabat Abu Al-’Abbas Al-Marrakusyi, bahwa dia merasa jenuh dengan Fez dan sudah lelah dengan kewajiban-kewajibannya, dan pasrah dengan kesehatannya yang memburuk serta sedang mempersiapkan diri menyongsong datangnya kematian. Nwiya mengatakan bahwa Ibn ‘Abbad tetap membujang sampai akhir hayatnya. Sebagian sumber mengatakan dia tidak pernah menikah. Kalau memang dia menikah pada akhir hayatnya, tentu dia melakukannya karena keinginan mengikuti contoh Nabi, bukannya karena dirinya lebih menyukainya. Dia tidak pernah pergi haji ke Makkah. Pada l7 Juni 1390, Ibn ‘Abbad dimakamkan di hadapan sultan dan banyak penduduk Fez. Meskipun lokasi-lokasi makamnya tidak lagi diketahui, toh konon tetap menjadi tujuan penziarah selama bertahun-tahun. Sampai 1936, Serikat Sekerja Pembuat Sepatu mengadakan perayaan untuknya setiap tahun, sebab dia telah menjadi wali pelindung mereka. Surat-surat Ibn ‘Abbad Ibn ‘Abbad bukanlah sufi ternama pertama yang menggunakan surat-menyurat sebagai salah satu cara utamanya untuk berkomunikasi. Abu Nashr Al-Sarraj (meninggal 988) menyimpan bagian-bagian dari surat-surat yang ditulis oleh sejumlah sufi kenamaan kepada orang-orang yang amat ahli dijalan sufi. Karena sebagian besar surat-surat itu ditulis untuk sufi-sufi ulung, maka isinya cenderung agak esoteris dan terlalu sensitif bagi masyarakat awam. Sebagian surat itu ditulis untuk kelompok-kelompok sufi. A.H. Abdel-Kader telah menghimpun dan menerjemahkan beberapa surat Junayd, yang juga ditulis untuk sufi-sufi yang sudah mapan dalam kehidupan spiritual. Dua sufi sangat terkenal lainnya menulis surat-surat yang berupa kategori kedua, surat-menyurat dengan pejabat-pejabat pemerintah. Dalam sebuah himpunan surat-surat Al-Ghazali, terlihat Al-Ghazali “menegur penguasa-penguasa Seljuq dan menteri-menteri mereka agar jangan membiarkan korupsi, nepotisme, pilih-kasih, kezaliman dan penyuapan terjadi, yang merupakan penyakit utama masyarakat pada masa itu.” Sufi Persia, Jalal Al-Din Rumi (meninggal 1273) membina hubungan surat-menyurat dengan beberapa penguasa lokal di ibukota Seljuq Turki di Konya. Sekitar seratus lima puluh surat Rumi masih ada, meskipun belum diterjemahkan ke bahasa Inggris. Jenis-ketiga korespondensi sufi adalah antara guru dan murid. Paul Jackson, S.J., baru-baru ini telah menerjemahkan Seratus Surat sufi India, Syaraf Al-Din Maniri. Maniri menulis surat berbahasa Persia selama akhir abad ketigabelas dan awal abad keempatbelas. Bagian-bagian dari surat-surat Ibn Al-’Alif dan Al-Syadzili untuk murid-murid mereka masih ada. Seperti surat-surat Ibn ‘Abbad, surat-surat Ibn Al-’Arif dan Al-Syadzili itu juga bernada dan berkandungan non-esoteris dan pada umumnya praktis. Yang khas dalam korespondensi Ibn ‘Abbad adalah, bahwa di sini kita mendapatkan dua koleksi-lengkap surat-surat yang masih utuh yang dimaksudkan untuk menerangkan pokok-pokok spiritualitas sufi kepada individu-individu yang sedang berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi. Dua koleksi ini mencakup lima puluh empat surat: tiga puluh delapan dalam “Koleksi Besar” (RK), dan enam belas dalam “Koleksi Kecil” (RS), yang diterjemahkan di sini. Semuanya disusun antara sekitar 1365 dan 1375 dari Sale untuk sahabat-sahabat di Fez. Nwiya juga telah menerbitkan beberapa surat yang ditulis setelah 1375, sebagai lampiran pada kedua edisi Koleksi Kecilnya. Dia mengatakan bahwa surat-surat itu merupakan sumber istimewa sedemikian, sehingga “memberikan pengetahuan tentang Ibn ‘Abbad, yang lebih sempurna dibanding pengetahuan kita tentang sufI lainnya.” Tiga puluh delapan surat dalam Koleksi Besar barangkali ditulis selama dua atau dua setengah tahun, dan 1372 sampai 1374. Tiga puluh satu yang pertama ditujukan kepada Yahya Al-Sarraj. Kepada Yahya ini pula Ibn ‘Abbad menulis Surat 7 hingga 15 dalam terjemahan (buku tersaji di hadapan pembaca) ini. Terlihat jelas dan RK bahwa Yahya dan Ibn ‘Abbad memperkuat hubungan mereka, terutama selama Ibn ‘Abbad tinggal di Fez dari 1370 sampai 1372, sebab dalam sebuah surat dalam RS, Ibn ‘Abbad menunjukkan bahwa dia merasa tidak cukup kenal dengan korespondennya untuk membahas masalah-masalah tertentu yang sangat pribadi sifatnya. Surat-surat berikutnya dalam RK memberikan gambaran sangat berbeda tentang hubungan mereka, meskipun memberikan lebih banyak informasi tentang Yahya ketimbang Ibn ‘Abbad. Dari surat-surat berikutnya itu, kita dapat mengetahui upaya Yahya untuk mencari nafkah, dan krisis hati nuraninya berkaitan dengan apakah dia dapat menekuni ilmu eksoteris, seperti ilmu hadis, dan tasawuf sekaligus. Di sana Ibn ‘Abbad menganjurkan agar Yahya mengesampingkan studi-studi hadis, karena dekadensi umum dan banyak orang yang menekum studi-studi seperti itu sudah sedemikian, sehingga Yahya hampir tidak dapat berharap akan memperoleh kebaikan dari studi-studi itu. Yahya cenderung ke solusi-solusi yang ekstrem, sehingga dia bahkan menjual kitab koleksi hadis Malik miiknya, Al-Muwaththa’. Dia kemudian menyesal telah menjualnya. Akhirnya, Yahya tidak dapat menghindar dari pesona studi-studi hadis. Dua tahun setelah meninggalnya Ibn ‘Abbad, dia menyusun sebuah ikhtisar tentang hadis-hadis yang telah disampaikan oleh Ibn ‘Abbad kepadanya. RK Ibn ‘Abbad juga mengandung informasi tentang macam-macam masalah yang menjadi perhatian para ahli di dan di sekitar istana sultan. Tak diragukan lagi Ibn ‘Abbad secara pribadi tidak memakai spekulasi seperti itu, sekalipun demikian dia mencoba menanggapi masalah-masalah yang para korespondennya memintanya untuk memberikan penilaian bagi mereka. Paul Nwiya telah mengikhtisarkan beberapa masalah utama yang dibahas di sana. Sebagian orang berdebat tentang apakah jiwa akan mengalami derita-mendalam ketika meninggalkan dunia ini dan ketika melewati alam barzakh, wilayah yang memisahkan dunia ini dari dunia ruh suci. Ibn ‘Abbad mengakui bahwa dia tidak memiiki jawaban yang jelas, namun dia menawarkan analogi dengan pendapat yang lazim dianut bahwa jiwa meninggalkan raga selama tidur. Karena jiwa tidak mengalami derita pada waktu tidur — penderitaan itu merupakan sesuatu yang berhubungan dengan raga — maka begitu pula keadaannya ketika jiwa meninggalkan raga dan melewati alam barzakh. Sebagian lagi mempertanyakan apakah wali dapat bertemu atau meihat malaikat. Ibn ‘Abbad mengatakan bahwa ini mungkin, karena sebagian percaya bahwa melihat atau bertemu Allah pun mungkin saja terjadi. Selanjutnya, beberapa Sahabat Nabi melihat malaikat, meskipun mereka tidak melihatnya “dalam bentuknya yang asli”; dan karena semua Muslim juga mendapatkan barakah Nabi, seperti yang didapat para Sahabat itu, maka secara teori tentunya hak istimewa itu juga dimiiki semua Muslim. Dia menambahkan bahwa Abu Al-Hasan Al-Syadzili melihat malaikat dalam bentuk seekor burung putih besar, namun tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa ada wali yang pernah melihat malaikat dalam bentuk aslinya, sebab hanya para nabilah yang dapat melihat malaikat dalam bentuk aslinya. Soal lain berkaitan dengan masyarakat Yahudi di Fez. Penguasa Almuhadiyah telah mencabut hak-memberi-suara dan orang Yahudi, namun penguasa Mariniyah mengembalikan banyak dari hak-hak mereka sebelumnya. Masyarakat Yahudi merupakan satu-satunya kaum non-Muslim di Fez, dan mereka memiliki kemerdekaan beragama, selama mereka mempraktikkan agama mereka secara pribadi. Sangatiah mungkin bahwa pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh kaum Yahudi yang telah masuk Islam: Apakah Muhammad itu lebih unggul daripada Musa sebagai nabi?Jawaban Ibn ‘Abbad adalah bahwa mengklaim Musa itu lebih unggul danipada Muhammad, itu berarti melakukan fitnah. Muhammad telah menyatakan dengan jelas bahwa dirinya itu lebih unggul, namun beliau tidak melakukannya semata-mata karena keinginan untuk memajukan jalan pribadinya. Menurut Ibn ‘Abbad, seandai nya Nabi Muhammad saw. demi mencari nama lalu membujuk kaum Yahudi di Madinah, tentu beliau akan mengatakan bahwa Musa adaiah pemimpin para Nabi. Bahwa beliau menyatakan dirinya itu iebih unggul, sekalipun mendapatkan tentangan keras, membuktikan kebenaran klaimnya. Nabi-nabi sebelumnya telah meramaikan bahwa seorang nabi yang iebih besar danpada mereka sendiri akan datang. Seorang Muslim yang mengatakan bahwa Musa lebih besar, berarti sama saja dengan mengakui bahwa Muhammad tidak memiliki misi untuk membawa orang non-Muslim ke dalam Islam, dan mengakui keunggulan Judaisme atas Islam. Akhirnya, Al-Quran menyatakan bahwa tidak semua nabi itu sama derajatnya; tapi karena ketidaksamaan derajat itu tidak berarti ketidaksempurnaan pada diri nabi, maka tidak ada gunanya terialu memuji Muhammad sedemikian, sampai-sampai merusak citra nabi-nabi lainnya. Alim-alim Fez ini mengajukan banyak pertanyaan lain tentang status spiritual dan moral pribadi. Misalnya, mereka bertanya apakah orang miskin yang banyak menderita di dunia ini lebih unggul dibanding orang kaya yang bersikap masa bodoh di dunia ini. Mereka berdebat tentang apakah orang yang menyingkirkan segenap hartanya dan memberikannya kepada orang lain itu lebih baik dibanding orang yang memberikan hanya kelebihan dan hartanya. Dalam semua kasus seperti itu, prinsip pokok Ibn ‘Abbad kelihatannya begini: Penampilan lahiriah kondisi seseorang itu tidak penting; yang menjadi persoalan adalah apakah orang itu benar-benar setia kepada kondisinya, apa pun yang akan terjadi. Tujuh yang terakhir dalam RK ditujukan kepada orang yang tidak jeias identitasnya. Dua di antaranya penting, karena keiihatannya ditujukan kepada seseorang yang telah meninggalkan praktik agama. Dalam surat pertama di antara dua surat itu, nada penulisnya dapat dikatakan cukup lembut pada yang kedua, dia jauh lebih keras. Nwiya menggambarkan enam belas surat dalam RS itu sebagai “risalah-risalah kecil tentang spiritualitas... dan bukan semata-mata surat-surat bersahabat yang kiasan-kisannya tak dapat dipahami karena hilangnya surat-surat yang mereka jawab, seperti yang terjadi pada Koleksi Besar.” Ibn ‘Abbad menggunakan superscription (kata-kata yang dituiis di atas atau di luar sesuatu, seperti alamat di amplop surat misalnya - penexj.) ringkas, dan ini menekankan bahwa surat-suratnya itu berkualitas seperti risalah. Enam surat pertama ditulis untuk Muhammad Ibn Adibah, seorang faqih yang rupanya tinggal di Fez setelah beremfgrasi dan Andalusia atau Tlemcen. Ibrahim Al-Syathibi (meninggal 1388), seorang faqih dan Granada yang terkenal dengan karyanya di bidang ushul (prinsip-prinsip hukum), menerima Surat 16, yang ditulis sekitar 1375 di Fez. Lima belas surat pertama dalam RS ditulis ketika Ibn ‘Abbad pertama tinggal di Sale, mungkin sebelum 1368. Telah saya sertakan dalam kepala tiap-tiap surat, nama si penerima surat, berdasarkan keterangan Nwiyajj.

Wudlu' Kaum Sufi

Wudlu' kita sehari-hari, ternyata tidak sekadar membasuh muka, tangan, kepala, telinga maupun kaki. Wudlu' diposisikan sebagai amaliah yang benar-benar menghantar kita semua, untuk hidup dan bangkit dari kegelapan jiwa. Dalam Wudlu'lah segala masalah dunia hingga akhirat disucikan, diselesaikan dan dibangkitkan kembali menjadi hamba-hamba yang siap menghadap kepada Allah SWT. Bahkan dari titik-titik gerakan dan posisi yang dibasuh air, ada titik-titik sentral kehambaan yang luar biasa. Itulah, mengapa para Sufi senantiasa memiliki Wudlu' secara abadi, menjaganya dalam kondisi dan situasi apa pun, ketika mereka batal Wudlu, langsung mengambil Wudlu seketika. Mari kita buka jendela hati kita. Disana ada ayat Allah, khusus mengenai Wudlu. "Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau hendak mendirikan sholat, maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai siku-siku, dan usaplah pada kepalamu dan kaki-kakimu sampai kedua mata kaki…" Manusia yang mengaku beriman, apabila hendak bangkit menuju Allah ia harus berwudlu' jiwanya. Ia bangkit dari kealpaan demi kealpaan, bangkit dari kegelapan demi kegelapan, bangkit dari lorong-lorong sempit duniawi dan mimpi di tidur panjang hawa nafsunya. Ia harus bangkit dan hadlir di hadapan Allah, memasuki "Sholat" hakikat dalam munajat demi munajat, sampai ia berhadapan dan menghadap Allah. Sebelum membasuh muka, kita mencuci tangan-tangan kita sembari bermunajat: Ya Allah, kami mohon anugerah dan barokah, dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan dan kehancuran. Lalu kita masukkan air untuk kumur-kumur di mulut kita. Mulut kita adalah alat dari mulut hati kita. Mulut kita banyak kotoran kata-kata, banyak ucapan-ucapan berbusakan hawa nafsu dan syahwat kita, lalu mulut kita adalah mulut syetan. Mulut kita lebih banyak menjadi lobang besar bagi lorong-lorong yang beronggakan semesta duniawi. Yang keluar dan masuknya hanyalah hembusan panasnya nafsu dan dinginnya hati yang membeku. Betapa banyak dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, betapa berlimpah ruahnya fatwa amar ma'ruf nahi mungkar, tetapi karena keluar dari mulut yang kotor, hanyalah berbau anyir dalam sengak hidung jiwa kita. Karena yang mendorong amar ma'ruf nahi mungkarnya bukan Alllah, tetapi hasrat hawa nafsunya, lalu ketika keluar dari jendela bibirnya, kata-kata indah hanyalah bau anyir najis dalam hatinya. Sesungguhnya mulut-mulut itu sudah membisu, karena yang berkata adalah hawa nafsu. Ayo, kita masuki air Ilahiyah agar kita berkumur setiap waktu. Bermunajatlah ketika anda berkumur: Oh, Tuhan, masukkanlah padaku tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku di tempat keluar yang benar, dan jadikanlah diriku dari DiriMu, bahwa Engkau adalah Kuasa Yang Menolongku. Oh Tuhan, tolonglah daku untuk selalu membaca KitabMu dan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan tetapkanlah aku dengan ucapan yang tegas di dunia maupun di akhirat. Baru kemudian kita masukkan air suci yang menyucikan itu, pada hidung kita. Hidung yang suka mencium aroma wewangian syahwat dunia, lalu jauh dari aroma syurga. Hidung yang menafaskan ciuman mesra, tetapi tersirnakan dari kemesraan ciuman hakiki di SinggasanaNya. Oh, Tuhan, aromakan wewangian syurgaMu dan Engkau melimpahkan ridloMu… Semburkan air itu dari hidungmu, sembari munajatkan Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari aroma busuknya neraka, dan bau busuknya dunia. Selanjutnya: "Basuhlah wajah-wajahmu…" Dengan menyucikan hatimu dengan air pengetahuan yang manfaat yang suci dan menyucikan, baik itu bersifat pengetahuan syariat, maupun pengetahuan hakikat, serta pengetahuan yang bisa menghapus seluruh penghalang-penghalang, hijab, antara dirinya dan Allah. Faktanya setiap hari kita Wudlu' membasuh muka kita, tetapi wajah-wajah kita tidak hadir menghadap Allah, tidak "Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah…" (kemana pun engkau menghadap, wajah hatimu menghadap arah Allah). Kenapa wajah dunia, wajah makhluk, wajah-wajah kepentingan nafsu kita, wajah-wajah semesta, wajah dunia dan akhirat, masih terus menghalangi tatapmuka hati anda kepada Allah Ta'ala? Ini semua karena kebatilan demi kebatilan, baik kebatilan dibalik wajah batil maupun kebatilan dengan selimut wajah kebenaran, telah membatalkan wudlu jiwa kita, dan sama sekali tidak kita sucikan dengan air pengetahuan ma'rifatullah dan pengetahuan yang menyelamatkan dunia akhirat kita. Hijab-hijab yang menutupi wajah jiwa kita untuk melihat Allah, sudah terlalu tua untuk menjadi topeng hidup kita. Kita bertopeng kebusukan, bertopeng rekayasa, bertopeng kedudukan dan ambisi kita, bertopeng fasilitas duniawi kita, bertopeng hawa nafsu kita sendiri, bahkan bertopeng ilmu pengetahuan kita serta imajinasi-imajinasi kita atau jubah-jubah agama sekali pun. Lalu wajah kita bopeng, wajah ummat kita penuh dengan cakar-cakar nafsu kita, torehan-torehan noda kita, flek-flek hitam nafsu kita, dan alangkah bangganya kita dengan wajah-wajah kita yang dijadikan landskap syetan, yang begitu bebas menarikan tangan-tangannya untuk melukis hati kita dengan tinta hitam yang dipanggang di atas jahanam. Karena wajah kita lebih senang berpaling, berselingkuh dengan dunia, berpesta dalam mabuk syetan, bergincu dunia, berparas dengan olesan-olesan kesemuan hidup, lalu memakai cadar-cadar hitam kegelapan semesta kemakhlukan. Banyak orang yang mata kepalanya terbuka, tetapi matahatinya tertutup. Banyak orang yang mata kepalanya tertutup, matahatinya terbuka. Banyak orang yang matahatinya terbuka tetapi bertabur debu-debu kemunafikan duniawinya. Banyak orang yang sudah tidak lagi membuka matahatinya, dan ia kehilangan Cahaya Ilahi, lalu menikmati kepejaman matahatinya dalam kegelapan, yang menyangka ia dalam kebenaran dan kenikmatan. Oh, Allah, bersihkan wajahkku dengan cahayaMu, sebagaimana di hari Engkau putihkan wajah-wajah KekasihMu. Ya Allah janganlah Engkau hitamkan wajahku dengan kegelapanMu, di hari, dimana Engkau gelapkan wajah-wajah musuhMu. Tuhan, sibakkan cadar hitamku dari tirai yang membugkus hatiku untuk memandangMu, sebagaimana Engkau buka cadar para KekasihMu… "Dan basuhlah kedua tanganmu sampai kedua siku-sikumu…" Lalu kita basuh kedua tangan kita yang sering menggapai hasrat nafsu syahwat kita, berkiprah di lembah kotor dan najis jiwa kita, sampai pada tahap siku-siku hakikat kita dan manfaat agung yang ada di sana. Tangan kita telah mencuri hati kita, lalu ruang jiwa kita kehilangan khazanah hakikat Cahaya hati. Tangan nafsu kita telah mengkorupsi amanah-amanah Ilahi dalam jiwa, lalu kita mendapatkan pundi-pundi duniawi penuh kealpaan dan kemunafikan. Tangan-tangan kita telah merampas makanan-makanan kefakiran kita, kebutuhan hati kita, memaksa dan memperkosa hati kita untuk dijadikan tunggangan liar nafsu kita. Tangan-tangan kita telah memukul dan menampar wajah hati yang menghadap Allah, menuding muka-muka jiwa yang menghadap Allah, merobek-robek pakaian pengantin yang bermahkotakan riasan indah para Sufi. Maka basuhlah tanganmu dengan air kecintaan, dengan beningnya cermin ma'rifat, dari mata air dari bengawan syurga. Basuhlah tangan kananmu, sembari munajat: Oh, Allah..berikanlah Kitabku melalui tangan kananku, dan hitanglah amalku dengan hitungan yang seringan-ringannya. Basuhlah tangan kririmu dengan munajat: Oh, Allah, aku berlindung kepadaMu, dari pemberian kitabku dari tangan kiriku atau dari belakang punggungku… Lalu, mari kita usap kepala kita: Karena kepala kita telah bertabur debu-debu yang mengotori hati kita, memaksa hati kita mengikuti selera pikiran kira, sampai hati kita bukan lagi menghadap kepadaNya, tetapi menghadap seperti cara menghadap wajah di kepala kita, yaitu menghadap dunia yang hina dan rendah ini. Pada kepala kita yang sering menunduk pada dunia, pada wujud semesta, tunduk dalam pemberhalaan dan perbudakan makhluk, tanpa hati kita menunduk kepada Allah Ta'ala, kepada Asma-asmaNya yang tersembunyi dibalik semesta lahir dan batin kita, lalu kepala kita memalingkan wajah hati kita untuk berpindah ke lain wajah hati yang hakiki. Mari kita usap dengan air Cahaya, agar wajah hati kita bersinar kembali, tidak menghadap ke arah remang-remang yang menuju gelap yang berlapis gulita, tidak lagi menengok pada rimba duniawi yang dipenuhi kebuasan dan liar kebinatangannya. Kepala-kepala kita sering menunduk pada berhala-berhala yang mengitari hati kita. Padahal hati kita adalah Baitullah, Rumah Ilahi. Betapa kita sangat tidak beradab dan bahkan membangun kemusyrikan, mengatasnamakan Rumah Tuhan, tetapi demi kepentingan berhala-berhala yang kita bangun dari tonggak-tonggak nafsu kita, lalu kita sembah dengan ritual-ritual syetan, imajinasi-imajinasi, kebanggaan-kebanggan, lalu begitu sombongnya kepala kita terangkat dan mendongak. Mari kita usap kepala kita dengan usapan Kasih Sayang Ilahi. Karena kepala kita telah terpanggang panasnya neraka duniawi, terpanaskan oleh ambisi amarah dan emosi nafsu syahwati, terjemur di hamparan mahsyar duniawi. Sembari kita mengusap, masti munajat: Oh Allah, payungi kepalaku dengan Payung RahmatMu, turunkan padaku berkah-berkahMu, dan lindungi diriku dengan perlindungan payung ArasyMu, dihari ketika tidak ada lagi paying kecuali payungMu. Oh, Tuhan….jauhkan rambutku dan kulitku dari neraka…Oh… Usap kedua telingamu. Telinga yang sering mendengarkan paraunya dunia, yang anda kira sebagai kemerduan musik para bidadari syurga. Telinga yang berbisik kebusukan dan kedustaan, telinga yang menikmati gunjingan demi gunjingan. Telinga yang fantastik dengan mendengarkan indahnya musik duniawi, lalu menutup telinga ketika suara-suara kebenaran bersautan. Amboi, kenapa telingamu seperti telinga orang-orang munafik? Apakah anda lebih senang menjadi orang-orang yang tuli telinga hatinya? Munajatlah: Oh Tuhan, jadikan diriku tergolong orang-orang yang mendengarkan ucapan yang benar dan mengikuti yang paling baik. Tuhan, perdengarkan telingaku panggilan-panggilan syurga di dalam syurga bersama hamba-hambaMu yang baik. Lalu usaplah tengkukmu, sembari berdoa: Ya Allah, bebaskan diriku dari belenggu neraka, dan aku berlindung kepadaMu dari belenggu demi belenggu yang merantai diriku. Lalu basuh kaki-kakimu sampai kedua mata kaki: Kaki-kaki yang melangkahkan pijakannya kea lam dunia semesta, yang berlari mengejar syahwat dan kehinaan, yang bergegas dalam pijakan kenikmatan dan kelezatan pesonanya. Kaki-kaki yang sering terpeleset ke jurang kemunafikan dan kezaliman, terluka oleh syahwat dan emosinya, oleh dendam, iri dan dengkinya, haruslah segera dibasuh dengan air akhlaq, air yang berumber dari adab, dan bermuara ke samudera Ilahiyah. Basuhlah kedua kakimu sampai kedua matakakimu. Agar langkah-langkahmu menjadi semangat baru untuk bangkit menuju Allah, menapak tilas Jalan Allah, secepat kilat melesat menuju Allah. Basuhlah dengan air salsabila, yang mengaliri wajah semesta menjadi jalan lurus lempang menuju Tuhan. Selebihnya, Wudlu’ adalah Taubat, penyucian jiwa, pembersihan batin, di lembah Istighfar. Jangan lupakan Istighfar setiap basuhan anggota wudlu’mu. Wallahu A'lam.

Kebun Mawar Rahasia Ilahi

Sa'duddin Mahmud Syabistari Cahaya dalam diri menciptakan Sufi, bukan kebiasaan agama. Sa'duddin Mahmud Syabistari dilahirkan di Syabistar, dekat Tabriz, sekitar tahun 1250 M. Dia menulis Gulshan-i-Raz, atau Kebun Mawar Rahasia, sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh seorang doktor Sufi dari Herat bernama Dmir Syad Hosaini. Sangat sedikit kisah tentang kehidupan Mahmud Syabistari. Dia menulis dua risalah lain tentang Sufisme di samping Gulshan-i-Raz yakni Haqqul Yaqin dan Risala-i-Shadid. Yang kita ketahui hanyalah bahwa dia memiliki seorang murid kesayangan bernama Syekh Ibrahim. Gulshan-i-Raz diperkenalkan di Eropa oleh dua pelancong di tahun 1770. Selanjutnya, salinan-salinan puisinya ditemukan di beberapa perpustakaan Eropa. Pada tahun 1821 Dr. Tholuck, dari Berlin, menerbitkan nukilan-nukilannya, dan pada tahun 1825 sebuah terjemahan bahasa Jerman dari petikan puisi itu muncul dalam buku lain yang ditulisnya. Setelah itu sebuah terjemahan lirik dan teks Persia diterbitkan oleh Von Hammer Purgstall di Berlin dan Vienna. Gilshan-i-Raz diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan, dengan teks Persia dan nukilan dari edisi Hammer dan catatan-catatan Lajihi, oleh Mr. Whinfield pada tahun 1880. Puisi Sufi Para pembaca puisi Sufi hampir pasti akan terpesona, mungkin bahkan terseret, oleh bahasanya yang luar biasa elok, oleh keakraban dengan Sang Khaliq, oleh pengabaian yang tampak jelas pada semua hukum manusia dan Ilahiah. Tetapi pada pengujian selanjutnya keajaiban cinta para Sufi kepada Sang Kekasih memancar dengan intensitas yang jernih, laksana terang yang bersiram cahaya indah. Mereka sedang jatuh cinta kepada Sang Tunggal, dan cinta mereka mewujud ke dalam lagu-lagu pujian dan ketakjuban yang begitu elok: Aku mendengar dan terpikat; ruhku bergegas untuk merengkuh dekapan penerimaan Cinta, karena suara itu begitu manis. Vaughan berkata: Mistisisme Oriental telah menjadi terkenal karena pujangga-pujangganya, dan dalam puisi ia melepaskan semua kekuatan dan apinya. [Kaurn Sufi] ... memiliki tugas tunggal dan sederhana, untuk menjadikan hati mereka sebuah cermin yang suci bagi Tuhan. Cinta adalah tema kaum Sufi, Ilahi, Cinta Abadi, dan ke dalam lautan Cinta mereka merangkum pasrah tanpa berpikir panjang. Rumi bernyanyi: Ngengat-ngengat, terbakar oleh cahaya obor di wajah Sang Kekasih, adalah pecinta-pecinta yang berdiam di tempat suci. Kalaupun kita dianggap gila atau mabuk, ini karena Pembawa Piala dan Sang Piala. Karena mulutku telah mengunyah Kemanisan-Nya Dalam pandangan yang jelas kulihat Dia berhadap-hadapan. Simbolisme Sufi Dalam membaca puisi kaum Sufi yang mempesona, haruslah diingat bahwa, meskipun symbol-simbol cinta dan keindahan keduniawian dipergunakan secara bebas, namun makna yang sesungguhnya tersembunyi. Tidak ragu lagi, ini secara sengaja dilakukan untuk tetap menjaga rahasia cinta mistis mereka, agar duniawi tidak mencemooh. Tetapi bersamaan berlalunya waktu, kata-kata tertentu mulai memiliki makna yang sudah dikenal di kalangan mereka sendiri. Misalnya: Pelukan dan ciuman adalah pesona-pesona cinta. Tidur adalah kontemplasi, Parfum adalah harapan untuk berkah Ilahi. Penyembah berhala berarti manusia dengan keyakinan murni, bukan kaum kafir. Anggur, yang dilarang oleh Nabi Muhammad kepada pengikutnya, digunakan sebagai sebuah symbol-kata oleh kaum Sufi untuk menunjuk pengetahuan spiritual, dan Penjual anggur berarti seorang pemandu spiritual. Sebuah Kedai minum adalah tempat dimana anggur cinta Ilahi memabukkan para musafir. Kemabukan berarti ekstase religius, Keriangan adalah kesenangan dalam cinta Sang Khaliq. Keindahan berarti keagungan Sang Kekasih. Rambut ikal dan Rambut berarti kemurnian yang menyelubungi wajah Kesatuan dari para pecinta-Nya. Pipi berarti esensi nama-nama dan sifat-sifat Ilahi. Bulu halus adalah dunia ruh-ruh suci yang paling dekat dengan Ketuhanan. Tahi lalat pada pipi adalah titik Kesatuan yang tak bisa dibagi. Obor adalah cahaya yang terpancar dalam hati oleh Sang Kekasih. Kita karenanya memahami bahwa bagi Sufi, cinta antara laki-laki dan perempuan adalah sebuah gambaran berbayang dari cinta antara jiwa dan Tuhan, dan sebagaimana seorang pecinta akan memimpikan kekasihnya, menyanyikan pujian-pujiannya, dan selalu dahaga untuk menatap wajahnya, demikian pula kaum Sufi terus-menerus memimpikan Tuhan mereka, dengan merenungkan sifat-sifat-Nya, dan terserap oleh kerinduan yang membakar pada kehadiran-Nya. Sejarah mistisisme berisi banyak lagu yang menggelora untuk Sang Mutlak, tetapi dalam puisi Sufi ada sebuah kekayaan yang khas, sebuah kedalaman, sebuah warna yang memikat dan mempesona begitu banyak dari kita. Puisi Sufi berlimpahan kiasan-kiasan dan kisah-kisah cinta, cerita-cerita tentang Laila dan Majnun, Yusuf dan Zulaikha, Salaman dan Absal, dimana mudah untuk membaca makna tersembunyi dari nafsu kepada Sang Mutlak. Tema tema cinta kaum Sufi begitu beragam; kita mendengar nyanyian-nyanyian burung bul-bul yang sedang jatuh cinta pada bunga mawar, ngengat yang bergirangan mengitari cahaya lilin, burung merpati yang gundah gulana karena kehilangan pasangannya, salju yang meleleh di padang pasir dan bergerak ke langit sebagai asap, tentang sebuah malam yang gulita di gurun bersarna seekor unta yang membeku kedinginan, tentang alang-alang yang tersobek dari akarnya menjadi sebuah seruling dengan nada sendu yang meneteskan air mata. Seni Syabistari Telah saya sebutkan bahwa sedikit sekali pengetahuan kita tentang hidup Syabistari, tetapi berkenaan dengan ajaran dan pengetahuannya tentang Sufisme terdapat bukti dalam buku ini; dan meskipun dia tidak terpikat oleh ketakjuban subtil Hafizh, meskipun dia tidak memiliki keaslian Rumi atau dalam gaya tidak sebanding dengan elegansi jami, tetapi dalam kepolosan dan kelangsungan ucapannya, dan dalam kesungguhan tujuannya, dia mungkin melebihi mereka semua. Dia memberi kita sebuah pandangan yang jelas dan terang dalam sinar matahari yang terang benderang tentang Kebajikan dan Kejahatan, Hakikat dan Ilusi, Kearifan dan Pengabaian. Kita tidak menemukan diri kita dalam senjakala dari sebuah pulau berwarna indah yang kadang-kadang kita jelalahi, tertarik ke mari oleh suara-suara manis kaum Sufi, di mana, di tengah-tengah parfum yang semerbak wangi dari sebuah taman Oriental, sang pecinta sedang melantunkan lagu-lagu cinta yang memikat, baik tentang nafsu duniawi atau kemabukan Ilahiah, tetaplah menjadi kontroversi yang memanas sampai saat ini. Tidak pula kita memperoleh nasihat yang berani seperti diberikan Jami ketika dia bernyanyi: Reguklah dalam-dalam cinta duniawi, agar bibirmu mampu mengecap anggur cinta yang lebih suci. Pandangan Mahmud pada Sang Hakikat adalah langsung dan distingtif, bukannya pandangan tak langsung yang menjadi penglihatan sebagian mistikus, dan dari Sang Hakikat ini dia mampu membedakan dengan tajam antara kekuatan-kekuatan Kebaikan dan Kejahatan yang saling bertikai. Dia mendorong dengan penuh kasih kepada manusia untuk mencari Kebenaran (al-Haqq), untuk merindukan substansi bukannya fatamorgana, untuk mengabaikan pikatan dan ilusi cinta duniawiah, tetapi justru memusatkan semua kekaguman hatinya kepada Sang Kekasih. Kebun Mawar Rahasia Hampir tujuh ratus tahun sejak Mahmud menanami kebunnya dengan mawar-mawar Cinta dan Kekaguman, Akal Budi dan Iluminasi Spiritual. Sejak itu, banyak yang telah mengembara di sana, berdiam di jalan-jalan rahasia dan memetik mekar-mekar bunga yang harum untuk dibawa pulang ke dunia bayang-bayang dan tak nyata. Apa warna mawar-mawar yang tidak bisa lekang ini? Apa keagungan abadi mereka, dan bebauan apa yang terhirup dari mereka sehingga tetap hidup melewati zaman-zaman? Puisi ini dibuka dengan pernyataan tentang eksistensi tunggal Sang Dzat Sejati, dan ilusi fatamorgana dunia. Bagaimana manusia bisa mencapai pengetahuan tentang Tuhan? Dengan pikiran, karena Pikiran berlalu dari kesalahan menuju kebenaran. Tetapi akal budi dan indera tidak mampu membinasakan kenyataan dunia fenomenal yang tampak ini. Akal budi yang memandang Cahaya Maha Cahaya telah terbutakan seperti seekor kelelawar yang terbutakan sinar matahari. Ia kemudian menjadi kesadaran yang muncul dalam jiwanya yang hampa. Pada titik ini (pembasmian diri) memungkinkan bagi manusia untuk menatap cahaya Ruh. Di dunia ini terpantullah beragam atribut Sang Wujud, dan setiap atom Tak-Wujud merefleksikan satu atribut Ilahi: Setiap atom bersembunyi di balik selubungnva kecantikan yang menakjubkan jiwa dari wajah Sang Kekasih. Dan atom-atom ini sangat merindu untuk bergabung kembali dengan sumber mereka. Perjalanan menuju Sang Kekasih hanya memiliki dua tahapan: mematikan diri dan menyatu dengan Sang Kebenaran. Dua tahapan ini "perjalanan ke atas menuju Tuhan" dan "perjalanan turun menuju Tuhan" - adalah sebuah sirkuit. Barangsiapa yang telah mengitari sirkuit ini menjadi seorang manusia sempurna. Ketika dilahirkan ke dunia ini, manusia dikuasai oleh nafsu-nafsu setan, dan jika dia memberikan jalan kepada nafsu-nafsu itu maka jiwanya akan tersesat. Tetapi pada masing-masing jiwa ada sebuah insting kepada Tuhan dan kerinduan kepada kesucian. Jika kehendak manusia mendorong insting ini dan mengembangkan kerinduan ini, semburat cahaya Ilahi akan menyiraminya, dan dia, dengan rasa penyesalan, berpaling dan berjalan menuju Tuhan; setelah berhasil mengesampingkan keakuan, dia akan bertemu dan menyatu dengan Sang Kebenaran dalam ruh. Inilah keadaan suci para wali dan rasul. Tetapi manusia tidak boleh beristirahat dalam kesatuan Ilahiah ini. Dia harus kembali kepada dunia tak hakiki ini, dan dalam perjalanan turun ke bumi ini harus tetap menjaga hukum dan keimanan manusia umumnya. Eksistensi fenomenal ini, yakni, Tak-Wujud, adalah sebuah ilusi yang ditipekan dengan mempertimbangkan ketidaknyataan gema-gema dan refleksi-refleksi dan dengan merenungkan masa silam dan masa depan, dan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi, yang sesaat eksistensi mereka tampak nyata, tetapi tenggelam ke masa silam menjadi samar dan berbayang. Disposisi-disposisi yang diperoleh manusia dalam hidup ini di dunia esok akan dimanifestasikan ke dalam tubuh-tubuh spiritual; setiap bentuk akan sesuai dengan kehidupan masa silam. Gagasan material Surga dan neraka selanjutnya akan dikenal sebagai kisah yang ganjil. Tak ada sifat atau distingsi akan tetap sama untuk kehendak yang sempurna. Maka minumlah dengan piala kesatuan dengan Tuhan. Yang demikian adalah harapan kaum Sufi, tetapi di dunia ini kemabukan dari piala kesatuan diikuti oleh kepeningan perpisahan. Pohon Pusat Keindahan Di seluruh kebun rahasianya Mahmud telah menanamkan mawar-mawar Akal Budi, Keyakinan, Pengetahuan dan Keimanan; mereka sedang bermekaran di mana-mana, indah dalam warna Kebenaran dan Kemurnian yang penuh semangat. Tetapi di dalam pusat inilah kita temukan sebatang pohon Mawar keagungan yang tiada bandingannya, yang berkilauan dengan mekar-mekar pengabdian cinta; inilah pohon yang ditanam Mahmud dengan sepenuh kekaguman jiwa - penggambaran wajah sempurna Sang Kekasih. Di tempat ini kita terpaku dan terpesona, dan dalam ketenangan mistis kita tampak mendengar suara, dalam kerinduan cinta yang panjang, jiwa yang menanam pohon-Mawar ini, menggemakan perkataan yang sublim: Lihat hanya Satu, katakan hanya Satu, kenal hanya Satu.

Raihlah ridho-nya

Pengajian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani 17 Ramadhan, tahun 545, H. di Madrasahnya Siapa yang ingin meraih ridho atas ketentuan Allah Azza wa-Jalla hendaknya ia terus mengingat kematian. Karena dengan mengingatnya meringankan beban musibah dan bencana. Dan anda jangan berhasrat pada dirimu, hartamu, pada anakmu. Namun ucapkan, “Tuhanku lebih tahu tentang diriku dibanding diriku sendiri.” Bila anda bisa melanggengkan itu, anda akan didatangi oleh kelezatan ridho dan keselarasan dengan kehendakNya. Maka, bencana dengan akar dan rantingnya akan sirna, lalu datanglah gantinya, berupa nikmat-nikmat dan kebajikan. Sepanjang anda beserasi dengan ridho, disaat bencana datang, justru nikmat-nikmat yang bakal tiba dari berbagai arah dan tempat. Namun sungguh celaka anda ini, hai orang yang alpa pada Allah Swt. Janganlah anda sibuk menjauhiNya dan mencari selain Dia. Sudah berapa lama anda memburu keleluasaan rejeki, tetapi malah menjadi bencana bagimu, sedangkan anda tidak tahu kebaikan itu ada dimana. Mulailah anda diam dan berselaraslah denganNya, carilah ridhoNya atas tindakan-tindakanNya dan bersyukur dalam berbagai situasi. Karena berlimpahnya rejeki malah menjadi bencana manakala tidak disertai syukur. Begitu juga sempitnya rejeki menjadi bencana manakala tidak disertai sabar. Syukur menambah nikmat padamu dan mendekatkanmu kepada Allah Azza wa-Jalla. Sementara sabar meneguhkan langkah-langkah hatimu, menolongmu, menguatkanmu, menguntungkan dirimu. Akibat sabar adalah terpujinya seseorang di dunia dan akhirat. Karena kontra kepada Allah Azza wa-Jalla berarti menzalimi hati dan wajah. Wahai orang bodoh, gantilah kesibukanmu yang terus menentang Tuhanmu dengan kesibukan memohon kepadaNya Azza wa-Jalla, teruslah demikian sampai hilang bencana dan cobaan, serta api cobaan sirna. Anda wahai orang yang mengaku berserasi dengan kehendak Allah Azza wa-Jalla, yang mengaku melihat khazanah perbendaharaan rahmatNya dan cintaNya memohonlah kepada Allah Azza wa-Jalla manakala anda ada di JalanNya, sebelum sampai di hadapanNya. Bila anda bingung, katakan, “Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang bingung, tunjukkanlah padaku.” Bila anda lemah dan kehilangan kesabaran, ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, tolonglah aku, dan sabarkanlah diriku, bukakanlah jalan keluar bagiku.” Namun bila anda telah sampai (wushul) dan hatimu sudah masuk di hadapanNya serta dekat padaNya, maka tidak ada lagi permohonan yang harus diutarakan, melainkan diam dan menyaksikanNya. Anda menjadi tamuNya, dan tamu yang baik tidak menginginkan apa-apa, justru harus berbudi adab yang bagus. Tidak makan kecuali yang disuguhkan, mengambil apa yang diberi. Kecuali jika ditanyakan, “Anda ingin sesuatu?”. Ia pun berkeinginan itu, sebagai bentuk pelaksanaan perintah, bukan karena pilihannya sendiri. Meminta itu, berarti jauh dariNya. Sedangkan diam, berarti dekat denganNya. Orang-orang arif senantiasa tidak mengenal kecuali Al-Haq Azza wa-Jalla. Semua bentuk ketergantungan putus dan semua sebab akibat sirna dari hatinya. Bahkan seandainya tidak ada makanan dan minuman berhari-hari dan berbulan-bulan ia tidak peduli dan tidak berubah. Karena Allah azza wa-Jalla memberikan makanan kepada mereka, konsumsi yang sesuai dengan kehendakNya. Siapa yang mengaku mencintai Allah Azza wa-Jalla, tetapi masih mencari selain Dia, berarti ia dusta dalam mencintaiNya. Namun jika ia dicintaiNya, ia telah wushul menjadi tamuNya, dan begitu dekat denganNya, lalu dikatakan padanya, “Carilah,…”, dan anda memang menginkannya, maka ucapkanlah, “Terserah apa yang Engkau Kehendaki, karena KehendakMu itu bebas…”. Sang pecinta senantiasa tergenggam, dan yang dicintai senantiasa menghamparkan keleluasaan. Bagi pecinta segalanya terlarang, bagi yang dicinta meraih segalanya. Sepanjang hamba menjadi pecinta ia senantiasa bimbang, tercabik-cabik, dan penuh upaya sepanjang waktu. Bila ia telah kembali kepadaNya, ia menjadi tercinta. Segalanya jadi terbalik pada haknya. Datanglah kemudahan-kemudahan, kesejahteraan, tenang, rizki melimpah dan makhluk lain patuh padanya. Semua itu berkah kesabaran dan keteguhan pada situasi mencintaiNya. Kedekatan hamba hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, sedangkan cintanya Allah azza wa-Jalla pada hambaNya, bukan seperti cintanya makhluk pada sesamanya. Karena Tuhan kita Azza wa-Jalla: “Tidak satu pun yang menyamaiNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura : 11) Jadikan padanan itu hanya pada sesama manusia. Maka carilah pemahaman dariNya, carilah kebaikan qalbu dariNya. Karena Dia senantiasa memberikan keluasan kebajikan qalbu pada yang dikehendakiNya, Dialah yang memperbanyak rizki qalbu pada yang dikehendakiNya. Salah satu dari kaum Sufi hatinya begitu luas melampaui langit dan bumi, sehingga hatinya seperti Tongkat Musa as. Tongkat Nabi Musa as, pada awalnya adalah hikmah, kemudian menjadi qudroh (memiliki kemampuan). Tongkat itu digunakan membawa bekalnya manakala ia tidak mampu membawanya. Tongkat itu bisa jadi kendaraan yang dinaiki, manakala ia tidak mampu berjalan. Tongkat itu bisa menolak bahaya, sedangkan ia sedang duduk dan tidur. Bahkan bisa berbuahkan buah-buahan dari berbagai jenis buah dan menjadi payung ketika ia duduk. Allah menampakkan kekuasanNya dalam tongkat itu, lalu Nabi Musa merasa bahagia dengan KekuasaanNya melalui perantara tongkat itu. Katika Allah Azza wa-Jalla menjadikan dirinya sebagai Nabi, dan memberikan ke-taqarrub-an, mengajaknya bicara dan memberikan tugas padanya, Allah berfirman pada Nabi Musa as. : “Apa yang ada di tangan kananmu wahai Musa?” Maka Musa menjawab, “Inilah tongkatku, aku gunakan pegangan (bertelekan) padanya, dan aku gunakan menggembala kambingku, dan bagiku ada kegunaan lain padanya.” (Thaha 18) Kemudian Allah Azza wa-Jalla berfirman, “Lemparkanlah tongkatmu…” Tiba-tiba menjadi ular besar, dan Musa lari dari ular itu. Maka Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Ambillah ia, dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya (jadi tongkat lagi)”. (Thaha 21) Tujuan utama dari itu adalah menampakkan Kekuasaan Allah Swt, sehingga imperium Fir’aun terasa hina, sekaligus menegaskan perang melawan Fir’aun dan pasukannya, dan keluarbiasaan itu sebagai piranti untuk memerangi mereka dan menampakkan hal yang luar biasa. Di awalnya memang menimpulkan rasa sesak di hati dan dada, kemudian Allah melapangkannya, dan memberikan hukum, kenabian dan pengetahuan kepada Musa as. Hai bodoh, ini pun KekuasaanNya, namun tetap dilalaikan dan diingkari. Karena itu jangan anda melupakan Dzat yang tak pernah lupa padamu, jangan anda alpa pada Yang tidak pernah melupakanmu. Ingatlah pada mati, karena malaikat maut yang siap mencabut nyawa mereka. Karena itu kemudaanmu, hartamu dan semua yang engkau miliki tidak akan pernah memperdayaimu, karena tidak lama lagi akan diambil semua darimu. Sementara anda hanya mengenang keteledoranmu dan sia-siamu di hari-hari ini, penuh dengan tindak kebatilan. Anda menyesal, dan tak ada penyesalan kemudian. Tidak lama lagi anda mati, dan anda baru ingat kata-kataku, nasehatku padamu dan anda sangat berharap agar aku ada disampingmu ketika engkau dalam kuburmu, mendengarkan saran nasehatku. Karena itu berusahalah dengan serius untuk menerima kata-kataku dan mengamalkannya, hingga engkau bersamaku di dunia dan akhirat. Berbaiksangkalah padaku sampai anda mengambil manfaat ucapanku, lalu berbaiksangkalah pada selainmu, namun berburuk sangkalah pada nafsumu. Bila anda melakukan tindakan ini, anda bisa meraih manfaat dan yang lain mendapatkan manfaat darimu. Sepanjang anda dengan selain Allah azza wa-Jalla, maka anda terus susah dan gelisah, syirik dan berat. Keluarkanlah makhluk dari hatimu dan bersambunglah dengan Allah azza wa-Jalla, maka anda akan melihat sesuatu yang tak terbayang mata, dan tak pernah terbesit di telinga, tidak pula terlintas di hati manusia. Inilah yang anda ada di dalamnya, dalam kondisi anda tidak benar dan tidak sempurna. Karena prinsip dasarnya masih ada yang lain, bukan Dia sebagai penentu. Dia terbuang, dan anda telah membangun keruntuhan. Bertaubatlah kepada Allah azza wa-Jalla dan mohonlah perubahan posisi anda kepadaNya., yang berupa ambisi duniawimu dan kontra akhirat itu.

Jangan Penuhi Hati Dengan dunia

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany - 19 Ramadhan, tahun 545, H. di Pesantrennya Anak-anak sekalian, aku melihat aktivitasmu bukanlah upaya untuk muroqobah kepada Allah Azza wa-Jalla, yang senantiasa takut kepadaNya, tetapi lebih merupakan hubungan kaum jahat dan kehancuran, hubungan yang memisahkan diri dari para wali dan para sufi. Hatimu kosong dari Allah Azza wa-Jalla, dan anda penuhi dengan kesenangan dunia, pendukungnya dan benteng-bentengnya. Ingatlah bahwa rasa takut kepada Allah Azza wa-Jalla itu merupakan muatan yang menjaga hati dan menerangi qalbu, penjelas dan penafsir. Bila anda terus demikian, maka anda telah berpijak pada keselamatan dunia dan akhirat. Bila anda ingat mati, akan sedikit sekali rasa senangmu pada dunia, dan anda lebih banyak menghindari dunia. Siapa yang akhirnya adalah maut, bagaimana bisa gembira dengan suatu hal? Nabi Saw bersabda: “Setiap pejalan selalu ada tujuan, sedangkan tujuan setiap yang hidup adalah mati.” (Takhrij Ibnu Mubarak). Akhir setiap kegelisahan, kegembiraan, kekayaan, kefakiran, kesulitan, kemudahan, sakit dan lapar, adalah mati. Siapa yang mati, maka tegaklah kiamatnya, yang jauh menjadi sangat dekat dalam haknya. Semua yang ada pada dirimu sangat membingungkan. Menyingkirlah dari apa yang ada padamu itu dengan segenap hati, batin, dan rahasia batinmu. Dunia ini ada batas tertentu, dan kehidupanmu di akhirat tiada terbatas. Seriuslah dirimu agar hidupmu penuh dengan ketaatan. Bila anda telah berbuat demikian, seluruh dirimu hanya untuk Tuhanmu Azza wa-Jalla. Maksiat itu adah eksistensi nafsu, dan taat itu adalah hilangnya nafsu. Raihan-raihan nafsu syahwat muncul dari nafsu, sedangkan mencegahnya adalah hilangnya nafsu tadi. Cegahlah kesenangan syahwatmu dan jangan mencarinya, kecuali berselaras dengan kepastian Allah Azza wa-Jalla, bukan berselaras dengan pilihan seleramu. Raihlah kesenangan nafsu dengan tangan zuhud secara paksa, maka tangan zuhud akan menggerakkanmu, dan kesenangan menyampaikan pada nafsu. Zuhud itu harus ada sebelum anda tahu kondisi diri nafsu anda. Zuhud berada di tengah gelap, sedangkan pencarian dan kesenangan terang itu sendiri adalah gelap. Jika anda bisa keluar, anda benar-benar melihat terang. Kekuasaan itu adalah gelap, tetapi berpaku di hadapan Sang Empunya Kuasa adalah terang itu sendiri. Awal perkara hidupmu adalah gelap, bila ketersingkapan hati dari Allah Azza wa-Jalla tiba dan anda berada di hadapanNya, maka perkara hidup anda jadi terang. Bila cahaya rembulan ma’rifat datang terbukalah kegelapan Lailatul Qadar. Bila matahari ilmu pengetahuan pada Allah Azza wa-Jalla terbit, hilanglah kepastian-kepastian darimu dan sirna kegelapan total, maka akan jelas padamu apa dayamu dan mana yang jauh darimu, jelas pula yang yang dilematik dan problematik sebelumnya. Lalu jelaslah perbedaan antara yang kotor dan yang bersih, apa yang ada dari Allah Azza wa-Jalla dan yang darimu sendiri. Anda bisa membedakan mana kehendak makhluk dan mana kehendak Allah Azza wa-Jalla. Anda pun melihat mana pintu makhluk dan mana Pintu Allah Azza wa-Jalla, anda akan melihat sesuatu yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar telinga dan tak pernah terlintas di hati. Hatimu akan mengkonsumsi makanan Musyahadah, dan meminum minuman kemesraan, dan memakai pakaian penerimaanNya, kemudian dikembalikan kepada Allah demi kemashlahatan makhluk, mengembalikan mereka dari kesesatan mereka dan hijrahnya mereka dari Tuhannya Azza wa-Jalla, kemaksiatan mereka, lalu dikembalikan pada kekokohan benteng, penjagaan abadi dan keselamatan selamanya. Hai orang yang tidak memahami dan tidak percaya hal ini, anda terlalu kerkutan pada kulitnya tanpa isinya, kulit kasar kering hanyalah layak bagi api neraka, kecuali anda tobat, beriman dan membenarkan. Bila anda bertobat! Beriman dan membenarkan, maka dalam masa mudamu anda dapatkan kebaikan, keselamatan dan kemanisan. Bila anda tidak berbuat, anda dapatkan di dalamnya kaca yang bakal membelah lisanmu, permainanmu dan hatimu. Terimalah kata-kataku, aku sangat peduli padamu, kemarilah, jangan memusuhi aku, karena tak ada kebencian antara diriku dengan dirimu. Karena akulah tempat sujud bagi sholatmu, dan untuk membuang najismu dan kotoranmu, aku hadapkan kamu pada jalan, aku siapkan makan dan minuman, dan aku lakukan ini untukmu, tanpa minta sedikitpun imbalan darimu. Kesenanganku adalah khidmah sebagaimana para penempuh menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila pencarianmu benar kepada Allah Azza wa-Jalla, maka segalanya akan ditundukkan padamu. Karena bila tujuan hamba dan pencariannya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, segalanya akan ditundukkan padanya. Anak-anak sekalian, jadilah dirimu orang yang menasehati dirimu. Jangan mencari kebutuhan padaku dan selain aku. Nasehati lahir dan batinmu. Nasehati dirimu dengan terus menerus mengingat mati dan memutuskan hubungan dari faktor dunia. Bergantunglah kepada Tuhan semesta, Sang Maha Budi yang Agung dan Maha Tahu. Bergelayutlah pada tali rahmatNya dan rasa kasihNya, lalu jangan sibuk pada yang lainNya, karena akan menjadi hijab bagimu terhadapNya. Sungguh yang membahagiakan aku bila anda menerimaku dan menjadi sedih diriku bila tidak mau menerimaku. Karena orang beriman itu mendekat padaku, sedangkan orang munafik menjauh dariku. Hai orang-orang munafik, aku senantiasa berserasi dengan Allah Azza wa-Jalla dalam hal kemarahanNya pada kalian. Dia benar-benar menjadikan nyala api neraka padaku untuk membakar kalian. Namun bila kalian menerima dan bertobat, aku tidak akan berbuat apa-apa. Dan jika anda sabar atas ucapanku yang kasar, aku jadikan api itu dingin dan sejuk nan damai. Sungguh celaka kalian ini? Bagaimana taatmu hanya pada lahiriyah, sementara maksiatmu memenuhi batinmu. Dalam waktu dekat anda akan dijemput maut dan derita, lalu dipenjara dalam penjara neraka Allah Azza wa-Jalla. Dan anda wahai orang-orang yang sangat membatasi amal ibadah, apa yang anda miliki? Kalian malah rela dengan kebatilan, siang dan malam, lalu anda menginginkan anugerah dari sisi Allah dengan cara yang singkat? Bersegeralah untuk melakukan aktivitas amaliah, berarti kalian telah mengembalikan dirimu. Setiap yang masuk selalu bingung, dan yang lain sedang membersihkan kotoran. Bila anda bertobat haruslah dari awal hingga akhir. Hai orang-orang yang membandel untuk berbakti pada Tuhannya. Wahai orang yang merasa cukup dengan pikiran-pikirannya, dan menolak pandangan para Sufi, para Nabi, para Rasul dan orang-orang shalih. Wahai orang yang berpegang pada makhluk, bukan pada Allah Azza wa-Jalla, dengarkan sabda Nabi Saw.: “Terlaknat, terkutuk, orang yang keteguhannya justru pada makhluk yang sama dengannya.” Janganlah anda memburu dunia, juga jangan membenci sesuatu dari dunia, karena hal demikian bisa merusak hatimu sebagaimana madu dirusak oleh cuka. Celaka! Anda menggabungkan cinta dunia dengan kesombongan, dua-duanya adalah perilaku yang tidak membuat orang bahagia selamanya, jika orang itu tidak mau taubat dari dua hal itu. Jadilah orang yang berakal sehat, siapa dirimu, apa dirimu, dari apa anda dicipta, untuk apa anda dicipta? Jangan sombong, karena tidak ada yang sombong kecuali orang bodoh pada Allah Azza wa-Jalla, RasulNya dan orang-orang saleh. Hai orang yang sempit akalnya, anda mencari keluhuran dengan kesombongan, kalian pasti akan terbalik. Karena Sang Nabi saw, bersabda: “Siapa yang rendah hati kepada Allah, maka Allah Azza wa-Jalla akan meninggikan derajatnya, dan siapa yang sombong Allah akan merendahkan derajatnya.” (HR. Imam Ahmad).

Makanan Sufi adalah Dzikrullah

Anak-anak sekalian, jujurlah padaku. Lepaskanlah sebagian hartamu yang ada di rumahmu. Aku tidak punya keinginan sedikitpun kecuali kejujuran dan keikhlasanmu, bukan untukku, tetapi demi untukmu. Peganglah dengan kuat ucapanmu, lahir dan batin, karena ada malaikat yang selalu mengawasi lahiriyahmu, sedangkan Allah Azza wa-Jalla yang mengawasi batinmu. Hai orang yang membangun istana dan apartemen, yang umurnya hilang dalam pembangunan dunia, yang tidak menegakkan bangunan dengan niat yang shaleh. Padahal membangun dunia itu fondasinya adalah niat yang saleh, bukan membangun dengan fondasi nafsu dan kesenanganmu. Hanya orang bodoh yang membangun dengan nafsu dan kesenangan, watak dan tradisinya tanpa disertai aturan yang jelas dan keselarasan dengan ketentuan Allah azza wa-Jalla dan tindakanNya. Ia membangun tidak disertai keserasian yang benar dan tidak dipersiapkan untuk apa ia membangunnya, lalu orang lain yang menempatinya. Kemudian di hari kiamat ia ditanya, “Untuk apa kamu membangun? Darimana uang kamu dapatkan? Untuk apa uang itu kamu salurkan? Semua dihisab. Karena itu carilah ridhoNya dan carilah keserasian dengan kehendakNya. Terimalah apa yang telah dibagikan padamu, dan jangan berburu yang bukan bagianmu. Nabi Saw, bersabda: “Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih pada hambaNya di dunia adalah perburuannya pada bagian yang bukan bagiannya.” Datanglah kepadaku, dan apa yang ada padamu dengan baik sangka padaku, sungguh kalian akan bahagia dengan ucapanku. Celakalah, kamu mengakui sebagai muslim, sementara kamu menentang Allah azza wa-Jalaa, kontra pada hamba-hambaNya yang saleh. Kamu dusta dengan pengakuan itu. Islam itu bersumber dari kata Istislam, yang berarti menyerahkan diri pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada takdirNya, serta rela dengan tindakanNya disertai pijakan pada Kitab dan Sunnah RasulNya Saw. Jika anda bisa demikian, benarlah Islam anda. Akibat negatif dari angan-angan panjangmu, membuatmu banyak terlibat maksiat kepada Allah azza wa-Jalaa, kontra padaNya. Sebaliknya bila anda membatasi angan-angan anda, kebaikan bakal tiba dengan sendirinya. Maka peganglah kebaikan itu bila anda ingin bahagia. Apa pun yang datang padanya, ia raih dengan tangannya, dan ia ridho, disertai keserasian syari’at, dan kerelaan padaNya, tidak kerena kerelaan nafsu atau watak diri, tidak pula karena kerelaan syetan, sungguh, maksudnya Allah Azza wa-Jalla telah menentukan takdir pada mereka. Bukan berarti mereka tiada, dari berbagai segi mana pun, karena kita semua tidaklah ma’shum setelah usainya periode Kenabian –semoga sholawat salam pada mereka-. Jiwanya tenteram, hawa nafsunya dikalahkan, pengaruh wataknya padam, syetannya terpenjara. Apa yang ada di tangannya dariNya tidak pernah berputar, tidak pernah berserah atau mandeg pada sebab akibat, karena tauhid itu bukannya memandang bahaya dan manfaat datang dari seseorang. Padahal dirimu itu semuanya nafsu, semuanya penuh selera kesenangan, semuanya berdasar kebiasaan diri, tak ada sedikitpun tawakal. Sedangkan bertauhid kepada Allah Swt, awalnya adalah kabar pahit, kemudian berubah manis, lalu remuk redam, kemudian keterpaksaan, selanjutnya mati, baru kehidupan yang abadi. Hinakan dirimu, baru raih kemuliaan. Fakirlah, baru kaya raya. Awalnya tiada lalu ada bersamaNya, bukan bersama dirimu. Jika dirimu sabar, maka benarlah apa yang anda kehendaki berserah dengan Allah Azza wa-Jalla, jika tidak, maka anda tidak meraih yang benar. Segala hal yang membuat mu sibuk jauh dari Allah Azza wa-Jalla pasti tercela bagimu, walaupun anda telah melakukan sholat dan puasa, setelah anda melaksanakan hal-hal yang fardhu dan sunnah. Bila anda melaksanakan kewajiban puasa, kemudian setelah itu anda lapar dan dahaga ketika melaksanakan puasa sunnah, namun hati anda tidak hadir di hadapan Allah Azza-wa-Jalla, tidak bisa muroqobah padaNya, tidak hidup bersamaNya, dekat padaNya, sungguh anda menjadi hamba yang terhijab, hambanya makhluk, dan hamba hawa nafsu. Orang arif biLlah itu senantiasa tegak di hadapanNya di bawah panji-panji taqarrub padaNya, melalui ilmu dan batinnya, pada saat yang sama ia menjalankan ketentuan dan takdirNya. Karena itu ia tak berdaya dalam peran, dirinya tanpa peran, ia bergerak tanpa gerak dari dirinya, ia diam tanpa diam dari dirinya, dan ia tergolong pada firmanNya Azza wa-Jalla: “Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18) Ketika sifat tak berdaya muncul, mereka bergerak dengan kemampuan, sementara ketika tak berdaya mereka diam dan pasrah. Gerak itu ketika wujudmu ada, dan diam itu ketika wujudmu tiada. Gerak dalam aturan hukum dan diam dalam ilmu. Sesungguhnya diri anda baru benar jika anda keluar dari diri anda sendiri, keluar dari nafsu, kesenangan, karakter dan perilaku secara total. Janganlah anda bergelayut dengan makhluk yang sesungguhnya tidak memiliki bahaya dan manfaat bagimu, begitu pula rizkimu. Kecuali bergelayut kepada Allah azza wa-Jalla. Selamanya anda harus menjalankan perintah dan menghindari laranganNya. Tak ada yang tersisa di tanganmu, kecuali Allah azza wa-Jalla, sehingga anda menjadi manusia paling kaya dan pling mulia, seperti Adam as, segala sesuatu bersujud padanya. Ini semua tersembunyi dari umumnya akal makhluk, dan banyak diantaranya kaum khusus (khawash) yang merupakan nukleus dari Adam as dan tergolong meraih lubuk jiwanya. Hai orang yang sangat sedikit memanfaatkan pengetahuan, lihatlah mereka ini semula konsentrasi belajar pada kaum Sufi, kemudian mereka hatinya uzlah dari makhluk, walau lahiriyahnya berinteraksi untuk membangun dan mendidik sesama, namun batinnya bersama Allah azza wa-Jalla, senantiasa berbakti dan bersamaNya. Mereka eksis di tengah makhluk secara syariat, tetapi batin mereka menghindar dari makhluk, bahkan menghindar dari segalanya. Secara lahiriyah mereka sibuk dengan aturan hukum, ketika pakaian mereka kotor, mereka cuci, mereka perbaiki pakaian itu, mereka beri parfum wewangian. Ketika robek mereka jahit. Mereka inilah pemuka-pemuka makhluk, laksana gunung-gunung yang kokoh, sedangkan hatinya senantiasa bersama Allah Azza wa-Jalla, lunglai di hadapanNya, senantiasa muroqobah padaNya dan tenggelam dalam pengetahuanNya. Ya Allah jadikanlah dzikir kepadaMu sebagai konsumsi kami, dan berikanlah rasa puas kami dengan mendekat kepadaMu. Amin. Sedangkan hati anda, mati.kawan-kawan anda adalah oerang-orang yang hatinya mati. Seharusnya anda bergaul dengan orang yang hatinya hidup, para kekasihNya yang Nujaba’, dan kaum abdal. Anda adalah kuburan yang mendatangimkuburan. Mayat yang mendatangi mayat. Masa anda adalah zaman yang menmggiring anda seperti zaman anda. Orang buta yang menuntun orang buta seperti anda. Karena itu bergaullah dengan orang yang beriman, yang yaqin dan saleh. Bersabarlah dengan ucapan-ucapan mereka, terima dan amalkan, maka anda akan bahagia. Terimalah ucapan-ucapan para Syeikh, amalkan dan hormati mereka jika anda ingin bahagia. Aku punya seorang Syeikh, apabila ada problema dalam diriku, dan ungkapan dalam hatiku, aku tidak ingin mengutarakan padanya, semata karena rasa hormatku padanya, dan adab yang baik yang harus kulakukan. Aku tak pernah berguru dengan seorang Syeikh, kecuali aku sangat hormat padanya dengan adab yang bagus. Seorang Sufi tidak pernah pelit, karena memang tidak ada yang tersisa pada dirinya, karena segalanya sudah ia tinggalkan. Jika ia diberi sesuatu, maka sesuatu itu diberikan lagi pada orang lain, bukan untuk dirinya. Hatinya sudah bersih dari materi yang ada dan fenomena gambaran yang ada. Orang pelit itu adalah orang yang menyimpan hartanya. Sedangkan para Sufi hartanya untuk orang lain. Bagaimana ia akan pelit dengan harta milik orang lain? Sedangkan ia tidak membenci dan menyenangi harta itu, tidak pula berpaling pada harta tersebut, bahkan tidak butuh pujian, tidak peduli cacian, tidak memandang pemberian, pencegahan, bahaya dan manfaat, dari selain Allah azza wa-Jalla. Mereka ini tidak gembira dengan kehidupan, juga tidak gelisah dengan kematian. Yang dinilai sebagai kematian manakala ia mendapatkan amarah Tuhannya, dan yang disebut kehidupan adalah ridhoNya itu sendiri. Kecemasannya ketika dalam kesibukan ramai, dan kebahagaiannya ketika dalam kesendirian. Konsumsi makannya adalah dzikir kepada Tuhannya Azza wa-Jalla, dan minumannya bersumber dari kemesraan denganNya. Bagaimana mereka disebut pelit dengan benteng dunia dan seisinya, sedangkan mereka tidak butuh semua itu? Ya Tuhan kami, berikanlah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan (pula), dan lindungi kami dari ‘azab neraka.

Muroqobah Fokus pada Allah

Wahai penempuh jalan Allah, hendaknya Anda menetapi jalan akhirat melalui ajaran yang telah diperintahkan kepadamu dalam aktivitas lahiriahmu. Bila Anda telah melakukannya, maka duduklah dalam hamparan Muraqabah. Raihlah dengan penjernihan batinmu, hingga tak tersisa sedikitpun yang menghalangimu. Berikanlah hak keseriusan dan ketekunanmu, lalu minimkanlah pandanganmu untuk melihat lahiriahmu. Apabila Anda ingin dibukakan rahasia batinmu, untuk mengetahui rahasia alam malakut Tuhanmu berupa intuisi ruhani yang datang kepadamu yang kemudian dihalangi oleh bisikan-bisikan yang manjauhkan dari keinginanmu, maka ketahuilah pertama-pertama, bahwa kedekatanTuhanmu pada dirimu merupakan ilmu yang langsung berkaitan dengan hatimu, melalui pengulangan terus menerus pandangan dalam menarik kemanfaatanmu dan menolak bahayamu. Lihatlah firman Allah Swt.: “Adakah sang Khalik selain Allah, yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi” Sesungguhnya yang dari bumi adalah nafsumu, dan yang dari langit adalah hatimu. Apabila ada sesuatu yang turun dari langit ke bumi, lalu siapakah yang memalingkan dari dirimu pada selain Allah: “Allah mengetahui apa yang ada di dalam bumi dan apa yang keluar darinya, serta apa yang turun dari langit dan apa yang naik di dalamnya. Dan Allah menyertaimu dimanapun kamu berada.” (Qur’an) Berikanlah hak kesertaanNya dengan konsistensi ubudiyah kepada-Nya dalam aturan-aturan-Nya. Tinggalkan kontra terhadap Sifat Rububiyah dalam Af’al-Nya. Siapa yang kontra kepada-Nya akan kalah: “Dan Dia adalah Maha Perkasa di atas hamba-Nya, dan Dia Maha Bijaksana dan Maha Meneliti.” Apa yang saya katakan kepadamu ini sungguh benar: “Tiada yang muncul dari nafas-nafasmu, kecuali Allahlah yang mengaturnya, apakah Anda pasrah atau menolak. Karena Anda ingin pasrah pada suatu waktu, dan Anda mengabaikan, di waktu yang lain. Atau Anda ingin kontra pada suatu saat, lalu Anda mengabaikan, kecuali yang ada hanya pasrah. Semua itu menunjukkan Rububiyah-Nya dalam seluruh tindakan-Nya apalagi pada sisi orang yang sibuk dengan menjaga hatinya untuk meraih hakikat-hakikat-Nya. Apabila permasalahannya sedmikian rupa, maka berikanlah haknya adab berkaitan dengan apa yang datang kepadamu, dengan Anda bersaksi terhadap sesuatu dari dirimu bahwa tiada awal kecuali dengan Awal-Nya, dan tiada yang akhir kecuali dengan Pengakhiran-Nya, tiada dzahir kecuali dengan Dzahir-Nya, tiada batin kecuali dengan Batin-Nya. Apabila Anda telah sampai pada awalnya awal, Anda akan melihat, terhadap apa yang dilimpahi-Nya. Apabila muncul suatu bisikan dari Sang kekasih yang sesuai atau tidak dengan dirimu, yang tidak diharamkan syariat, maka lihatlah mengapa Allah ciptakan di dalam dirimu melalui pengaruh intuitif dalam kondisimu. Bila Anda menemukan bnentuk peringatan yang menyadarkan Anda pada Allah Swt, Anda harus membenarkannya. Itulah adab waktu bagi Anda. Anda jangan kembali pada selain itu. Apabila Anda tidak menemukan jalan pembenaran, maka tanjakkan diri ke hadapanNya, maka itulah adab waktu pada dirimu. Namun bila Anda kembali kepada selain jalan itu, berarti Anda telah salah jalan. Apabila hal itu tidak muncul dari dirimu, Anda harus bertawakal, ridha dan pasrah. Bila masih belum menemukan jalan menempuhnya Anda harus berdoa agar bisa menarik menfaat dan menolak bencana dengan disertai taslim dan pasrah total. Saya peringatkan agar anda tidak berupaya demi sebuah pilihanmu, karena ikhtiyar demikian merupakan keburukan di mata orang yang memiliki mata batin. Dengan demikian ada empat adab: Adab Tahqiq Adab Keluhuran Adab Tawakal Adab Doa. Siapa yang mendapatkan hakikat bersama-Nya akan terjaga oleh-Nya. Siapa yang diluhurkan oleh Allah, cukuplah bersama Allah, tanpa lainNya. Siapa yang tawakal kepadaNya, ia melepaskan ikhtiar/pilihan dirinya, menyandarkan pada pilihan-Nya. Siapa yang mendoa pada-Nya dengan syarat menghadap dan mahabbah pada-Nya, Insya Allah akan diijabahi menurut kelayakan dari-Nya. Atau doanya tidak diijabahi —jika Dia menghendaki— karena kehendak doanya tidak membuatnya maslahat. Setiap masing-masing etika ini ada hamparan keleluasaan. Hamparan pertama, adalah keleluasaan “tahqiq”. Apabila ada sesuatu intuisi (bisikan halus) yang datang kepadamu tanpa tahqiq, lalu engkau dibukakan sifat-sifat-Nya, maka seharusnyalah Anda tetap dengan rahasia batin Anda, dan diharamkan Anda menyaksikan selain Allah Ta’ala. Hamparan kedua, adalah hamparan keluhuran. Manakala datang intuisi kepadamu, selain keluhuran, dan Anda dibukakan melalui Af’al-Nya, maka luhurkanlah dirimu di sana melalui rahasia batinmu. Anda diharamkan menyaksikan selain Sifat-sifat-Nya, dan Anda sebagai pihak yang menyaksikan dan disaksikan. Pada tahap pertama adalah fana’nya penyaksi, kemudian fana’nya yang disaksikan (Anda sebagai yang disaksikan dalam fana’). Hamparan ketiga, adalah hamparan tawakal. Apabila datang kepadamu suatu intuisi selain tawakal, saya maksudkan adalah apa yang kami sebut terdahulu, baik Anda senangi atau tidak, dan Anda dibukakan cacat-cacat bisikan, maka duduklah pada hamparan cinta-Nya, sembari bertawakal pada-Nya, ridha terhadap yang tampak pada dirimu berupa dampak dari perbuatan-Nya dalam cahaya tirai-Nya. Hamparan keempat, adalah hamparan doa. Apabila muncul bisikan intuisi yang lain, lantas Anda dibukakan bentuk kebutuhan (kefakiran) Anda kepada-Nya, maka Allah telah menunjukkan akan Kemahakayaan-Nya. Raihlah kefakiran sebagai hamparan, dan waspadalah untuk tidak jatuh dari derajat ini pada tahap lainnya, dikawatirkan Anda terjerumus dalam makar Allah sementara Anda tidak tahu. Minimal, bila Anda mengalami kejatuhan dari derajat tersebut, Anda akan kembali pada diri Anda, sebagai pengatur atau pemilih yang menyebabkan Anda memuliakan diri Anda, dan selanjutnya tak ada kondisi ruhani bagi Anda untuk membawanya secara serius dan tekun, baik dalam lahiriyah maupun batin Anda, dengan mengharapkan agar Anda diberi sebagaimana Allah memberinya. Lalu bagaimana Anda bisa menentang-Nya, terhadap hal-hal yang Allah tidak berkehendak memberikan kepadamu. Maka, dampak paling minimal dalam pintu ini, adalah tuduhan-tuduhan syirik, bahwa Anda telah menang, padahal sebenarnya tidak sama sekali. Apabila Anda memang menang, lakukanlah sekehendakmu, dan Anda tidak akan mampu melakukan menurut kehendakmu selamanya. Ini menunjukkan besarnya ketekunanmu dalam memamahi tindakan-tindakan Allah Swt. Aku tidak akan ikut pada seorang hamba yang bodoh, atau seorang Ulama yang fasik. Saya tidak tahu, dimana posisi Anda pada dua sifat ini; apakah pada kebodohan atau kefasikan, atau kedua-duanya? Kami mohon perlindungan Allah dari pengabaian jiwa dari mujahadah, dan kosongnya qalbu dari musyahadah. Pengabaian diri akan menolak syariat, dan pengosongan akan menolak tauhid. Sedangkan Sang Hakim telah membawa syariat dan tauhid. Karena itu tempuhlah dengan cara menjauhkan diri dari kontra terhadap Tuhanmu, agar menjadi orang yang bertauhid. Amalkanlah rukun-rukun syariat agar kamu menjadi pelaku Sunnah. Integrasikan keduanya dengan mata hati yang lembut, maka Anda akan meraih hakikat. Sebagaimana firman-Nya: “Atau tidakkah cukup bersama Tuhanmu, bahwa Dia Maha Menyaksikan segalanya?” Kemudian bila muncul intuisi dalam muraqabahmu yang tidak disahkan oleh syariat atau pun yang disahkan syariat, atas apa yang berlalu dari dirimu, maka lihatlah apa yang diperingatkan dan diwaspadakan kepadamu. Apabila intuisi itu menjadikan Anda ingat kepada Allah, maka adab Anda adalah mentauhidkan-Nya di atas hamparan KeEsaan-Nya. Namun bila Anda tidak demikian, adab Anda adalah melihat adanya limpahan karunia-Nya, yang menempatkan dirimu melalui Kemahalembutan Kasih-Nya. Dan Dia menghiasi dengannya melalui kepatuhan pada-Nya, dengan mencintai-Nya secera khusus di atas hamparan Kasih-Nya. Apabila Anda turun dari pintu derajat ini, sementara Anda tidak berkenan di sana, maka adabmu adalah memandang keutamaan-Nya, karena Dia telah menutupimu atas tindakan maksiat kepada-Nya, dan tirai itu tidak dibuka untuk makhluk lain. Namun apabila Anda berpaling dari adab ini, dan Anda ingat akan maksiat Anda, sementara Anda tidak diingatkan dengan tiga adab di atas, maka seharusnya Anda beradab dengan doa dalam taubat, atau sepadannya, demi meraih ampunan menurut tindak kejahatan yang anda lakukan, yang merupakan salah satu sisi dari yang dibenci syariat. Namun apabila yang datang adalah intuisi ketaatan, lalu Anda datang dan mengingat siapa yang memberikan limpahan manfaat kepadamu, maka janganlah matamu memandang sejuk karenanya, tetapi harus mengingat pada Allah Yang memunculkannya. Sebab apabila pandangan mata Anda sejuk tanpa menyertakan-Nya, berarti Anda telah turun dari derajat hakikat. Apabila Anda tidak berada pada derajat tersebut, hendaknya Anda menempati pada derajat berikutnya. Yaitu Anda menyaksikan akan keagungan keutamaan Allah terhadap diri Anda, karena Anda telah dijadikan sebagai orang yang layak dan pewarisnya berupa rizki kebaikan dari derajat tersebut. Bahkan diantara tanda-tandanya yang menunjukkan atas kebenarannya. Apabila Anda tidak menempatinya dan turun di bawahnya, maka Adab Anda adalah merenungkan secara mendalam pada ketaatan tersebut, benarkah hal itu memang taat yang sebenarnya dan Anda sendiri selamat dari tuntutan-tuntutan di dalamnya? Ataukah sebaliknya, justru Anda tersiksa karenanya? Na’udzubillah! dari segala kebajikan yang kembali pada keburukan. “Dan tampaklah pada mereka dari Allah, apa-apa yang tidak mereka perhitungkan.” Jika Anda turun dari derajat ini pula kepada derajat lain, maka etika atau adab Anda adalah mencari keselamatan dari derajat tersebut baik melalui kebaikan maupun keburukannya. Seharusnya tujuan Anda yang berangkat dari kebajikan Anda lebih banyak dibanding tujuan dari pelajaran keburukan Anda, apabila Anda masih menginginkan termasuk golongan orang-orang shalih. Apabila Anda inginkan suatu bagian, sebagaimana yang diberikan kepada wali-wali Allah Swt. Anda harus menolak semua manusia secara total, kecuali pada orang yang menunjukkan kepada Allah melalui petunjuk yang benar dan amal yang kokoh yang tidak kontra dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Berpalinglah dari dunia sepenuhnya, Anda jangan sampai tergolong orang yang ditawari dunia karena tindakan itu. Namun seharusnya Anda menjadi hamba Allah yang diperintah untuk melawan musuhNya. Jika Anda berada pada posisi dua karakter ini: berpaling dari dunia dan zuhud dari manusia, maka tegakkanlah muraqabah (mawas diri untuk fokus kepada Allah, menetapi taubat dengan penjagaan diri, memohon ampunan kepada Allah melalui kepasrahan dan kepatuhan terhadap aturan-aturan secara istiqamah. Penafsiran empat adab tersebut: Adalah hendaknya anda menjadi hamba Allah, dengan cara: Mewaspadakan hatimu agar tidak melihat di semesta raya ini sesuatu pun selain Allah Swt. Bila anda merasa meraih ini, akan ada panggilan intusi kebenaran dari Cahaya Kemuliaan, bahwa anda telah buta dari Jalan Benar, karena darimana anda mampu melakukan Muroqobah? Hendaknya anda mendengarkan firman Allah Swt, “Dan Allah adalah Maha Mengawasi segala sesuatu.” Dengan begitu anda merasa malu atas taubat anda yang anda duga sebagai taqarrub, maka kokohkanlah taubatmu dengan menjaga hatimu. Dan jangan anda pandang bahwa taubat itu muncul darimu, yang membuat dirimu malah keluar dari jalan yang benar. Bila anda merasa bahwa semua itu datang dari diri anda, maka akan muncul intuisi ruhani yang hakiki memanggilmu dari sisi Allah Ta’ala, “Bukankah taubat itu datang dariNya dan kembali padaNya? Sedangkan kesibukanmu yang menjadi sifatmu, adalah hijabmu atas kehendakmu?” Maka disanalah anda memandang sifat dirimu, lalu anda mohon perlindungan kepada Allah Swt, dari sifat itu. Lantas anda beristighfar dan kembali kepadaNya. Istighfar itu berarti mencari tutup terhadap sifat-sifat burukmu dengan cara kembali kepada Sifat-sifatNya. Apabila anda mampu beristighfar dan kembali, akan muncul pula panggilan hakiki seketika, “Tunduklah dengan aturan-aturanKu, dan tinggalkanlah penentangan terhadapKu, teguhlah dengan kehendakKu dengan melawan kehendak dirimu. Karena kehendakmu adalah bentuk pengambil alihan sifat Ketuhanan atas kehambaanmu. Maka jadilah engkau “hamba yang benar-benar dikuasai, tidak meliki kemampuan apa pun.” Sebab jika dirimu merasa mempunyai kemampuan, maka justru akan dibebankan padamu, sedangkan Aku Maha Mengetahui segala sesuatu.” Bila anda telah benar dalam pintu ini dan anda disiplin di sana, maka anda meraih kemuliaan rahasia semesta.

Jangan Bertengkar Seperti Ayam

M. Rahim Bawa Muhaiyaddeen SALAM sayangku padamu, cucu-cucuku, saudara-saudaraku,anak-anakku. Mendekatlah kepadaku dan kita akan mengunjungi peternakan ayam! Jika kau melihat pagar berkawat, kau bisa melihat betapa baik ayam-ayam ini dipelihara. Mereka mempunyai segala yang mereka butuhkan, makanan dan air serta tempat nyaman untuk tidur dan bertelur. Mereka memiliki pohon-pohon untuk berteduh, cabang-cabang untuk bertengger dan banyak ruangan untuk berlari dan bermain. Tetapi mereka tidak bisa pergi dan keluar ke mana saja yang mereka inginkan. Cucu-cucuku, mengapa peternak itu mengurung mereka? Karena jika ayam-ayam tersebut bebas berkeliaran, maka anjing-anjing, serigala dan pencuri mungkin menangkap dan memangsanya. Peternak itu memasang pagar di sekeliling halaman untuk melindungi ayam-ayam tersebut. Apakah kau mengerti? Sekarang, cucu-cucuku, ada hal-hal tertentu yang bisa kau pelajari dengan melihat ayam-ayam tersebut. Lihatlah dua ayam betina keluar dari kandang dengan ayam jantan. Apakah kau melihat mereka? Pada saat dua ayam jantan melihat satu sama lain, mereka mulai bertarung. Mereka menjulurkan kepalanya di bawah sayap masing-masing dan mematuk. Setiap ayam jantan itu menganggap ayam lainnya datang untuk mencuri pasangannya. Perhatikan mereka. Kapan saja ayam-ayam betina tersebut mendekati maka kedua ayam jantan tadi bertarung bahkan lebih seru. Lihatlah di sebelah sana, cucu-cucuku. Satu ayam betina mengejar pasangan lainnya tapi ayam jantan tadi masih mengejar ayam betina lainnya. Sekarang semua ayam betina dan ayam jantan bertarung. “Kau telah merebut suamiku!” “Mengapa kau mencuri istriku?” Pertarungan itu tidak pernah berhenti. Satu ayam betinakehilangan sebuah mata sedangkan ayam betina lainnya kehilangan separo paruhnya. Seekor ayam jantan telah kehilangan jengger kepalanya sedangkan ayam jantan lainnya berdarah. Dan lihatlah, apakah kau melihat ayam yang terluka pada sekujur dadanya sedangkan ayam lain sebelah sana mengalami patah kaki? Mereka semua terluka, tetapi masih mematuk satu sama lain pada leher atau kepala atau di bawah sayapnya. Tidak satu pun dari mereka akan mengakui kekalahan, tetapi mereka tidak benar-benar menang juga. Ketika mereka terlalu lelah untuk bertarung, mereka hanya mengelilingi satu sama lain. Dan jika salah satunya benar-benar lebih lelah, maka ayam yang lelah itu akan menyembunyikan kepalanya di bawah sayapnya. Tetapi seekor ayam lainnya datang dan memulai pertarungan lagi. Ini adalah situasi bagaimana ayam-ayam bertarung. Cucu-cucuku, manusia seperti ayam-ayam. Meskipun mereka mempunyai banyak uang, harta benda dan lain-lain, mereka akan mengganggu satu sama lain dan mulai bertengkar. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang sudah berkeluarga bersama dengan anak-anak, kakek, nenek serta saudara-saudara ipar, mereka akan menunjukkan kekuasaannya dan menyerang satu sama lain. Sekalipun mereka sudah tua dan memiliki cicitcicit, mereka masih belum mengakhiri pertengkarannya satu sama lain, dan bertengkar sampai mati. Seorang laki-laki tidak puas dengan satu perempuan saja, sehingga laki-laki tersebut pergi keluar untuk mencari perempuan lainnya. Sekalipun seorang laki-laki sudah memiliki istri yang sangat cantik, namun mata dan telinga serta hidung lakilaki itu tetap berpaling pada perempuan mana saja yang lewat di depannya. Dia akan menunjukkan kekuatannya atau menjulurkan lidahnya seperti harimau atau singa. Laki-laki tidak puas dengan satu saja dari apa pun. Kaum laki-laki menginginkan variasi. Tanah yang subur, perempuan dan emas, telah menciptakan kerusakan dan kebodohannya sendiri. Tiga nafsu yang buruk ini menghancurkan dirinya. Perempuan juga seperti ini. Mereka tersenyum kepada suami orang lain dan segera mereka bertengkar seperti ayam betina. Perempuan berkelahi dengan perempuan, sedangkan laki-laki berkelahi melawan laki-laki. Cucu-cucuku, apakah kau mengerti tentang hal ini? Kau harus berpikir tentang hal ini! Ada hal-hal lainnya yang dilakukan ayam yang seharusnya juga kau pikirkan. Lihatlah bagaimana mereka mengais di tanah dekat pagar dan mencoba untuk lari dari tempat yang memenuhi kebutuhannya, memberi kenyamanan serta melindunginya dari ancaman anjing, serigala dan pencuri. Mereka mengais dan mematuk tanah untuk mencari cacing dan serangga, meskipun ada banyak makanan tersedia di permukaan tanah peternakan. Mengapa ayam-ayam melakukan hal itu? Itu adalah keadaan alami mereka. Itulah yang dilakukan ayam. Manusia juga tidak menghargai berkah yang telah dianugerahkan kepadanya. Pikiran manusia seperti ayam, mengais di neraka, menggali cacing dan serangga. Allah telah memberinya sebuah tempat untuk hidup, sebuah rumah, lampu penerangan, makanan, air, dan tubuh untuk ruhnya. Allah memberi makanan, dengan berfirman, “Makanlah makanan yang telah Aku berikan kepadamu,” sungguhpun demikian, manusia tidak menanggapinya dengan tepat. Manusia masih tidak mau menerima apa yang telah diberikan Allah. Sungguh, pikiran monyet dan hasrat anjing menggali benda-benda neraka, dan mendorong manusia ke dalam bahaya. Pikiran manusia mengembara di mana- mana, dengan berpendapat bahwa ada lebih banyak di sini daripada di sana, atau lebih banyak di sana daripada di sini. Gagal memakan makanan kesayangan atau gagal meminum air kesayangan, maka manusia menggali untuk mencari apa yang telah dibuang oleh Allah. Manusia tidak menghargai perlindungan yang telah diberikan Allah kepadanya. Manusia mengais pada pagar pelindung, yaitu Iman, dengan mencoba mengorek lubang-lubang dalam timbunan kawat, keyakinan. Dia merobohkan berbagai pos pagar kearifan, dengan berpikir, “Jika aku menerobos pagar itu, maka aku bisa bebas.” Tapi ketika manusia meninggalkan perlindungan Allah, ketika manusia menolak makanan dan air yang indah dari Allah, maka manusia terperangkap oleh ilusi. Pada saat manusia sedang menggali di neraka untuk mencari cacing, dia pun dibantai oleh setan, iblis, hantu, anjing, dan serigala. Tapi manusia tidak berpikir tentang apa yang akan terjadi pada dirinya. Dia belum menetapkan keadaan yang sabar, kepuasan diri, kepercayaan kepada Allah dan mengucapkan semua pujian kepada-Nya, keadaan yang sabar, syukur, tawakal, dan alhamdulillah. Meskipun manusia bisa hidup sehat dan bahagia, namun dia telah merusak perlindungan keimanannya kepada Allah. Kau harus berpikir tentang hal ini, cucu-cucuku. Seorang manusia yang bijaksana, akan tetap berada dalam perlindung an Allah. Dia akan puas dengan air dan makanan yang telah diberikan Allah. Hatinya akan sangat bahagia dan dia akan berada dalam keadaan yang penuh kasih sayang, cinta, kearifan, keadilan, dan kedamaian. Cucu-cucuku, Allah telah memberimu rumah indah hati nurani, yaitu dengan menaruh kasih sayang dan makanan dari-Nya dalam hati nurani tersebut, yaitu kalbu (qalb). Perlindungan Allah mengelilingi qalb tersebut dan menjaganya agar tetap aman. Jangan keluar dari perlindungan ini, jangan melupakannya, dan jangan merobeknya! Cobalah untuk belajar sifat-sifat dan kearifan Allah dan bangunlah kehidupan yang damai. Maka kau tidak akan menemui musibah. Ingat bagaimana ayam-ayam itu berkelahi? Mereka menimbulkan penderitaannya sendiri. Ingatkah bagaimana mereka mencoba menerobos pagar itu? Mereka mencari kerusakannya sendiri. Kau dan aku harus menghilangkan sifat dan tindakan ayam-ayam tadi dari dalam diri kita. Kita harus mencari dalam sifat-sifat Tuhan kita kedamaian, ketenangan, dan ketenteraman. Amin. Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu kulluhu. Semoga perdamaian dan rahmat Allah melimpah kepada kalian semua.

Dzikir Yang Menghapus Dosa-Dosamu

Syekh Abdul Qodir Al-Jilany Berapa kali anda belajar tetapi tidak pernah mengamalkannya? Karena itu sudah saatnya anda melimpat instistusi ilmu pengetahuan, saatnya sibuk dengan pengamalan dengan rasa ikhlas. Jika tidak anda tidak meraih keberuntungan sama sekali. Anda belajar pengetahuan belaka, berarti anda telah mendustai Allah Azza wa-Jalla melalui tindakan anda, berarti pula anda telah menarik tirai rasa malumu dari kedua matamu, lalu anda benar-benar menjadikannya sebagai obyek pandangan yang hina bagi yang melihatnya. Anda telah meraihnya melalui hawa nafsumu, mencegahnya dengan nafsumu pula, bergerak dengan hawa nafsumu juga, maka hawa nafsu itulah yang menghancurkan anda. Raihlah semua dari Allah Azza wa-Jalla dalam seluruh perilaku anda dan amalkan dengan aturanNya. Bila saja anda mengamalkan ritual hukum belaka, anda akan sulit mengamalkan pengetahuan anda pada Allah Azza wa-Jalla. Ya Allah, sadarkan kami dari lelapnya orang-orang yang alpa. Amin. Apabila dosa bertumpuk-tumpuk, maka datanglah bencana menimpamu. Namun bila anda taubat dan beristighfar kepada Tuhanmu Azza wa-Jalla, dan memohon kepadaNya, bencana itu hanya menimpa sekitarmu. Jika anda harus menerima cobaan, maka mohonlah kepada Allah Azza wa-Jalla agar diberi kesabaran dan keselarasan denganNya, hingga anda selamat dalam hubungan antara dirimu dengan DiriNya, sehingga yang terkoyak hanyalah fisik bukan batinnya, lahiriyahnya bukan batinnya, hartanya bukan agamanya. Maka cobaan akan menjadi nikmat, bukan penderitaan. Hari orang munafiq, kalian hanya menerima ajaran dari Allah Azza wa-Jalla dan rasulNya sebatas formalitas belaka, bukan maknanya. Itu berarti anda dusta lahir batin, dan tentu saja anda hina di dunia dan di akhirat. Orang yang maksiat itu hina dalam dirinya, dan pendusta itu pun juga hina dalam dirinya. Hai para Ulama, jangan kotori ilmumu dengan pemburu dunia, jangan kau ikutkan sesuatu yang mulia dengan yang hina. Ilmu itu mulia, kehinaan itu adalah yang ada di tangan pemburu dunia. Makhluk itu sendiri tidak mampu memberimu yang bukan bagianmu, namun ironisnya bagianmu anda anggap berada di tangan mereka. Bila anda sabar, bagianmu bakal tiba di atas apa yang ada di tangan mereka, dan anda tetap mulia. Hati-hatilah! Siapa yang berambisi rizki malah tidak dapat rizki, dan siapa yang berambisi untuk diberi malah tidak diberi. Sibukkan dirimu dengan aktivitas taat kepada Allah Azza wa-Jalla dan tinggalkan bersibuk ria memburu dunia. Allah Azza wa-Jalla lebih tahu kebutuhan dan yang mashlahah bagimu. Dalam hadits Qudsi Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Siapa yang sibuk berdzikir padaKu dibanding meminta padaKu, Aku beri dia, pemberian yang lebih utama dibanding apa yang Aku berikan pada orang-orang yang minta.” Dzikir lisan saja, tanpa hati, tidak ada kemuliaan bagimu. Dzikir yang sesungguhnya adalah dzikirnya hati dan rahasia hati, baru menimbulkan dzikir lisan, dan berarti benar dzikir anda kepada Allah Azza wa-Jalla. “Maka berdzikirlah kepadaKu, niscaya Aku mengingatmu, dan bersyukurlah kepadaKu dan jangan kufur padaKu.” (QS. Al-Baqarah:152) Dzikirlah kepada Allah Azza wa-Jalla, hingga engkau merasakan DzikirNya padaMu, dan dzikirlah kepadaNya sampai seluruh dosa-dosamu terhapuskan oleh dzikirmu, hingga dirimu sunyi dari dosa, lalu ta’at mu tanpa maksiat, maka disaat itulah Allah Azza wa-Jalla mengingatmu, dan anda tergolong orang yang berdzikir jauh dari mengingat makhlukNya, dzikirmu lebih dominan ketimbang permintaanmu, sampai semua tujuanmu adalah Dia mengalahkan semua tujuanmu yang ada. Apabila Dia menjadi totalitas tujuanmu, Dia menjadikan kunci-kunci perbendaharaan kerajaanNya di hadapan hatimu. Sebab siapa yang mencintai Allah Azza wa-Jalla, ia tidak akan mencintai selain Dia, karena semua selain Dia sirna darinya. Bila cinta hamba padaNya berteguh dalam hatinya, cinta pada selain Dia akan keluar dari hatinya. Lalu seluruh anggota badannya meminum dari cinta itu, lahir batinnya aktif baik dalam gerak gerik maupun hakikatnya, lalu mempola dirinya untuk menjadi tidak biasa, jauh dari keramaian, dan bila sempurna penempuhan ini Allah Azza wa-Jalla telah mencintaiNya. Akal yang ada padamu senantiasa merenungkanNya. Kapankah anda menyendiri denganNya? Ingatlah malaikat maut bakal mendatangi anda, mencabut nyawa anda, memisahkan anda dari keluarga dan kekasih anda. Waspadalah, jangan sampai malaikat maut mencabut nyawa anda, sedangkan anda tidak senang bertemu dengan Allah Azza wa-Jalla, mengahadapNya di akhirat. Tunggulah maut itu, anda akan melihat yang lebih baik di sisiNya, dibanding apa pun di dunia. Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan lindungi kami dari azab neraka.

Sabtu, 10 Desember 2011

FUTUHUL GHAIB [Penyingkap keghaiban]

FUTUHUL GHOIB
(PEMBUKA TABIR KEGAIBAN)

SEBUAH AJARAN TASAWUF
SYAIKH ABDUL QODIR JAELANI



AJARAN 1

Ada tiga perkara yang wajib diperhatikan oleh setiap Mu’min di dalam seluruh keadaan, yaitu:
1. Melaksanakan segala perintah Allah
2. Menjauhkan diri dari segala yang haram
3. Ridho dengan hukum-hukum dan ketentuan Allah
Ketiga perkara ini jangan sampai tidak ada pada seorang Mu’min. Oleh karena itu seorang Mu’min harus memikirkan perkara ini, bertanya kepada dirinya tentang perkara ini dan anggota tubuhnya melakukan perkara ini.



AJARAN 2

Ikutilah dengan ikhlas jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Besar Muhammad SAW dan janganlah merubah jalan itu. Patuhlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan jangan sekali-kali berbuat durhaka. Bertauhidlah kepada Allah (meng-Esakan Allah), dan jangan menyekutukan-Nya. Allah itu Maha Suci dan tidak memiliki sifat-sifat tercela atau kekurangan. Janganlah ragu-ragu terhadap kebenaran Allah. Bersabarlah dan berpegang teguhlah kepada-Nya. Bermohonlah kepada-Nya dan tunggulah dengan sabar. Bersatu padulah dalam mentaati Allah dan janganlah berpecah-belah. Saling mencintailah di antara sesama dan janganlah saling mendengki. Hindarkanlah diri dari segala noda dan dosa. Hiasilah dirimu dengan ketaatan kepada Allah. Janganlah menjauhkan diri kepada Allah dan janganlah lupa pada-Nya. Janganlah lalai untuk bertobat kepada-Nya dan kembali kepada-Nya. Janganlah jemu untuk memohon ampun kepada Allah pada siang dan malam hari. Mudah-mudahan kamu diberi rahmat dan dilindungi oleh-Nya dari marabahaya dan azab neraka, diberi kehidupan yang berbahagia di dalam surga, bersatu dengan Allah dan diberi nikmat-nikmat oleh-Nya. Kamu akan menikmati kebahagiaan dan kesentausaan yang abadi di surga beserta para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang saleh. Kamu akan hidup kekal di dalam surga itu untuk selama-lamanya.



AJARAN 3

Manakala seorang hamba Allah diuji oleh Allah, maka mula-mula ia akan melepaskan dirinya dari ujian atau cobaan yang menyusahkannya itu. Jika tidak berhasil, maka ia akan meminta pertolongan kepada orang-orang lain seperti para raja, para penguasa, orang-orang dunia atau para hartawan. Jika ia sakit, maka ia akan meminta pertolongan kepada dokter atau dukun. Jika hal inipun tidak berhasil, maka ia kembali menghadapkan wajahnya kepada Allah SWT untuk memohon dan meratap kepada-Nya. Selagi ia masih bisa menolong dirinya sendiri, ia tidak akan meminta pertolongan kepada orang lain. Dan selagi pertolongan orang lain masih ia dapatkan, maka ia tidak akan meminta pertolongan kepada Allah.

Jika ia tidak mendapatkan pertolongan Allah, maka ia akan terus meratap, shalat, berdoa dan menyerahkan dirinya dengan sepenuh harapan dan kecemasan terhadap Allah Ta’ala, Sekali-kali Allah tidak akan menerima ratapannya, sebelum dia memutuskan diri dari keduniaan. Setelah ia terlepas dari hal-hal keduniaan, maka akan tampaklah ketentuan dan keputusan Allah pada orang itu dan lepaslah ia dari hal-hal keduniaan, selanjutnya hanya ruh sajalah yang tinggal padanya.

Dalam peringkat ini, yang tampak olehnya hanyalah kerja atau perbuatan Allah dan tertanamlah di dalam hatinya kepercayaan yang sesungguhnya tentang Tauhid (ke-Esa-an Allah). Pada hakekatnya, tidak ada pelaku atau penggerak atau yang mendiamkan, kecuali Allah saja. Tidak ada kebaikan dan tidak ada keburukan, tidak ada kerugian dan tidak ada keuntungan, tidak ada faidah dan tidak pula ada anugerah, tidak terbuka dan tidak pula tertutup, tidak mati dan tidak hidup, tidak kaya dan tidak pula papa, melainkan semuanya di tangan Allah.

Hamba Allah itu tidak ubahnya seperti bayi yang berada di pangkuan ibunya, atau seperti orang mati yang sedang dimandikan, atau seperti bola di kaki pemain bola; melambung, bergulir ke atas, ke tepi dan ke tengah, senantiasa berubah tempat dan kedudukannya. Ia tidak mempunyai daya dan upaya. Maka hilanglah ia keluar dari dirinya dan masuk ke dalam perbuatan Allah semata-mata.

Hamba Allah semacam ini, hanya melihat Allah dan perbuatan-Nya. Yang didengar dan diketahuinya hanyalah Allah. Jika ia melihat sesuatu, maka yang dilihatnya itu adalah perbuatan Allah. Jika ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka yang didengar dan diketahuinya itu hanyalah firman Allah. Dan jika ia mengetahui sesuatu, maka ia mengetahuinya itu melalui pengetahuan Allah. Ia akan diberi anugerah Allah. Beruntunglah ia karena dekat dengan Allah. Ia akan dihiasi dan dimuliakan. Ridhalah ia kepada Allah. Bertambah dekatlah ia kepada Tuhannya. Bertambah cintalah ia kepada Allah. Bertambah khusyu’lah ia mengingat Allah. Bersemayamlah ia ‘di dalam Allah’. Allah akan memimpinnya dan menghiasinya dengan kekayaan cahaya ilmu Allah. Maka terbukalah tabir yang menghalanginya dari rahasia-rahasia Allah Yang Maha Agung. Ia hanya mendengar dan mengingat Allah Yang Maha Tinggi. Maka ia senantiasa bersyukur dan shalat di hadapan Allah SWT.



AJARAN 4

Apabila kamu ‘mati’ dari mahluk, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu”. Kemudian Allah akan mematikan kamu dari nafsu-nafsu badanniyah. Apabila kamu telah ‘mati’ dari nafsu badanniyah, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu”. Kemudian Allah akan mematikan kamu dari kehendak-kehendak dan nafsu. Dan apabila kamu telah ‘mati’ dari kehendak dan nafsu, maka akan dikatakan kepada kamu, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu”. Kemudian Allah akan menghidupkan kamu di dalam suatu ‘kehidupan’ yang baru.

Setelah itu, kamu akan diberi ‘hidup’ yang tidak ada ‘mati’ lagi. Kamu akan dikayakan dan tidak akan pernah papa lagi. Kamu akan diberkati dan tidak akan dimurkai. Kamu akan diberi ilmu, sehingga kamu tidak akan pernah bodoh lagi. Kamu akan diberi kesentausaan dan kamu tidak akan merasa ketakutan lagi. Kamu akan maju dan tidak akan pernah mundur lagi. Nasib kamu akan baik, tidak akan pernah buruk. Kamu akan dimuliakan dan tidak akan dihinakan. Kamu akan didekati oleh Allah dan tidak akan dijauhi oleh-Nya. Martabat kamu akan menjadi tinggi dan tidak akan pernah rendah lagi. Kamu akan dibersihkan, sehingga kamu tidak lagi merasa kotor. Ringkasnya, jadilah kamu seorang yang tinggi dan memiliki kepribadian yang mandiri. Dengan demikian, kamu boleh dikatakan sebagai manusia super atau orang yang luar biasa.

Jadilah kamu ahli waris para Rasul, para Nabi dan orang-orang yang shiddiq. Dengan demikian, kamu akan menjadi titik akhir bagi segala kewalian, dan wali-wali yang masih hidup akan datang menemui kamu. Melalui kamu, segala kesulitan dapat diselesaikan, dan melalui shalatmu, tanaman-tanaman dapat ditumbuhkan, hujan dapat diturunkan, dan malapetaka yang akan menimpa umat manusia dari seluruh tingkatan dan lapisan dapat dihindarkan. Boleh dikatakan kamu adalah polisi yang menjaga kota dan rakyat.

Orang-orang akan berdatangan menemui kamu dari tempat-tempat yang dekat dan jauh dengan membawa hadiah dan oleh-oleh dan memberikan khidmat (penghormatan) mereka kepadamu. Semua ini hanyalah karena idzin Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa jua. Lisan manusia tak henti-hentinya menghormati dan memuji kamu. Tidak ada dua orang yang beriman yang bertingkah kepadamu. Wahai mereka yang baik-baik, yang tinggal di tempat-tempat ramai dan mereka yang mengembara, inilah karunia Allah. Dan Allah mempunyai kekuasaan yang tiada batas.



AJARAN 5

Apabila kamu melihat dunia dikuasai oleh ahli-ahli dunia dengan perhiasan dan kekosongannya, dengan penipuan dan perangkapnya dan dengan racunnya yang membunuh yang diluarnya nampak lembut tetapi di dalamnya sangat membahayakan, cepat merusak dan membunuh siapa saja yang memegangnya, yang menipu mereka dan yang menyebabkan mereka lengah terhadap dosa dan maksiat; apabila kamu lihat semua itu, maka hendaklah kamu bersikap sebagai seorang yang melihat seseorang yang sedang buang air besar yang membuka auratnya dan mengeluarkan bau busuk. Dalam keadaan seperti itu, hendaklah kamu memalingkan padanganmu dari ketelanjangannya dan menutup hidungmu supaya tidak mencium baunya yang busuk. Demikian pulalah hendaknya kamu bersikap kepada dunia. Apabila kamu melihatnya, maka hendaklah kamu memalingkan pandanganmu dari pakaiannya dan tutuplah hidungmu supaya tidak mencium bau busuk gemerlapannya yang tidak kekal. Semoga dengan demikian kamu dapat selamat dari bahaya dan cobaannya. Apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, pasti akan kamu rasakan. Allah telah berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah yang lebih baik dan lebih kekal.” (QS 20:131)



AJARAN 6

Hindarkanlah dirimu dari orang ramai dengan perintah Allah, dari nafsumu dengan perintah-Nya dan dari kehendakmu dengan perbuatan-Nya agar kamu pantas untuk menerima ilmu Allah. Tanda bahwa kamu telah menghindarkan diri dari orang ramai adalah secara keseluruhannya kamu telah memutuskan segala hubungan kamu dengan orang ramai dan telah membebaskan seluruh pikiranmu dengan segala hal yang bersangkutan dengan mereka.

Tanda bahwa kamu telah putus dari nafsumu adalah apabila kamu telah membuang segala usaha dan upaya untuk mencapai kepentingan keduniaan dan segala hubungan dengan cara-cara duniawi untuk mendapatkan suatu keuntungan dan menghindarkan bahaya. Janganlah kamu bergerak untuk kepentinganmu sendiri. Janganlah kamu bergantung kepada dirimu sendiri di dalam hal-hal yang bersangkutan dengan dirimu. Janganlah kamu melindungi dan menolong dirimu dengan dirimu sendiri. Serahkanlah segalanya kepada Allah, karena Dia-lah yang memelihara dan menjaga segalanya, sejak dari awalnya hingga kekal selamanya. Dia-lah yang menjaga dirimu di dalam rahim ibumu sebelum kamu dilahirkan dan Dia pulalah yang memelihara kamu semasa kamu masih bayi.

Tanda bahwa kamu telah menghindarkan dirimu dari kehendakmu dengan perbuatan Allah adalah apabila kamu tidak lagi melayani kebutuhan-kebutuhanmu, tidak lagi mempunyai tujuan apa-apa dan tidak lagi mempunyai kebutuhan atau maksud lain, karena kamu tidak mempunyai tujuan atau kebutuhan selain kepada Allah semata-mata. Perbuatan Allah tampak pada kamu dan pada masa kehendak dan perbuatan Allah itu bergerak. Badanmu pasif, hatimu tenang, pikiranmu luas, mukamu berseri dan jiwamu bertambah subur. Dengan demikian kamu akan terlepas dari kebutuhan terhadap kebendaan, karena kamu telah berhubungan dengan Al-Khaliq. Tangan Yang Maha Kuasa akan menggerakkanmu. Lidah Yang Maha Abadi akan memanggilmu. Tuhan semesta alam akan mengajar kamu dan memberimu pakaian cahaya-Nya dan pakaian kerohanian serta akan mendudukkan kamu pada peringkat orang-orang alim terdahulu.

Setelah mengalami semua ini, hati kamu akan bertambah lebur, sehingga nafsu dan kehendakmu akan hancur bagaikan sebuah tempayan yang pecah yang tidak lagi berisikan air walau setetespun. Kosonglah dirimu dari seluruh perilaku kemanusiaan dan dari keadaan tidak menerima suatu kehendak selain kehendak Allah. Pada peringkat ini, kamu akan dikaruniai keramat-keramat dan perkara-perkara yang luar biasa. Pada zhahirnya, perkara-perkara itu datang darimu, tapi yang sebenarnya adalah perbuatan dan kehendak Allah semata.

Oleh karena itu, masuklah kamu ke dalam golongan orang-orang yang telah luluh hatinya dan telah hilang nafsu-nafsu kebinatangannya. Setelah itu kamu akan menerima sifat-sifat ke-Tuhan-an yang maha tinggi. Berkenaan dengan hal inilah maka Nabi besar Muhammad SAW bersabda, “Aku menyukai tiga perkara dari dunia ini: bau-bauan yang harum, wanita dan shalat yang apabila aku melakukannya, maka mataku akan merasa sejuk di dalamnya”. Semua ini diberikan kepadanya setelah seluruh kehendak dan nafsu sebagaimana disebutkan di atas terlepas dari dirinya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku bersama mereka yang telah luluh hatinya karena Aku”.

Allah Ta’ala tidak akan menyertai kamu, sekiranya semua nafsu dan kehendakmu itu tidak diluluhkan. Apabila semua itu telah hancur dan luluh, dan tidak ada lagi yang tersisa pada dirimu, maka telah pantaslah kamu untuk ‘diisi’ oleh Allah dan Allah akan menjadikan kamu sebagai orang baru yang dilengkapi dengan tenaga dan kehendak yang baru pula. Jika egomu tampil kembali, walaupun hanya sedikit, maka Allah akan menghancurkannya lagi, sehingga kamu akan kosong kembali seperti semula, dan untuk selamanya kamu akan tetap luluh hati. Allah akan menjadikan kehendak-kehendak baru di dalam diri kamu dan jika dalam pada itu masih juga terdapat diri (ego) kamu, maka Allah-pun akan terus menghancurkannya. Demikianlah terus terjadi hingga kamu menemui Tuhanmu di akhir hayatmu nanti. Inilah maksud firman Tuhan, “Sesungguhnya Aku bersama mereka yang telah luluh hatinya karena Aku.” Kamu akan mendapatkan dirimu ‘kosong’, yang sebenarnya ada hanyalah Allah.

Di dalam hadits Qudsi, Allah berfirman, “Hamba-Ku yang ta’at senantiasa memohon untuk dekat dengan-Ku melalui shalat-shalat sunatnya. Sehingga aku menjadikannya sebagai rekan-Ku, dan apabila Aku menjadikan dia sebagai rekan-Ku, maka aku menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia memegang dan menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan, yakni ia mendengar melalui Aku, memegang melalui Aku, dan mengetahui melalui Aku.”

Sebenarnya, ini adalah keadaan ‘fana’ (hapusnya diri). Apabila kamu sudah melepaskan dirimu dan mahluk, karena mahluk itu bisa baik dan bisa juga jahat dan karena diri kamu itu bisa baik dan juga bisa jahat, maka menurut pandanganmu tidak ada suatu kebaikan yang datang dari diri kamu atau dari mahluk itu dan kamu tidak akan merasa takut kepada datangnya kejahatan dari mahluk. Semua itu terletak di tangan Allah semata. Karenanya, datangnya buruk dan baik itu, Dia-lah yang menentukannya semenjak awalnya.

Dengan demikian, Dia akan menyelamatkan kamu dari segala kejahatan mahluk-Nya dan menenggelamkanmu di dalam lautan kebaikan-Nya. Sehingga kamu menjadi titik tumpuan segala kebaikan, sumber keberkatan, kebahagiaan, kesentausaan, nur (cahaya) keselamatan dan keamanan. Oleh karena itu, ‘Fana’ adalah tujuan, sasaran, ujung dan dasar perjalanan wali Allah. Semua wali Allah, dengan tingkat kemajuan mereka, telah memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk menggantikan kehendak atau kemauan mereka dengan kehendak atau kemauan Allah. Mereka semuanya menggantikan kemauan atau kehendak mereka dengan kemauan atau kehendak Allah. Pendek kata, mereka itu mem-fana-kan diri mereka dan me-wujud-kan Allah. Karena itu mereka dijuluki ‘Abdal’ (perkataan yang diambil dari kata ‘Badal’ yang berarti ‘pertukaran’). Menurut mereka, menyekutukan kehendak mereka dengan kehendak Allah adalah suatu perbuatan dosa.

Sekiranya mereka lupa, sehingga mereka dikuasai oleh emosi dan rasa takut, maka Allah Yang Maha Kuasa akan menolong dan menyadarkan mereka. Dengan demikian mereka akan kembali sadar dan memohon perlindungan kepada Allah. Tidak ada manusia yang benar-benar bebas dari pengaruh kehendak egonya (dirinya) sendiri, kecuali malaikat. Para malaikat dipelihara oleh Allah dalam kesucian kehendak mereka dan para Nabi dipelihara dari nafsu badaniah mereka. Sedangkan jin dan manusia telah diberi tanggung jawab untuk berakhlak baik, tetapi mereka tidak terpelihara dari dipengaruhi oleh dosa dan maksiat. Para wali dipelihara dari nafsu-nafsu badaniah dan ‘abdal’ dipelihara dari kekotoran kehendak datu niat. Walaupun demikian, mereka tidak bebas mutlak, karena merekapun mungkin mempunyai kelemahan untuk melakukan dosa. Tapi, dengan kasih saying-Nya, Allah akan menolong dan menyadarkan mereka.



AJARAN 7

Keluarlah dari dirimu sendiri dan serahkanlah segalanya kepada Allah. Penuhi hatimu dengan Allah. Patuhlah kepada perintah-Nya dan larikanlah dirimu dari larangan-Nya, agar nafsu badaniahmu tidak memasuki hatimu setelah ia keluar. Untuk membuang nafsu-nafsu badaniah dari hatimu, kamu harus berjuang melawannya dan jangan menyerah kepadanya dalam keadaan bagaimanapun juga dan dalam tempo kapanpun juga. Oleh karena itu, janganlah menghendaki sesuatu yang tidak dikehendaki oleh Allah. Kehendakmu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah kehendak nafsu badaniah. Jika kehendak ini kamu turuti, maka ia akan merusak dirimu dan menjauhkanmu dari Allah. Patuhilah perintah Allah, jauhilah larangan-Nya, bertawakallah kepada-Nya dan jangan sekali-kali kamu menyekutukan-Nya. Dia-lah yang telah menjadikan nafsu dan kehendakmu. Oleh karena itu, janganlah kamu berkehendak, berkebutuhan atau bercita-cita untuk mendapatkan sesuatu, agar kamu tidak tercebur ke lembah syirik. Allah berfirman :
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS 18:110)

Syirik itu bukan melulu menyembah berhala, tetapi termasuk juga di dalamnya adalah menuruti hawa nafsu dan menyekutukan apa saja yang ada di dunia dan di akhirat dengan Allah, karena apa saja selain Allah bukanlah Tuhan. Oleh karena itu, jika kamu tumpukan hatimu kepada sesuatu selain Allah, berarti kamu telah berbuat syirik. Maka, janganlah kamu menyekutukan Allah dengan jalan apapun juga, baik dengan jalan kasar maupun dengan jalan halus. Berjaga-jagalah selalu dan jangan berdiam diri, berhati-hatilah selalu dan waspadalah, semoga kamu beroleh keselamatan. Segala kedudukan dan kebaikan yang kamu peroleh, jangan kamu katakan bahwa ia datang dari kamu sendiri atau kepunyaan kamu yang sebenarnya. Jika kamu diberi sesuatu atau kenaikan pangkat kedudukan, janganlah kamu hebohkan kepada siapapun. Sebab, ia dalam pertukaran suasana dari hari ke hari itu, Allah selalu menampakkan keagungan-Nya dalam aspek-aspek yang senantiasa baru, dan Allah berada di antara hamba-hamba-Nya dengan hati-hati mereka. Boleh jadi apa yang dikatakan sebagai milik kamu itu akan dilepaskan-Nya dari kamu, dan boleh jadi apa yang kamu anggap kekal itu akan berubah keadaannya. Sehingga, jika hal itu terjadi kamu akan merasa malu kepada mereka yang kamu hebohkan itu. Maka, lebih baik kamu berdiam diri, simpan pemberian itu di dalam pengetahuan kamu saja dan tidak usah kamu sampaikan kepada siapapun. Jika kamu miliki sesuatu, ketahuilah bahwa itu adalah karunia Allah, bersyukurlah kepada-Nya dan mohonlah kepada-Nya supaya Dia menambahkan nikmat-nikmat-Nya kepadamu. Jika sesuatu itu lepas darimu, maka Dia akan menambah ilmumu, kesadaranmu dan kewaspadaanmu. Allah berfirman :
“Apa saja ayat yang Kami nashkhkan atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu ?” (QS 2:106)

Oleh karena itu, janganlah kamu mengira bahwa Allah tidak berkuasa atas segala sesuatu, janganlah kamu menduga bahwa ketentuan dan peraturan-Nya mempunyai kekurangan dan janganlah kamu merasa ragu akan janji-Nya. Contohlah Nabi besar Muhammad SAW, ayat-ayat yang diwahyukan kepadanya dipraktekkan, dibaca di dalam masjid, ditulis di dalam buku, diambil dan ditukar dengan yang lainnya, dan perhatian Nabi diarahkan kepada wahyu-wahyu yang baru diterimanya yang menggantikan ayat-ayat yang telah lama. Ini terjadi dalam masalah-masalah hukum yang zhahir.

Berkenaan dengan masalah-masalah kebathinan, ilmu dan kondisi kerohanian yang didapatinya dari Tuhan, beliau senantiasa berkata bahwa hatinya selalu diliputi, dan beliau memohon perlindungan kepada Allah sebanyak tujuhpuluh kali didalam satu hari. Juga diceritakan bahwa sebanyak seratus kali dalam sehari Nabi dibawa dari satu keadaan kepada satu keadaan yang lainnya yang dengan itu beliau dibawa menuju peringkat yang paling dekat kepada Allah. Beliau mengembara ke alam yang maha tinggi sambil diselubungi oleh ‘nur’, dari satu peringkat kepada peringkat lainnya yang lebih tinggi. Tiap-tiap beliau menaiki satu peringkat, maka peringkat yang di bawahnya itu tampak gelap jika dibandingkan dengan peringkat atas itu. Semakin tinggi beliau naik, semakin bersinarlah nur Allah meliputi hati sanubarinya. Beliau senantiasa menerima pengarahan supaya memohon ampunan dan perlindungan Tuhan, karena sebaik-baiknya hamba Allah itu adalah mereka yang senantiasa memohon ampunan dan perlindungan Allah dan senantiasa pula kembali kepada-Nya. Ini dimaksudkan untuk menyadarkan kita bahwa kita ini mempunyai dosa dan kesalahan yang keduanya terdapat pada hamba-hamba Allah di dalam seluruh aspek kehidupannya, sebagai ahli waris Adam as, bapak seluruh manusia dan hamba pilihan Allah. Manakala kelalaian terhadap perintah Allah telah mengaburkan cahaya kerohanian Adam dan beliaupun menampakkan keinginannya untuk kekal hidup di surga berada di samping Tuhan, dan Tuhanpun berkehendak mengantarkan malaikat Jibril kepada beliau, maka ketika itulah kehendak diri (ego) beliau nampak, kehendak Adam bercampur dengan kehendak Allah. Oleh karena itu, kehendak beliau dihancurkan, keadaan pertama itu dihilangkan, kedekatan kepada Tuhan di masa itu dihilangkan, cahaya keimanan yang bersinar terang itu berubah menjadi pudar dan kesucian rohani beliau telah menjadi sedikit kotor. Kemudian Allah hendak memberikan peringatan kepada beliau, menyadarkan beliau akan dosa dan kesalahannya, memerintahkannya untuk mengakui kesalahan dan dosanya serta meminta ampun kepada Allah.

Adam as berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihani kami, sudah barang tentu kami termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi”. Kemudian datanglah petunjuk kepada Beliau, kesadaran untuk bertobat, pengetahuan tentang hakekat akibatnya dan ilmu hikmah yang tersembunyi di dalam peristiwa inipun tersingkaplah. Dengan kasih saying-Nya, Allah menyuruh mereka supaya tobat. Setelah itu, kehendak yang timbul dari Adam diganti dan keadaannya yang semulapun dirubah, maka diberikanlah kepadanya jabatan “Wilayah” yang lebih tinggi serta diberi kedudukan di dalam dunia ini dan di akhirat kelak. Maka jadilah dunia ini sebagai tempat tinggalnya dan tempat keturunannya, dan akhirat kelak adalah tempat kembalinya yang kekal abadi.
Jadikanlah Nabi besar Muhammad SAW ; seorang Rasul dan kekasih Allah, hamba-Nya yang pilihan itu; dan Adam, yaitu bapak seluruh manusia dan hamba pilihan Allah, sebagai contoh dan tauladan. Contohlah mereka berdua di dalam hal mengakui kesalahan dan dosanya sendiri, di dalam meminta ampun kepada-Nya dan di dalam memohon pertolongan-Nya dari segala noda dan dosa. Dan contohlah mereka di dalam hal merendahkan diri kepada Allah, karena manusia adalah mahluk yang lemah dalam segala halnya.



AJARAN 8

Apabila kamu berada pada suatu keadaan tertentu, janganlah kamu meminta suatu keadaan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah. Apabila kamu berada di pintu istana, janganlah kamu masuk sebelum kamu disuruh masuk. Janganlah kamu menganggap cukup dengan kebenaran masuk itu saja, karena boleh jadi itu adalah suatu dalih atau tipuan dari raja itu. Hendaklah kamu bersabar, sampai kamu dipaksam masuk ke dalam istana itu atas perintah raja itu sendiri. Karena, dengan demikian kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang perbuatan kamu masuk ke dalam istana itu. Sekiranya kamu masih dihukum juga, maka hal itu adalah lantaran kamu bersalah, tamak, tidak sabar, tidak bersopan santun dan hendak menikmati kepuasan keadaan hidup yang sedang kamu hadapi itu. Jika kamu dipaksa masuk dan kamupun masuk, maka hendaklah kamu memasukinya dengan penuh sopan santun, penuh hormat dan memperhatikan apa yang diperintahkan kepada kamu, tanpa meminta kenikan taraf hidup. Allah berfirman kepada Rasul-Nya, “Dan janganlah pandanganmu dipengaruhi oleh apa yang kami karuniakan kepadasegolongan manusia dari kemegahan hidup di dunia ini, karena Kami menguji mereka dengan itu. Adalah rizki yang diberikan oleh Tuhanmu itu lebih baik dan lebih kekal”.

Allah menasehati Nabi-Nya supaya berhati-hati terhadap keadaan yang ada itu dan supaya ridho dengan karunia Allah. Dengan kata lain, firman ini menyatakan, “Apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa perkara-perkara yang baik-baik, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kekuasaan agama dan berjihad di jalan Allah, semua itu adalah lebih baik dan lebih berharga daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang lain”. Kebaikan itu terletak pada menjaga keadaan yang telah ada, merasa puas dengannya dan menjauhkan segala keinginan kepada yang lain. Karena perkara-perkara itu telah dikhususkan untuk kamu, atau untuk orang lain atau bukan untuk siapa-siapa, tetapi oleh Allah telah dijadikan sebagai suatu ujian, Jika sesuatu perkara itu telah dikhususkan untuk kamu, maka pasti kamu akan mendapatkannya, baik kamu menyukainya maupun tidak menyukainya. Tidaklah wajar kamu menunjukkan ketidak sopananmu atau ketamakanmu, karena hal itu bertentangan dengan akal dan ilmu yang sempurna. Apakah gunanya kamu mengharapkan apa yang telah ditentukan untuk orang lain, karena kamu tidak akan mendapatkannya. Sekiranya suatu perkara itu tidak ditentukan untuk siapa-siapa, maka itu adalah satu ujian belaka. Orang yang berakal tidak akan bersahaja untuk mencari suatu ujian. Karenanya, kebaikan itu adalah menjaga dan ridho dengan keadaan yang ada sekarang. Setelah kamu dibawa ke tingkat atas lalu dari situ kamu menuju puncak istana, kamu harus berhati-hati seperti yang telah kami nyatakan mengenai penghormatan, berperangai baik dan tidak banyak bicara. Berhati-hatilah, dan hendaknya kamu berbuat yang lebih dari ini, karena sekarang kamu sudah dekat dengan raja dan juga sudah dekat dengan bahaya. Oleh karena itu, janganlah kamu meminta perubahan keadaan, dari keadaan yang sekarang kepada keadaan yang lain, baik keadaan itu lebih tinggi maupun lebih rendah, dan jangan pula kamu meminta supaya keadaan itu tetap atau diganti. Kamu tidak mempunyai hak memilih di dalam perkara ini. Jika kamu meminta, maka hal itu adalah tanda bahwa kamu kurang sopan, akan merendahkan derajat kamu dan merugikan kamu juga. Karenanya, teruslah berbuat sebagaimana yang kami tunjukkan, sehingga kamu dinaikkan ke suatu tingkatan dan ditetapkan di dalam tingkatan itu. Maka ketika itu kamu akan mengetahui bahwa semua itu adalah karunia Allah yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Tetaplah kamu berada pada tempat itu dan janganlah berubah-rubah lagi. Ahwal (keadaan perubahan kerohanian) adalah milik Aulia (wali Allah yang biasa), sedangkan maqamah (perhatian kerohanian) adalah kepunyaan Abdal (wali Allah yang derajatnya lebih tinggi).



AJARAN 9

Perbuatan Allah itu ditampakkan kepada Aulia dan Abdal di dalam pandangan dan pengalaman kerohanian. Ini berada di luar jangkauan akal manusia dan keluar dari adat kebiasaan. Penampakkan atau pemanifestasian ini ada dua jenis : yang pertama dinamakan “Jalal” (kebesaran dan keagungan) dan yang kedua dinamakan “Jamal” (keindahan). Jalal ini menimbulkan kehebatan dan mempengaruhi hati sedemikian rupa, sehingga tanda-tandanya tampak pada badan kasar. Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tengah melakukan shalat, terdengarlah oleh orang bunyi seperti air mendidih dari hati beliau, karena hebatnya dan gentarnya hati beliau ketika menghadap Allah SWT, ini adalah suatu pengalaman yang beliau rasakan apabila Allah menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya. Peristiwa seperti ini juga terjadi pada Nabi Ibrahim a.s. dan Khalifah Umar r.a.
Pengalaman yang akan dirasakan oleh seorang hamba apabila Allah memanifestasikan sifat Jamal-Nya adalah hati si hamba itu akan merasa gembira, tenang, sentosa dan selamat, ia akan mengucapkan kata-kata yang penuh kasih mesra, dan akan tampak tanda-tanda yang menggembirakan tentang karunia-karunia yang besar, kedudukan yang tinggi dan kedekatan kepada-Nya yang kepada-Nya-lah segala perkara mereka itu akan kembali. Inilah karunia karunia dan rahmat Allah yang diberikan kepada mereka di dunia ini. Hati mereka yang cinta kepada-Nya akan dipuaskan oleh-Nya, sehingga mereka akan merasa senang. Allah mengasihi dan menyayangi mereka. Nabi pernah bersabda kepada Bilal, “Hai Bilal, hiburlah hati kami”. Apa yang Nabi maksudkan adalah agar Bilal mengumandangkan adzan, supaya nabi memasuki shalat dengan merasakan manifestasi sifat Jamal Allah itu. Karena itu, Nabi bersabda, “Dan kesejukan mataku, telah kurasakan di dalam shalatku”.



AJARAN 10

Sesungguhnya tidak ada yang lain selain Allah dan diri kamu sendiri. Diri manusia itu bertentangan dengan Tuhan. Segala sesuatu itu tunduk kepada Allah dan diri manusia itupun adalah kepunyaan Allah. Pada diri manusia timbul angan-angan dan hawa nafsu. Oleh karena itu, jika kamu masuk kepada yang haq dan menentang diri kamu sendiri, maka kamu telah masuk ke pihak Allah dan menentang diri kamu sendiri. Allah berfirman kepada Nabi Daus a.s., “Hai Daud, kepada-Ku-lah kamu kembali. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kamu kepada-Ku. Sesungguhnya perhambaan yang sejati adalah melawan diri kamu sendiri karena Aku”. Karena itulah penghambaan kamu dan kedekatan kamu kepada Allah menjadi kenyataan yang sungguh-sungguh. Karena itulah kamu mencapai kesucian dan kebahagiaan. Dan karena itulah kamu akan dimuliakan serta segalanya akan menjadi hamba kamu dan takut kepadamu, lantaran semuanya tunduk kepada Allah. Sebab, Dia-lah Pencipta dan tempat asal mereka, dan mereka telah menyatakan kehambaan mereka kepada Allah. Allah berfirman, “Seluruhnya memuji Allah, tetapi kamu tidak mengetahui pujian mereka”. Ini berarti segala yang ada di dalam alam ini sadar akan adanya Allah dan patuh kepada-Nya.

Allah SWT berfirman, “Kemudian Dia berkata kepadanya dan kepada dunia, Kemarilah kamu berdua dengan rela ataupun tidak”. Mereka berkata, “Kami datang dengan rela”.

Oleh karena itu, segala penghambaan adalah melawan dirimu sendiri dan hawa nafsumu. Allah berfirman, “Janganlah kamu menuruti hawa nafsumu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.

Selanjutnya Allah berfirman, “Jauhkanlah kehendak hawa nafsumu, karena tidak ada yang melawan-Ku dan kerajaan-Ku melainkan hawa nafsu manusia”.

Ada satu cerita yang masyhur tentang Abu Yazid Busthami. Diceritakan bahwa ia telah melihat Allah SWT di dalam mimpinya. Ia bertanya kepada Allah, “Bagaimana seseorang itu dapat sampai kepada Allah ?” Jawab Tuhan, “Buanglah dirimu dan datanglah kepada-Ku”. “Setelah itu,” katanya, “Akupun keluar dari diriku seperti ular keluar dari sarangnya”. Karenanya, semua kebaikan itu terletak pada jihad melawan diri sendiri serta semua perkara dan keadaan hidup ini. Sekiranya kamu dalam keadaan salah, lawanlah dirimu hingga kamu terhindar dari hal yang haram, dari manusia, dari prasangka serta dari pertolongan mereka, ketergantungan kepada mereka, takut kepada mereka dan dari menghendaki apa yang mereka dapati dari dunia fana ini. Janganlah kamu mengharapkan hadiah, sedekah atau pemberian mereka. Hendaklah kamu membebaskan dirimu dari apa saja yang bersangkutan dengan keduniaan. Dan sekiranya kamu mempunyai saudara yang hartawan, maka janganlah kamu mengharapkan dia lekas mati dengan niat kamu ingin mendapatkan hartanya itu. Hendaklah kamu keluar dari pengaruh mahluk dan angaplah mereka itu seperti pintu pagar yang bias terbuka dan bias tertutup atau seperti bunglon yang kadang-kadang berubah dan kadang-kadang tidak. Segala yang berlaku dan terjadi adalah dengan kehendak Allah dan Dia-lah yang membuat dan merencanakan segalanya itu. Jadilah kamu yang berjiwa tauhid, yaitu meng-Esa-kan Allah Tuhan Semesta Alam.

Jangan pula kamu mengikuti faham golongan Jabariyyah atau Qodariyyah. Lebih baik kamu mengatakan bahwa perbuatan itu adalah kepunyaan Allah, sedangkan manusia adalah berusaha.

Jalankanlah perintah Allah yang berhubungan dengan manusia, pisahkanlah bagianmu dengan perintah-Nya dan janganlah kamu melampaui batas, karena perintah Allah itu pasti berlaku dan Allah akan menjatuhkan hukuman kepada kamu dan mereka. Janganlah kamu ingin menjadi hakim sendiri. Keberadaan kamu bersama manusia adalah karena takdir Allah dan takdir ini terdapat di dalam kegelapan. Oleh karena itu, masuklah ke dalam kegelapan itu dengan membawa lampu yang juga menjadi hakim. Itulah dia Al Quran dan sunnah Rasulullah. Janganlah kamu melanggar keduanya. Jika timbul di dalam pikiranmu atau kamu menerima suatu ilham, kemukakanlah dulu kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah.

Sekiranya suatu pikiran atau ilham bertentangan dengan Al Quran dan hadits, maka janganlah kamu ikuti dan kamu jalankan, karena hal itu mungkin datang dari iblis. Jika Al Quran mewajibkan seperti makan, minum dan lain-lainnya dan ilhampun sejalan dengan yang diwajibkan itu, maka janganlah kamu terima dan ketahuilah bahwa itu adalah ajakan atau godaan untuk memuaskan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatanganmu. Oleh karena itu lawanlah dan janganlah kamu turuti.

Jika apa yang diilhamkan kepada kamu itu tidak sesuai dengan Al Quran dan hadits, baik yang berupa larangan maupun pembenaran, dan tidak pula kamu ketahui dengan faham, seperti kamu disuruh untuk pergi ke suatu tempat atau disuruh menemui seseorang yang saleh, sedangkan kamu tidak perlu lagi pergi ke tempat itu atau berjumpa dengan orang itu, tetapi dengan pengetahuan dan nur kamu dapat mengetahuinya, maka bersabarlah, jangan tergesa-gesa dan bertanyalah kepada diri kamu sendiri, “Adakah ilham ini datang dari Allah dan aku mesti melakukannya ?” Pikirkan dulu dan bersabarlah. Adalah biasa bagi Tuhan untuk mengulang ilham seperti itu dan memerintahkan kepada kamu untuk segera melakukan perkara ilham itu atau untuk membuka suatu tanda yang dibukakan bagi para ahli Allah, tanda yang hanya dapat dipahami oleh para Aulia yang bijaksana dan para Abdal. Janganlah kamu terburu-buru mengerjakan perkara itu, karena kamu tidak mengetahui akibat dan tujuannya, dan juga kamu tidak mengetahui ujian dan jalan yang dapat merusak dan menguji kamu.

Karena itu bersabarlah sampai Tuhan sendirilah yang menjadi pelaku perkara itu untuk kamu. Apabila sesuatu perbuatan itu benar-benar dari Allah, maka akan selamatlah kamu dan Dia pasti menolong kamu. Jika kamu sendiri yang melakukannya, maka kamu sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, Jika Allah yang melakukannya untuk kamu, maka kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, karena perbuatan itu adalah perbuatan Allah, dan sudah barang tentu Allah sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatan-Nya.

Jika kamu berada dalam peringkat hakekat, yaitu kedudukan wilayah (kewalian), maka lawanlah nafsumu itu dan patuhlah kepada perintah itu sepenuhnya. Kepatuhan kepada perintah ini ada dua macam : pertama, hendaknya kamu mengambil dari dunia ini apa-apa yang kamu perlukan saja, hindarkanlah dirimu dari keserakahan hawa nafsumu, lakukanlah ibadah-ibadahmu dan hindarkanlah dosa-dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi; kedua, berkenaan dengan perintah batiniah. Ini adalah perintah Allah yang berupa suruhan dan larangan untuk melakukan sesuatu. Perintah batiniah atau perintah yang tersembunyi ini adalah perintah untuk melakukan hal-hal yang tidak haram dan tidak pula wajib, di mana seorang hamba diberi kebebasan untuk bertindak. Dalam hal ini, hendaknya si hamba tadi tidak mengambil inisiatif (kemauan) sendiri, tatapi hendaklah ia menunggu perintah yang berkenaan dengannya. Apabila perintah itu telah datang, maka patuhilah dengan segenap gerak dan diam, karena Allah semata-mata. Jika di dalam syari’at terdapat hukum tentang sesuatu perkara, maka tunduklah kepada hukum itu. Tetapi, jika tidak terdapat hukum di dalam syari’at mengenai perkara itu, maka bertindaklah menurut perintah batin atau perintah yang tersembunyi itu. Melalui inilah seseorang dapat menjadi orang yang benar-benar telah mencapai hakekat.

Sekiranya perintah batin ini tidak ada dan yang ada hanyalah perbuatan Allah, maka ini memerlukan suatu penyerahan. Jika kamu telah mencapai hakekat yang sebenarnya, yang juga disebut “keadaan tenggelam (Mahwu) atau fana”, maka kamu telah mencapai peringkat Abdal (mereka yang luluh hatinya karena Allah), sesuatu keadaan atau peringkat yang dimiliki oleh orang-orang yang betul-betul berjiwa tauhid, suatu keadaan yang dimiliki oleh orang-orang yang dikaruniai cahaya kerohanian, yaitu orang-orang yang berilmu dengan kebijaksanaannya yang tinggi, orang-orang yang menjadi ketua dari seluruh ketua, pelindung dan penjaga khalayak ramai, khalifah Allah dan wali-Nya serta orang-orang yang dipercayai-Nya. Mematuhi perintah di dalam hal-hal yang demikian itu adalah melawan hawa nafsu kamu sendiri, memisahkan diri dari ketergantungan kepada daya dan upaya apa saja serta kosong dari segala kehendak dan tujuan apa saja yang berkenaan dengan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, jadilah kamu hamba raja itu dan bukan hamba kerajaan serta hamba perintah Allah dan bukan nafsu badaniah. Dan jadilah kamu seperti bayi yang berada dalam pelukan ibunya, atau seperti mayat yang sedang dimandikan oleh orang-orang dan atau seperti orang sakit yang tidak sadarkan diri di hadapan dokter, di dalam hal yang berada di luar, baik berupa suruhan maupun larangan.



AJARAN 11

Jika nafsu untuk kawin telah muncul di dalam pikiranmu, tetapi kamu miskin papa lalu kamu bersabar dengan harapan menunggu pertolongan Allah yang menjadikan kamu dan nafsu kamu itu, maka Allah pasti menolong kamu, baik dengan menghilangkan nafsu itu dari kamu maupun dengan memberimu rizki ataupun dengan mencukupkan kamu dengan berbagai cara, dengan meringankan beban dan meningkatkan derajat kamu di akhirat kelak. Allah pasti menolongmu karena kesabaran dan keridhaanmu itu. Allah pasti menambah kesucian dan kekuatanmu. Jika Allah mencukupimu di dalam masalah rizki, maka kesabaranmu itu akan bertukar dengan syukur. Allah SWT menjanjikan akan menambahkan karunia-Nya kepada mereka yang bersyukur. Firman Allah : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)

Jika sesuatu itu telah ditakdirkan bukan untuk kamu, maka janganlah kamu merasa kesal. Singkirkanlah perasaan itu jauh-jauh dari hatimu, baik sifat-sifat kebinatanganmu itu suka maupun tidak. Bersabarlah dan lawanlah kehendak nafsumu itu serta bertawakallah dan berpegang teguhlah kepada perintah-perintah Allah. Ridhalah dengan takdir Tuhan, dan dalam keadaan ini, berharaplah akan mendapat keridhaan dan karunia-Nya. Allah berfirman, “Hanya orang sabar itu sajalah akan diberi ganjaran sepenuhnya tanpa batas.”



AJARAN 12

Apabila Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Kaya memberimu harta kekayaan, maka janganlah kamu terpengaruh oleh harta kekayaan itu, sehingga kamu lupa dan tidak ta’at lagi kepada Allah. Jika kamu lupa dan tidak ta’at kepada Dia karena adanya harta itu, maka akan tertutup dari Dia di dunia ini dan diakhirat kelak. Mungkin juga harta itu akan diambil-Nya kembali, sehingga kamu menjadi miskin papa, lantaran kamu lupa kepada Yang Memberi. Jika kamu tetap ingat dan ta’at kepada Allah dan hatimu sekali-kali tidak terpengaruh oleh harta benda itu, maka Allah akan memberikan kepadamu begitu saja tanpa menguranginya walau sedikitpun. Harta benda itu adalah hamba Allah dan kamupun adalah hamba Allah. Oleh karena itu, hendaklah kamu hidup di dunia ini berada dalam penjagaan Allah, agar di akhirat nanti kamu dimuliakan dan diberi surga sebagai tempat tinggalmu yang kekal abadi bersama orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.



AJARAN 13

Janganlah kamu bersusah payah untuk mendapatkan keuntungan dan jangan pula kamu mencoba menghindarkan diri dari malapetaka. Keuntungan itu akan datang kepadamu jika memang sudah ditentukan oleh Allah untuk kamu, baik kamu sengaja untuk mencarinya maupun tidak. Malapetaka itupun akan datang menimpamu, baik kamu membencinya, maupun kamu mencoba menghindarkannya dengan doa dan shalat atau kamu menghadapinya dengan penuh kesabaran, karena hendak mencari keridhaan Allah.

Hendaklah kamu berserah diri dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah di dalam segala hal, agar Dia memanifestasikan kerja-Nya melalui kamu. Jika kebaikan yang kamu dapati, maka bersyukurlah. Dan jika bencana yang menimpa kamu, maka bersabarlah dan kembalilah kepada Dia. Kemudian, rasakanlah keuntungan yang kamu dapati dari apa yang kamu anggap sebagai bencana itu, lalu tenggelamlah di dalam Dia melalui perkara itu sejauh kemampuan yang kamu miliki dengan cara keadaan rohani yang telah diberikan kepadamu. Dengan cara inilah kamu dinaikkan dari satu peringkat ke peringkat lainnya yang lebih tinggi dalam perjalanan menuju Allah, supaya kamu dapat mencapai Dia.

Kemudian kamu akan disampaikan kepada satu kedudukan yang telah dicapai oleh orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh sebelum kamu. Dengan demikian kamu akan dekat dengan Allah, agar kamu dapat melihat kedudukan orang-orang sebelum kamu dengan menuju Raja Yang Maha Agung itu. Di sisi Tuhan Allah-lah kamu mendapatkan kesentosaan, keselamatan dan keuntungan. Biarlah bencana itu menimpa kamu dan jangan sekali-kali kamu mencoba menghindarkannya dengan doa dan shalatmu, dan jangan pula kamu merasa tidak senang dengan kedatangan bencana itu, karena panas api bencana itu tidak sehebat dan sepanas api neraka.

Telah diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya api neraka akan berkata kepada orang-orang yang beriman; ‘Lekaslah kamu pergi wahai orang-orang mu’min, karena cahayamu akan memadamkan apiku’”

Bukankah cahaya si Mu’min yang memadamkan api neraka itu serupa dengan cahaya yang terdapat padanya di dunia ini dan yang membedakan orang-orang yang ta’at kepada Allah dengan orang-orang yang durhaka kepada-Nya ? Biarkanlah cahaya itu memadamkan api bencana, dan biarkanlah kesabaranmu terhadap Tuhan itu memadamkan hawa panas yang hendak menguasai kamu.

Sebenarnya, bencana yang datang kepada kamu itu bukannya akan menghancurkan kamu, melainkan sebenarnya adalah akan menguji kamu, mengesahkan kesempurnaan iman kamu, menguatkan dasar kepercayaanmu dan memberikan kabar baik ke dalam batinmu. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS 47:31)

Oleh karena itu, manakala kebenaran keimanan kamu telah terbukti dan kamu dapat menyesuaikan diri dengan kehendak dan perbuatan Allah, dan dengan idzin Allah juga, maka hendaklah kamu tetap bersabar dan ridho serta patuh kepada-Nya. Janganlah kamu melakukan apa saja yang dilarang oleh Allah. Apabila perintah-Nya telah datang, maka dengarkanlah, perhatikanlah, bersegeralah melakukannya, senantiasalah kamu bergerak dan jangan bersikap pasif terhadap takdir dan perbuatan-Nya, tetapi pergunakanlah seluruh daya dan upayamu untuk melaksanakan perintah-Nya itu.

Sekiranya kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu, maka janganlah lalai untuk kembali menghadap Tuhan. Mohonlah ampunan-Nya dan memintalah dengan penuh merendahkan diri kepada-Nya. Carilah sebab musabab mengapa kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu. Mungkin saja kamu tidak sanggup melaksanakan perintah itu lantaran kejahatan syak wasangka yang tedapat di dalam pikiranmu, atau kamu kurang bersopan santun di dalam mematuhi-Nya, atau kamu terlalu sombong dan bangga, atau kamu terlalu menggantungkan diri kepada daya dan upayamu sendiri, dan atau kamu menyekutukan Allah dengan dirimu atau mahluk. Akibat semua itu, kamu berada terlalu jauh dari Dia, membuatmu lupa untuk mematuhi Dia, kamu dijauhkan dari pertolongan-Nya, Dia murka kepadamu dan membiarkanmu asyik terlena dengan hal-hal keduniaan dan menuruti nafsu angkara murkamu. Tahukah kamu, bahwa semua itu menyebabkan kamu lupa kepada Allah dan menjauhkan kamu dari Dia yang menjadikan dan mengasuhmu serta memberimu rizki yang tiada terkira. Oleh karena itu waspadalah terhadap apa saja yang dapat menjauhkan kau dari Allah. Berhati-hatilah terhadap apa saja selain Allah yang hendak memalingkan kamu dari Allah. Apa saja selain Allah bukanlah Allah. Karenanya, kamu jangan mengambil apa saja selain Allah lalu kamu membuang Allah, karena Allah menciptakan kamu itu hanya untuk mengabdi kepada-Nya saja. Maka janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri dengan melupakan Allah dan perintah-Nya, karena hal ini akan menyeretmu masuk neraka yang bahan bakarnya terdiri atas manusia dan batu. Ketika itu kamu akan menyesal, sesal yang tiada berguna lagi. Tobat pada waktu itu sudah tidak berguna lagi. Merataplah dan menangislah, tetapi siapakah yang berdaya untuk menolongmu ? Kamu memohon ampun kepada Allah, tetapi Allah tidak menerima permohonanmu lagi ketika itu. Kemudian kamu berangan-angan hendak kembali lagi ke dunia untuk membetulkan ibadahmu kepada Allah, tetapi apa daya dunia sudah tidak ada lagi bagi kamu.

Kasihanilah diri kamu itu. Gunakanlah segala daya dan upayamu untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT. Gunakanlah apa saja yang telah diberikan Allah kepadamu, berupa ilmu, akal, kepercayaan dan cahaya kerohanian kamu untuk mengabdikan diri kepada Allah, agar kamu diliputi cahaya yang terang benderang dan tidak lagi berada di dalam kegelapan. Berpegang teguhlah kepada Allah dan hukum-hukum-Nya, dan mengembaralah kamu menuju Allah menurut aturan-aturan yang telah ditentukan oleh Allah. Dia-lah yang telah menciptakan dan memelihara kamu seta menjadikan kamu seorang manusia yang sempurna. Janganlah kamu mencari apa-apa yang tidak diperintahkan-Nya dan janganlah kamu mengatakan bahwa sesuatu itu buruk sebelum Dia mengharamkannya. Apabila telah terdapat keserasian antara kamu dengan Allah dan perintah-Nya, maka seluruh alam ini akan menghambakan diri kepada kamu. Dan apabila kamu menghindarkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah, maka semua perkara yang tidak diinginkan itu akan lari dari kamu di manapun juga kamu berada. Allah berfirman, “Wahai manusia, Aku-lah Tuhan. Tidak ada Tuhan selain Aku. Jika Aku mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah !” maka jadilah ia. Patuhlah kepada-Ku sehingga jika kamu mengatakan kepada sesuatu, “Jadilah !” maka jadilah ia.” Allah juga berfirman, “Wahai bumi, barangsiapa menghambakan dirinya kepada-Ku, maka berkhidmadlah engkau kepadanya. Dan barangsiapa menghambakan dirinya kepadamu, maka buatlah ia susah.” Demikianlah firman-firman Tuhan di dalam kitab-Nya.

Oleh karena itulah, jika datang larangan dari Allah, maka jadikanlah dirimu seolah-olah orang yang letih, lesu dan tiada berdaya; atau seperti tubuh yang tiada bersemangat, tiada berkehendak dan bernafsu, bebas dari dunia kebendaan, lepas dari nafsu-nafsu kebinatangan; atau bagaikan halaman rumah yang gelap gulita; dan atau seperti bangunan yang hendak roboh yang tidak berpenghuni. Hendaknya kamu menjadi seperti orang yang telah tuli, buta, bisu, sakit gigi, lumpuh, tidak bernafsu, tidak berakal dan badan kamu seolah-olah mati dan dibawa kabur.

Hendaklah kamu memperhatikan dan segera melaksanakan perintah-perintah Allah. Bencilah dan malaslah untuk melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah, beraksilah terhadapnya seperti orang mati dan serahkanlah bulat-bulat dirimu kepada Allah. Minumlah minuman ini, ambillah obat ini dan makanlah makanan ini, supaya kamu bebas dari nafsu-nafsu kebinatangan dan kesetanan, agar kamu sembuh dari penyakit dosa dan maksiat serta terlepas dari ikatan hawa nafsu. Semoga kamu mencapai kesehatan jiwa yang sempurna.



AJARAN 14

Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka ! Janganlah kamu mengira bahwa diri kamu masuk ke dalam golongan mereka yang menjadi ahli Allah. Kamu telah menghambakan diri kamu kepada hawa nafsu kamu, sedangkan mereka menghambakan diri mereka kepada Allah SWT. Kamu menghendaki dunia, sedangkan mereka menghendaki akhirat. Kamu hanya melihat dunia ini saja, sedangkan mereka melihat Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Kesenanganmu terletak pada mahluk, sedangkan kesenangan mereka terletak pada Allah. Hati kamu terikat kepada Dunia, tetapi hati mereka terikat kepada Allah Yang Maha Agung. Kamu adalah mangsa setiap apa yang kamu lihat, tetapi mereka adalah mangsa apa yang tidak kamu lihat, mereka melihat Allah yang menjadikan segala perkara yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala. Mereka telah mencapai tujuan hidup dan mendapatkan kesejahteraan, sedangkan kamu masih saja terbenam di dalam nafsu keduniaanmu.

Mereka menghilang dari mahluk, dari nafsu keduniaan dan dari kehendak mereka sendiri. Sehingga dengan demikian, mereka dapat sampai ke hadlirat Illahi yang memberi mereka kekuatan untuk mencapai puncak wujud mereka, seperti menta’ati dan memuji Allah. Inilah karunia Illahi yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mereka menjadikan keta’atan kepada Allah dan pujian terhadap-Nya sebagai kewajiban mereka. Mereka berpegang teguh kepada-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada mereka. Semua ini mereka lakukan tanpa mengalami kesukaran apa-apa. Maka jadilah ketaatan mereka itu sebagai nyawa dan santapan mereka.

Dengan demikian, dunia ini menjadi berkat bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka, seakan-akan dunia ini telah menjadi surga bagi mereka. Karena, apabila mereka melihat sesuatu, maka sebelum mereka melihatnya, mereka terlebih dahulu melihat perbuatan Allah yang menjadikan segalanya itu. Orang-orang ini membekali diri dengan kekuatan yang ada di bumi dan di langit, serta menyenangkan mereka yang telah mati dan masih hidup. Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka seperti pasak bumi (gunung) yang dijadikan-Nya ini. Oleh karena itu, mereka menjadi seperti gunung yang berdiri dengan megah dan agung. Janganlah kamu mengacau mereka dan jangan pula kamu menghalangi perjalanan mereka yang ibu-bapak dan sanak-saudara mereka tidak dapat menyelewengkan mereka dari tujuan mereka. Mereka adalah orang-orang terbaik yang dijadikan Allah di muka bumi ini. Keridhaan dan kesejahteraan dikaruniakan oleh Allah kepada mereka, selagi langit dan bumi masih ada.



AJARAN 15

Aku bermimpi seolah-olah aku berada di dalam sebuah tempat seperti sebuah masjid. Di dalam tempat itu terdapat beberapa orang yang sedang mengasingkan diri mereka dari orang ramai. Aku berkata dalam diriku sendiri, “Jika si Anu itu berada di sini, tentu dia dapat mengatur orang-orang ini dan memberikan pandangan-pandangan yang baik kepada mereka.” Aku teringat kepada seorang saleh tertentu. Orang-orang itu datang mengelilingi aku. Kemudian salah seorang di antara mereka berkata kepadaku, “Apa yang telah terjadi padamu ? Mengapa kamu tidak berbicara ?”. Maka akupun berkata, “Jika tuan mengijinkan, maka aku akan berkata.” Lalu kataku, “Apabila kamu telah mengasingkan diri dari khalayak ramai karena Yang Haq, maka janganlah kamu meminta dengan lidahmu. Apabila kamu telah berhenti meminta dengan lidah, maka janganlah kamu meminta dengan hatimu. Sebab, meminta dengan hati itu sama halnya dengan meminta dengan lidah. Ketahuilah, bahwa dalam setiap hari Allah berada dalam keagungan-Nya yang baru, serta menukar, mengganti, meninggikan dan merendahkan manusia. Tarap setengah manusia ditinggikan-Nya dan tarap setengah lainnya direndahkan-Nya. Kemudian, kepada mereka yang mempunyai tarap atau derajat tinggi, diingatkan bahwa tarap mereka yang tinggi itu bisa Dia rendahkan, dan mereka diberi harapan bahwa Dia akan memelihara mereka dan menetapkan kedudukan mereka itu. Kepada mereka yang bertarap rendah, juga diingatkan bahwa mereka akan dibiarkan berada dalam kehinaan. Mereka tidak diberi harapan untuk naik ke tarap yang tinggi.” Setelah itu, akupun terjaga dari mimpiku.



AJARAN 16

Tidak ada yang dapat menghalangi kamu untuk mendapatkan keridhaan dan pertolongan langsung dari Allah, selain dari pada kebergantungan kamu kepada manusia dan tatacara penghidupan dan pendapatan kamu. Manusia menjadi penghalang bagi kamu untuk mencapai kehidupan yang diamalkan oleh Nabi, yaitu yang berkenaan dengan pendapatan. Selagi kamu masih mengharapkan hadiah dan keridhaan manusia serta meminta-minta kepada mereka, maka berarti kamu telah menyekutukan Allah dengan yang lain. Dengan demikian, kamu tidak akan dapat mencapai kehidupan yang telah diamalkan oleh Nabi, yaitu pendapatan secara halal dari dunia ini.

Apabila kamu menjauhkan kehidupan kamu dengan manusia, dengan menyekutukan mereka dengan Allah, dengan bergantung kepada pendapatan kamu, dengan berpuas hati dengannya, dan dengan lupa kepada karunia Allah, maka berarti kamu telah bersikap seperti orang musyrik. Syirik di sini lebih halus daripada syirik yang terdahulu. Karenanya, Allah akan menghukum kamu dan menjauhkan kamu dari keridhaan-Nya.

Apabila kamu telah keluar dari keadaan semacam ini dan membuang syirik jauh-jauh; melepaskan kebergantungan hati kamu kepada pendapatan kamu dan kepada daya dan upaya kamu; kamu melihat bahwa Allah-lah yang sebenarnya memberi kehidupan itu, menjadikan sebab dan akibat, memberi kekuatan untuk mencari pendapatan dan memberi kekuatan kepada segala yang baik; dan kamu mengetahui bahwa kehidupan itu berada di tangan-Nya, yang kadang-kadang dibawa-Nya kepada kamu melalui manusia dengan cara kamu meminta kepada mereka pada masa ujian dan perjuangan, atau melalui permohonanmu kepada-Nya, atau kadang-kadang melalui pemberian manusia, dan atau melalui karunia-Nya yang sedemikian rupa, sehingga kamu tidak melihat sebab dan cara datangnya; maka kamu menuju kepada Dia dan kembali ke hadirat-Nya Yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Yang demikian itu jika Dia menyingkapkan tirai yang melindungi kamu dari keridhaan-Nya dan membuka pintu rizki dengan kehendak-Nya di dalam keadaan perlu, bersesuaian dengan keperluan kamu ketika itu, misalnya dokter yang menjadi sahabat bagi pasien. Inilah perlindungan dari Dia Yang Maha Mulia dan Maha Agung, untuk membersihkan kamu dari kecenderungan kepada yang lain selain Dia. Dan dengan itu, maka Dia meridhai kamu.

Oleh karena itu, apabila Dia telah mengosongkan hati kamu dari setiap tujuan, nafsu dan kehendak, maka Dia akan memenuhi hati kamu dengan tujuan dan kehendak-Nya semata-mata. Apabila Dia hendak memberikan bagianmu kepadamu dan bukan bagian orang lain, maka kamu pasti bisa mendapatkan bagian kamu itu dan Dia akan mengarahkanmu untuk mendapatkan bagian kamu itu, lalu bagian kamu itu akan sampai kepadamu pada saat-saat kamu memerlukannya. Kemudian, Dia akan memberi kekuatan kepada kamu untuk bersyukur kepada-Nya. Hal ini akan menambah keinginan kamu untuk menjauhkan diri dari orang banyak dan untuk mengosongkan hati kamu dari apa saja selain Allah.

Apabila ilmu da kepercayaanmu telah bertambah kuat dan teguh, hati kamu telah lapang dan bercahaya, kamu bertambah dekat kepada Allah dan kamu telah pantas untuk memelihara rahasia-rahasia-Nya, maka kamu akan diberi ilmu untuk mengetahui terlebih dahulu waktu bagian kamu itu akan sampai kepadamu. Dan ini adalah tanda bahwa kamu telah diberi kemuliaan dan keridhaan-Nya. Inilah karunia-Nya, kasih sayang-Nya, pengarahan dan bimbingan-Nya. Firman Allah, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32:24) Dan firman-Nya pula, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS 29:69)

Allah juga berfirman, “Dan takutlah kamu kepada Allah, dan Dia akan mengajar kamu. Kemudian akan diberi-Nya kamu kekuatan untuk mengawal alam dengan kebenaran yang terang, yang tidak ada kegelapan di dalamnya, dengan tanda-tanda yang nyata dan terang seperti terangnya matahari, dengan perkataan yang manis-manis yang lebih manis dari segala yang manis dan dengan wahyu yang sebenarnya, tanpa kegelapan apapun, dan bebas dari nafsu-nafsu kebinatangan dan dari hasutan setan yang dilaknat.”

Allah berfirman dalam kitabnya, “Wahai anak Adam, Aku-lah Tuhan. Tidak ada yang patut disembah selain Aku. Apabila Aku berkata kepada seuatu, “Jadilah !”, maka jadilah ia. Patuhlah kepada-ku, sehingga Aku jadikan kamu bila berkata kepada sesuatu “Jadilah !”, maka jadilah ia.” Yang semacam itu telah Dia lakukan kepada kebanyakan para Nabi dan para Wali serta orang-orang khusus yang diridhai-Nya dari anak Adam.



AJARAN 17

Yang dimaksud dengan dekat dan bersatu dengan Tuhan itu ialah, kamu mengosongkan hati kamu dari mahluk, hawa nafsu dan lain-lain selain Allah, sehingga hati kamu hanya dipenuhi oleh Allah dan perbuatan-Nya saja. Kamu tidak bergerak, kecuali dengan kehendak Allah saja. Kamu akan bergerak jika Allah menggerakkan kamu. Keadaan seperti ini dinamakan ‘fana’. Fana inilah yang dimaksud dengan ‘bersatu dengan Tuhan’. Tetapi harus diingat, bahwa bersatu dengan Tuhan itu tidak seperti bersatu dengan mahluk atau dengan yang selain Tuhan.

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Al-Khaliq itu tidak sama dengan apa saja yang kamu duga. Hanya orang yang telah mengalami dan menyadari bersatu dengan Tuhan itu sajalah yang dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan ‘bersatu dengan Tuhan’ itu. Orang yang belum pernah merasakan atau mengalaminya tidak akan dapat mengerti apa yang dimaksud dengannya. Setiap orang yang pernah merasakan pengalaman tersebut mempunyai perasaan dan pengalaman tersendiri. Dan masing-masing mempunyai perasaan dan pengalaman yang tersendiri pula.

Pada setiap Nabi, Rasul dan Wali Allah terdapat rahasia. Masing-masing mempunyai rahasianya tersendiri. Seseorang tidak akan dapat mengetahui rahasia seseorang lainnya. Kadang-kadang seorang murid mempunyai rahasia yang tidak diketahui oleh gurunya. Ada kalanya pula, rahasia yang dimiliki oleh guru itu tidak dapat diketahui oleh muridnya, meskipun murid itu sudah hampir sederajat dengan gurunya. Apabila seorang murid dapat mencapai keadaan kerohanian yang ada pada gurunya, maka murid itu diperintahkan untuk memisahkan dirinya dari gurunya itu. Dengan kata lain, dia sekarang telah setarap dengan gurunya. Murid itupun berpisahlah dari gurunya dan Allah sajalah yang menjadi penjaganya. Kemudian Allah akan memisahkannya dari seluruh mahluk.

Bolehlah diibaratkan bahwa guru itu laksana ibu dan murid itu laksana bayinya yang masih menyusu. Apabila si bayi telah mencapai usia dua tahun, maka berhentilah dia meyusu dari ibunya. Tidak ada lagi kebergantungan kepada mahluk, setelah hawa nafsu amarah dan kehendak-kehendak kemanusiaan hapus. Guru atau syaikh itu hanya diperlukan selagi murid masih mempunyai hawa nafsu angkara murka dan kehendak-kehendak badaniah yang perlu dihancurkan. Setelah semua itu hilang dari hati si murid tadi, maka guru itu tidak lagi diperlukan, karena si murid sekarang sudah tidak lagi memiliki kekurangan atau dia telah sempurna.

Oleh karena itu, apabila kamu telah bersatu dengan Tuhan, maka kamu akan merasa aman dan selamat dari apa saja selain Dia. Kamu akan mengetahui bahwa tidak ada yang wujud melainkan Dia saja. Kamu akan mengetahui bahwa untung, rugi, harapan, takut dan bahkan apa saja adalah dari dan karena Dia juga. Dia-lah yang patut ditakuti dan kepada Dia sajalah meminta perlindungan dan pertolongan. Karenanya, lihatlah selalu perbuatan-Nya, nantikanlah selalu perintah-Nya dan patuhlah selalu kepada-Nya. Putuskanlah hubunganmu dengan apa saja yang bersangkutan dengan dunia ini dan juga dengan akhirat. Janganlah kamu melekatkan hatimu kepada apa saja selain Allah.

Anggaplah seluruh yang dijadikan Allah ini sebagai seorang manusia yang telah ditangkap oleh seorang raja yang agung dan gagah; raja itu telah memotong kaki dan tangan orang tadi dan menyalibnya pada sebatang pohon yang terletak di tepi sebuah sungai yang besar lagi dalam, raja itu bersemayam di atas singgasana yang tinggi dengan dikawal oleh hulu balang yang gagah berani yang dilengkapi persenjataan yang lengkap dan raja itu melempar orang tadi dengan seluruh senjata yang ada padanya. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melihat keadaan ini, lalu memalingkan pandangannya dari raja itu dan takut kepadanya, sebaliknya ia berharap dan meminta kepada orang itu dan bukannya kepada raja yang agung itu ?Jika ada orang yang gentar dan takut kepada orang yang tersalib itu, dan bukannya kepada raja, maka orang ini adalah orang yang bodoh, gila dan tidak sadar.

Oleh karena itu, mintalah perlindungan kepada Allah dari menjadi buta setelah Dia memberikan penglihatan, dari berpisah setelah disatukan-Nya, dari berjauhan setelah didekatkan-Nya, dari tersesat setelah Dia memberikan petunjuk dan dari kekufuran setelah Dia memberikan keimanan.

Dunia ini bagaikan sebuah sungai yang lebar, airnya senantiasa mengalir dan selalu bertambah setiap hari. Begitu juga halnya dengan nafsu kebinatangan, manusia itu selalu merasa tidak puas, semakin tampak dan semakin tak sadarkan diri. Hidup manusia di dunia ini senantiasa penuh dengan ujian dan cobaan. Di samping mendapatkan kebahagiaan, kadangkala manusia juga dikelilingi oleh penderitaan.

Orang yang mempunyai akal pikiran yang sempurna, mau berpikir dan mengetahui hakekat, akan mengetahui bahwa pada hakekatnya tidak ada kehidupan yang sebenarnya melainkan kehidupan akhirat saja. Oleh karena itu, Nabi besar Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada kehidupan, kecuali kehidupan di akhirat.” Bagi orang yang beriman, hal ini adalah benar. Nabi Muhammad selanjutnya mengatakan, “Dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman dan surga bagi orang kafir.” Nabi juga pernah menyatakan bahwa, “Orang yang baik itu terkekang.”

Pada hakekatnya, kesentosaan dan kebahagiaan itu terletak dalam hubungan yang langsung dengan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tawakal yang bulat kepada-Nya dan senantiasa ridha dengan-Nya. Jika kamu telah dapat melakukan hal yang demikian itu, maka bebaslah kamu dari dunia ini dan Allah akan memberimu kesenangan, keselamatan, kesentosaan, kasih sayang dan ridha Illahi.



AJARAN 18

Kunasehatkan kepadamu supaya kamu tidak muram atau mengeluhkan tentang kesusahan yang menimpa kamu dan mengadukannya kepada sahabatmu atau musuhmu. Dan jangan pula kamu menyalahkan Tuhanmu yang menjadikan kesusahan atau ujian itu. Adalah lebih baik kamu menerangkan kebaikan yang diberikan Allah kepadamu dan kesyukuranmu terhadap kebaikan itu. Kamu berbuat bohong dengan menerangkan kesyukuranmu atas karunia apa saja adalah lebih baik daripada kamu menyatakan dan menghebohkan dengan benar kesusahan yang kamu alami. Siapakah orangnya yang tidak pernah mendapatkan karunia Allah ? Allah SWT berfirman, “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung ni’mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (ni’mat Allah)” (QS 14:34)

Berapa banyakkah karunia yang telah diberikan Allah kepadamu, sehingga kamu masih tidak sadar juga ? Janganlah kamu merasa senang kepada mahluk, janganlah kamu cinta kepada mahluk dan janganlah kamu menceritakan hal ihwal kamu kepada siapapun. Hendaklah cintamu itu kamu tujukan hanya kepada Allah semata, hendaklah kamu hanya merasa senang kepada-Nya dan hendaklah kamu mengadukan kesusahanmu hanya kepada-Nya pula.

Janganlah kamu melihat yang lain selain Allah, karena yang lain selain Allah iti tidak dapat memberikan mudharat atau manfaat, untung atau rugi, kebaikan atau kejahatan, menghina atau memuliakan, meninggikan atau merendahkan, memiskinkan, menggerakkan dan mendiamkan. Segala apa saja selain Allah, itu adalah ciptaan Allah dan berada di dalam kekuasaan-Nya serta pergerakan merekapun dengan ijin dan kehendak-Nya pula. Mereka akan tetap ada, selagi Allah masih menghendaki mereka untuk ada. Segala sesuatu itu ada di dalam masa yang telah ditentukan oleh Allah. Apa yang telah didahulukan tidak dapat dikemudiankan, dan apa yang telah dikemudiankan tidak dapat di didahulukan. Jika Allah hendak menimpakan bahaya kepada kamu, maka tidak ada yang dapat mengelakkan bahaya itu selain Dia juga. Jika Dia hendak memberikan kebaikan kepada kamu, maka tidak ada yang dapat mengelakkan kebaikan itu datang kepadamu, selain Dia jua.

Oleh karena itu, jika kamu muram dan mengeluh karena hatimu tidak puas ketika kamu mendapatkan kesenangan dan kemewahan, hanya lantaran kamu menginginkan untuk dilebihi dan ditambah nikmat kemewahan dan kesenangan itu, dan kamu menutup mata dari kesenangan dan kemewahan yang telah ada pada kamu dengan menuduh bahwa Allah SWT itu tidak berbuat baik kepadamu, maka Dia akan murka kepadamu, akan menarik kembali kesenangan dan kemewahan dari kamu, akan menyusahkanmu lebih berat lagi dan kamu akan dijauhkan daripada-Nya.

Maka, janganlah kamu mengeluh dan merintihm walaupun badanmu dipotong-potong dengan gunting. Peliharalah diri kamu. Takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah.

Sesungguhnya kebanyakan bencana yang menimpa anak Adam itu adalah akibat keluhan dan ketidak ridhaan terhadap Allah. Patutkah seorang hamba Allah untuk mengeluh, muram dan tidak berpuas hati, padahal Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Tahu dan Maha Bijaksana ?

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Kasih Allah kepada hamba-Nya adalah melebihi kasih ibu kepada anaknya.”

Wahai manusia, tunjukkanlah sopan santunmu yang baik. Bersabarlah di dalam menghadapi kesusahan, walaupun kamu merasa lesu letih untuk bersabar itu. Bersabarlah, di samping kamu bertawakal dan berserah diri kepada Allah. Ridhalah dengan Dia.

Jika kamu masih mendapatkan dirimu masih ada, maka hapuskanlah ke-ada-an kamu itu. Jika kamu sudah tidak ada, maka berada di manakah kamu ? Pernahkah kamu mendengar firman Tuhan, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

Pengetahuan tentang hakekat sesuatu telah jauh dari kamu dan kamu telah tertutup dari hakekat itu. Oleh karena itu, janganlah kamu menunjukkan ketidaksopananmu jika kamu menyukai atau tidak menyukai sesuatu. Jika kamu berada dalam peringkat pertama, yaitu peringkat orang-orang yang saleh, maka patuhlah kepada syari’at dalam semua perkara yang terjadi kepada kamu. Jika kamu berada pada peringkat kedua, yaitu peringkat wilayah (kewalian), maka ikutilah segala perintah dan janganlah kamu melampaui batas. Pada peringkat terakhir, hendaklah kamu ridha dengan ketentuan Allah, serasikanlah dirimu dengan-Nya, lenyaplah dan masuklah kamu ke dalam kedudukan dan posisi Abdal, Ghauts dan Shiddiq. Janganlah kamu mencoba menentang takdir, hadapkanlah selalu diri dan kehendak kamu kepada Allah dan janganlah kamu mengeluh dan tidak berpuas hati.

Apabila kamu telah berbuat demikian dan takdirmu adalah baik, maka Allah akan menambah lagi kebaikan untuk kamu, kehidupan yang sentosa dan kebahagiaan. Jika takdir untuk kamu itu tidak baik, maka Allah akan melindungi kamu dari perkara-perkara yang tidak baik itu melalui kepatuhan kamu kepada-Nya, dan Dia akan menghindarkan kamu dari kesalahan hingga berakhir masanya. Inilah nasehat untukmu.

Ketahuilah, bahwa di dalam diri manusia itu terdapat bermacam-macam kesalahan, dosa dan noda yang semua itu akan menjauhkan manusia dari Allah, kecuali jika manusia itu dibersihkan dari segala dosa dan noda itu. Tidak ada seorangpun yang dapat dekat dengan Allah, kecuali jika orang itu telah bersih dari kotoran takabur dan dosa, sebagaimana halnya orang itu tidak dapat duduk dekat raja, jika orang itu berbau busuk dan berbadan kotor. Oleh karena itu, bencana itu adaah pembersih dan penukar untuk mendapatkan yang baik. Nabi pernah bersabda, “Demam sehari itu akan menyapu bersih dosa setahun.”



AJARAN 19

Apabila iman kamu masih lemah lalu kamu berjanji, maka hendaklah kamu menepati janji itu. Jika tidak, maka keimananmu itu akan berkurang dan kepercayaanmu semakin hilang. Tetapi, jika iman kamu itu telah kuat dan tertanam kokoh di dalam hati sanubarimu lalu kamu banyak menerima firman Allah, “Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat padaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” (QS 12:54). Maka kamupun akan menjadi orang pilihan Tuhan, lalu kehendak, nafsu dan perbuatanmu sendiri akan hilang, kamu terus menjadi dekat dengan Tuhan yang kedekatan-Nya itu tidak terlihat olehmu dan kamu terus tenggelam di hadirat Illahi.

Maka jadilah kamu seperti bak yang bocor, tidak ada air yang dapat tinggal di dalam bak itu, dan jadilah kamu seperti tong kosong yang berlubang. Dengan demikian, hati kamu hanya dipenuhi oleh Allah, tidak ada yang lain di dalam hatimu itu, kecuali Dia dan kamu bersih dari segala sesuatu selain Allah. Sehingga Allah meridhai kamu, kamu dijanjikan akan mendapatkan rahmat, nikmat dan ampunan-Nya dan kamu merasa senang kepada-Nya.

Kemudian kamu akan diberi suatu janji, dan apabila kamu merasa puas dengan janji itu dan tampak tanda keinginanmu padanya, maka janji itu akan ditukar dengan janji yang lebih tinggi lagi, kamu akan diberi perasaan cukup diri (self sufficiency), pintu ilmu akan dibukakan untuk kamu, kamu akan disinari dengan pengetahuan untuk memahami rahasia-rahasia ke-Tuhan-an dan kamu akan merasakan bertambahnya keadaan kerohanianmu.

Selanjutnya kamu akan menerima pangkat kerohanian yang tinggi, kamu akan diberi rahasia-rahasia ke-Tuhan-an, dadamu menjadi lapang, lidahmu berkata lantang, ilmumu tinggi dan kamu cinta kepada Allah. Kamu akan dikasihi oleh semua orang, semua manusia, jin dan mahluk-mahluk lainnya di dunia ini dan di akhirat. Apabila kamu telah menjadi kekasih Allah, maka semua mahlukpun akan mengasihimu, lantaran semua mahluk itu takluk kepada Allah, kasih mereka masuk ke dalam kasih Allah, sebagaimana benci mereka masuk ke dalam benci Allah.

Kamupun dinaikkan ke pangkat ini, di mana kamu tidak lagi mempunyai kehendak kepada yang lain selain Allah.

Setelah ini kamu akan diberi kehendak kepada sesuatu lalu kehendak itu akan dilepaskan dari kamu dan kamupu terhindar darinya. Kamu tidak akan diberi perkara-perkara yang kamu kehendaki di dunia ini, dan di akhirat kelak kamu akan diberi gantinya, kamu akan lebih didekatkan kepada Allah SWT dan segala sesuatu yang kamu kehendaki itu akan menyejukkan matamu di surga.

Jika kamu tidak meminta sesuatu, tidak berharap atau berangan-angan untuk mendapatkannya di masa hidupmu di dunia ini - tempat sementara dan tempat ujian – dan kamu hidup di dunia ini semata-mata hanya ingin mencapai keridhaan Tuhan yang menjadikan langit dan bumi serta semesta alam, maka di dunia ini kamu akan dikarunia apa-apa yang seimbang dengannya dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, sedangkan di akhirat nanti Dia akan menambahkan yang lebih banyak lagi. Sesungguhnya di sisi Allah terdapat ganjaran yang besar dan kekal. Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya menurut ketentuan dan ketetapan-Nya.



AJARAN 20

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Buanglah apa saja yang menyebabkan pikiranmu ragu terhadap halal atau haramnya sesuatu dan ambillah yang tidak menimbulkan keraguan kepadamu.”

Jika hal-hal yang meragukan bercampur dengan hal-hal yang tidak meragukan, maka ambillah yang tidak meragukan itu dan buanglah yang meragukan itu. Mengenai perkara yang menimbulkan keraguan dan senantiasa mengacaukan pikiranmu tentang halal atau haramnya perkara itu, Nabi SAW bersabda, “Berdosalah kamu, jika kamu menimbulkan kekacauan dalam hatimu.” Dalam hal ini, hendaklah kamu menunggu perintah batinmu. Jika kamu diperintahkan untuk melakukannya, maka lakukanlah dan jika kamu dilarang untuk melakukannya, maka janganlah kamu melakukannya, lupakanlah perkara itu dan kembalilah kepada Allah.

Jika kamu merasa bosan dan jenuh untuk bersabar, ridha dan bertawakal dengan tulus ikhlas kepada Allah dan di dalam keadaan ‘fana’, maka ketahuilah bahwa Allah Yang Maha Agung dan Maha Perkasa tidak butuh supaya Dia diingat, dan Dia tidak lupa kepada kamu dan mahluk-mahluk yang lain. Dia Maha Kaya dan Dia juga yang memberi makan dan rizki kepada orang-orang kafir, munafik dan orang-orang yang tidak patuh kepada-Nya. Tidak mungkin Allah itu lupa, wahai orang-orang yang beriman, yang percaya kepada keesaan-Nya, yang patuh kepada perintah-Nya dan yang berpegang teguh kepada-Nya siang dan malam.

Sekali lagi Nabi Muhammad SAW bersabda, “Buanglah apa saja yang meragukan pikiranmu dan ambillah yang tidak meragukannya.” Ini juga berarti kamu tidak boleh berkeinginan untuk mengambil apa-apa yang ada pada tangan orang lain, tidak boleh berangan-angan supaya orang lain memberimu sesuatu dan tidak boleh takut atau khawatir kepada mereka. Bertawakallah kepada Allah, harapkanlah pertolongan dari-Nya dan terimalah pemberian-Nya yang mungkin juga datang melalui mahluk-Nya. Inilah yang tidak menimbulkan keraguan dalam pikiranmu.

Jadikanlah satu saja sebagai tempatmu meminta, satu pemberi saja dan satu tujuan saja, yaitu Allah. Karena Dia-lah Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Agung. Dia-lah yang menguasai segala Raja dan mengontrol seluruh hati manusia yang diibaratkan sebagai raja bagi badan, lantaran hati itu mengontrol badan. Badan dan harta benda yang dimiliki oleh manusia itu, sebenarnya adalah kepunyaan Allah jua. Manusia adalah wakil Allah atau pemegang amanat-Nya. Apabila manusia memberimu sesuatu, maka sesungguhnya gerak tangan mereka itu adalah dengan ijin dan perintah Allah, dan sebenarnya adalah gerak Allah juga. Begitu juga, jika sesuatu itu ditahan untuk tidak sampai kepadamu. Pendek kata, Dia-lah yang memberi dan Dia jualah yang menahan pemberian itu.

Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Mintalah kepada Allah karunia-Nya.” Dia juga berfirman, “Sesungguhnya apa saja yang kamu sembah selain Allah tidak langsung dapat mengontrol rizki kamu. Oleh karena itu, mintalah rizki kepada Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.” Dia juga berfirman, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah bahwa Aku sangat dekat. Aku akan mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta, apabila mereka meminta kepada-Ku.” Firman-Nya pula, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu itu.” Firman-Nya lagi, “Sesungguhnya Allah itulah yang memberi rizki, Tuhan Yang Maha Gagah lagi Maha Perkasa.” Selanjutnya Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dengan tiada terhingga.”



AJARAN 21

Di dalam mimpiku aku melihat setan dan seakan-akan aku berada di tengah-tengah kumpulan orang banyak. Kemudian aku bersiap-siap hendak membunuh setan, namun setan itupun berkata, “Mengapa kamu hendak membunuhku, apakah dosaku ? Jika Tuhan telah menakdirkan kejahatan itu terjadi, maka aku tidak berkuasa untuk merubahnya dan menjadikannya kebaikan. Demikian sebaliknya, jika Tuhan telah menakdirkan sesuatu kebaikan itu terjadi, maka akupun tidak berkuasa untuk merubahnya menjadi kejahatan. Maka apakah yang berada dalam kekuasaanku ?” Kemudian, kudapati setan itu berupa seperti orang kasim (eunuch), suaranya lembut, rambutnya terurai sampai ke dagunya dan mukanya sangat pucat, seakan-akan ia tersenyum kepadaku, penuh rasa malu dan takut. Itu terjadi pada malam Ahad, 12 Dzul Hijjah 401 H.



AJARAN 22

Biasanya Allah SWT menguji hamba-hamba-Nya yang beriman sesuai dengan derajat keimanan mereka. Sekiranya keimanan seseorang itu kuat, maka ujian keimanannya itupun kuat pula. Oleh karena itu, ujian kepada Rasul lebih hebat daripada ujian kepada Nabi, ujian kepada Nabi lebih hebat daripada ujian kepada Abdal dan ujian kepada Abdal lebih hebat daripada ujian kepada Wali. Setiap orang diuji menurut tinggi atau rendahnya keimanannya. Nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya ujian bagi kami, para Nabi, lebih hebat daripada ujian bagi orang-orang lain.”

Allah akan terus memberikan ujian ini kepada mereka sesuai dengan tingkatan mereka, agar mereka senantiasa berada di samping Tuhan dan tidak pernah lalai. Allah mengasihi mereka dan Allah tidak mau orang yang dikasihi-Nya itu jauh dari-Nya.

Oleh karena itu, ujian diibaratkan sebagai pengikat hati dan penjara mereka serta menjauhkan mereka dari kecenderungan kepada apa saja yang bukan tujuan hidup mereka dan menjauhkan mereka dari perasaan senang dan condong kepada apa saja selain Allah Yang Maha Pencipta. Apabila ini telah menjadi keadaan mereka yang abadi, maka hancurlah diri dan hawa nafsu amarah dan kebinatangan mereka. Dapatlah mereka membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (palsu). Segala tanda-tanda keserakahan dan kehendak mereka terhadap kemewahan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat hilang lenyap dari sisi mereka dan mereka merasa tenteram berada di sisi Tuhan, ridha dengan Allah, sabar terhadap ujian, selamat dari kejahatan mahluk-Nya dan mereka mendapat kepuasan di sisi Allah SWT.

Dengan demikian, kekuasaan hati akan bertambah hebat dan dapat mengontrol anggota-anggota badan. Ujian dan bencana itu menguatkan hati dan meneguhkan iman dan kesabaran serta melemahkan nafsu-nafsu kebinatangan yang berada dalam diri. Karena, apabila kesusahan datang menimpa si mu’min dan ia menunjukkan kesabaran dan keridhaannya serta berserah bulat kepada Allah, Allah ridha dan menolong mereka serta memberi kekuatan kepada mereka. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur, sesungguhnya aku akan menambah lagi karunia itu.”

Apabila diri manusia itu menggerakkan hatinya untuk mecari sasaran pemuasan hawa nafsu dan berfoya-foya, dan hati itupun menurutinya saja tanpa perintah dan ijin Allah, maka akibatnya adalah lupa kepada Allah, menyekutukan-Nya dan berbuat dosa, lalu Allah akan menimpakan bencana, kesusahan dan derita kepada mereka yang lupa itu dan pikiran serta hati mereka akan sakit.

Jika hati mereka tidak mengindahkan panggilan pemuasan tersebut sampai Allah mengijinkannya melalui ilham (bagi Wali) dan wahyu (bagi Nabi dan Rasul), lalu tindakan diambil atas dasar ilham dan wahyu tersebut, baik berupa pemberian karunia maupun bukan, maka Allah akan memberikan ganjaran kepada hati itu berupa rahmat, ampunan, kesentosaan, keridhaan, cahaya dan ilmu, kedekatan kepada Allah, terlepas dari segala kebutuhan dan selamat dari bahaya dan bencana. Oleh karena itu, ketahuilah dan ingatlah selalu serta selamatkan dirimu dari ujian dengan sungguh-sungguh dan waspada, tanpa tergesa-gesa menuruti panggilan pikiran dan kehendaknya, tetapi hendaklah kamu menunggu dengan sabar ijin Allah, agar kamu selamat di dunia dan di akhirat kelak.



AJARAN 23

Puaskanlah hatimu dengan apa yang ada pada kamu, sampai datang takdir Allah untuk meninggikan derajatmu, di mana kamu diselamatkan dari kesusahan hidup di dunia dan di akhirat dan dari dosa serta noda. Kamu akan dinaikkan ke derajat yang lebih tinggi, sehingga kamu puas dan bahagia. Apa yang telah ditetapkan untuk kamu, pasti akan kamu dapatkan dan apa yang tidak ditetapkan untuk kamu, tidak akan kamu dapatkan. Karenanya, senantiasalah kamu bersabar dan ridha dengan keadaan yang telah ada pada kamu. Janganlah kamu berpura-pura pintar dan menuruti kehendakmu sendiri, melainkan tunggulah sampai kamu mendapatkan perintah.

Janganlah kamu bertindak sendiri dan jangan pula kamu berdiam diri, karena hal ini akan merendahkan kedudukanmu dan menganiaya dirimu sendiri. Tuhan tidak akan lupa kepada orang yang berbuat aniaya (zhalim). Firman Allah, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman sebagian yang lain, disebabkan apa yang mereka usahakan.”

Ketahuilah bahwa kamu berada dalam istana Raja Yang Maha Berkuasa dan Maha Agung, yang tentara-Nya banyak tiada terhingga, yang perintah-Nya tidak boleh dibantah, yang kerajaan-Nya tidak boleh diganggu gugat, yang kekal dan abadi selamanya, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, bahkan dapat melihat apa yang terdetik dalam hati sanubari. Kamu akan berbuat zhalim terhadap dirimu sendiri, jika kamu digerakkan oleh hawa nafsu kebinatangan, berbuat sesuka hatimu sendiri dan berbuat sesuatu yang menyekutukan Allah. Firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sangat jauh.” (QS 4:116)

Jauhkanlah dirimu dari syirik dan janganlah kamu mendekatinya. Segala gerak dan diammu pada siang dan malam hari, baik kamu seorang diri maupun kamu berada di tempat yang ramai, hendaklah dibebaskan dari syirik itu. Berhati-hatilah terhadap dosa yang berbentuk bagaimanapun juga di dalam hati dan anggota badanmu. Jauhkanlah dosa batin dan dosa lahir. Janganlah kamu lari dari Tuhan, karena kamu tidak akan dapat melarikan dirimu dari-Nya. Janganlah kamu melawan-Nya, karena kamu akan dibinasakan oleh-Nya. Janganlah kamu menentang perintah-Nya, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan dihinakan-Nya. Janganlah kamu melupakan-Nya, karena kamu akan dilupakan-Nya pula dan dilemparkan ke dalam kesusahan. Janganlah kamu mencoba memindahkan rumah-Nya, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan dibinasakan oleh-nya. Janganlah kamu berbicara tentang agama-Nya menurut hawa nafsumu semata, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan dihancurkan-Nya, hatimu akan digelapkan-Nya, imanmu akan dicabut-Nya, dan ilmu kerohanianmu akan dihilangkan-Nya. Kemudian, kamu akan dikuasakan kepada setan: nafsu kebinatanganmu, keluargamu, tetanggamu, sahabatmu, jin, binatang dan seluruh mahluk akan menguasai dan mempengaruhi kamu. Dengan demikian, kamu akan hidup di dunia ini berada dalam kegelapan dan adzab neraka akan kamu terima di akhirat kelak.



AJARAN 24

Janganlah kamu ingkar kepada Allah. Berpegang teguhlah kepada-Nya. Kembalilah kepada-Nya dengan penuh kekhusyuan dan dengan merendahkan diri. Bertawakallah kepada-Nya dengan sepenuh penyerahan. Janganlah kamu menuruti hawa nafsu kebinatanganmu. Janganlah kamu hanya mencari kepentingan di dunia atau di akhirat saja atau mencari kedudukan yang lebih tinggi atau lebih mulia. Ketahuilah bahwa kamu itu adalah hamba-Nya. Sedangkan hamba dan segala yang dimilikinya adalah kepunyaan tuannya. Si hamba tidak mempunyai apa-apa. Tuannyalah yang memiliki segalanya. Hendaklah kamu bersopan santun dan jangan pula menyalahkan tuan kamu itu. Segalanya telah ditentukan olehnya. Apa yang telah didahulukan olehnya tidak dapat dikemudiankan dan apa yang dikemudiankan tidak dapat didahulukan. Dia telah memberi kamu tempat kediaman yang kekal di akhirat. Dialah Tuan kamu. Dia memberimu karunia yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah dirasa oleh hati. Firman Tuhan, “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 32:17).

Ini adalah ganjaran bagi mereka dari perbuatan mereka di dunia ini, seperti mematuhi hukum-hukum Allah, bersabar diri untuk tidak melakukan dosa dan maksiat serta bertawakal penuh kepada Allah dan ridha dengan-Nya.

Jika Allah memberikan perkara-perkara keduniaan kepada mereka dan menjadikannya sebagai tuannya, maka hal itu karena kedudukan iman mereka itu seperti tanah tandus yang berpasir, tidak dapat menampung air dan tidak dapat menghidupkan tumbuh-tumbuhan. Kemudian ia membubuhi pupuk supaya akar tanaman itu tumbuh. Inilah gambaran dunia dan perhiasannya, mudah-mudahan dapat menumbuhkan keimanan dan amal saleh mereka. Jika pupuk-pupuk ini tidak dibubuhkan, maka akan matilah tumbuh-tumbuhan itu dan negeripun akan kosong dari manusia. Tapi Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi menghendaki negeri itu bermanusia lagi dan subur dengan tumbuh-tumbuhan.

Oleh karena itu, pangkal iman yang ada pada orang kaya itu lemah dan tidak subur. Ketahuilah bahwa sesungguhnya iman itu lebih berharga dari segala kekayaan dunia. Semoga Allah senantiasa mengasihi kita dan mengarahkan kita ke jalan yang lurus dan benar. Orang yang kaya harta tetapi miskin iman akan bisa menjadi munafik atau kafir, jika kekayaan harta bendanya itu dicabut darinya. Jika Allah tidak memberikan kesabaran, keimanan yang kokoh dan cahaya ilmu yang hakiki kepada orang kaya itu, maka akan binasalah ia. Orang kaya yang penuh iman tidak akan pernah takut atau khawatir jika kekayaan harta bendanya dan keduniaannya itu hilang darinya, asalkan bukan kekayaannya itu yang hilang.



AJARAN 25

Wahai orang-orang yang miskin harta benda, mereka yang dijauhkan dari dunia dan wahai orang-orang yang tidak terkenal, yang lapar dan dahaga, yang tidak berpakaian, yang remuk hatinya, yang berkelana dari satu mesjid ke mesjid lainnya dan tempat-tempat sunyi, yang dibenci oleh orang-orang lain dan yang jauh dari cita-citanya, janganlah kamu menyangka bahwa Allah telah menjadikan kamu miskin papa, mencabut dunia dari kamu, memurkai kamu, memusuhi kamu dan menghinakan kamu, padahal saudara-saudara kamu dilebihkan oleh Allah dengan kesenangan dan kekayaan dunia ini. Janganlah kamu mengira bahwa Tuhan itu menganiaya kamu. Sebab, kamu, keluargamu dan sudara-saudaramu adalah orang-orang Islam dan beriman juga serta keturunanmu dan keturunannya adalah keturunan Adam dan Hawa pula.

Allah menjadikan kamu seperti itu, karena kamu adalah orang yang suci dan rahmat Allah yang berupa kesabaran, tawakal, keridhaan, keimanan dan ilmu senantiasa meliputimu dengan tiada henti-hentinya. Cahaya Iman dan Tauhid akan menyelimuti hati kamu. Sehingga timbullah pokok-pokok keimanan di dalam dirimu dengan suburnya dan penuh dengan buah-buah yang ranum serta lezat dengan cita rasanya. Pokok keimanan itu semakin bertambah besar dan tinggi serta daunnya rindang tanpa diberi pupuk lagi. Apa yang telah ditentukan untuk kamu, pasti akan kamu terima, baik kamu sukai maupun tidak. Oleh karena itu, janganlah kamu tamak dan terburu nafsu dan jangan pula kamu merasa sedih lantaran kamu tidak mendapati apa yang telah didapati oleh orang lain.

Apa yang tidak kamu miliki itu mempunyai dua kemungkinan; pertama, ia adalah milik kamu, maupun kedua, ia adalah milik orang lain. Apa yang telah ditetapkan untuk kamu, pasti akan datang kepada kamu dan kamu akan dibawa untuk mendapatkannya dengan segera. Dan apa yang bukan milikmu, akan dijauhkan dari kamu, kamu akan dijauhkan darinya dan kamu pasti tidak akan mendapatinya. Oleh karena itu, berpuas hatilah kamu dengan apa yang ada pada kamu, patuhlah kepada Allah dan janganlah kamu melihat selain Allah.

Firman Allah, “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada sebagian dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”

Oleh karena itu, Allah tidak menyukai kamu menjadi tamak dan menginginkan kepunyaan orang lain. Tapi, hendaknya kamu berpuas hati dan rela dengan apa yang telah ada pada kamu, dan hendaklah kamu berserah diri kepada Allah. Apa yang tidak kamu punyai itu adalah ujian bagi orang lain yang mempunyai. Apa yang kamu punyai itu adalah lebih baik dan lebih bersih daripada apa yang tidak kamu punyai. Jadikanlah ini sebagai jalan hidupmu dan perilakumu, agar kamu selamat dan diberi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Firman Allah, “Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Oleh karena itu, tidak usah kamu melebihi lima cara penyembahan dan mengelakkan segala dosa yang disebutkan itu serta tidak ada yang lebih besar, lebih mulia, lebih disukai dan lebih diridhai oleh Allah daripada apa yang telah kami sebutkan itu. Semoga Allah memberikan daya dan upaya kepada kita semua untuk melakukan apa yang disukai dan diridhai-Nya dengan karunia-Nya juga.



AJARAN 26

Hijab atau tabir yang menghalangi kamu itu tidak akan terbuka, sekiranya kamu tidak keluar dari mahluk dan membebaskan hati dari mahluk dalam semua keadaan dan kedudukan hidup. Hijab itu juga tidak akan terbuka, sekiranya hawa nafsu kamu tidak hancur lebur, begitu juga tujuan dan kerinduan kamu kepada mahluk serta kepada dunia dan akhirat. Hendaklah kamu menjadi seperti bak yang bocor yang tidak berisikan air. Hendaklah kamu mengosongkan hatimu dari apa saja selain Allah dan hendaklah hanya kamu penuhi dengan Allah semata-mata. Sehingga kamu akan menjadi penjaga pintu hatimu dan kamu akan diberi pedang Tauhid, kekuatan dan kekuasaan. Apa saja selain Allah yang hendak merasuk ke dalam hatimu, hendaknya kamu penggal dengan pedang Tauhid, agar tidak ada lagi diri kamu, nafsu kamu dan kerinduan kamu kepada dunia dan akhirat. Hendaklah Allah saja yang bersemayam di dalam hatimu itu. Jadilah kamu hamba Allah yang sejati dan janganlah kamu menjadi hamba manusia, atau hamba pendapat mereka, atau hamba perintah mereka dan atau hamba apa saja selain Allah.

Apabila semua ini telah melekat di dalam dirimu dalam hidup ini, maka tabir kehormatan akan digantungkan di sekeliling hatimu, parit kemuliaan akan digali di sekelilingnya, kawasan keagungan akan mengelilinginya dan hatimu akan dikawal oleh tentara haq dan tauhid, di samping itu, pengawal-pengawal yang haq akan ditempatkan di dekatnya. Dengan demikian, setan, hawa nafsu kebinatangan, pengaruh manusia yang meruntuhkan, angan-angan kosong dan apa saja yang merusakmu tidak akan dapat menawan dan menerobos masuk ke dalam hatimu yang terkawal rapat itu.

Jika telah ditakdirkan manusia datang dengan tiada henti-hentinya kepada kamu, karena mereka hendak mengunjungi kamu yang telah diberi kemuliaan oleh Allah, agar mereka juga diberi cahaya, tanda-tanda yang terang dan ilmu yang mendalam dan agar mereka melihat kekeramatan dan perkara luar biasa dari kamu yang semua itu dapat menunjang usaha mereka untuk mendekatkan diri dan patuh kepada Allah, maka semua itu tidak akan dapat menggoncangkan dan mempengaruhimu untuk merasa sombong dan bangga, ‘ujub dan riya’ serta menuruti nafsu yang merusakkan dan lain sebagainya, tetapi kamu akan tetap bersama Allah dan merendahkan diri kepada-Nya.

Sekiranya kamu dikarunia Allah seorang istri yang cantik jelita, istrimu itupun tidak akan mampu menggoncangkan iman kamu dan kamu akan diselamatkan dari kejahatannya serta akan diselamatkan dari memikul bebannya atau saudara-saudaranya. Istri adalah karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu dan Allah akan memelihara istrimu itu dari kerusakan akhlak, tidak dapat dipercaya, berbuat kejahatan dan menyeleweng dari jalan yang lurus. Dia akan takluk kepada kamu, Dia dan saudara-saudaranya akan membebaskan kamu dari beban nafkahnya dan menjauhkan kamu dari segala kesusahan karenanya. Sekiranya dia melahirkan anakmu, maka anak itu akan menjadi anak yang saleh, bersih dan menyenangkan pandanganmu. Firman Allah, “Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS 21:90)

Allah SWT berfirman, “Dan orang-oran yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)

Allah juga berfirman, “…yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.” (QS 19:6)

Semua permintaan atau doa yang tersebut dalam ayat-ayat di atas akan kamu terima dan berlaku bagi kamu, baik permintaan itu kamu tujukan kepada Allah maupun tidak. Karena doa-doa itu khusus untuk orang-orang yang layak menerima karunia-Nya dan dekat kepada-Nya.

Sekiranya hal-hal keduniaan datang kepadamu, kamu tidak akan dapat dibahayakannya. Apa yang telah ditentukan untukmu, dengan kehendak dan ketentuan Allah, akan kamu rasakan dengan keadaan bersih. Tetapi hendaklah kamu patuh kepada-Nya, seperti dengan melakukan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Kamu diperintahkan untuk membagikan apa yang bukan bagian kamu yang terdapat dalam rizkimu itu kepada sahabatmu, tetanggamu, orang-orang yang meminta sedekah dan orang-orang yang patut menerima zakat sesuai dengan keadaan. Keadaan yang sebenarnya akan diberitahukan kepadamu, sehingga kamu dapat membedakan antara orang-orang yang patut diberi dengan orang-orang yang tidak patut diberi. Semuanya akan tampak terang olehmu, tidak ada keraguan dan tidak ada kesamaran lagi padamu.

Oleh karena itu, hendaklah kamu bersabar, ikhlas dalam bertawakal kepada Allah, perhatikan apa yang ada sekarang, hilangkan syak wasangka, diam dan jangan banyak bicara, berlomba-lombalah menuju ridha Illahi, bertawakallah kepada-nya, bertawadhu’-lah dan khusyu’-lah kepada-Nya serta bersikap sederhana, sehingga takdir datang kepadamu dan kamu dibawa maju ke depan dengan tangan kamu.

Kemudian, segala sesuatu yang memberatkan kamu akan diringankan. Setelah itu, kamu akan ditenggelamkan di dalam lautan ridha, rahmat dan kasih sayang Allah serta kamu akan dihiasi dengan pakaian ‘nur’, rahasia ke-Tuhan-an yang maha tinggi dan ilmu yang datang dari Allah. Kamu akan dibawa dekat kepada-Nya, berkata dengan-Nya, diberi karunia oleh-Nya dan dibebaskan dari segala keperluan. Kamu akan diberi keberanian, kemuliaan dan ketinggian serta firman ini akan ditujukan kepada kamu : “Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS 12:54)

Kemudian, cobalah perhatikan keadaan Nabi Yusuf as ketika kata-kata tersebut di atas ditujukan kepada beliau melalui lidah raja Mesir atau Fir’aun di negeri itu. Pada lahirnya, memang raja itu yang berkata, tetapi sebenarnya adalah Tuhan yang berkata itu. Allah berfirman melalui lidah ilmu. Nabi Yusuf diberi kerajaan lahir, yaitu kerajaan Mesir dan juga kerajaan batin, yaitu kerajaan ilmu, kerohanian, akal pikiran, kedekatan kepada Allah, kemuliaan dan ketinggian di sisi Allah.

Allah berfirman, “Dan demikianlah kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS 12:56)

Berkenaan dengan kerajaan kerokhanian, Allah berfirman, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS 12:24)

Berkenaan dengan kerajaan ilmu, Allah berfirman, “Yusuf berkata, “Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang diberikan kepadamu, melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedangkan mereka ingkar kepada hari kemudian.” (QS 12:37)

Apabila kata-kata seperti tersebut di atas ditujukan kepada kamu sekalian, wahai orang-orang yang beriman, maka kamu telah diberi ilmu yang agung dan diberkati oleh Allah serta diberi kekuatan, kebaikan, kekuasaan, kewalian dan perintah yang melibatkan kerohanian dan bukannya kerohanian lalu kamu diberi kekuasaan untuk menjadikan segalanya dengan ijin Allah. Kemudian, di akhirat kelak kamu akan diberi tempat yang kekal, kamu akan diberi kebahagiaan di surga dan kamu akan melihat wajah Allah dan mendapatkan keridhaan-Nya. Inilah karunia yang tiada terhingga.



AJARAN 27

Anggaplah kebaikan dan kejahatan itu sebagai dua biji dari dua dahan yang berbeda, tetapi berasal dari satu akar yang sama. Satu dahan mengeluarkan buah yang pahit, sedangkan satu dahan lagi mengeluarkan buah buah yang manis. Oleh karena itu, tinggalkanlah kampung dan pasar tempat buah-buahan itu dijajakan dan jauhkanlah dirimu dari orang-orangnya. Pergila ke akar itu sendiri, jadilah penjaga akar itu dan dapatkanlah pengetahuan tentang kedua dahan dan buah tersebut serta tentang sekitarnya, kemudian tetaplah kamu tinggal berada dekat dahan yang mengeluarkan buah-buahan yang manis. Makanlah buah yang manis itu dan jadikanlah ia sumber kekuatanmu. Jauhkanlah dirimu dari dahan yang mengeluarkan buah-buahan yang pahit, karena buah-buahan itu mungkin dapat meracuni kamu. Jika kamu bersikap demikian, maka akan selamatlah kamu dari semua kejahatan, karena kejahatan dan bencana itu datang dari buah-buahan yang pahit itu. Jika kamu menjauhi akar itu dan berada di tempat-tempat yang jauh, lalu buah-buah itu dibawa ke hadapanmu setelah dicampur adukkan antara buah-buah yang manis dengan buah-buah yang pahit, sehingga kamu tidak lagi dapat membedakannya, kemudian kamu terus memakannya, maka mungkin kamu akan mengambil buah yang pahit dan terkena racun buah yang pahit itu.

Jika pada mulanya kamu memakan buah yang manis lalu manisnya itu masuk meresap ke dalam tubuhmu dan kamu mendapatkan manfaat darinya serta menjadi bahagia, maka besar kemungkinan kamu tidak akan merasa puas dengannya dan bersar kemungkinan pula kamu akan memakan buah yang pahit, sedangkan kamu tidak yakin bahwa buah yang kamu makan itu adalah buah yang pahit, sehingga kamu akan mengalami apa yang telah aku katakana, yakni keracunan.

Oleh karena itu, tidaklah baik kamu menjauhkan diri dari akar dan tidak tahu tentang buah-buah itu. Keselamatan akan kamu dapatkan, jika kamu berada dekat akar itu. Kebaikan kejahatan adalah ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. Firman Allah, “Mereka berkata, “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS 37:97)

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Allah telah menjadikan manusia yang menyebelih dan juga binatang yang disembelih.”

Perbuatan hamba Allah itu adalah ciptaan Allah, begitu pula hasil atau akibat perbuatan itu. Allah berfirman, “…(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka), “Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS 16:32)

Segala puja dan puji adalah bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah memberikan perbuatan itu kepada mereka. Dan Allah mengatakan bahwa masuknya mereka ke dalam surga itu adalah karena perbuatan mereka, padahal sebenarnya adalah karena pertolongan, idzin dan rahmat Allah juga.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada orang yang masuk surga karena perbuatannya sendiri.” Beliau ditanya, “Apakah engkau juga tidak, wahai Nabi Allah ?” Beliau menjawab, “Ya, walaupun aku sendiri, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.” Ketika beliau mengucapkan hal itu, beliau meletakkan tangannya di atas kepalanya. Cerita ini disebutkan dalam satu hadits yang dibawa oleh Aisyah ra.

Oleh karena itu, jika kamu dapat melaksanakan perintah Allah, dapat melakukan kebaikan dan mampu manjauhkan dirimu dari hal-hal yang haram, maka hendaklah kamu kembali dan berserah diri kepada Allah yang telah menjadikan kamu dapat berbuat demikian. Dia akan melindungi kamu dari noda dan dosa serta menambahkan kebaikan kepadamu. Dia akan memelihara kamu dari ternoda oleh dosa, baik berkenaan dengan hal agama maupun dengan hal keduniaan. Berkenaan dengan hal keduniaan, Allah berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (QS 24:12)

Berkenaan dengan hal keagamaan, Allah berfirman, “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4:147)

Apa yang dapat dilakukan oleh bencana dan malapetaka terhadap orang yang beriman dan bersyukur, sedangkan dia lebih dekat kepada keselamatan daripada malapetaka, bahkan dia dalam keadaan senang lantaran dia bersyukur ? Allah berfirman, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengikari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)

Bahkan iman kamu itu dapat memadamkan api neraka di akhirat kelak, api yang akan membakar orang-orang yang berdosa. Dapatkah iman itu memadamkan api malapetaka dalam hidup di dunia ini ? Dapat, ini telah dirasakan oleh orang-orang yang beriman kuat dan oleh orang-orang yang telah mencapai derajat Wali dengan ijin dan pilihan Allah sendiri. Setiap orang tidak akan lepas dari malapetaka yang menimpanya, tetapi hal ini dapat diatasi dengan keimanan yang benar-benar. Keimanan setiap orang akan diuji dengan malapetaka, bencana, kesusahan dan penderitaan, tetapi semua itu hendaklah diatasi dengan keimanan yang kuat. Orang yang lulus dalam ujian itu dapat membersihkan dirinya dan dalam dirinya akan timbul semangat tauhid, hatinya akan dipenuhi dengan ilmu hakekat dan rahasia-rahasia Allah yang ghaib lalu orang itupun akan bertambah dekat kepada Tuhan semesta alam. Hati itu diibaratkan sebagai sebuah rumah dan rumah itu tidak boleh dihuni oleh dua orang, tetapi rumah itu harus dihuni oleh Yang Satu saja, yaitu Allah.

Allah berfirman, “Sekali-kali Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (QS 33:4)

Allah juga berfirman, “Dia berkata, “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina, dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.” (QS 27:34)

Mereka menghinakan orang-orang yang mulia dan menyusahkan orang-orang yang senang. Jika hatimu dikawal oleh setan dan oleh hawa nafsumu, maka hati itupun akan mengawal anggota-anggota badan lalu melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Jika hati itu telah dibersihkan dari perkara-perkara tadi, maka iman akan subur dan hati itupun akan diduduki oleh tauhid, iman dan ilmu Allah.

Semua ini baru akan didapati setelah menempuh berbagai cobaan dan godaan.

Nabi Muhammad pernah bersabda, “Kami, para Nabi adalah golongan yang paling berat diuji, sedangkan yang lainnya adalah sesuai dengan tarap mereka.”

Nabi juga bersabda, “Aku lebih mengetahui Allah daripada kamu dan aku lebih takut kepada Allah daripada kamu.”

Orang yang dekat kepada raja harus selalu waspada dan bersopan santun. Apabila derajat di sisinya dinaikkan, maka resikonyapun semakin besar, karena orang itu harus berterimakasih kepadanya, mengabdikan dirinya kepadanya dan jika sedikit saja dia menyeleweng dari perintahnya, maka berarti dia menentangnya.

Allah berfirman, “Hai istri-istri Nabi, barangsiapa di antara kamu mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah demikian itu mudah bagi Allah.” (QS 33:30)

Allah berfirman demikian kepada mereka, karena karunia-Nya kepada mereka telah disempurnakan dengan membawa mereka berada di sisi Nabi. Bagaimanakah kedudukan seseorang yang dekat kepada Tuhan: Allah Maha Tinggi dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Allah berfirman, “(Dia) Pencipta langit dan bumi, Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri berpasang-pasangan dan dari jenis binatang ternak berpasang-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42:11)



AJARAN 28

Kamu menginginkan kesentosaan, kebahagiaan, keselamatan, kedamaian, keberkatan dan kemerdekaan, sedangkan kamu masih saja berada dalam proses penghapusan nafsu-nafsu kebinatanganmu, kamu masih berjuang dengan hawa nafsumu, masih juga ingin kembali ke dunia atau ke akhirat dan masih ada sisa-sisa semua itu dalam diri kamu. Berjuanglah lagi sampai kamu kuat. Jangan terburu-buru. Berjalanlah dengan lambat, asalkan kamu selamat. Bersihkan diri kamu dari sisa-sisa semua itu. Kamu belum masuk ke dalam ‘fana’, selagi kamu masih mempunyai keinginan-keinginan kepada dunia atau mahluk-mahluk lain. Dengan lain perkataan, kamu masih juga menginginkan selain Allah. Jika kamu telah dapat melepaskan hati kamu dari apa saja selain Allah, maka barulah kamu terlepas dari ikatan-ikatan yang menambat kamu untuk menuju kepada Allah. Apabila kamu telah terlepas dari semua itu dan kamu sedang berada di hadapan Allah, maka kamu akan dimuliakan dan firman Allah berikut ini akan ditujukan kepada kamu, “Dan raja berkata, “Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.” (QS 12:54)

Setelah itu, barulah kamu akan diberi kebahagiaan, kesentosaan, kasih saying dan ridha Illahi. Kamu akan didekatkan kepad-Nya dan segala rahasia Illahi tidak lagi tertutup bagi kamu. Kamu akan dibebaskan dari seluruh keperluan apa saja dan kamu berada di sisi Tuhan.

Tidakkah kamu melihat mas, baik buatannya itu baik maupun buruk, dari berbagai bentuk dan rupa, bertukar-tukar tangan pada pagi hari ataupun petang hari, dari dan ke tangan penjual barang, penjual obat, penjual daging, tukang kulit, tukang kayu, penjual minyak, tukang sapu dan orang-orang lainnya ? Mas-mas itu dipungut, dikumpulkan dan diletakkan dalam alat pelebur oleh tukang-tukang mas, lalu dilebur dengan menggunakan api. Setelah itu, mas-mas itu dikeluarkan dari tempat pelebur itu, ditumbuk, dilembutkan dan diukir supaya menjadi alat perhiasan yang indah. Mas itu dijadikan perhiasan dan disimpan di tempat-tempat yang aman, rumah-rumah orang kaya, di dalam lemari, di dalam peti dan lain sebagainya. Mas itu juga mungkin dijadikan perhiasan badan oleh kaum wanita. Boleh jadi orang yang memakainya itu adalah seorang yang ternama atau raja-raja. Begitulah mas itu diambil dari tempatnya semula sampai berada di tempat-tempat yang baik seperti istana-istana dan lain sebagainya. Oleh karena itu, wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bersabar dan mengikuti takdir Illahi serta dengan tulus ikhlas berserah diri kepada Allah dalam seluruh keadaan, maka kamu akan didekatkan oleh Allah ke sisi-Nya dalam dunia fana ini dan kamu akan dikaruniai ilmu-nya dan ilmu-ilmu serta rahasia-rahasia lainnya, kemudian di akhirat kelak kamu akan ditempatkan di dalam surga yang aman damai beserta para Rasul, para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang saleh di dalam kedekatannya kepada-Nya dan di dalam rumahnya dengan menikmati kasih saying-Nya.

Oleh karena itu, bersabarlah dan janganlah terburu-buru. Ridhalah dengan takdir Illahi dan janganlah muram, karena jika kamu berbuat demikian, kamu akan sulit untuk mendapatkan ampunan-Nya, ilmu-Nya, kasih saying-Nya dan keridhaan-Nya.



AJARAN 29

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Kemiskinan itu hampir dapat membawa kekufuran.”

Orang yang benar-benar hamba Allah akan percaya kepada-Nya dan menyerahkan seluruh keadaan dirinya kepada-Nya. Ia percaya kepada karunia-Nya, pemberian rizki-Nya dan yakin bahwa apa saja yang telah ditetapkan oleh Allah baginya, pasti akan ia dapati serta apa saja yang dijauhkan oleh Allah darinya, pasti tidak akan ia dapati.

Firman Allah, “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65:2-3)

Allah berfirman demikian itu, ketika hamba-Nya berada dalam keadaan senang dan damai. Kemudian Allah mengujinya dengan bencana dan kemiskinan, maka hamba itupun bermohon dan menyerahkan dirinya kepada Allah, namun Allah tidak menghindarkan bencana dan kemiskinan itu darinya. Ketika itu betullah apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kemiskinan itu hampir dapat membawa kekufuran.”

Mereka yang dilayani oleh Allah dengan lemah lembut, akan dihindarkan oleh Allah dari bencana dan kemiskinan itu. Mereka diberi kesentosaan, keamanan dan kekuatan untuk bersyukur kepada-Nya dan memuji-Nya. Mereka terus berada dalam keadaan seperti itu sampai bertemu dengan Tuhan mereka. Apabila Allah hendak menguji mereka, maka Allah mendatangkan malapetaka kepada mereka dan memutuskan pertolongan-Nya. Kemudian, merekapun menunjukkan kekufurannya dengan menyalahkan dan menuduh Allah tidak mengasihi dan menolong mereka. Maka matilah mereka dalam kekufuran dan ingkar kepada tanda-tanda Allah serta marah kepada-Nya. Kepada orang semacam inilah Nabi bersabda, yang maksudnya kurang lebih adalah, “Sesungguhnya orang yang paling berat hukumannya di hari berbangkit adalah orang yang diberi kemiskinan di dunia ini dan hukuman di akhirat kelak. Kami berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.”

Kemiskinan yang dimaksud dalam sabda beliau itu adalah kemiskinan yang menyebabkan seseorang lupa kepada Allah. Dari kelupaan semacam inilah beliau memohon untuk dilindungi. Kepada beliau Allah melimpahkan kesabaran, tawakal, ridha dan fana dalam perbuatan Allah. Beliau adalah manusia pilihan, Rasul-Nya, pemimpin seluruh Nabi, raja seluruh Wali, yang dipertuan-agungkan oleh seluruh hamba Allah, seorang alim dan seorang yang besar di sisi Tuhan, yang dapat memberikan syafa’at dan bimbingan kepada seseorang untuk sampai ke hadirat Tuhan serta sekalian alam. Allah memelihara beliau dengan kasih sayang-Nya, baik pada waktu siang maupun malam hari, baik di kala beliau sendirian maupun di kala beliau berada di tengah-tengah khalayak ramai dan baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi, sampai beliau kembali menemui Tuhannya.



AJARAN 30

Mungkin kamu bertanya-tanya, “Apa yang harus aku lakukan dan cara apa yang harus aku pergunakan untuk mencapai tujuanku ?” Untuk ini, kamu diperintahkan untuk menetap di tempatmu dan jangan melanggar batasmu sampai diberi jalan oleh Allah yang memerintahkan kepadamu untuk menetap di tempat manapun kamu berada.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap-siap di perbatasan negerimu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS 3:200)

Wahai orang-orang yang beriman, Allah menyuruhmu supaya bersabar, berlomba-lomba dalam kesabaran, berpegang teguh kepada kesabaran itu dan senantiasa berhati-hati. Semua ini dijadikan sebagai bagian dari diri kamu. Selanjutnya, kamu diperintahkan supaya ta’at kepada Allah, jika kamu kehilangan kesabaran. Oleh karena itu, janganlah kamu menghilangkan kesabaranmu. Ketahuilah bahwa kebaikan dan keselamatan itu terletak pada kesabaran. Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Perumpamaan sabar dengan iman itu bagaikan kepala dengan badannya.”

Dinyatakan bahwa segala sesuatu itu akan ada balasannya sesuai dengan ukurannya masing-masing. Tetapi, balasan kesabaran itu tidak ada batasnya. Allah berfirman, “Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS 39:10)

Oleh karena itu, apabila kamu ta’at kepada Allah, bersabar dan selalu menjaga batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah maka Allah akan memberi kamu pahala. Allah berfirman, “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65:2-3)

Tetaplah kamu bersabar bersama orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sehingga jalan keluar datang kepadamu, karena Allah telah menjanjikan kecukupan kepadamu, sebagaimana firman-Nya di atas, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.”

Tetaplah kamu bersabar bertawakal kepada Allah bersama orang-orang yang berbuat baik kepada orang lain. Allah menjanjikan pahala untuk ini, seperti firman-Nya, “Ketika mereka duduk di sekitarnya.” (QS 85:6) dan Allah mengasihimu karena kebaikan ini, sebagaimana firman-Nya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS 3:133)

Karenanya, maka kesabaran adalah sumber segala kebaikan dan keselamatan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Dan melalui kesabaran ini, si Mu’min meningkat naik ke tarap keadaan berserah diri dengan tulus ikhlas kepada Allah, menyesuaikan dirinya dengan perbuatan Allah, dan kemudian ia mencapai keadaan tenggelam atau fana’ di dalam perbuatan Allah, dan ini adalah keadaan Badaliyyat atau Ghaibiyyat. Maka, hendaklah kamu bersungguh-sungguh untuk mencapai peringkat atau keadaan ini, supaya kamu tidak menjadi hina di dunia ini dan di akhirat kelak, dan supaya kamu tidak kehilangan kebaikan serta kenikmatan ini.



AJARAN 31

Jika terdapat di dalam hatimu suatu perasaan benci atau sayang kepada seseorang, maka telitilah perbuatannya itu berdasarkan Al Qur’an dan hadits. Jika benci kamu itu sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, maka bergembiralah kamu, karena kamu bertindak sesuai dengan Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, jika benci kamu itu tidak sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu telah mengikuti hawa nafsu kamu. Jika kamu membenci orang itu karena terpengaruh oleh hawa nafsu kamu, maka berarti kamu tidak berlaku adil dan kamu telah menentang Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, kembalilah kamu kepada Allah, bertobatlah karena kebencian kamu itu dan bermohonlah kepada-Nya supaya kamu mengasihi orang itu dan orang-orang lain, yang terdiri atas orang-orang yang beriman, wali-wali-Nya, orang-orang pilihan-Nya dan orang-orang saleh dari hamba-hamba-Nya serta hendaklah kamu menyesuaikan dirimu dengan Allah di dalam mengasihi orang itu.

Bersikaplah kamu terhadap seseorang, seperti kamu bersikap terhadap orang yang kamu kasihi. Pendek kata, hendaklah kamu meneliti perbuatan orang itu berdasarkan Al Qur’an dan hadits. Sekiranya Al Qur’an dan hadits membenarkan dan menyukai perbuatan orang itu, maka kamupun harus membenarkan dan menyukainya. Tetapi, jika keduanya membencinya, maka kamupun hendaklah membencinya. Jelasnya, kamu harus menyayangi dan membenci sesuai dengan Al Qur’an dan hadits. Sesuaikanlah perasaan dan perbuatanmu dengan Al Qur’an dan hadits. Jika kamu mengasihi seseorang, sedangkan Al Qur’an dan hadits membencinya, maka janganlah kamu mengasihinya, supaya kamu tidak menuruti hawa nafsumu. Kamu diperintahkan untuk melawan hawa nafsumu, sebagaimana firman Allah, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS 38:26)



AJARAN 32

Mungkin kamu berkata, “Siapa saja yang aku kasihi, maka kasihku padanya itu tidak akan kekal. Kami selalu saja berpisah, baik karena berjauhan, mati, bermusuhan atau kehilangan harta.” Oleh karena itu, kamu diberi tahu, dan sadarkah kamu, wahai orang-orang yang percaya kepada Allah bahwa kamu diberi karunia, dipelihara dan dijaga dengan sebaik-baiknya ? Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah itu cemburu ? Dia menciptakan kamu hanya untuk Dia saja. Mengapa kamu menghendaki yang lain selain Dia ? Tidakkah kamu mendengar firman-Nya ini, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang Mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 5:54) Dan tidakkah kamu mendengar pula firman-Nya ini, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Aku.” (QS 51:56) Dan apakah kamu belum pernah mendengar sabda Nabi Muhammad SAW, “Apabila Allah mengasihi hamba-hamba-Nya, maka diberilah hamba itu ujian. Jika hamba itu bersabar, maka hamba itu akan dijaga-Nya.” Beliau ditanya, “Wahai Nabi Allah, apakah yang dijaga-Nya itu ?” Beliau menjawab, “Dia tidak akan meninggalkan anak dan harta kepada hamba itu.”

Ini disebabkan, jika si hamba itu mempunyai anak dan harta, maka cintanya itu akan terbagi-bagi. Cinta yang seharusnya diserahkan bulat-bulat kepada Allah, telah ia bagikan kepada anak dan hartanya. Allah tidak mau untuk disekutukan. Dia cemburu. Dia menguasai segalanya. Karenanya, Dia menghancurkan segala apa yang menjadi sekutu bagi-Nya, agar Dia dapat menguasai sepenuh hati hamba untuk Dia saja dan tidak ada yang lain selain Dia di hatinya. Setelah itu, barulah Allah akan membuktikan firman-Nya, “Dia akan mencintai mereka dan mereka akan mencintai-Nya.”

Sehinga hati si hamba itu benar-benar bebas dan bersih dari sekutu-sekutu Allah seperti anak, istri, harta-benda, pangkat, kekuasaan, kemuliaan, keadaan atau peringkat kerohanian, makan, kedudukan, dunia, surga, kedekatan kepada Tuhan dan bahkan apa saja selain Dia tidak ada lagi di dalam hatinya. Tidak ada nafsu dan tidak pula ada cita-cita. Kosongkanlah hati itu sampai seperti tong yang penuh dengan lubang, sehingga tidak lagi dapat menampung air. Leburlah hati itu dengan perbuatan Allah. Apabila selalu ada suatu tujuan yang tumbuh di dalam hatimu, maka hati akan dihancurkan oleh perbuatan Allah, karena Dia cemburu. Kemudian, si hamba itu akan dipenuhi dengan kemuliaan, kekuatan, keagungan, dan kesempurnaan Illahi.

Dengan demikian, maka tidak ada sesuatupun yang dapat menembus hati semacam itu. Harta benda, anak dan istri, teman dan handai tolan, mu’jizat dan keramat serta kekuasaan dan pengetahuan tentang masa depan tidak akan dapat mempengaruhi dan merusak hati itu. Semua itu akan tinggal di luar hati dan tidak akan masuk ke dalamnya. Semua ini adalah tanda-tanda kemuliaan, kehormatan, kasih sayang dan rizki yang diberikan Allah kepada hamba-hamba yang benar-benar mau menuju kepada-Nya. Hamba-hamba seperti ini senantiasa akan diberi perlindungan, pertolongan dan keridhaan dari dunia hingga akhirat.



AJARAN 33

Ada empat macam manusia. Pertama, mereka yang tidak mempunyai lidah dan hati. Mereka ini adalah rang-orang bertarap bebas, berotak tumpul dan berjiwa kerdil, yang tidak mau mengingat Allah dan tidak memiliki kebaikan. Mereka ini bagaikan molekul yang ringan kecuali bila mereka itu dikaruniai kasih sayang-Nya, hati mereka dibimbing supaya beriman dan anggota-anggota tubuh mereka digerakkan supaya patuh kepada Allah. Berhati-hatilah, agar jangan sampai kamu termasuk ke dalam golongan mereka. Janganlah kamu melayani mereka dan jangan pula kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah dan penghuni neraka. Kita memohon kepada Allah supaya melindungi kita dari pengaruh mereka. Sebaliknya, hendaklah kamu berupaya menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan ilmu ke-Tuhan-an, guru yang mengajarkan kebaikan, pembimbing manusia dalam agama Allah dan pemimpin serta pengajak manusia kepada jalan Allah. Berhati-hatilah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan memberikan peringatan kepada mereka tentang apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan menjadi seorang pejuang dan pahlawan di jalan Allah, dan kamu akan diberi pahala seperti yang diberikan kepada para Nabi dan para Rasul.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda kepada Sayyidina Ali, “Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbinganmu yang diberikan kepadanya, maka hal itu adalah lebih baik bagimu dari apa saja yang disinari oleh matahari.”

Kedua, mereka yang mempunyai lidah, tetapi tidak mempunyai hati. Mereka pandai berbicara, tetapi tidak melakukan apa yang mereka bicarakan. Mereka mengajak manusia untuk menuju Allah, tetapi mereka sendiri lari dari Allah. Mereka membenci maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelimang di dalam maksiat itu. Mereka menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka itu saleh, tetapi sebenarnya mereka sendiri melakukan dosa-dosa besar. Bila mereka sedang menyendiri, maka mereka bersikap seperti harimau yang berpakaian. Inilah orang-orang yang seperti disabdakan oleh Nabi SAW, “Orang yang paling ditakuti di kalangan umatku dan akupun menakutinya adalah orang alim yang jahat.”

Kita berlindung kepada Allah dari orang alim seperti itu. Oleh karena itu, larilah dan jauhilah orang-orang seperti itu. Jika tidak, maka kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manisnya yang muluk itu, api dosanya itu akan membakar kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

Ketiga, mereka yang mempunyai hati, tetapi tidak mempunyai lidah, sedangkan dia adalah orang yang beriman. Allah telah menutup mereka dari mahluk-Nya, menggantungkan tabir-Nya di sekeliling mereka dan memberikan kesadaran kepada mereka tentang cacad-cidera diri mereka. Allah menyinari hati mereka dan menyadarkan mereka akan kejahatan yang timbul akibat bercampur dengan orang banyak serta kejahatan akibat banyak berbicara. Mereka mengetahui bahwa keselamatan itu terletak dalam ‘diam’ dan berkhalwat (menyendiri).

Nabi pernah bersabda, “Barangsiapa ‘diam’, maka ia akan mencapai keselamatan.” Sabdanya pula, “Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri atas sepuluh macam, sembilan di antaranya adalah terletak dalam ‘diam’.

Oleh karena itu, mereka yang termasuk dalam golongan ini adalah wali Allah yang secara tersembunyi. Mereka akan diberi perlindungan dan keselamatan. Mereka adalah orang-orang yang bijaksana dan rekan Allah. Mereka akan diberkati dengan keridhaan-Nya dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka. Maka, hendaklah kamu berteman dan bergaul dengan orang-orang ini serta berikanlah pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, maka kamu akan dikasihi oleh Allah, kamu akan dipilih oleh-Nya dan akan dimasukkan ke dalam golongan mereka yang menjadi wali Allah dan hamba-hamba-Nya yang saleh.

Keempat, mereka yang diajak ke dunia tidak nyata dan diberi pakaian kemuliaan, seperti dalam sabda Nabi, “Barangsiapa menuntut ilmu lalu ia mengamalkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain, maka ia akan dibawa ke alam ghaib dan dimuliakan.”

Orang-orang yang termasuk dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu ke-Tuhan-an dan tanda-tanda Allah. Hati mereka akan menjadi gedung ilmu Allah yang sangat agung dan Allah akan memberinya rahasia-rahasia yang tidak diberikan kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka dekat kepada-Nya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisi-Nya. Hati mereka akan dibuka untuk menerima rahasia-rahasia dan ilmu-ilmu yang tinggi ini. Allah akan menjadikan mereka sebagai pelaku perbuatan-Nya, pengajak manusia ke jalan Allah dan pelarang mereka untuk berbuat dosa dan maksiat. Mereka menjadi ‘orang-orang’ Allah. Mereka mendapatkan bimbingan yang benar. Mereka dapat memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menuju jalan Allah. Mereka menjadi orang-orang yang benar dan mengesahkan kebenaran orang lain. Mereka diibaratkan sebagai pantulan sinar para Nabi dan Rasul Allah. Mareka senantiasa mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Yang Maha Agung.

Orang yang termasuk dalam golongan ini berada dalam peringkat terakhir atau puncak kemanusiaan yang tidak ada kedudukan lain di atasnya, kecuali ke-Nabi-an. Oleh karena itu, berhati-hatilah, agar tidak sampai kamu memusuhi dan menentang orang-orang seperti ini. Dengarkanlah dan perhatikanlah pembicaraan dan nasehat mereka. Karena, keselamatan itu berada dalam memperhatikan pembicaraan mereka dan berdampingan dengan mereka. Sebaliknya, kebinasaan dan kerusakan akan datang jika berjauhan dengan mereka, kecuali bagi mereka yang diberi kekuasaan dan pertolongan oleh Allah untuk menerima hak dan ampunan.

Demikianlah, aku telah membagi manusia atas empat golongan. Sekarang, terserah kepada kamu untuk mengintrospeksi diri kamu sendiri, jika memang kamu berpikir. Dan selamatkanlah diri kamu, jika memang kamu menginginkan keselematan. Mudah-mudahan Allah mebimbing kita dalam menuju kesenangan dan keridhaan-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak.



AJARAN 34

Sungguh mengherankan, jika kamu membuat Tuhanmu murka, menyalahkan-Nya atau mengatakan bahwa Dia tidak adil, merendahkan pemberian atau menyingkirkan marabahaya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa setiap kejadian atau peristiwa itu telah ditetapkan masanya dan setiap marabahaya itu telah ditetapkan temponya yang tidak boleh ditangguhkan atau dipercepat: Masa bahaya tidak dapat ditukar dengan masa aman dan masa aman pun tidak dapat ditukar dengan masa huru-hara. Oleh karena itu, hendaklah kamu bersopan-santun, diam dan jangan banyak bicara, bersabar, berserah diri sepenuhnya dengan tulus ikhlas kepada-Nya, menyesuaikan kehendakmu dengan kehendak-Nya dan bertobat kepada Allah karena kesalahan yang telah kamu perbuat.

Manusia dan mahlukalah yang tunduk takluk kepada Allah, dan bukannya Allah yang tunduk takluk kepada manusia dan mahluk. Kembalilah kepada manusia untuk meminta kepadanya, dia akan memberikan permintaannya, tetapi tidak musti Allah akan memberi permintaan hamba-hamba-Nya. Kembalilah kepada Allah, baik Dia akan mengabulkan maupun tidak mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Dia-lah Yang Maha Agung dan Maha Kaya, dan Dia-lah Yang Maha Berdiri Sendiri, tanpa mempunyai sekutu. Dia menjadikan sesuatu dan Dia menentukan kebaikan atau kejahatan. Dia mengetahui awal dan akhir serta tujuan mahluk. Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung itu Maha Bijaksana di dalam berbuat dan Maha Tegas di dalam membuat peraturan, tidak ada yang berlawanan di dalam perbuatan-Nya itu. Dia tidak menjadikan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa tujuan. Pekerjaan-Nya bukan merupakan permainan. Tidaklah wajar, jika di dalam perbuatan-Nya itu terdapat cacad atau cela, karena Dia Maha Bijaksana dan Maha Tahu. Hendaklah kamu bersabar menanti, jika kamu belum dapat menyesuaikan dirimu dengan Dia, belum dapat menunjukkan penyerahanmu kepada-Nya dan mem-fana’-kan dirimu kepada-Nya, sampai takdir Illahi datang pada tempo yang telah cukup dan masa bertukarpun telah datang bagaikan siang berganti malam atau musim panas berganti musim dingin.

Jika kamu meminta cahaya siang di waktu malam, tentulah kamu tidak akan diberi. Malam tetap malam, tidak ada cahaya siang di waktu itu. Oleh karena itu, sabarlah menanti sampai malam itu berakhir dan siangpun datang. Demikian sebaliknya, jika pada waktu siang kamu meminta kegelapan malam, maka tidak mungkin kamu akan mendapatkannya. Sebab, siang itu tetap siang, dan kamu meminta bukan pada tempatnya. Maka, hendaklah kamu selalu ridha, sabar dan berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Tahu itu. Percayalah bahwa apa yang telah ditetapkan untuk kamu itu pasti akan kamu dapatkan dan apa saja yang telah ditetapkan untuk orang lain itu pasti tidak akan pernah kamu dapatkan. Demikianlah yang aku percayai, kecuali jika kamu meminta kepada Allah dengan mengharapkan pertolongan-Nya dengan shalat dan berdoa bersungguh-sungguh, menyembah-Nya, patuh kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya, seperti firman-Nya, “Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS 40:60) Dan firman-Nya pula, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS 4:32)

Dan masih banyak lagi keterangan-keterangan lainnya, baik dari ayat-ayat maupun sabda-sabda Nabi. Jika kamu berdoa kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doamu itu dalam tempo yang telah ditentukan-Nya dan di akhir tempo itu. Itupun bila Dia menghendaki dan ada kebaikan bagi kamu di dalam hal ini, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Atau karena semua itu bertepatan dengan takdir-Nya dan di ujung waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Janganlah kamu menyalahkan Tuhanmu jika permohonanmu lambat Dia terima. Dan janganlah kamu bosan untuk meminta, kerena sebenarnya kamu tidak akan merasa untung dan juga tidak akan merugi. Jika permintaan kamu itu tidak diterima di dunia ini, maka Allah akan memenuhinya di akhirat kelak. Ada suatu hadits Nabi yang menyatakan bahwa di hari kebangkitan kelak, hamba-hamba Allah akan mendapatkan buku yang memuat catatan-catatan tentang perbuatan hamba-hamba-Nya. Dalam buku itu diterangkan bahwa ada perbuatan baik yang tidak diketahui oleh hamba itu. Maka ketika itu akan diberitahukan kepadanya bahwa balasan yang diterimanya ini adalah sebagai ganti dari doanya di dunia yang ditakdirkan untuk tidak diterimanya. Sekurang-kurangnya, hamba itu harus selalu ingat kepada Allah, berpegang teguh kepada-Nya dan bertauhid kepada-Nya sambil memohon kepada-Nya. Janganlah kamu meminta kepada mahluk, tetapi memintalah kepada Allah. Oleh karena itu, dalam pertukaran siang dengan malam, sehat dengan sakit, waktu perang dengan waktu aman atau waktu senang dengan waktu susah, kamu berada dalam salah satu di antara dua kedaan di bawah ini :
1. Baik kamu memohon, tetap berpuas hati, rela dan menyerah kepada perbuatan Allah seperti mayat yang sedang dimandikan, atau seperti bayi yang berada di pangkuan ibunya dan atau seperti bola yang berada di kaki pemain. Orang seperti ini, dengan sukarela, selalu mengikuti apa yang ditakdirkan Tuhan. Jika kebaikan datang kepadanya, maka ia bersyukur, sebagaimana firman-Nya, “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat-Ku) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)


Dan jika malapetaka yang datang kepadanya, maka ia bersabar dan ridha, dengan pertolongan daya upaya Allah, dengan keteguhan hati dan dengan rahmat Allah, seperti firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS 2:153)

Dengan kata lain, Dia beserta orang-orang yang sabar dengan karunia-Nya yang berupa pertolongan dan kekuatan, sebagaimana firman-Nya, “…jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS 47:7)

Apabila kamu telah menolong Allah dengan jalan menumpaskan hawa nafsumu, tidak menyalahkan Dia, dengan menghindarkan diri dari tidak rela terhadap perlakuan-Nya kepadamu, kamu menjadi musuh bagi diri kamu sendiri karena Allah, bersedia memancungnya dengan pedang jika ia bergerak hendak kufur atau syirik dan memenggalnya dengan kesabaran dan bersesuaian dengan Allah, dan dengan kamu rela terhadap perbuatan dan janji-janji-Nya, maka Allah akan menjadi penolong kamu. Allah berfirman, “…dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna Lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).” (QS 2:155-156)

Mereka inilah yang mendapatkan limpahan rahmat Allah dan merekalah pengikut-pengikut jalan yang benar.

2. Maupun kamu bermohon kepada Allah dengan shalat dan berdoa dengan sepenuh harapan, mengagungkan-Nya dan patuh kepada-Nya. Ya, serulah Allah. Itulah yang baik untuk kamu lakukan, karena Allah sendiri menyuruh kamu untuk bermohon kepada-Nya, menghadapkan diri kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai jalan untuk mencapai kesenanganmu, utusanmu kepada Dia dan perhubunganmu dengan-Nya. Dengan syarat, kamu tidak menyalahkan-Nya dan membuat-Nya murka, sekiranya permohonanmu Dia tangguhkan sampai masa yang akan datang yang telah ditentukan-Nya.

Oleh karena itu, perhatikanlah perbedaan diantara dua alternatif itu. Janganlah kamu melampaui batas-batas keduanya, karena tidak ada alternatif lain selain dua alternatif tersebut. Maka berhati-hatilah kamu agar jangan sampai kamu menjadi orang yang dholim dan melampaui batas. Jika kamu dholim dan melampaui batas, maka Allah akan membinasakan kamu dan membiarkan kamu seperti orang-orang sebelum kamu yang telah dibinasakan dan dihancurkan oleh Tuhan di dunia ini, dan di akhirat kelak kamu akan disiksa dan dihukum dengan siksaan yang amat pedih. Segala puja dan puji hanyalah bagi Allah Yang Maha Besar dan Maha Agung. Wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui keadaanku, hanya kepada-Mu-lah aku menyerahkan diriku.



AJARAN 35

Kamu harus menjauhkan dirimu dari perkara-perkara yang haram. Jika tidak, maka kamu akan dibinasakan. Kamu tidak akan dapat lepas dari cengkeraman bahaya perkara-perkara yang haram itu, kecuali jika Allah menolongmu dengan kasih sayang-Nya. Ada satu hadits yang menerangkan bahwa dasar agama itu adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang haram dan yang merusakkan agama itu adalah ketamakan. Janganlah kamu mendekati perkara-perkara yang haram itu, karena boleh jadi kamu akan mencoba-coba merasakannya. Mendekatpun jangan. Dikhawatirkan kamu akan terpengaruh. Mar bin Khattab pernah berkata, “Biasanya kami menjauhkan diri dari sembilan persepuluh perkara-perkara yang halal, karena kami khawatair terjerumus ke dalam perkara-perkara yang haram.”

Abu Bakar Shiddiq ra pernah berkata, “Kami biasa menjauhkan diri kami dari tujuhpuluh pintu menuju perkara-perkara yang diolehkan, karena khawatir terjerumus ke dalam dosa.”

Baik Umar maupun Abu Bakar, keduanya sangat menjauhkan diri dari mendekati perkara-perkara yang haram, dan di dalam berbuat demikian, mereka mengambil sikap bagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Berhati-hatilah ! Sesungguhnya setiap raja itu mempunyai taman larangannya sendiri-sendiri, sedangkan taman larangan Allah itu adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.”

Barang siapa berjalan di sekeliling taman itu, maka mungkin ia akan masuk ke dalamnya. Tetapi, barangsiapa memasuki pintu istana raja dan terus melewati pintu kedua dan ketiga, hingga akhirnya sampai ke kamar raja, maka hal itu adalah lebih daripada orang yang berada di luar pintu pertama, karena ia berada di luar. Jika pintu ketiga tertutup, maka orang ini tidak akan terkena bahaya. Sebab, ia berada di antara dua pintu dan berada dekat dengan raja dan bala tentaranya. Sebaliknya bagi orang yang berada di luar tadi, jika pintu pertama itu tertutup, maka tetap saja ia berada di luar, tanpa tempat berlindung dan mungkin ia akan dimakan binatang buas atau dibunuh musuh.

Begitu pula halnya bagi orang yang patuh kepada Allah dan mengikuti jalan Allah. Kemudian, jika pertolongan kekuasaan dan karunia-Nya diambil darinya, ia terputus dari pertolongan-Nya, tetapi ia masih tetap menjalankan hukum-hukum-Nya, maka apabila ia mati, ia masih berada dalam keta’atan dan menyembah kepada Allah, lalu segala amal baiknya itu akan menjadi saksi baginya.

Lain halnya dengan orang yang tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah. Jika Allah tidak menolongnya, hawa nafsu kebinatangannya menguasainya, dia terus melakukan perkara-perkara yang haram, keluar dari hukum-hukum syari’at Allah, ia terus menjadi sekutu setan yang dikutuk Allah dan ia jauh dari jalan yang lurus dan benar, maka jika ia mati sebelum bertobat, ia akan termasuk dalam golongan orang-orang yang merugi, kecuali jika Allah mengampuni dan memberinya rahmat. Oleh karena itu, orang-orang yang menjalankan kewajiban berada dalam keselamatan dan orang-orang yang tidak menjalankan kewajiban berada dalam bahaya.



AJARAN 36

Jadikanlah hidup setelah mati itu sebagai uang modal kamu dan hidup di dunia ini sebagai keuntungannya. Pergunakanlah waktumu, pertama-tama, untuk hidup setelah mati. Jika ada waktu yang lebih, maka pergunakanlah waktu itu untuk kehidupan duniamu. Janganlah kamu menggunakan hidupmu di dunia ini sebagai uang modal dan hidup setelah mati sebagai keuntungan, di mana kamu memanfaatkan waktu lebihmu itu untuk hidup setelah mati, di samping menunaikan shalat lima waktu; seakan-akan mengubah semuanya di dalam satu gerakan, memasukkan bagian-bagiannya dan merusakkan susunannya, tanpa ruku dan sujud serta tanpa thuma’ninah; atau apabila kamu merasa penat dan letih, kamu tidur dengan membiarkan segalanya tidak terpelihara; seperti mayat di waktu malam yang pada siang harinya memuaskan nafsu kebinatangannya dan nafsu iblisnya. Jangan pula kamu menjual akhiratmu untuk duniamu dan kamu menjadi hamba nafsu kebinatanganmu.

Kamu diperintahkan untuk menguasai hawa nafsu kamu dan membawa diri kamu ke jalan yang lurus dan benar. Tetapi kamu membiarkan diri kamu dikuasai hawa nafsu iblis, sehingga merugilah kamu di dunia ini dan di akhirat kelak kamu akan diazab dengan api neraka. Di hari perhitungan kelak, kamu akan menjadi orang yang paling miskin dan paling merugi serta segala apa yang kamu kumpulkan untuk duniamu hilang lenyap dari sisimu. Maka benar-benar kamu menjadi orang yang merugi. Sebaliknya jika kamu mengikuti jalan akhirat dan menjadikannya sebagi uang modal, maka kamu akan beruntung di dunia dan di akhirat, serta apa yang ditakdirkan untuk kamu di dunia ini akan datang kepadamu dan kamu mendapatkan keselamatan dan dihormati.

Nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan memberi keselamatan kepadamu dalam kehidupan duniamu, jika kamu menunjukkan niatmu di akhirat. Tapi, keselamatan akhirat tidak akan diberikan, jika niatmu kamu tujukan ke kehidupan dunia.”

Niat yang ditujukan ke akhirat itu adalah keta’atan kepada Tuhan, karena niat itu ialah jiwa ibadah. Oleh karena itu, apabila kamu ta’at kepada Allah dan mengharapkan akhirat, maka kamu akan menjadi orang yang dipilih oleh Allah dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang ta’at dan cinta kepada Allah serta kehidupan akhirat akan kamu dapati, yaitu surga dan kedekatan kepada Allah. Kemudian, dunia ini akan mengabdi kepadamu dan segala sesuatu yang telah ditentukan untuk kamu, pasti akan kamu terima sepenuhnya, karena segala sesuatu itu tunduk kepada Allah Yang Maha Menguasai segalanya.

Jika kamu terlena dan tenggelam di dalam kehidupan dunia dan tidak lagi mau memperhatikan kehidupan akhiratmu, maka Tuhan akan murka kepada kamu. Kamu tidak akan mendapatkan akhirat dan dunia tidak akan takluk kepadamu. Kamu merasakan kesulitan di dalam mendapatkan bagian-bagian yang telah ditentukan untukmu, karena Allah murka kepadamu, sedangkan semua yang tersebut itu sebenarnya adalah kepunyaan Allah belaka. Barangsiapa mendurhakai Allah, maka Allah akan menghinakannya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Dunia dan akhirat itu bagaikan sepasang suami istri. Jika kamu melayani salah seorang saja di antara keduanya, maka yang lainnya akan marah kepadamu.”

Allah SWT berfirman, “… di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat…” (QS 3:152)

Orang yang menghendaki dunia saja disebut ahli dunia dan orang yang menghendaki akhirat disebut ahli akhirat. Perhatikanlah diri kamu, termasuk golongan manakah kamu ? Dalam dunia ini, ke dalam golongan manakah di antara dua ahli itu kamu ingin termasuk ? Ketika kamu berada di alam akhirat, sesudah mati nanti, kamu akan megetahui bahwa sebagian di antara kamu masuk ke dalam surga dan satu golongan lagi masuk ke dalam neraka. Dan ada satu golongan manusia lagi, yaitu yang tetap tinggal di tempatnya sambil menjalani perhitungan dan pembicaraan. Satu hari di sana, menurut firman Tuhan, seperti 15.000 tahun di dunia. Ada pula satu golongan manusia yang duduk di tempat makan sambil makan makanan yang enak-enak, buah-buahan, manis-manisan yang lebih putih daripada es, sebagaimana diriwayatkan di dalam hadits, “Mereka akan melihat tempat tinggal mereka di surga. Apabila Allah telah selesai menanyai manusia, mereka akan memasuki surga itu. Mereka akan pergi menuju tempat tinggal mereka, seperti halnya orang-orang di dunia ini menuju tempat tinggal mereka.”

Mereka yang memasuki surga itu adalah orang-orang yang meninggalkan dunia mereka dan berusaha mencapai kebahagiaan akhirat dan Allah. Sedangkan orang-orang yang malang adalah mereka yang tidak langsung menghiraukan akhirat dan yang menghabiskan masa hidupnya di dunia dengan hal-hal keduniaan saja serta bimbang dengannya. Mereka melupakan hari perhitungan mereka di hadapan Allah dan mereka tidak mau memperdulikan Al Qur’an dan sabda-sabda Nabi.

Perhatikanlah dan kasihanilah diri kamu serta pilihlah golongan yang lebih baik di antara kedua golongan tersebut. Hindarkanlah diri kamu dari persahabatan dan pergaulan dengan orang-orang jahat atau setan. Ikutilah Al Qur’an dan sunnah Nabi. Perhatikan, pikirkan dan amalkanlah keduanya. Janganlah kamu terpengaruh oleh kata-kata kosong dan ketamakan. Firman Allah, “Apa saja harta rampasan (fai-I) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta-harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS 59:7)

Janganlah kamu menentang Nabi dan jangan pula kamu mengubah peraturan dengan berpura-pura pandai, baik dalam perbuatan kamu maupun di dalam beribadah. Allah berfirman, “Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya), untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS 57:27)

Allah telah membersihkan Nabi-Nya dan menjauhkannya dari yang batil. Firman Allah, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53:3-4). Dengan kata lain, firman ini bermaksud, “Apa saja yang dibawanya kepada kamu adalah dari Aku, dan bukannya dari dirinya atau hawa nafsunya. Oleh karena itu, ikutilah dia.”

Firman Allah lagi, “Pada hari ketiga tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (ke hadapannya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS 3:30)

Jalan untuk menempuh kasih sayang-Nya itu adalah mematuhi sabda-sabda dan perbuatan Nabi. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Berusaha itu adalah jalanku dan tawakal kepada Allah itu adalah keadaanku.”

Oleh karena itu, kamu harus berada di antara perbuatan dan keadaannya. Jika iman kamu lemah, maka hendaklah kamu berusaha, dan ini adalah perbuatannya. Dan jika iman kamu kuat, maka pergunakanlah keadaan kamu, yaitu bertawakal kepada Allah.

Allah berfirman, “Dan kepada Allah-lah kamu patut bertawakal.” (QS 5:26). Allah juga berfirman, “… dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS 56 – 3) Selanjutnya Allah berfirman, “Dan sungguh jika kamu meninggal atau gugur, tentulah kepada Allah saja kamu dikumpulkan.” (QS 3:158)

Allah menyuruhmu untuk bertawakal dan berpegang teguh kepada Allah, sebagaimana Nabi pun disuruh berbuat demikian. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa berbuat sesuatu yang bukan dari perintah kami, maka perbuatannya itu tidak akan diterima.”

Hal ini mencakup kehidupan, perbuatan dan perkataan. Kita tidak mempunyai Nabi lagi selain beliau yang harus kita ikuti dan tidak ada kitab, selain Al Qur’an yang harus kita patuhi. Oleh karena itu, janganlah kamu melanggar keduanya. Jika tidak, maka kamu akan mendapatkan kehancuran dan kamu akan dipimpin oleh hawa nafsu kebinatangan dan iblis yang membawa ke jalan yang sesat. Allah berfirman, “… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah …” (QS 38:26)

Keselamatan itu terletak pada Kitab Allah dan sunnah Nabi. Sedangkan kerusakan akan datang, jika kamu menyimpang dari keduanya. Dengan Al Qur’an dan sunnah Nabi itulah maka si hamba dapat naik ke derajat wilayah, badaliyyat dan ghautsiyyat.



AJARAN 37

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa aku melihat ada di antara kamu yang merasa dengki dan iri hati kepada tetangga-tetangga kamu, karena mereka mendapatkan kelebihan karunia Allah yang berupa makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian dan sebagainya ? Tidakkah kamu mengetahui bahwa perasaan dengki itu akan mengubah keimananmu, menjauhkan diri kamu dari sisi Allah dan menyebabkan kamu dimurkai Allah ? Tidakkah kamu pernah mendengar bahwa Nabi SAW bersabda yang Allah berfirman, “Orang yang dengki itu adalah musuh kasih sayang kami.” ?

Mengapa kamu dengki kepada orang lain, hai manusia ? Dengkikah kamu kepada apa yang telah ditentukan Allah kepadanya ? Apa yang ada padanya itu, sebenarnya adalah karunia Allah juga. Maka, mengapa kamu merasa dengki ? Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu ? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS 43:32)

Jika kamu dengki kepada orang lain, maka sesungguhnya kamu adalah orang yang dholim. Kamu dholim terhadap orang yang telah diberi karunia oleh Allah. Padahal, karunia itu telah dikhususkan baginya dan bukan bagi orang lain. Jika kamu masih juga dengki kepada orang yang diberi karunia oleh Allah itu, maka hal itu menunjukkan bahwa kamu itu orang dholim, jahil dan jahat. Jika kamu mendengki orang lain, karena kamu mengira bahwa yang dimilikinya itu adalah bagian kamu, maka kamu adalah orang jail. Sebab, apa yang telah ditentukan untuk kamu itu tidak akan lepas ke tangan orang lain, melainkan pasti akan kamu dapati. Allah tidak dholim, sebagaimana firman Allah yang maksudnya kurang lebih, “Ayat yang datang dari Kami tidak boleh diubah-ubah, dan Kami tidak dholim kepada haba-hamba Kami.”

Allah tidak dholim. Dia tidak akan mengambil dari kamu apa yang telah ditentukan untukmu lalu diberikan-Nya kepada orang lain. Tidak. Apa yang telah ditentukan untuk kamu, pasti akan kamu dapatkan. Dan apa yang telah ditentukan untuk orang lain, pasti akan ia dapatkan. Oleh karena itu, janganlah kamu dengki kepada orang lain. Lebih baik kamu mendengki bumi yang menjadi toko harta benda dunia seperti mas, perak dan intan berlian sebagai simpanan raja-raja dahulu kala seperti ‘Ad, Tsamud dan raja Persia dan Romawi. Kamu lebih baik mendengki semua ini daripada mendengki saudara-saudara kamu.

Ibarat orang yang melihat seorang raja yang agung dan mempunyai tentara yang banyak sekali, mengontrol daratan dan lautan luas serta memungut pajak untuk keperluannya sendiri dan kerakusannya sendiri. Melihat keadaan ini, orang itu tidak dengki kepadanya, tetapi dia dengki melihat seekor anjing liar yang datang pada malam hari mendekati dapur istana raja itu untuk mencari makanan dari sisa-sisa makanan yang dibuang oleh tukang masak dan makanan itu sudah busuk dan basi. Orang itu dengki kepada anjing liar itu, sehingga memusuhinya dan ingin membunuhnya. Apakah ini bukan suatu kebodohan ? Jika orang itu benar-benar dengki kepada anjing lapar itu dan ia tidak dengki kepada raja yang tamak itu, maka sebenarnya orang itu adalah orang yang jahil, bodoh dan tidak mau menimbang rasa.

Ketahuilah wahai insan, apakah yang akan dihadapi oleh tetanggamu itu di hari perhitungan kelak, sekiranya ia telah diberi nikmat oleh Allah dan karunia yang baik di dunia ini, tetapi ia tidak memanfaatkan karunia itu sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditentukan oleh Allah, bahkan sebaliknya ia ingkar dan memusuhi Allah serta tidak patuh kepada-Nya. Ketahuilah, bahwa ia akan ditanya dan dimintai pertanggung jawabannya tentang apa yang telah ia perbuat dengan karunia itu. Jika karunia dan nikmat itu tidak ia pergunakan sesuai dengan keridhaan Allah, maka ia akan menyesal. Bahkan ia merasa bahwa lebih baik ia tidak menerima karunia itu di dunianya dulu. Apa yang ia sesalkan ? Sudah terlambat.

Nabi SAW pernah bersabda, “Sebenarnya ada segolongan manusia di hari perhitungan nanti yang menginginkan daging badannya dipotong-potong dengan gunting apabila mereka melihat balasan yang diterima oleh orang-orang yang mendapat azab dan kesusahan.”

Mungkin tetangga kamu itu, di akhirat kelak, ingin agar ia berada di tempat kedudukanmu dalam kehidupan dunia ini, manakala ia merasakan masa yang sangat panjang berada dalam perhitungan di hadapan Tuhan itu dengan merasakan kepedihan dan kesusahan berdiri selama 50.000 tahun di bawah panas terik matahari untuk dimintai pertanggungjawabannya tentang apa yang telah diperbuatnya dengan kekayaan yang diberikan Allah kepadanya dahulu, sedangkan sementara itu kamu berada dalam perlindungan Allah: makan, minum, bersenang-senang dan bersuka ria, karena kamu telah sabar dalam menempuh kesusahan hidup di dunia ini sambil ridha dengan ketentuan Allah, menyesuaikan diri kamu dengan Allah dan kamu tidak mendengki orang lain lantaran ia diberi kelebihan kehidupan dunia oleh Allah. Semoga Allah menjadikan aku dan kamu bersabar di dalam menempuh godaan dan perjuangan hidup di dunia ini serta bersyukur kepada-Nya karena karunia-Nya yang tidak terhingga kepada kita sekalian. Mudah-mudahan kita bertawakal kepada Allah, Tuhan sekalian alam.



AJARAN 38

Barangsiapa menjalankan tugas-tugasnya karena Allah dengan ikhlas dan benar, maka ia tidak akan terpengaruh oleh apa saja selain Allah. Wahai manusia, janganlah kamu menuntut apa yang tidak ada pada kamu. Bertauhidlah kepada Allah dan janganlah kamu menyekutukan Dia dengan apa saja. Jadikanlah diri kamu sasaran anak panah takdir yang akan mengena dirimu, bukan untuk membunuh melainkan untuk mencederakan kamu. Barangsiapa yang luluh hatinya karena Allah, maka ia akan menerima balasan dari Allah.



AJARAN 39

Mengambil sesuatu berdasarkan hawa nafsu kebinatangan, tanpa ada perintah dari Allah, berarti menyeleweng dari tugas kamu terhadap Allah dan melawan kebenaran. Sedangkan mengambil sesuatu tanpa didorng oleh hawa nafsu kebinatangan adalah suatu kebaikan dan sejalan dengan kebenaran atau yang haq. Dan jika berlawanan dengan kebenaran itu, maka itu adalah perbuatan yang tidak ikhlas dan sikap munafiq.



AJARAN 40

Janganlah kamu mengira bahwa diri kamu termasuk dalam golongan kerohanian, kecuali jika kamu telah menjadi musuh diri kamu, terpisah dari anggota-anggota badan kamu, kaki dan tangan kamu serta memutuskan hungunganmu dengan wujud kamu, dengan gerak dan diam kamu, dengan pendengaran dan penglihatan kamu, dengan percakapan dan pegangan kamu, dengan usaha dan tindak tanduk kamu dan dengan apa saja yang kamu anggap datang dari diri kamu sendiri. Setelah semua itu lenyap, maka barulah wujud kerohanian dihembuskan kepada kamu, karena semua itu adalah tabir yang menghalangi kamu dengan Tuhan kamu. Apabila ruh kamu telah bersih dan suci, maka rahasia di atas segala rahasia dan yang ghaib dari segala yang ghaib akan terbuka bagi kamu akan dapat membedakan antara musuh dengan sahabat dan yang haq dengan yang batil serta tauhid dengan syirik.

Allah SWT berfirman lewat lidah Ibrahim as, “Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.” (QS 26:77)

Yang dimaksud dengan musuh di sini adalah berhala. Oleh karena itu anggaplah diri kamu dan seluruh mahluk ini sebagai berhala, dan dengan demikian, janganlah kamu mematuhi dan menuruti semua itu. Hanya dengan itu saja kamu akan dikaruniai rahasia-rahasia dan ilmu-ilmu ketuhanan serta perkara-perkara yang jarang ditemui orang. Kemudian kamu akan diberi kekuasaan untuk menjadikan dan keramat, dan ini adalah suatu macam kekuasaan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang percaya kepada Allah dan perkara ghaib.

Apabila kamu berada dalam keadaan seperti ini, maka seakan-akan kamu bangkit kembali hidup sesudah mati di hari akhir. Jadi, semata-mata kamu adalah manifestasi kekuasaan Allah. Kamu mendengar melalui Allah, melihat melalui Allah, berbicara melalui Allah, memegang melalui Allah, berjalan melalui Allah, mengetahui melalui Allah dan susah serta sentosa melalui Allah. Sehingga kamu buta terhadap apa saja selain Allah dan tuli terhadap apa saja selain Dia. Selagi kamu memperhatikan batas-batas hukum dan mengikuti undang-undang Tuhan, maka tidak ada sesuatupun yang tampak ada oleh pandanganmu, kecuali wujud Allah. Jika ada diantara kehendak-kehendak hukum Allah yang hilang dari dalam diri kamu, maka ketahuilah bahwa kamu sedang diuji dan dipermainkan oleh setan. Oleh karena itu, kembalilah untuk mengikuti hukum-hukum Allah, berpegang teguh kepada-Nya dan jauhkan diri kamu dari nafsu kebinatanganmu. Sebab, setiap perkara yang tidak sah menurut hukum-hukum atau undang-undang Allah adalah tidak termasuk dalam iman.



AJARAN 41

Kusajikan sebuah perumpamaan untuk dijadikan bahan renungan :
Katakanlah bahwa ada seorang Raja yang telah melantik seorang biasa menjadi gubernur untuk memerintah di suatu bandar. Orang itu diberi pakaian kerajaan dengan bendera, panji-panji, gendang kerajaan dan sepasukan tentara yang cukup lengkap. Masa pun berlalu. Akhirnya ia mengira bahwa kedudukan atau keadaan itu akan kekal, sehingga timbullah rasa bangga dan sombongnya. Ia lupa kepada keadaannya sebelum ia dilantik menjadi gubernur dahulu. Kemudian, karena bangga dan sombongnya itu, maka jabatannya itu dicabut oleh raja. Ia dimintai pertanggungjawabannya di depan raja dan dimintai keterangannya tentang sebab ia melakukan kesalahan itu. Akhirnya ia diputuskan bersalah, lalu dipenjarakan dan menyesallah ia berada di dalam penjara yang sempit dan gelap. Karena lamanya ia berada di dalam penjara, maka perasaan bangga dan sombongnya itupun hilang. Hatinya luluh dan api hawa nafsunya pun padam. Kemudian, semua keadaannya ini diketahui oleh raja dan lama kelamaan raja itupun merasa kasihan kepadanya. Ia dilepaskan dari penjara, dan raja itu menyerahkan kembali jabatan yang pernah dipegangnya dahulu untuk menjadi gubernur di bandar yang lain, sebagai hadiah dari raja itu. Setelah itu, ia tetap memangku jabatan gubernur dengan keadaan baik hati dan tidak lagi berperangai buruk seperti dahulu. Akhirnya, ia menjadi orang yang baik dan bersih.

Demikianlah perumpamaan seorang mu’min dengan Allah yang membawa mu’min dekat dengan-Nya dan menjadi orang pilihan-Nya. Dibukanya pintu hati si mu’min itu untuk menerima kasih sayang dan karunia-Nya. Maka tampaklah oleh si mu’min itu dengan mata hatinya sesuatu yang tidak tampak oleh mata kepala, dan dingernya dengan telinga hatinya sesuatu yang tidak pernah didengar oleh telinga kepala. Terlihat olehnya perkara-perkara ghaib dari kerajaan Tuhan Yang Maha Besar, yang meliputi langit dan bumi dan sebagainya. Semakin dekatlah ia kepada Allah. Shalat dan doanya diterima oleh Allah. Ia dikaruniai kasih sayang dan perkataan yang baik-baik dan manis dari Allah. Dengan karunia-Nya pula, maka ilmu-ilmu-Nya yang pelik-pelik akan dapat ia ketahui. Allah akan menyempurnakan karunia-Nya kepada si Mu’min itu, baik dari segi batiniah maupun dari segi lahiriah seperti kesehatan badan, minuman, pakaian, makanan, istri yang baik dan perkara-perkara yang halal serta sesuai dengan peraturan dan ketentuan Allah. Jadi, Allah akan menetapkan keadaan ini kepada hamba-Nya yang beriman dan dekat kepada-Nya, untuk beberapa masa lamanya, sampai si hamba itu merasa selamat dan kekal dalam keadaan itu. Setelah itu, Allah akan mendatangkan malapetaka, kesusahan hidup dan bencana kepadanya. Sehingga, si hamba itupun merasa sedih, heran, hatinya menjadi remuk dan ia terputus dari hubungannya dengan orang-orang segolongannya.

Jika ia melihat keadaan itu dari segi lahirnya saja, maka ia akan melihatnya sebagai suatu kejahatan yang menimpanya, dan jika ia melihatnya dengan hati dan batinnya saja, maka ia melihatnya sebagai sesuatu yang mendukacitakannya. Jika ia meminta kepada Allah untuk melenyapkan kesusahan yang tengah dihadapinya itu, maka Allah tidak akan menerimanya; jika ia meminta janji-janji yang baik, maka ia tidak akan mendapatkannya dengan segera; jika ia berjanji tentang sesuatu, maka ia tidak akan diberitahukan tentang hasilnya; jika ia memimpikan sesuatu, maka ia tidak dapat mengetahui maksudnya; dan jika ia hendak bergabung kembali dengan orang-orang segolongannya, maka iapun tidak dapat melakukannya. Pendek kata, segalanya telah tertutup baginya dan doanya tidak lagi diterima.

Sehingga dengan demikian, dirinya menjadi hancur, hawa nafsunya menjadi hilang dan lenyaplah niat serta cita-citanya. Segalanya telah kosong baginya. Untuk sementara, keadaan ini akan terus berlangsung dan mungkin penderitaannya itu akan diperhebat lagi. Sehingga sampailah masanya, bila ia merasakan tabiat-tabiat dan sifat-sifat kemanusiaannya hilang setahap demi setahap yang akhirnya ia tinggal mempunyai ruh saja, maka ia akan mendengar suara batinnya memanggil, “(Allah berfirman), “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” (QS 38:42). Ayat ini difirmankan kepada Nabi Ayyub as.

Kemudian Allah akan melimpahkan lautan rahmat dan kasih sayang-Nya kepadanya dan hatinya merasa aman dan tenteram serta disinari dengan cahaya iman dan ilmu. Pintu keridhaan Allah dibukakan untuk-Nya. Manusia akan datang berkunjung kepadanya untuk memberikan bermacam-macam hadiah dan orang-orang akan mengabdi kepadanya. Manusia akan memuji dan menghormatinya. Kata-katanya dijunjung tinggi. Orang-orang akan merasakan kebahagiaan berada di majelisnya. Raja-raja dan orang-orang besarpun akan tunduk kepadanya. Allah akan menyempurnakan karunia-Nya kepadanya, baik lahiriah maupun batiniah. Allah akan memelihara lahirnya melalui mahluk-Nya dan batinnya melalui kasih sayang dan rahmat-Nya. Kekallah ia berada dalam keadaan itu sampai akhir hayatnya. Setelah itu, Allah akan memasukkannya ke tempat yang tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga dan tidak terlintas di dalam hati siapapun, sebagaimana firman Allah, “Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyedapkan pandangan mata, sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 32:17)



AJARAN 42

Ruh manusia itu hanya ada dalam dua keadaan, tidak ada keadaan yang ketiga, yaitu keadaan bahagia dan keadaan sengsara. Apabila ia berada dalam keadaan sengsara atau menderita, maka muncullah perasaan-perasaan rendah, gelisah, gundah, muram, tidak ridha, mengkritik dan menyalahkan Allah, tidak sabar dan tidak bertawakal, sehingga lahirlah ahlak buruk, menyekutukan Allah dengan mahluk dan akhirnya tidak percaya atau kufur. Dan apabila ia sedang merasa senang, maka ia menjadi mangsa ketamakan dan kerakusan serta hawa nafsu kebinatangan dan keiblisan. Nafsunya tidak pernah merasa puas. Ia menghendaki barang yang berada di tangan orang lain atau yang ditentukan untuk orang lain. Sehingga ia tidak pernah lepas dari kesusahan dan penderitaan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Sesungguhnya hukuman yang paling menyiksa adalah mencari atau menuntut apa yang tidak ditentukan untuk kita.

Jika ketika ia berada dalam kesengsaraan, ia tidak mau yang lain, kecuali ia hanya meminta agar kesengsaraan itu dihilangkan dan ia tidak mengingat serta menghendaki kemewahan yang membuatnya senang; tetapi jika ia diberi kesenangan dan kemewahan, ia menjadi tamak, dengki, ingkar dan melakukan perkara-perkara dosa dan maksiat serta ia lupa kepada penderitaan yang pernah dialaminya; maka ia akan dikembalikan kepada keadaannya semula, ia akan mengalami kesusahan dan penderitaan yang pernah dialaminya, dan bahkan lebih berat daripada keadaannya semula, karena ia telah berdosa dan perlu dihukum. Dengan cara ini, ia akan menjadi sadar kembali dan pada masa berikutnya ia akan menjauhkan dirinya dari perbuatan dosa dan noda. Sebab, kesenangan dan kebahagiaan itu tidak dapat menyelamatkannya, sedangkan kesengsaraan dan penderitaan dapat menyelamatkannya.

Sekiranya ketika penderitaan kesusahan dihilangkan darinya ia berbuat baik, patuh, bersyukur dan ridha kepada Allah, maka hal itu adalah lebih baik baginya di dunia dan di akhirat, dan Allah akan menambahkan karunia, nikmat, kebahagiaan dan keselamatan kepadanya.

Oleh karena itu, barangsiapa menghendaki keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, maka hendaklah ia menanamkan sikap sabar, rela bertawakal kepada Allah, menjauhkan sifat iri terhadap manusia dan meminta segala kebutuhan kepada Allah Yang Maha Agung. Patuhlah kepada Allah dan hambakanlah diri hanya kepada-Nya saja. Dia lebih baik dari apa saja selain Dia.

Segala apa yang tidak disampaikan Allah kepada kita sebenarnya adalah merupakan satu karunia atau hadiah. Hukuman-Nya adalah kebaikan. Penderitaan yang ditimpakan-Nya adalah obat. Janji-Nya diibaratkan sebagai uang tunai, kredit-Nya adalah keadaan pada masa ini dan firman-Nya itu pasti terjadi. Apabila Allah hendak menjadikan sesuatu, maka Dia hanya berfirman, “Jadilah”, maka jadilah ia. Oleh karena itu, semua perbuatan-Nya adalah baik dan berdasarkan hikmah kebijaksanaan. Allah sajalah Yang Maha Tahu. Manusia tidak akan dapat mengetahui ilmu Allah yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, adalah lebih baik bagi si hamba untuk terus selalu bertawakal, berserah diri, kembali kepada-Nya, melakukan apa saja yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa saja yang dilarang-Nya. Janganlah menyalahkan Allah, sinis dan mengatakan bahwa Dia itu dholim, tidak tahu dan sebagainya. Perbuatan-Nya jangan disalahkan.

Ada sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Atha bin Abbas yang diterimanya dari Abdullah bin Abbas. Diceritakan bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, “Ketika aku menunggang kuda di belakang Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda kepadaku, “Wahai anakku, jagalah atau peliharalah kewajibanmu terhadap Allah, niscaya Allah akan memeliharamu dan peliharalah kewajianmu terhadap Allah, niscaya kamu akan mendapatkan Allah berada di hadapanmu.”

Oleh karena itu, apabila kamu mau meminta, maka memintalah kepada Allah dan apabila kamu mau memohon perlindungan, maka memohonlah kepada-Nya. Andaikan seluruh hamba Allah hendak memberikan manfaat kepadamu, namun Allah tidak mengijinkannya, maka akan sia-sialah perbuatan mereka itu. Jika seluruh hamba Allah bermaksud hendak memberikan mudharat atau bahaya kepadamu, tetapi Allah tidak mengijinkannnya, maka mudharat atau bahaya itupun tidak akan menimpamu. Karenanya, jika kamu mampu melakukan seluruh perintah Allah dengan ikhlas, maka lakukanlah semua itu. Tetapi, jika kamu tidak mampu melakukannya, maka lebih baik kamu bersabar terhadap sesuatu yang tidak suka untuk kamu lihat, yang sebenarnya di situ terdapat kebaikan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu datang melalui kesabaran. Dan ketahuilah, bahwa bersama kesusahan itu terdapat kesenangan. Setiap orang yang beriman hendaklah menerapkan hadits Nabi ini, agar selalu mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak serta menerima rahmat dan kasih sayang Allah.



AJARAN 43

Jika ada orang yang meminta sesuatu kepada manusia, maka yang demikian itu dikarenakan ia jahil atau bodoh tentang Allah, lemah imannya, kurang pengetahuannya tentang hakekat, kurang keyakinan dan kesabaran. Dan jika ada orang yang meminta kepada Allah, maka hal itu adalah pertanda bahwa ia penuh dengan ilmu Allah Yang Maha Agung dan Maha Kaya, pertanda bahwa ia memiliki keimanan yang teguh dan keyakinan yang pasti, pertanda bahwa ilmu Allah selalu bertambah setiap saat di dalam hatinya dan pertanda bahwa ia malu kepada Allah Yang Maha Gagah Perkasa.



AJARAN 44

Jika permohonan dan doa seseorang untuk memiliki ilmu kerohanian dari Allah SWT tidak dikabulkan dan setiap janji-Nya tidak dipenuhi-Nya untuk orang itu, maka sesungguhnya hal itu adalah karena Allah tidak menghendaki orang itu terlalu muluk harapannya (terlalu optimis). Sebab, kondisi dan posisi kerohanian itu tidak akan didapatinya, kecuali jika ia memiliki takut dan harapan secara bersamaan. Takut dan harapan ini ibarat dua kapak atau sayap burung. Kedua-duanya perlu ada, dan satu saja tidak jadi. Takut dan harapan ini berada dalam setiap kondisi dan posisi itu.

Dengan demikian, orang yang memiliki ilmu kerohanian atau kebatinan bisa menjadi dekat dengan Allah. Kondisi dan posisi kerohaniannya itu ialah bahwa ia tidak menginginkan sesuatu selain Allah, ia tidak cenderung dan merasa ingin kepada sesuatu selain Allah dan ia tidak merasa gembira dengan yang lain selain Allah. Jadi, meminta supaya permohonannya diterima atau janji-Nya dipenuhi adalah berlawanan dengan jalan-Nya dan tidak sesuai dengan posisinya.

Ada dua sebab Allah selalu tidak memperkenankan permohonan si hamba. Pertama, seseorang tidak mau dikuasai oleh terlalu mengharap atau mengangan-angankan apa yang telah ditakdirkan Allah untuknya, ia tidak mau mendahului Allah di dalam setiap tindakan dan ia tidak mengetahui bahwa takdir Allah itu mungkin ada yang lebih baik daripada apa yang dimintanya. Kedua, hal ini dapat menimbulkan syirik, yaitu menyekutukan sesuatu dengan Allah. Karena tidak ada manusia yang tidak berdosa, kecuali para Nabi.

Karena dua sebab inilah Allah selalu tidak memperkenankan permohonan hamba-hamba-Nya, dikhawatirkan jika si hamba akan meminta menurut kehendak dirinya saja, tanpa mengembalikan kepada aturan dan perintah Allah. Dan ada kemungkinan hal ini akan membawanya kepada perbuatan syirik. Ada bermacam-macam sebab yang dapat menjerumuskan seseorang ke lembah syirik pada setiap posisi, kondisi dan cara menempuh jalan kerohanian ini. Tetapi, apabila suatu doa atau permintaan itu sesuai dengan kehendak dan ketentuan Allah, maka hal ini akan menambah si hamba lebih dekat lagi kepada Allah seperti dengan jalan shalat, puasa dan menjalankan kewajiban-kewajiban lainnya, karena dengan mengikuti semua cara itu berarti mematuhi perintah Allah.



AJARAN 45

Ketahuilah bahwa manusia ini ada dua macam. Pertama, mereka yang dikarunia Allah perkara-perkara yang baik di dunia ini. Kedua, mereka yang diuji oleh Allah dengan apa yang telah ditakdirkan Allah untuk mereka. Mereka yang mendapatkan perkara-perkara yang baik itu belum tentu terlepas dari dosa dan kekhilafan di dalam menikmati karunia Allah tersebut. Orang-orang ini merasa bangga dengan karunia itu. Tiba-tiba datanglah takdir Allah berupa kesulitan dan malapetaka yang menimpa diri, keluarga atau harta benda mereka. Dengan demikian mereka merasa sedih dan berputus asa. Mereka lupa kepada kebanggaan dan kebahagiaan yang mereka nikmati dulu. Jika mereka diberi kekayaan, keselamatan dan kesentosaan, maka merekapun lupa, seolah-olah mereka menduga bahwa keadaan itu akan kekal. Dan jika mereka ditimpa malapetaka, maka mereka pun lupa kepada kebaikan yang pernah mereka terima dulu, seakan-akan kebaikan itu tidak pernah ada pada mereka. Semua ini menunjukkan kejahilannya atau kebodohannya tentang tuannya yang sebenarnya, yaitu Allah SWT.

Andaikan mereka mengetahui bahwa Allah berkuasa membuat apa saja yang dikehendaki-Nya, baik berkuasa menjatuhkan dan menaikkan, membuat kaya dan membuat miskin, menyenangkan dan menyusahkan, mengelokkan dan memburukkan, menghinakan dan memburukkan, menghidupkan dan mematikan maupun apa saja, maka tentulah mereka tidak akan menduga bahwa kebahagiaan dan kekayaan yang mereka nikmati itu akan kekal dan tentulah mereka tidak akan merasa bangga dan sombong atau putus asa dan kecewa, jika kekayaan dan kebahagiaan dihilangkan dari mereka.

Tindakan mereka yang semacam ini disebabkan kebodohan mereka tentang dunia ini. Mereka tidak mengetahui bahwa dunia ini adalah tempat ujian, tempat berusaha, tempat bersakit-sakitan dan tempat bersusah payah. Dunia ini bagaikan dua lapisan rasa, di luarnya adalah rasa pahit dan di dalamnya adalah rasa manis. Makanlah dahulu yang pahit itu, barulah memakan yang manisnya. Seseorang hendaknya merasakan yang pahit itu dahulu sebelum ia merasakan yang manis. Bersabarlah kamu memakan yang pahit itu dahulu, agar kamu dapat memakan yang manisnya pula. Oleh karena itu, barang siapa bersabar terhadap ujian-ujian di dunia ini, maka ia berhak menerima hasil dan balasan yang baik dan bagus. Ibarat orang yang mau memakan gaji. Bekerjalah dahulu, baru mendapatkan gaji. Lapisan yang pahit itu harus dihabiskan lebih dahulu, baru lapisan yang manis akan didapatkan.

Oleh karena itu, jika si hamba patuh kepada Allah, mengerjakan yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan yang dilarang-Nya, bertawakal bulat kepada-Nya dan menuruti takdir-Nya serta bila ia telah memakan yang pahit, iapun menghapuskan hawa nafsu keiblisannya dan menghancurkan tujuan kehendak egonya, maka Allah akan memberinya kehidupan baru yang lebih baik, kebahagiaan, keselamatan dan kemuliaan serta Allah akan memeliharanya dan memberikan perlindungan kepadanya. Setelah itu, si hamba itupun menjadi seperti bayi yang sedang disusui ibunya, yakni bayi itu tidak lagi perlu mencari makan, karena ibunya telah memberinya makan. Allah akan memberinya rizki tanpa ia harus bersusah payah atau berusaha keras di dunia ini dan juga di akhirat kelak.

Seorang hamba janganlah menyangka bahwa ia tidak diuji dan bahwa karunia yang diterimanya itu akan kekal. Ia harus bersyukur dan menyerahkan dirinya kepada Allah semata-mata. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda yang maksudnya lebih kurang sebagai berikut, “Kemegahan dunia ini adalah perkara yang merusakkan. Oleh karena itu, pertahankanlah diri kamu darinya dengan bersyukur.”

Mensyukuri karunia kekayaan itu dilakukan dengan menyadarkan diri dan mengatakan kepadanya bahwa karunia itu tidak lain hanyalah kepunyaan Allah yang dipinjamkan-Nya dan diamanatkan-Nya kepada kita. Semuanya adalah milik Allah dan kita tidak mempunyai apa-apa. Oleh karena itu, dalam masalah harta benda ini, kita tidak boleh melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah dan gunakanlah harta benda itu menurut kehendak-Nya. Keluarkanlah zakat dan sedekah. Tolonglah orang-orang yang miskin papa. Orang-orang yang sedang berada dalam kesusahan adalah menjadi tanggungan kita untuk memberikan nafkah kepadanya. Inilah arti mensyukuri karunia kekayaan harta benda yang diberikan Allah kepada kita. Sedangkan mensyukuri ni’mat anggota-anggota badan yang telah diberikan kepada kita adalah dengan menggunakan badan itu untuk mematuhi perintah-perintah Allah, meninggalkan larangan-Nya dan tidak berbuat dosa dan maksiat.

Inilah cara-cara memelihara karunia Allah agar tidak terlepas dari kita. Siramlah akarnya agar ia menjadi subur, daunnya rindang dan menghasilkan buah yang manis yang menampakkan manfaat kepada badan, supaya badan itu dapat mematuhi Allah, dekat kepada-Nya dan selalu ingat kepada-Nya serta supaya kita menerima rahmat dan kasih sayang Allah di akhirat kelak dan dapat hidup kekal di surga bersama para Nabi, orang-orang yang benar, para syuhada dan orang-orang saleh. Mereka ini adalah golongan orang-orang yang dimuliakan.

Tetapi jika seseorang itu terpengaruh dan tenggelam dalam kesenangan dan kemegahan dunia ini saja, maka akan merugilah ia, di akhirat kelak ia akan menyesal dengan tiada putus-putusnya dan nerakalah tempat tinggalnya.

Allah menguji manusia dan ujian itu mempunyai bermacam-macam tujuan. Adakalanya ditujukan untuk menghukum manusia akibat kesalahan dan dosa yang telah dilakukannya. Adakalanya ditujukan untuk membuang dan membersihkan cacad orang itu. Dan adakalanya pula ditujukan untuk meninggikan derajat orang itu agar ia dapat bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki ilmu kerohanian yang mengalami berbagai kondisi dan posisi kerohanian. Mereka itu telah mengembara di padang bencana dan kesusahan dengan menunggang kendaraan kasih sayang Allah sambil ditiup oleh angin bayu penglihatan-Nya yang lemah lembut yang mengenai gerak dan sikap mereka, karena ujian itu tidak bermaksud mencampakkan mereka ke dalam neraka, tetapi sebaliknya. Dengan ujian itu, Allah menguji mereka untuk memilih mereka, meneguhkan keimanan mereka dan membersihkan mereka, agar dapat dibedakan antara iman dengan kufur dan antara tauhid dengan syirik, dan sebagai balasannya orang itu diberi ilmu, rahasia dan cahaya.

Apabila lahir dan batin orang-orang ini telah bersih dan hati mereka telah suci, maka mereka ini akan menjadi orang-orang pilihan dan kekasih Allah serta mereka akan mendapatkan rahmat di dunia dan di akhirat. Di dunia ini, rahmat itu melalui hati mereka, sedangkan di akhirat nanti melalui jasmani mereka. Oleh karena itu, bala bencana itu merupakan pencuci dan pembersih daki-daki syirik mereka serta pemutus hubungan mereka dengan manusia, keduniaan dan hawa nafsu kebinatangan dan keiblisan; di samping menjadi alat penghancur kebanggaan, kesombongan dan ketamakan serta penghapus niat yang bukan karena Allah di dalam beribadah seperti beribadah lantaran menghendaki surga dan sebagainya.

Tanda bahwa ujian itu dimaksudkan sebagai hukuman adalah, seseorang bersabar apabila datang ujian-ujian kepadanya lalu menangis dan mengeluh kepada orang lain. Tanda bahwa ujian itu dimaksudkan sebagai pembersih dan pembuang kelemahan ialah sabar dengan baik, tanpa mengeluh dan menunjukkan kesusahannya kepada orang lain, dan tanpa berkeberatan untuk melaksanakan perintah Allah. Sedangkan tanda bahwa ujian itu ditujukan untuk meninggikan derajat si hamba yang menerima ujian itu adalah adanya kerelaan dan kesukaan hati serta kedamaian terhadap perbuatan Allah, Tuhan Seru Sekalian Alam, dan dirinya sendiripun hilang dalam ujian itu, sampai masa ujian itu berakhir.



AJARAN 46

Ada sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa Allah SWT berfirman, “Barangsiapa selalu mengingat Aku dan tidak ada waktu baginya untuk meminta sesuatu kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya perkara yang lebih baik daripada apa yang Ku-berikan kepada orang yang meminta.”

Hal ini dikarenakan apabila Allah hendak memilih seseorang yang beriman untuk tujuan-Nya sendiri, maka orang itu akan dibawa-Nya melalui berbagai macam kondisi dan posisi kerohanian dan mengujinya dengan bermacam-macam kesulitan dan kesusahan. Allah menjadikannya miskin setelah kaya, bahkan sampai orang itu hampir mengemis untuk mendapatkan rizkinya, namun Allah menolongnya dari menjadi pengemis. Kemudian, orang itupun hampir meminjam kepada orang lain untuk mencari rizkinya, namun Allah menyelamatkannya dari meminjam lalu memberinya kerja. Setelah itu, orang itupun bekerja mencari nafkah hidupnya sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi.

Kemudian, diberikan kesusahan kepada orang itu dalam mencari rizki dan, melalui ilham, diperintahkan supaya ia mengemis. Sebenarnya, perintah semacam ini adalah perintah rahasia yang hanya diketahui dan disadari oleh orang yang bersangkutan itu saja. Allah menjadikan pekerjaan mengemis ini sebagai ibadah baginya dan berdosalah jika ia tidak melakukannya. Pekerjaan ini dimaksudkan agar kebanggaannya hilang dan egonya hancur. Ini merupakan latihan kerohanian. Mengemis semacam ini adalah perintah dari Allah dan bukan jalan syirik. Kemudian Allah melepaskan orang itu dari keadaannya tersebut lalu menyuruhnya supaya meminjam. Perintah ini tidak boleh dibantah lagi, sebagaimana halnya perintah untuk mengemis di atas.

Setelah itu, Allah mengubah keadaan orang itu. Allah memutuskan hubungannya dengan manusia dan menjadikannya hanya bergantung kepada Allah saja di dalam mencari nafkah hidupnya. Apa saja yang ia kehendaki, hendaklah ia minta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan permintaannya. Jika ia tidak meminta, maka Allah tidak akan memberikan apa-apa kepadanya.

Kemudian, keadaan itupun ditukar pula oleh Allah, yaitu dari meminta secara lisan kepada meminta dengan hati saja. Maka, orang itupun meminta kepada Allah melalui hatinya. Apa saja yang dimintanya akan diberikan oleh Allah kepadanya. Jika ia meminta dengan lisan, maka Allah tidak akan memberinya. Demikian pula jika ia meminta kepada manusia, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa dari manusia itu.

Akhirnya, keadaan inipun ditukar pula oleh Allah. Allah menghilangkan orang itu dari dirinya sendiri, sehingga ia tidak lagi meminta-minta kepada-Nya, baik secara rahasia maupun secara terbuka. Allah memberikan balasan kepada orang itu, berupa apa saja yang membetulkan dirinya dan mengubah keadaan dirinya seperti makanan, minuman, pakaian dan keperluan hidup apa saja, tanpa berusaha atau terlintas dalam pikirannya. Allah akan menolongnya. Firman Allah, “Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS 7:196)

Firman Allah yang diterima Nabi itu benar-benar jelas, yaitu, “Yang tidak mempunyai kesempatan untuk meminta apa-apa kepada-Ku, Aku akan memberinya lebih daripada apa yang Aku berikan kepada mereka yang meminta.” Inilah peringkat ‘bersatu’ dengan Allah dan inilah kedudukan wali-wali Allah biasa dan Abdal. Dalam peringkat ini, ia diberi kekuasaan untuk menjadikan. Apa saja yang dikehendakinya, dengan ijin Allah akan ia dapatkan. Allah berfirman, “Wahai anak Adam, Aku-lah Tuhan. Tidak ada Tuhan kecuali Aku. Apabila aku katakan kepada sesuatu, “Jadilah”, maka jadilah ia. Patuhlah kepada-Ku, sehingga jika kamu katakan kepada sesuatu, “Jadilah”, maka jadilah ia.”



AJARAN 47

Aku bermimpi. Di dalam mimpiku itu datang seorang tua bertanya padaku, “Apa yang membuat seorang hamba dekat kepada Allah ?” Aku menjawab, “Persis, ini ada awal dan ada akhirnya. Awalnya ialah kuat beribadat dan ta’at. Akhirnya ialah ridha dengan Allah, berserah diri kepada jalan-Nya dan bergantung penuh kepada-Nya.”



AJARAN 48

Hendaknya orang yang beriman mengerjakan tugas yang wajib dahulu. Apabila tugas itu telah dikerjakan dengan sempurna, barulah ia mengerjakan yang sunnat. Setelah perkerjaan yang sunnat inipun dikerjakan dengan sempurna, maka ia boleh mengerjakan yang lebih dari itu. Jika seseorang mengerjakan perkerjaan yang sunnat, tetapi ia tidak mengerjakan pekerjaan yang wajib, maka orang ini adalah orang yang bodoh. Jika ia mengerjakan pekerjaan yang sunnat sebelum mengerjakan pekerjaan yang wajib, maka ibadatnya itu tidak akan diterima dan akan sia-sia saja. Ibarat seorang raja yang menyuruh seorang rakyatnya untuk menjadi hambanya, tetapi ia tidak pergi menjumpai raja, melainkan ia pergi menghambakan dirinya kepada orang besar atau orang kenamaan bagi raja itu, padahal orang besar atau orang kenamaan itupun adalah hamba raja itu juga.

Ali bin Abi Thalib ra mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang melakukan shalat-shalat yang bukan wajib, padahal shalat-shalat yang wajib itu banyak yang telah ia tinggalkan, seperti seorang wanita hamil yang sebelum sampai masanya ia melahirkan, ia telah keguguran. Dengan demikian, wanita itu tidak lagi hamil dan tidak juga menjadi ibu.”

Orang yang melakukan shalat-shalat yang bukan wajib dan meninggalkan shalat-shalat yang wajib, maka shalatnya itu tidak akan diterima. Orang yang shalat ini juga diumpamakan seperti orang yang berniaga, ia tidak akan mendapatkan keuntungan, kecuali jika ia telah memegang modalnya dahulu. Orang yang mengerjakan shalat yang bukan wajib, maka shalatnya itu tidak akan diterima, kecuali jika ia mengerjakan shalat yang wajib dahulu. Orang yang mengerjakan shalat yang bukan wajib dan bukan pula sunnat, dan ia meninggalkan keduanya, maka shalatnya itu tidak akan diterima dan akan sia-sia saja. Oleh karena itu, di antara perkara yang mesti kita hapuskan ialah perbuatan yang haram, menyekutukan Allah, tidak ridha kepada hukum dan takdir Allah, menurut saja perkataan orang-orang dan keinginan mereka serta tidak melakukan perintah Allah dan durhaka kepada-Nya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak boleh menta’ati siapapun yang ia mendurhakai Allah.”



AJARAN 49

Barangsiapa memilih tidur daripada berjaga malam untuk shalat, maka pilihannya itu adalah pilihan yang tidak baik dan akan mematikan hatinya, karena tidur itu sama saja seperti mati. Tidur itu tidak sesuai dengan Allah, karena Dia tidak mempunyai cacad dan cela atau kekurangan. Malaikat juga tidak tidur, karena mereka itu dekat kepada Allah. Tidur juga tidak sesuai dengan orang-orang akhirat, karena mereka itu adalah orang-orang yang suci dan mulia serta menurut mereka tidur itu akan merusakkan keadaan kehidupan mereka. Oleh karena itu, semua kebaikan itu terletak dalam berjaga malam dan semua kejahatan itu terletak dalam tidur dan malas bekerja.

Orang yang makan karena tamak, maka makannya akan banyak, tidurnya banyak, minumnya banyak dan banyak pula kebaikan yang hilang darinya. Orang yang makan sedikit perkara-perkara yang haram sama halnya dengan orang yang makan banyak perkara yang halal dengan tamak dan rakus. Sebab, benda-benda yang haram itu melemahkan dan menggelapkan iman. Apabila iman itu sudah gelap, maka tidak ada lagi shalat, ibadah dan keikhlasan. Barangsiapa banyak memakan barang-barang halal di luar perintah dan kehendak Allah, maka ia seperti orang yang makan sedikit kenikmatan ibadah dan tidak mendatangkan kekuatan. Jadi, barang-barang yang halal itu adalah cahaya yang ditambahkan kepada cahaya, sedangkan barang-barang haram adalah kegelapan yang ditambahkan kepada kegelapan. Tentu saja tidak baik. Oleh karena itu, memakan barang-barang yang halal dengan tamak dan tanpa mengikuti kehendak dan perintah Allah bagaikan memakan barang-barang yang haram, dan ini mengakibatkan tidur yang tidak mempunyai kebaikan.



AJARAN 50

Mungkin kamu berada dalam salah satu di antara dua keadaan ini :
1. Jauh dari Allah SWT
2. Dekat kepada Allah SWT

Sekiranya kamu jauh dari Allah, maka janganlah kamu berdiam diri saja dan tidak mau mengejar bagian kamu berupa karunia Allah, kebahagiaan, keselamatan dan kemajuan dari hadirat Allah di dunia ini dan akhirat kelak. Mari ! Bangunlah dan bersegeralah menuju Allah. Tinggalkan kemewahan dan foya-foya serta barang-barang yang haram. Bersiap-siagalah dengan kesabaran untuk menghadapi kesulitan dan kesusahan. Jauhkan dirimu dari manusia dan dari keinginanmu terhadap dunia atau akhirat, agar kamu bisa ‘bersatu’ dengan Allah dan dekat kepada-Nya. Setelah itu, barulah kamu akan mendapatkan apa yang kamu kehendaki. Kamu akan diberi kemuliaan dan ketinggian derajat di sisi Allah. Jika kamu telah masuk dalam golongan orang-orang yang diberi kehormatan, kasih sayang dan rahmat oleh Allah, maka tunjukkanlah sopan santun dan ahlak yang baik serta janganlah kamu merasa tinggi diri dengan karunia-Nya itu, agar kamu tidak lupa kepada kewajibanmu terhadap Allah dan agar kamu tidak cenderung kembali kepada kejahilan dan kegelapanmu semula. Firman Allah, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dholim dan amat bodoh.” (QS 33:72). Firman Allah pula, “Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. Dan manusia adalah bersifat tergesa-gesa.” (QS 17:11)

Peliharalah hati kamu dari kecenderungan kepada apa yang telah kamu tinggalkan berupa manusia, hawa nafsu, keinginan, usaha dan kehilangan kesabaran, ridha dan kebersesuaian dengan Allah semasa kamu ditimpa kemalangan dan kesusahan. Sebaliknya, hendaklah kamu menyerahkan diri kamu kepada Allah seperti bola di kaki pemainnya, atau seperti bayi di pangkuan ibunya, atau seperti mayat di tangan orang-orang yang sedang memandikannya. Butakanlah mata hati kamu terhadap apa saja selain Dia, supaya kamu tidak melihat sesuatu selain Allah, tidak ada yang wujud, tidak ada yang memberikan mudharat, tidak ada yang memberikan manfaat, tidak ada yang menolak pemberian dan tidak ada yang memberi pemberian selain daripada Allah semata. Anggaplah mahluk itu, di masa kamu susah dan menderita, sebagai cambuk Allah Yang Maha Agung yang dipukulkan kepada kamu. Di masa kamu bahagia dan selamat, anggaplah mahluk itu sebagai tangan Allah yang memberi rizki kepadamu.



AJARAN 51

Orang-orang yang ta’at kepada Allah itu akan menerima balasannya dua kali. Pertama, ia meninggalkan segala sesuatu dari dunia ini yang menuruti kehendak hawa nafsu dan mengambil apa saja dari dunia ini yang manjadi ibadahnya kepada Allah. Apabila ia telah memusuhi dirinya dan melawan hawa nafsunya serta keadaan ini telah berdiri kokoh padanya, maka ia termasuk dalam golongan orang-orang yang benar dan wali Allah. Kemudian, ia masuk ke dalam golongan Abdal dan ‘Arifin (orang-orang yang mengetahui hakekat). Setelah itu, barulah ia diperintahkan untuk mengambil dan berhubungan dengan keduniaan, karena di dalam dunia ini ada bagian yang telah ditentukan untuknya yang tidak boleh ia buang. Apabila perintah ini telah ia laksanakan, maka ia pun akan mengambil bagiannya di dunia ini atau menerima penerangan tentang ilmu Allah. Dia berhubungan dengan dunia dan berlaku sebagai kendaraan takdir yang telah dilantik oleh Allah. Perbuatannya di dalam perbuatan itu, tanpa ia melibatkan dirinya di dalamnya, tanpa ada keinginan, maksud atau usaha dari dirinya sendiri. Ia diberi pahala, karena semua ini adalah balasannya yang kedua dan karena ia melakukan semua itu dengan patuh kepada perintah Allah atau sesuai dengan perbuatan Allah di dalam perkara itu.

Mungkin ada pertanyaan, “Mengapa kamu mengatakan bahwa orang yang mencapai derajat itu diberi ganjaran, sedangkan ia telah mencapai tingkat kerohanian yang tinggi, telah termasuk ke dalam golongan Abdal dan Arifin, telah menjadi orang pilihan Allah, orang yang dikasihi-Nya dan orang yang diridhai-Nya dan telah lenyap dari manusia, dari dirinya sendiri, dari kemauan dan keinginannya sendiri serta segala gerak dan diamnya, segala tutur kata dan perbuatannya adalah dari Allah semata-mata, ia merasa dirinya tidak berharga apa-apa di hadapan kebesaran Allah dan bahkan seluruh jiwa raga dan kepunyaannya telah ia serahkan kepada Allah ?” Mungkin pula kamu bertanya, “Bagaimana orang seperti ini diberi ganjaran, sedangkan ia tidak meminta apa-apa kepada Allah, ia menganggap dirinya tidak berharga apa-apa lagi dan ia adalah hamba Allah semata-mata ?” Jika kamu bertanya seperti itu, maka jawabannya adalah, “Memang, apa yang kamu katakan itu adalah benar. Tetapi, Allah hendak melimpahkan berkat dan kasih sayang-Nya kepada orang itu, dan Dia hendak memeliharanya dengan lemah lembut, penuh kasih sayang dan keridhaan. Orang itu telah melepaskan tangannya dari segala hal ihwal dirinya dan tidak mau meminta kesenangan di dunia ini, karena kesenangannya telah disediakan untuknya di akhirat kelak. Ia tidak mau manfaat yang ada pada dirinya itu dan juga tidak mau mengelakkan mudharat dari dirinya. Sehingga ia menjadi seperti bayi yang berada di pangkuan ibunya, yang tidak mengetahui apa-apa. Ia dipelihara dengan kasih sayang Allah dan diberi rizki oleh-Nya.

Apabila Allah telah melepaskan dari si hamba itu seluruh kecenderungannya terhadap dirinya, maka Allah akan membuat hati manusia cenderung kepadanya dan memenuhi hati mereka dengan kasih sayang untuk diberikan kepada si hamba itu, sehingga semua orang akan mengasihi dan menyenanginya. Allah akan memelihara hamba itu dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada sesuatupun yang dapat mempengaruhinya dan memberikan mudharat kepadanya. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda seperti yang difirmankan Allah di dalam Al Qur-an, “Sesungguhnya kawanku adalah Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia menolong orang-orang yang baik.”



AJARAN 52

Sesungguhnya Allah akan menguji suatu golongan dari orang-orang yang beriman yang menjadi wali-Nya, yang didekati-Nya dan yang diberi-Nya ilmu-ilmu kerohanian, supaya mereka berdoa dan memohon kepada-Nya, dan Dia suka menerima doa dan permohonan mereka. Apabila mereka berdoa dan memohon kepada Allah, maka Allah memperkenankan doa dan permohonan mereka, agar Allah menampakkan kemurahan dan keagungan-Nya kepada mereka. Kemurahan dan keagungan-Nya itu tampak ketika si mu’min memohon ke hadirat Allah dan mengharapkan agar doanya itu diterima. Kadang-kadang, doa dan permohonan itu diperkenankan-Nya tidak dengan segera, tetapi sesuai dengan takdir dan hukum Allah dan bukannya tidak diterima. Oleh karena itu, manakala si hamba ditimpa malapetaka, maka hendaklah ia bersabar dan memeriksa dirinya sendiri, apakah ia melakukan dosa dan maksiat, tidak mematuhi Allah, melakukan hal-hal yang haram dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi ataukah ia menyalahkan takdir. Sebab, ada kalanya ujian itu merupakan hukuman akibat ia melakukan dosa. Jika malapetaka itu dihindarkan oleh Allah, maka akan baiklah ia. Dan jika tidak, maka teruslah bersabar, memohon dan meratap kepada Allah dengan penuh khidmat. Sebab, mungkin saja ujian itu sengaja ditimpakan terus kepadanya, agar ia terus berdoa dan memohon kepada-Nya. Janganlah kamu menyalahkan Allah lantaran Dia lambat mengabulkan doamu.



AJARAN 53

Memohonlah kepada Allah supaya kita bisa ridha kepada takdir-Nya dan bisa tenggelam di dalam perbuatan Allah. Karena, di situlah terletak kedamaian dan surga dunia ini dan itulah pintu gerbang Allah yang agung serta cara mencapai kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman. Barangsiapa dikasihi oleh Allah, maka orang itu tidak akan disiksa atau dihukum di dunia dan di akhirat. Dalam merasa ridha kepada-Nya-lah dan dalam tenggelam di dalam perbuatan-Nya-lah terletak hubungan dengan Allah dan kebersatuan serta keterpaduan dengan-Nya.

Janganlah kamu terlena oleh kesenangan dan kemewahan dunia saja. Janganlah kamu hanya mengharapkan dan mengingat apa yang telah ditentukan untukmu saja atau apa yang tidak ditentukan untukmu saja. Jika kamu berusaha untuk mendapatkan apa yang tidak ditentukan untukmu, maka itu adalah tanda kebodohan dan kejahilanmu, dan itu merupakan hukuman berat yang ditimpakan kepadamu. Sebab, ‘diantara hukuman yang paling berat ialah berusaha mendapatkan apa yang tidak ditakdirkan untukmu’.

Jika kamu diberi, maka itu tidak lain hanyalah ketamakanmu, menyekutukan penyembahan-Nya, kasih sayang dan hakekat-Nya di dalam usaha mencarinya, karena kamu terlena dalam hal yang selain Allah. Barangsiapa bersungguh-sungguh mencari kesenangan dan kemewahan dunia, maka berarti ia tidak ikhlas dalam mencintai Allah dan bersahabat dengan-Nya. Oleh karena itu, jika ada orang yang mementingkan apa saja selain Allah, maka ia adalah seorang pembohong dan pendusta.

Begitu juga, jika ada orang yang menyembah Allah karena menghendaki sesuatu balasan dari-Nya, maka ia adalah orang yang tidak ikhlas. Penyembahan yang ikhlas adalah penyembahan karena Allah semata-mata dan mengakui ke-Tuhanan-Nya, yaitu Rububiyyah-Nya (sifat-sifat Allah yang mengontrol dan memelihara alam semesta). Orang yang ikhlas itu menyembah Allah karena ke-Tuhanan-Nya dan karena memang Dia sajalah yang harus disembah. Sudah sepatutnya ia patuh dan mengabdikan dirinya kepada Allah yang mengontrol segala-galanya, yang mengontrol dirinya, gerak dan diamnya dan bahkan apa saja. Hamba itu dan segala apa saja yang dimilikinya, sebenarnya, adalah kepunyaan Allah juga.Bagaimana tidak ? Seperti telah aku katakan bahwa, semua perbuatan penyembahan adalah karunia Allah dan limpahan kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia-lah yang memberi kekuatan kepada hamba-hamba itu untuk melakukan penyembahan tersebut dan Dia jugalah yang memberikan kekuasaan kepada mereka untuk melakukannya.

Bersyukur kepada-Nya adalah lebih baik daripada meminta balasan karena melakukan ibadah atau penyembahan itu.

Mengapa kamu ingin terlena dan bermati-matian memburu kesenangan dan kemewahan dunia saja, padahal kamu telah melihat dan mengetahui bahwa kebanyakan manusia yang mengejar kesenangan dan kemewahan dunia itu semakin bertambah ingkar, angkuh dan lupa kepada Allah yang memberikan karunia itu kepada mereka, bahkan mereka semakin bertambah loba dan tamak ? Mereka selalu memandang bahwa apa yang mereka miliki itu masih terlalu kecil dan tidak baik, sedangkan apa yang dimiliki oleh orang lain mereka anggap paling baik dan paling agung dan harus mereka rebut. Dalam peristiwa rebut dan mengejar itu, umur semakin bertambah tua, badan bertambah lemah, keringat menjadi kering, harta benda semakin berkurang, hati bertambah gelap dan dosa semakin bertumpuk. Maka keadaan hidupnya di dunia ini semakin bertambah hina dan buruk. Mereka lupa untuk bersyukur kepada Allah yang memberikan karunia itu kepada mereka. Mereka durhaka kepada Allah. Maka merugilah mereka di dunia dan di akhirat. Mereka tidak bisa mendapatkan bagian orang lain yang mereka kejar itu. Umur mereka di dunia ini sia-sia belaka dan di akhirat kelak lebih sia-sia lagi. Inilah orang-orang yang paling hina, bodoh dan tidak mempergunakan akal dan pikiran mereka.

Sekiranya mereka bersyukur dan ridha dengan apa yang ada pada mereka serta patuh kepada Allah, maka mereka tidak akan bersusah payah mengejar bagian mereka di dunia ini, mereka akan menjadi orang-orang Allah dan mereka akan menerima apa mereka minta dan mereka inginkan dari Allah. Semoga Allah menjadikan kita semua orang-orang yang ridha dengan takdir-Nya. Semoga kita semua masuk dalam majlis-Nya dan mendapatkan kesejahteraan, kekuatan dan kesehatan kerohanian. Dan semoga Allah meridhai kita sekalian.

AJARAN 54

Barangsiapa menghendaki akhirat, maka ia harus memalingkan dirinya dari dunia. Dan barangsiapa mengendaki Allah, maka ia harus memalingkan dirinya dari akhirat dan hendaklah ia membuang kehidupan keduniaannya karena Allah semat-mata. Selagi masih ada kehendak kepada keduniaan sepeti kelezatan dan kemewahan keduniaan, makan, minum, kawin, rumah, kendaraan, kekuasaan, pangkat, sanjungan, memperdalam ilmu-ilmu selain rukun Islam yang lima itu beserta hadits dan Al Qur’an, menginginkan kemiskinan dihilangkan darinya, ingin kaya, ingin bahagia, tidak ingin terkena bencana, menginginkan faidah dan sebagainya; terlintas dalam pikiran dan hati kamu, maka hal itu menunjukkan bahwa kamu belum menjadi orang Allah, karena semua itu hanyalah untuk kepentingan diri sendiri, kehendak jasmani dan kebahagiaan pikiran, serta semua itu adalah keduniaan belaka.

Semua itu harus dikikis habis dari hati. Pikiran harus dibersihkan dari ingatan-ingatan kepadanya dan tanamkanlah perasaan suka dan senang untuk mem-fana’-kan diri di dalam Allah, sekalipun tidak memiliki harta benda. Biarkan hati itu bersih dari segala sesuatu selain Allah, agar hidup bersih di dunia ini.

Apabila orang itu telah melaksanakan semua ini dengan sempurna, maka seluruh keadaan duka, sedih, resah dan gelisah akan hilang dari hati dan pikirannya. Kemudian, ia akan hidup baik dan sentosa serta dekat kepada Allah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Tidak mempedulikan dunia itu akan membawa kebahagiaan hati dan badan.”

Selagi di dalam hati itu masih ada kecenderungan kepada keduniaan, maka selagi itu pula masih ada kesedihan dan kedukaan. Hati itu akan merasa takut dan gelisah. Hati semacam itu akan terhalang dari Allah. Semua keadaan seperti ini tidak akan dapat dihilangkan, kecuali jika kecintaan terhadap dunia telah dikikis habis dari hati itu.

Setelah itu, janganlah mempedulikan kehidupan di akhirat seperti menghendaki surga, bidadari, derajat yang tinggi di akhirat, tempat tinggal yang paling baik, kendaraan surga, pakaian, minuman, makanan, hiasan dan keindahan di surga yang telah disediakan oleh Allah untuk orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu, dengan beribadah, janganlah kita mengharapkan ganjaran di surga kelak. Janganlah kita beribadah atau shalat karena kita mengharapkan ganjaran di akhirat kelak atau di dunia ini. Hendaklah kita shalat dan beribadah karena Allah semata-mata. Hanya dengan itu saja Allah akan memberikan ganjaran yang baik kepada kita. Dengan itu Allah akan membawa kita dekat kepada-Nya dengan penuh keridhaan dan kasih sayang-Nya. Allah telah menganugerahkan kebaikan dan ilmu tentang Dzat-Nya kepada para Rasul, para Nabi, para Wali dan orang-orang yang dikasihi-Nya. Dari hari ke hari, hamba itu akan bertambah maju. Kemudian, iapun dimasukkan ke alam akhirat dan mengalami “apa yang tidak pernah dilihat oleh mata kepala, apa yang tidak pernah didengar oleh telinga dan apa yang tidak pernah terlintas dalam pikiran”, yang semua itu berada di luar pengetahuan dan tidak dapat dibayangkan.



AJARAN 55

Kesenangan hidup ini dibuang sebanyak tiga kali. Pada mulanya, seorang hamba Allah berada dalam kegelapan kejahilannya dan dalam keadaan yang yang tidak tentu arah, ia bertindak sewenang-wenang dalam seluruh tindak-tanduk hidupnya dengan menuruti hawa nafsu kebinatangannya semata-mata, tanpa mau mengabdikan dirinya kepada Allah dan tanpa pegangan agama yang mengawal dirinya. Dalam keadaan seperti ini, Allah melihatnya dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, Allah mengutus seorang penasehat kepadanya dari orang-orang yang termasuk dalam golongannya yang juga seorang hamba Allah yang baik, dan satu penasehat lagi yang terdapat dalam dirinya sendiri. Kemudian, kedua penasehat ini mempengaruhi dirinya. Sehingga, hamba itu dapat melihat cacad yang ada pada dirinya seperti mengikuti hawa nafsu saja dan tidak mengikuti yang haq (benar). Dengan demikian, ia cenderung untuk mengikuti peraturan-peraturan atau hukum-hukum Allah di dalam semua tindak-tanduknya.

Kemudian hamba itu menjadi seorang Muslim yang berdiri tegak di dalam hukum-hukum Allah, keluar dari keadaannya yang jahil dan meninggalkan hal-hal yang haram dan meragukan. Hamba itu hanya mengambil perkara-perkara yang halal saja seperti makan, minum, bepergian, kawin dan lain sebagainya yang kesemuanya diperlukan untuk menjaga kesehatan dan kekuatan untuk patuh kepada Allah, asalkan ia menerima sepenuhnya apa yang diberikan Allah kepadanya dan tidak boleh melampaui batas serta tidak boleh keluar dari kehidupan dunia ini sebelum ia pergi mendapatkannya dan menyempurnakannya.

Maka berjalanlah ia di dalam hal-hal yang halal dalam seluruh keadaan hidupnya ini, sehingga ia mencapai peringkat kewalian (wilayah) dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang membenarkan hakekat dan orang-orang pilihan Allah yang menghendaki berdampingan dengan Allah SWT.

Setelah itu, iapun hanya berjalan di dalam perintah Allah saja, dan di dalam dirinya ia mendengar firman Allah yang maksudnya kurang lebih, “Buanglah dirimu sendiri dan marilah ke mari; buanglah kelezatan dan kemewahan mahluk, jika kamu menghendaki Allah. Buanglah dunia dan akhirat serta kosongkanlah diri dari segala-galanya. Merasa senanglah dengan ke-Esa-an Allah. Buanglah syirik dan bersikap ikhlaslah. Kemudian, masuklah ke dalam majlis ke-Tuhan-an dan mendekatlah kepada-Nya dengan bersujud dan menghinakan diri serta tidak lagi mempedulikan hal-hal keduniaan dan keakhiratan, atau mahluk atau kemewahan hidup.”

Apabila ia telah sampai kepada peringkat ini dan telah teguh di dalamnya, maka ia akan menerima pakaian kemuliaan dan kehormatan dari Allah, dan Allah akan melimpahkan nur dan berbagai karunia. Lalu dikatakan kepadanya, “Pergunakanlah rahmat dan nikmat-Ku, dan janganlah bersikap angkuh serta jangan pula membuang kehendak atau kemauan, karena menolak pemberian-Ku itu bisa memberatkan Aku dan memperkecil kekuasaan-Ku”. Kemudian, iapun diberi pakaian yang mulia dan terhormat itu, tanpa ia sendiri memainkan peranan di dalam perkara tersebut. Sebelum itu, ia diselimuti oleh kemauan hawa nafsunya sendiri saja, lalu dikatakanlah kepadanya, “Selimutilah dirimu dengan rahmat dan karunia Allah.”

Jadi, bagi dia, ada empat peringkat di dalam mencapai kebahagiaan dan bagiannya. Peringkat pertama, ialah kehendak hawa nafsu kebinatangan semata dan ini adalah diharamkan. Peringkat kedua, ialah menuruti hukum dan undang-undang Allah, dan ini diperbolehkan. Peringkat ketiga adalah peringkat-peringkat batin, dan ini adalah peringkat kewalian (wilayah) dan membuang hawa nafsu kebinatangan. Peringkat keempat adalah peringkat keridhaan dan karunia Illahi, di sini lenyaplah kehendak dan maksud diri. Inilah peringkat Badaliyyat. Hamba itu masuk ke dalam majlis ke-Tuhan-an Yang Maha Tinggi, ia berserah bulat kepada Allah dan menuruti perbuatan Allah semata-mata. Inilah peringkat di mana ia terus mendapatkan ilmu Allah dan mempunyai sifat-sifat yang baik. Seorang hamba tidak boleh dikatakan benar dan baik, jika ia belum mencapai peringkat ini.

Ini sesuai dengan firman Allah yang maksudnya lebih kurang, “Sesungguhnya kawanku ialah Allah yang menurunkan Al Qur’an dan Dia menolong orang-orang yang baik.”

Oleh karena itu, hamba yang telah mencapai peringkat keempat ini tidak lagi mempergunakan apa-apa yang memberikan manfaat kepada dirinya dan tidak pula menghindarkan apa-apa yang memberikan mudharat kepada dirinya. Ia seperti bayi di pangkuan ibunya atau seperti mayat di tagan orang-orang yang sedang memandikannya. Ia hanya bergantung kepada qadha’ dan qadar Allah semata-mata, tanpa memilih dan tanpa berusaha apa-apa. Ia kembali kepada Allah untuk melakukan apa saja karena-Nya. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi. Kadang-kadang Allah memberinya kesusahan dan kadang-kadang memberinya kesenangan. Kadang-kadang ia kaya dan kadang-kadang ia miskin papa. Ia tidak mau memilih atau menginginkan suatu posisi atau pertukaran posisi. Sebaliknya, ia ridha dan senang hati kepada apa saja yang diperbuat Allah terhadapnya. Inilah peringkat terakhir dalam pengembaraan kerohanian yang dicapai oleh para Abdal dan Aulia.



AJARAN 56

Apabila seorang hamba Allah telah mengusir segala mahluk, dirinya sendiri, kehendak dan keinginannya, baik mengenai keduniaan maupun keakhiratan dari dalam hatinya, maka ia tidak akan menghendaki apa-apa lagi selain Allah. Hatinya kosong dari apa saja selain Allah. Setelah itu, barulah ia sampai masuk ke dalam majlis Tuhan Yang Maha Tinggi. Ia mencintai Allah dan Allah mencintainya. Allah menjadikan seluruh mahluk mencintai hamba itu pula. Kecintaan hamba dalam peringkat ini hanya ditujukan kepada Allah dan ia menginginkan kedekatan kepada Allah. Allah akan membukakan pintu rahmat-Nya bagi hamba itu dan pintu itu tidak lagi tertutup baginya. Dengan demikian, lelaplah hamba itu di dalam Allah. Ia berniat karena Allah, ia bertindak karena Allah, dan ia diam serta bergerak karena Allah. Ringkasnya, ia adalah alat bagi Allah Yang Maha Besar. Hamba itu tidak melihat apa-apa lagi selain Allah. Kemudian, seakan-akan Allah menjanjikan sesuatu kepada hamba itu, tetapi janji itu tidak ditunaikan-Nya dan apa yang diharapkan oleh hamba itu dari janji tersebut tiada diperolehnya. Hal ini, karena kehendak, kemauan dan pencarian kemewahan itu telah hilang. Kemudian, seluruh diri hamba itu akan menjadi perbuatan dan objek Allah semata-mata. Oleh karena itu, di sini tidak terdapat perkara ‘dipenuhinya janji’ atau ‘tidak dipenuhinya janji’, karena perkara itu hanya terdapat pada orang yang masih mempunyai kemauan atau kehendak sendiri. Dalam keadaan ini, janji Allah bagi orang yang berada dalam peringkat ini bisa diibaratkan sebagai orang yang telah berniat hendak melakukan sesuatu perkara, lalu niat itu bertukar kepada yang lain, sehingga niat pertama tadi batal, sebagaimana Allah menukar wahyu yang membatalkan wahyu yang terdahulu, seperti firman Allah, “Apa saja ayat yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya. Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ?” (QS 2:106)

Nabi Muhammad SAW bersih dari kehendak dan kemauan sendiri, kecuali dalam peristiwa-peristiwa tertentu yang Allah firmankan di dalam Al Qur’an. Misalnya, dalam masalah tawanan perang ketika perang Badar, Allah berfirman, “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyyah, sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS 8:67-68)

Nabi adalah objek (alat) Allah. Allah tidak membiarkan Nabi tetap tinggal dalam satu keadaan, satu perkara dan satu janji saja, tetapi Allah menukarkan dan memindahkan beliau ke dalam takdir-Nya dan membiarkan beliau memegang tali takdir itu. Dengan demikian, Allah akan memindahkan beliau dari suatu keadaan ke keadaan atau tempat dalam takdir-Nya dan mengawasi beliau dengan firman-Nya, “Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ?” (QS 2:106)

Dengan perkataan lain, kamu berada dalam takdir atau qadha’ dan qadar Allah semata. Kamu berada di dalam lautan takdir Allah dan gelombang takdir itu menghempasmu ke sana ke mari. Oleh karena itu, posisi akhir kewalian adalah posisi awal ke-Nabi-an. Tidak ada lagi peringkat yang lebih tinggi daripada peringkat wilayah (kewalian) dan badaliyyah, kecuali peringkat ke-Nabi-an.



AJARAN 57

Semua keadaan pengalaman kerohanian itu adalah keadaan kontrol diri (self control) atau kesabaran, karena wali diperintahkan untuk menjaganya. Apa saja yang diperintahkan untuk dijaga itu memerlukan kesabaran. Menurut takdir Illahi, itu adalah keadaan yang menyenangkan, karena seseorang tidak diperintahkan untuk menjaga apa-apa kecuali dirinya sendiri yang berada di dalam takdir itu. Oleh karena itu, hendaknya seorang wali tidak berselisih faham takdir Illahi. Hendaklah ia tidak memusingkan apa saja yang ditimpakan atau ditakdirkan oleh Allah kepadanya, baik itu berupa kebaikan maupun berupa kejahatan. Hendaklah ia ridha dan senang hati terhadap apa saja yang diperbuat Allah. Keadaan pengalaman itu mempunyai batas-batas. Maka ia diperintahkan untuk menjaga batas-batas itu. Sedangkan perbuatan Allah, yaitu takdir atau qadha’ dan qadar-Nya, tidak mempunyai batas-batas yang harus dijaga.

Tanda yang menunjukkan bahwa hamba itu telah mencapai posisi takdir dan perbuatan Allah serta kesenangan adalah bahwa ia diperintahkan supaya memohon kemewahan setelah ia diperintahkan supaya membuang dan menjauhkannya. Karena apabila hatinya telah kosong dari apa saja selain Allah, maka iapun akan diberi kesenangan dan ia diperintahkan supaya memohon apa-apa yang telah ditetapkan Allah untuknya. Permohonannya itu pasti dikabulkan oleh Allah, agar kedudukannya, keridhaan Allah terhadapnya dan perkenan Allah terhadap doa dan permohonannya menjadi nyata dan berdiri dengan sebenarnya. Menggunakan mulut untuk meminta sesuatu kenikmatan dan karunia Allah itu menunjukkan kesenangannya terhadap apa yang telah diterimanya, setelah bersabar beberapa lama, setelah keluar dari semua keadaan pengalaman kerohanian dan pengembaraannya dan setelah menahan diri berada di dalam batasan.

Jika ada pertanyaan atau pembahasan yang menyatakan bahwa tidak bersungguh-sungguhnya si hamba di dalam menjaga dan mengikuti hukum-hukum atau syari’at itu akan membawa hamba itu ke lembah atsim (tidak percaya adanya Allah) dan keluar dari Islam atau tidak mematuhi firman-Nya ini, “… dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS 15:99), maka aku menjawab bahwa ini bukan berarti bahwa hamba itu tidak akan menjadi atsim (orang yang tidak percaya kepada adanya Allah) atau keluar dari Islam atau tidak mematuhi firman-Nya itu, dan ini juga bukan berarti membawa hamba tadi ke lembah yang tidak diinginkan itu, karena Allah Maha Pemurah dan tidak akan membiarkan Wali-Nya terjerumus ke dalam lembah yang hina itu. Hamba yang dekat kepada-Nya itu sangat disayangi-Nya dan tidak akan dibiarkan jatuh cacad di dalam syari’at dan agama-Nya, tetapi hamba itu tetap berada dalam pemeliharaan Allah. Allah tidak akan membiarkannya ditimpa dosa, tetapi akan tetap memeliharanya berada dalam batas hukum dan undang-undang yang dibuat-Nya, tanpa hamba itu bersusah payah atau sadar melakukan semua itu, karena ia terlalu dekat kepada Allah Yang Maha Agung. Allah berfirman yang maksudnya kurang lebih, “Demikianlah, Kami hindarkan ia dari dosa dan maksiat. Sesungguhnya ia termasuk dalam hamba-hamba-Ku yang ikhlas.” “Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS 15:42) “… tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari doa).” (QS 37:40)

Wahai manusia, orang-orang seperti itu ditinggikan derajatnya oleh Allah dan mereka adalah objek Allah. Mereka dekat kepada Allah dan berada dalam rahmat kasih sayang pemeliharaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bagaimana bisa iblis akan mendekati mereka ? Bagaimana bisa perkara-perkara dosa dan maksiat mencacadi mereka ? Mengapa kamu lari dari rahmat Allah dan mengabdikan dirimu kepada kedudukan (derajat) ? Kamu telah mengatakan sesuatu yang tidak baik.

Semoga tuduhan yang tidak sopan itu dibinasakan oleh Allah dengan kekuasaan, rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah memelihara kita berada dalam kesempurnaan serta memelihara kita dari dilanda dosa dan noda. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberkati kita dan memelihara kita dengan kasih sayang-Nya yang tidak terhingga.



AJARAN 58

Tutup mata hatimu dari melihat segala sesuatu selain Allah. Selagi mata hatimu masih melihat semua itu, maka karunia Allah dan kedekatan kepada-Nya tidak akan terbuka bagimu. Oleh karena itu, tutuplah semua itu dengan kesadaran bertauhid kepada Allah, mem-fana’-kan diri kamu dan dengan ilmu kamu. Setelah itu, akan terbukalah mata hatimu untuk melihat Allah Yang Maha Besar. Kamu akan melihat-Nya dengan mata hatimu, apabila Dia datang dengan pancaran cahaya hatimu, dengan keimanan dan kepercayaanmu yang teguh. Ketika itu, tampaklah satu nur dari hatimu lalu memancar keluar, ibarat cahaya lampu dari dalam rumah yang memancar lewat sela-sela dan celah-celah dinding rumah itu lalu menerangi malam yang gelap gulita. Maka, diri dan anggota badan kamu akan merasa senang terhadap janji dan karunia-Nya, bukan terhadap janji dan hadiah yang datang langsung dari selain Dia.

Oleh karena itu, sayangilah dirimu dan janganlah engkau dholimi. Janganlah engkau campakkan dirimu ke dalam kegelapan kebodohan dan kejahilanmu, agar engkau tidak melihat segi-segi mahluk dan mengagumi kekuasaan dan kepintarannya, sehingga terpedaya dan bergantung padanya. Jika kamu hanya melihat segi-segi mahluk saja, maka semua segi itu akan tertutup bagimu dan segi karunia Allah tidak akan terbuka untukmu, kemudian kamu akan mendapatkan hukuman, karena kamu telah bersikap syirik.

Apabila kamu menyadari ke-Esa-an Allah, melihat karunia-Nya, berharap kepada-Nya, tidak berharap kepada yang lain dan menutup mata hatimu terhadap yang lain selain Dia, maka Allah akan mendekatimu dan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Kamu akan diberi rizki, makan dan minum, layanan pengobatan, kebahagiaan, kesentosaan dan pertolongan serta menjadikan kamu sebagai pemerintah. Kamu akan dihilangkan dari mahluk dan dari diri kamu sendiri. Setelah itu, kamu tidak akan lagi memandang kaya atau miskin.



AJARAN 59

Kamu berada dalam salah satu di antara dua keadaan: menderita dan sentosa. Jika kamu menderita, maka hendaklah kamu bersabar, walaupun dengan usahamu sendiri, ini adalah peringkat yang paling tinggi. Kemudian hendaklah kamu memohon supaya ridha dengan qadha’ dan qadar Allah serta lelap di dalam qadha’ dan qadar itu. Ini sesuai dengan para Abdal, orang-orang yang memiliki ilmu kebatinan dan orang-orang yang mengetahui Allah SWT.

Jika kamu berada dalam kesentosaan, maka hendaklah kamu memohon supaya kamu dapat bersyukur. Syukur ini dapat dilakukan dengan lidah, dengan hati atau dengan anggota badan.

Bersyukur dengan lidah adalah menyadarkan diri kita bahwa karunia itu datang dari Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan manusia, diri kamu, usaha, kekuasaan, gerak dan daya kamu atau orang lain, walaupun karunia itu sampai kepadamu melalui diri kamu atau orang lain. Diri kamu dan orang lain itu hanyalah merupakan alat Tuhan saja. Pada hakekatnya, yang memberi, yang menggerakkan, yang mencipta, pelaku dan sumber karunia itu adalah Allah semata. Pemberi, pencipta dan pelaku itu adalah Allah. Hal ini sama dengan orang yang memandang baik terhadap tuan yang memberi hadiah dan bukan terhadap hamba pembawa hadiah tersebut. Firman Allah, “Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS 30:7)

Firman ini ditujukan kepada orang-orang yang bersikap salah di dalam mensyukuri karunia. Mereka hanya dapat melihat yang lahir saja dan tidak melihat apa yang tersembunyi di balik itu. Inilah orang-orang yang jahil dan terbalik otaknya. Lain halnya dengan orang-orang yang berakal sempurna, mereka dapat melihat ujung setiap perkara.

Bersyukur dengan hati adalah mempercayai dan meyakini dengan sesungguhnya bahwa kamu dan apa saja yang kamu miliki seperti kebaikanmu dan kesenanganmu, lahir dan batinmu serta gerak dan diammu ialah datang dari Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah.

Syukur kamu dengan lisan akan menyatakan apa yang tersembunyi di dalam hatimu, sebagaimana firman Allah, “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16:53). Firman-Nya lagi, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni’mat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS 31:20)

Dari semua ayat tersebut di atas, dapatlah diketahui bahwa menurut pandangan seorang Muslim tidak ada yang memberi sesuatu selain Allah.

Bersyukur dengan menggunakan anggota badan ialah menggunakan anggota badan itu hanya untuk beribadah kepada Allah dan mematuhi perintah-Nya. Kamu dilarang melakukan perintah mahluk, jika perintah itu bertentangan dengan perintah Allah atau penentang Allah. Termasuk ke dalam mahluk ini ialah diri kamu sendiri, kehendakmu dan lain-lain. Ta’atlah kepada Allah yang semua mahluk takluk kepada-Nya. Jadikanlah Dia pemimpinmu. Jadikanlah selain Allah sebagai perkara sekunder atau perkara yang dikemudiankan setelah Allah. Jika kamu lebih mementingkan atau mendahulukan yang lain selain Allah, maka kamu telah menyeleweng dari jalan yang lurus dan benar, kamu men-dholim-i diri kamu sendiri, kamu menjalankan perintah yang bukan didatangkan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan kamu menjadi pengikut jalan yang bukan jalan orang-orang yang Allah beri nikmat.

Allah berfirman, “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dholim.” (QS 5:45). Dan Allah berfirman pula, “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (QS 5:47)

Mereka yang dholim dan melanggar batas-batas Allah akan menempati neraka yang bahan apinya terdiri atas manusia dan batu. Sekiranya kamu tidak tahan merasakan demam walau sehari saja di dunia ini atau terkena panas api walau sedikit saja di dunia ini, maka bagaimana mungkin kamu akan sanggup tinggal di dalam api neraka ? Oleh karena itu, larilah segera dan mintalah perlindungan kepada Allah.

Berhati-hatilah terhadap perkara-perkara tersebut di atas, karena selama hidupmu kamu tidak akan dapat bebas dari batas-batas Allah, baik kamu berada dalam dukacita maupun dalam sukacita. Bersabarlah jika ditimpa dukacita dan bersyukurlah juka menerima sukacita. Janganlah kamu marah kepada orang lain, apabila kamu ditimpa musibah dan jangan pula kamu menyalahkan Allah serta meragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya untuk kamu di dunia dan di akhirat. Janganlah kamu berharap kepada orang lain untuk melepaskan kamu dari malapetaka, karena hal itu akan menjerumuskan kamu ke lembah syirik.

Segala sesuatu itu adalah milik Allah dan tidak ada yang turut memilikinya bersama Dia. Tidak ada yang memberikan mudharat dan manfaat, menimbulkan bencana atau kedamaian dan membuat sakit atau sehat, melainkan Allah jua. Allah menjadikan segalanya. Oleh karena itu, janganlah kamu terpengaruh oleh mahluk, karena mereka itu tidak mempunyai daya dan upaya. Hendaklah kamu selalu bersabar, ridha, menyesuaikan dirimu dengan Allah dan tenggelamkan dirimu ke dalam lautan perbuatan-Nya.

Jika kamu tidak diberi seluruh berkat dan karunia ini, maka kamu perlu memohon kepada Allah dengan merendahkan dirimu dan ikhlas. Akuilah dosa dan kesalahanmu serta mintalah ampun kepada-Nya. Akuilah ke-tauhid-an dan karunia Allah. Nyatakanlah bahwa kamu tidak menyekutukan apa-apa dengan Allah Yang Maha Esa dan ridhalah dengan-Nya, sehingga suratan takdir dan malapetaka itu berlalu dan dihindarkan dari kamu. Setelah tiba saat bencana itu habis, maka datanglah kesenangan dan kesentosaanm sebagaimana terjadi kepada Nabi Ayyub as, seperti hilangnya gelap malam dan terbitnya terang siang atau seperti berakhirnya musim dingin dan bermulanya musim panas. Sebab, segala sesuatu itu mempunyai batas, waktu dan matinya. Segala sesuatu itu mempunyai lawannya. Oleh karena itu, kesabaran adalah merupakan kunci, awal dan akhir serta jaminan kebajikan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Pertalian antara sabar dengan iman itu bagaikan kepala dengan badan.”. Dan beliau bersabda pula, “Sabar itu adalah keseluruhan iman.”

Kadang-kadang syukur itu datang melalui rasa senang menikmati karunia Illahi yang dilimpahkan kepada kamu. Maka, syukur kamu itu adalah menikmati karunia-Nya di dalam keadaan fana’-nya diri kamu dan hilangnya kemauan serta keinginan kamu untuk menjaga dan memelihara batas-batas hukum. Inilah titik atau stasiun kemajuan terjauh yang bisa dicapai. Ambillah contoh teladan dari apa yang telah kukatakan kepadamu, niscaya jika Allah menghendaki, kamu akan mendapatkan bimbingan Allah Yang Maha Mulia.



AJARAN 60

Awal kehidupan kerohanian (pengembaraan kerohanian) ialah keluar dari kehendak hawa nafsu, memasuki jalan hukum (syari’at) lalu masuk ke dalam takdir, dan setelah itu kembali masuk ke dalam kehendak nafsu, tetapi masih berada di dalam lingkaran hukum. Dengan demikian, kamu dapat keluar untuk memenuhi nafsumu di dalam hal makanan, minuman, pakaian, perkawinan, perumahan, kecenderungan dan kebebasan serta masuk ke dalam hukum-hukum (syari’at) Allah. Hendaklah kamu mengikuti Al Qur’an dan Al Hadits.

Allah SWT berfirman, “Apa saja harta rampasan (fai-I) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta-harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS 59:7). Allah juga berfirman, “Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 3:31)

Kemudian kamu akan dikosongkan dari kehendak hawa nafsumu, dirimu dan ketidakpatuhanmu serta lahir dan batinmu; tidak ada lagi yang tinggal di dalam dirimu selain daripada keesaan Allah dan tidak ada yang tinggal di lahir kamu selain daripada ketaatan kepada Allah di dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Ini akan melekat pada kamu, sehingga menjadi pakaian kamu dan kekal pada kamu. Kemudian, segala tindak-tanduk, perangai, tingkah-laku dan bahkan diam dan gerak kamu di dalam seluruh keadaan, siang dan malam, baik di dalam perjalanan maupun bukan, di dalam kesusahan maupun di dalam kesenangang, di dalam keadaan sehat maupun di dalam keadaan sakit dan bahkan di dalam semua keadaan dan waktu adalah di dalam kepatuhan dan ketaatan kepada Allah semata-mata.

Setelah itu, kamu akan dibawa menuju lautan takdir dan dikontrol oleh takdir itu. Kamu akan terlepas dari usaha, daya dan upaya serta kekuasaan dan kekuatan. Kamu akan mendapatkan bagian-bagianmu yang kalau dituliskan dengan tinta, maka tinta itu akan kering dan penapun akan tumpul, yang tidak dapat diceritakan. Ilmu tentang itu telah berlalu. Bagian-bagianmu akan diberikan kepadamu. Kamu akan diberi perlindungan dan keselamatan di dalam batas-batas hukum Allah, dan kamu akan dikekalkan di dalamnya. Kamu akan bersesuaian dengan Allah. Kamu akan senantiasa berada dalam peraturan dan hukum-hukum Allah dan Dia akan meringankan perasaan beratmu di dalam menjalankan perintah-perintah Allah.

Allah berfirman, “Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi (Kitab Allah).” (QS 15:90). Firman-Nya pula, “… demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS 12:24)

Perlindungan Allah akan menemani kamu, sehingga kamu menemui Tuhanmu dengan rahmat-Nya. Itulah bagian yang telah ditentukan untuk kamu, dan itu adalah bagian yang ditahan untuk sampai kepadamu ketika kamu mengembara di padang pasir kehendak hawa nafsumu, karena hal itu akan memberatkan kamu. Jadi, kamu tidak diberati lagi. Jika tidak ditahan, tentulah kamu akan menanggung beban yang memberatkan dan meletihkan kamu serta menyelewengkan kamu dari maksud dan tujuanmu. Dengan ini, kamu akan sampai ke peringkat fana’. Inilah kedekatanmu dengan Allah dan ilmu-Nya. Kamu mendapatkan limpahan rahasia dan berbagai ilmu. Dan kamu sampai ke lautan nur (cahaya) dan bahaya tidak akan dapat membahayakan nur itu lagi.

Keadaan kebiasaan manusia itu akan tetap ada sampai nyawa berpisah dengan badan. Hal ini dimaksudkan agar ia dapat menikmati sepenuhnya bagian-bagian yang telah ditentukan untuknya. Jika keadaan kebiasaan itu telah lenyap dari manusia, maka manusia itu akan masuk dalam golongan para malaikat. Jika demikian keadaannya, maka sistem yang telah ditentukan itu akan kacau dan kebijaksanaan Allah pun akan tercacadi. Karenanya, keadaan kemanusiaan itu akan tetap tinggal pada kamu, agar kamu dapat menikmati sepenuhnya apa yang telah ditetapkan dan ditentukan untukmu. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ada tiga perkara dari dunia ini yang aku sukai: wangi-wangian, wanita dan kesejukan mataku di dalam shalat.”

Apabila Nabi Muhammad SAW telah lenyap dari dunia dan seisinya ini serta bagian-bagian yang ditahan untuk sampai kepadanya semasa beliau berada dalam pengembaraannya menuju Allah dikembalikan kepadanya, maka semua itu akan diambil-Nya, agar beliau bersesuaian dengan Allah, ridha terhadap perbuatan-Nya, taat kepada perintah-Nya, sifat-sifatnya menjadi suci, rahmatnya menyeluruh dan keberkatannya bersama dengan para Aulia dan para Nabi. Demikian pula para Wali itu berada di dalam keadaan ini. Bagian dan kesenangan dikaruniakan kembali kepadanya setelah ia fana’, dan semua ini masih berada dalam batas-batas hukum Allah. Menurut istilah orang-orang sufi, ini adalah kembali dari suatu destinasi (tempat yang dituju) menuju tempat semula.



AJARAN 61

Setiap mu’min harus mengadakan pemeriksaan dan penelitian terlebih dahulu serta tidak boleh tergesa-gesa ketika bagian-bagiannya sampai kepadanya dan ia terima, sampai datang perintah hukum yang menyatakan bahwa bagian itu dibolehkan untuknya dan ilmu Allah yang menghalalkan dan membenarkan bahwa bagian itu adalah untuknya. Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang mu’min itu berwaspada, sedangkan orang munafik itu terus menerkam apa saja yang datang kepadanya.” Beliau juga bersabda, “Orang mu’min itu tidak terburu-buru.” “Buanglah segala sesuatu yang menimbukan keraguan di dalam hatimu dan terimalah segala sesuatu yang tidak meragukan.”, demikian sambung beliau.

Jadi, orang mu’min itu selalu berhati-hati terhadap semua perkara seperti makanan, minuman, pakaian, perkawinan dan apa saja yang sampai kepadanya. Ia tidak akan asal menerima saja (nerimo), kecuali jika ia telah yakin bahwa perkara itu halal. Ini di dalam peringkat mu’min biasa. Sedangkan dalam peringkat wilayah (kewalian), maka terlebih dahulu ia mendengarkan perintah hatinya; jika hatinya itu menghalalkan, maka barulah ia menerimanya. Jika dalam peringkat Abdal dan Ghauts, maka ia menentukannya dengan ilmu Allah. Dan jika dalam peringkat fana’, peringkat terakhir, maka ia mengikuti perbuatan Allah, dan ini adalah takdir itu sendiri.

Masih ada satu peringkat keadaan lagi, di mana seorang menerima apa saja yang datang kepadanya selagi masih mengikuti hukum-hukum syari’at atau perintah hati atau ilmu Allah. Tetapi, jika ketiga perkara tersebut melarangnya, maka apa yang dilarangnya itu tidak akan diterima olehnya. Keadaan peringkat ini bertentangan dengan keadaan peringkat pertama, di mana kewaspadaan dan kehati-hatian diperlukan, sedangkan peringkat ini hanya memerlukan penerimaan saja.

Masih ada peringkat lain lagi yang lebih atas daripada peringkat tadi. Dalam peringkatini, seseorang hanya menerima saja dan mempergunakannya tanpa mengikuti hukum syari’at, perintah hati atau ilmu Allah. Inilah hakekat fana’. Dalam peringkat ini, si mu’min berada dalam pemeliharaan Allah semata-mata dan ia tidak lagi dijamah oleh malapetaka, iblis, dosa dan noda, atau keluar dari hukum-hukum syari’at. Firman Allah, “… demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS 12:24)

Dengan demikian, si hamba tadi terpelihara oleh Allah dari melanggar batas-batas hukum. Segala hal ihwalnya dipelihara oleh Allah. Allah memberikan kekuasaan kepadanya untuk mendapatkan segala kebaikan. Jadi, apa saja yang datang kepadanya adalah terlepas dari kesusahan, bencana dan kesulitan di dunia dan di akhirat serta ia benar-benar bersesuaian dengan keridhaan, tujuan dan perbuatan Allah SWT. Tidak ada peringkat yang lebih tinggi lagi dari ini. Inilah tujuan. Peringkat ini dimiliki oleh ketua para wali yang besar, yang mereka itu adalah orang-orang suci dan memiliki rahasia-rahasia Allah, yaitu orang-orang yang sampai ke gerbang keadaan yang dimiliki oleh para Nabi. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka.



AJARAN 62

Alangkah mengherankan bila kamu selalu mengatakan bahwa si Anu itu dekat kepada Allah, tetapi si Anu itu jauh dari Allah; bahwa si Anu itu diberi karunia, sedangkan si Anu itu tidak diberi; bahwa si Anu itu dikayakan, sedangkan si Anu itu dimiskinkan; bahwa si Anu itu disehatkan, tetapi si Anu itu disakitkan; bahwa si Anu itu dimuliakan, tetapi si Anu itu dihinakan; bahwa si Anu itu dipuji, sedangkan si Anu itu dicaci; dan bahwa si Anu itu dibenarkan, sedangkan si Anu itu disalahkan.

Tidakkah kamu mengetahui bahwa Dia itu Satu dan bahwa Yang Satu itu menyukai kesatuan di dalam perkara cinta dan menyayangi orang yang cintanya hanya satu, yaitu kepada Dia ?

Jika kamu dibawa untuk dekat kepada-Nya melalui selain Dia, maka cintamu kepada-Nya itu akan ternoda dan tidak lagi satu. Sebab, kadangkala terlintas di dalam pikiranmu bahwa kamu bisa mendapatkan karunia dan keberkatan itu lantaran melalui selain Dia itu. Akhirnya, cintamu kepada Allah akan tercacad. Allah Yang Maha Besar cemburu kepadamu, karena kamu telah menyekutukan cintamu kepada-Nya dengan cintamu kepada yang selain Dia. Oleh karena itu, Dia menahan tangan orang lain untuk menolongmu, menahan lidah mereka untuk memuji kamu dan menahan kaki mereka untuk melangkah menuju kamu, agar dengan demikian mereka tidak dapat memalingkan kamu dari Dia sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hati itu telah dijadikan sedemikian rupa, sehingga seseorang itu terpaksa mencintai orang yang memberi kebaikan dan membenci orang yang memberi mudharat kepada dirinya.”

Jadi, Allah menahan seseorang untuk berbuat baik terhadapmu sampai kamu menyadari keesaan-Nya dan mencintai-Nya dengan sepenuh hati, tanpa membagi kecintaan, baik secara lahir maupun batin dan baik ketika bergerak maupun ketika diam, sehingga kamu menyadari bahwa tidak ada kebaikan yang datang, kecuali kebaikan yang datang dari Allah, kamu menyadari bahwa segala kebaikan dan kejahatan itu semuanya datang dari Allah SWT dan kamu terus hilang dari mahluk dan diri kamu sendiri, dari kehendak dan keinginan kamu sendiri, dan apa saja selain Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Setelah itu, barulah tangan mereka akan dibukakan untuk kamu dengan kemurahan dan pemberian mereka, dan lidah mereka akan memuji kamu. Kemudian, kamu akan dipelihara dengan sebaik-baiknya di sepanjang masa, baik di dalam dunia ini maupun di akhirat kelak.

Oleh karena itu, janganlah kamu bersikap kurang sopan. Lihatlah orang melihat kamu. Jagalah orang yang menjaga kamu. Cintailah orang yang mencintai kamu. Jawablah orang yang memanggilmu. Peganglah tangan orang yang memegangmu dari jatuh tersungkur, yang membawamu keluar dari gelapnya kejahilan, yang menyelamatkanmu dari kebinasaan, yang membersihkan kotoran-kotoranmu, yang mengeluarkanmu dari kehinaan, yang melepaskanmu dari cengkeraman hawa nafsu iblismu dan yang mengasingkan dirimu dari teman-temanmu yang jahil dan menghalangimu untuk menuju Allah.

Berapa lamakah kamu akan tetap tinggal bersama hawa nafsu kebinatanganmu, bersama mahluk, bersama kehendak dan keinginanmu, bersama keingkaranmu, bersama kehidupan dunia dan akhiratmu serta bersama apa saja selain Allah ?

Mengapa kamu menjauh dari Pencipta mahluk dan yang mewujudkan segalanya, Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, tempat kembali dan tempat bermula segala sesuatu, yang memiliki hati dan kedamaian jiwa, yang meringankan beban, yang memberi karunia dan yang memberi rahmat dan ni’mat ?



AJARAN 63

Pernah di dalam mimpiku seakan-akan aku berkata, “Wahai kamu yang menyekutukan Tuhanmu dengan dirimu sendiri di dalam pikiranmu, dengan mahluk-Nya di dalam perbuatan lahirmu, dan dengan keinginanmu di dalam perbuatanmu.” Mendengar seruanku itu, orang yang berada di sisiku bertanya, “Apa yang terjadi ?” Jawabku, “Ini adalah sejenis ilmu kerohanian.”



AJARAN 64

Pada suatu hari, suatu perkara telah mengacaukan pikiranku. Batinku terasa berat menanggung beban itu. Kemudian aku memohon kesenangan dan kesentosaan serta jalan jeluar. Aku ditanya tentang apa yang aku inginkan. Aku berkata, “Aku menginginkan kematian yang tidak ada kehidupan di dalamnya dan suatu kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya.”

Kemudian, akupun ditanya lagi tentang jenis kematian yang tidak ada kehidupan di dalamnya dan jenis kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya. Aku menjawab, “Kematian yang tidak ada kehidupan di dalamnya ialah kematianku dari jenisku sendiri supaya aku tidak melihatnya, baik ia memberikan manfaat maupun memberikan mudharat, dan kematian dari diriku sendiri, dari keinginanku, tujuanku dan harapanku dalam hal keduniaan dan keakhiratan, sehingga aku tidak berada dalam semua ini. Sedangkan kehidupan yang tidak ada kematian di dalamnya ialah kehidupanku dengan perbuatan Tuhanku di dalam keadaanku yang tidak ada wujud di dalamnya, dan kematianku di dalamnya adalah wujudku dengannya. Oleh karena aku telah mengetahui hal ini, maka ini menjadi tujuanku yang paling berharga sekali.”



AJARAN 65

Mengapa kamu marah kepada Allah lantaran doamu lambat diterima-Nya ? Kamu mengatakan bahwa kamu telah dilarang meminta kepada orang dan disuruh meminta kepada Allah saja. Kamu memohon kepada-Nya, tetapi Dia tidak memperkenankan permohonanmu.

Inilah jawabanku untukmu, “Apakah kamu seorang yang merdeka atau seorang budak ? Jika kamu mengatakan bahwa kamu itu seorang yang merdeka, maka itu menandakan bahwa kamu adalah seorang kafir. Tetapi, jika kamu mengatakan bahwa kamu adalah budak, maka aku akan bertanya padamu, ‘Apakah kamu akan menyalahkan tuanmu sendiri lantaran ia terlambat memenuhi permintaanmu, ragu tentang kebijaksanaan dan rahmatnya kepadamu dan kepada seluruh mahluk dan ragu tentang ilmunya yang mengetahui segala perkara ?

Atau, apakah kamu tidak menyalahkan Allah ? Jika kamu tidak menyalahkan-Nya dan mengakui kebijaksanaan-Nya di dalam melambatkan penerimaan doamu itu, maka wajiblah kamu bersyukur kepada-Nya, karena Dia telah membuat peraturan yang sebaik-baiknya untukmu, memberikan faidah kepadamu dan menjauhkanmu dari mudharat. Jika kamu menyalahkan Tuhan dalam hal ini, maka kamu adalah seorang yang kafir. Sebab, dengan menyalahkan-Nya itu berarti kamu menganggap Tuhan tidak adil, padahal Dia Maha Adil dan sekali-kali tidak dholim terhadap hamba-hamba-Nya. Mustahil jika Dia itu tidak adil. Maha Suci Dia dari sifat-sifat yang tercela. Ketahuilah, bahwa Dia itu adalah Tuhanmu yang memiliki segalanya. Dia mengawasi segalanya. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, istilah tidak adil dan dholim tidak berlaku bagi Allah. Orang yang dholim itu adalah orang yang mengganggu kepunyaan orang lain tanpa seijinnya. Mungkin kamu sendiri yang dholim, bukan Allah yang dholim.

Maka, janganlah kamu menyalahkan-Nya dalam perbuatan-Nya yang tampak melalui kamu, walaupun itu tidak kamu sukai dan tidak sesuai dengan kehendakmu, dan meskipun pada lahirnya membahayakan kamu. Kamu wajib bersyukur, bersabar dan ridha dengan Allah. Janganlah kamu merasa kesal dan menyalahkan Dia, karena mungkin hal itu akan memalingkan kamu dari jalan Allah. Kamu wajib selalu melakukan shalat dengan ikhlas, berbaik sangka terhadap Allah, percaya kepada janji-janji-Nya, men-tauhid-kan-Nya, menjauhi larangan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan bersikap seperti orang mati ketika Dia memanifestasikan takdir dan perbuatan-Nya terhadapmu.

Jika hendak menyalahkan juga dan terpaksa berbuat demikian, maka salahkanlah dirimu sendiri yang berisikan iblis dan ingkar kepada Allah Yang Maha Kuasa. Lebih baik kamu mengatakan bahwa diri kamu yang dholim dan bukan Allah yang dholim. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Janganlah kamu benar-benar menuruti dirimu sendiri dan ridha dengan perbuatan dan perkataannya dalam semua keadaan, karena ia adalah musuh Allah dan musuh kamu. Ia adalah sahabat musuh Allah dan musuh kamu, yaitu setan yang dilaknat.

Takutlah kamu kepada Allah. Berwaspadalah dan berhati-hatilah. Larilah dari musuhmu ! Salahkanlah dirimu sendiri. Katakanlah bahwa dirimulah yang dholim itu. Dan katakanlah kepadanya ayat Allah ini, “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ?” (QS 4:147) dan ayat ini, “(Akan dikatakan kepadanya), “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya.”” (QS 22:10) dan ayat ini lagi, “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dholim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dholim kepada diri mereka sendiri.” (QS 10:44).

Bacakanlah kepada dirimu ayat-ayat ini dan ayat-ayat lainnya yang berkenaan dengan hal ini, dan juga hadits Nabi SAW. Perangilah dirimu sendiri karena Allah. Lawanlah dan bunuhlah dirimu itu. Jadilah tentara Allah dan panglima perang-Nya. Karena diri itu adalah musuh Allah yang paling besar di antara musuh-musuh-Nya.

Allah berfirman kepada Daud yang kurang lebih maksudnya ialah, “Hai Daud, buanglah hawa nafsumu, karena tidak ada yang melawan-Ku dalam kepunyaan-Ku, melainkan hawa nafsu manusia.”



AJARAN 66

Janganlah berkata, “Aku tidak meminta apa-apa kepada Allah. Sebab, jika perkara yang aku minta itu telah ditentukan untukku, maka ia pasti datang kepadaku, baik aku memintanya maupun tidak. Jika perkara itu tidak ditetapkan untukku, maka perkara itu tidak akan aku dapatkan, sekalipun aku meminta kepada-Nya.”

Jangan ! Jangan berkata demikian. Hendaklah kamu berdoa dan memohon kepada Allah apa saja yang kamu kehendaki dan kamu perlukan, berupa perkara-perkara yang baik di dunia ini dan di akhirat kelak. Tetapi, janganlah kamu meminta perkara yang haram dan membahayakan kamu. Hal ini karena Allah telah menyuruh kita untuk memohon kepada-Nya.

Allah berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan doamu.” (QS 40:60). Dan firman-Nya, “… dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya …” (QS 4:32).

Nabi Muhammad SAW, pernah bersabda, “Mohonlah kepada Allah dengan sepenuh keyakinanmu bahwa permohonanmu itu akan diterima oleh Allah.” Beliau juga bersabda, “Berdoalah kepada Allah dengan menengadahkan telapak tanganmu.” Masih banyak lagi sabda-sabda beliau yang senada dengan itu.

Janganlah kamu berkata, “Sesungguhnya aku telah memohon kepada Allah, namun Dia tidak memperkenankan permohonanku. Maka, sekarang aku tidak mau lagi memohon kepada-Nya.”

Janganlah berkata demikian. Teruslah berdoa kepada Allah. Jika suatu perkara itu telah ditetapkan untukmu, maka perkara itu akan kamu terima setelah kamu meminta kepada-Nya. Ini akan memperkokoh keimananmu dan keyakinanmu kepada Allah serta kesadaranmu akan keesaan-Nya. Ini juga akan melatih kamu untuk senantiasa memohon kepada Allah dan bukannya kepada selain Dia di dalam setiap waktu dan keadaan, serta memperkuat kepercayaanmu bahwa permohonanmu itu akan dikabulkan oleh Allah Yang Maha Pemurah.

Jika suatu perkara itu tidak diperuntukkan kepadamu, maka Allah akan memberikan perasaan cukup (Self-sufficiency) kepadamu di dalam perkara itu dan memberikan rasa gembira berada di sisi Allah Yang Maha Gagah lagi Maha Perkasa, meskipun kamu miskin. Jika kamu berada dalam keadaan kemiskinan dan sakit, maka Allah akan membuatmu gembira dengan keadaan itu. Jika kamu berhutang, maka Allah akan melunakkan hati orang yang memberikan hutang kepadamu itu, sehingga ia tidak mengerasimu supaya membayar dengan segera, bahkan orang itu akan memberi tempo yang lama, atau mengurungkan pembayarannya, dan atau menghapus hutang itu. Jika pembayaran itu tidak dikurangi atau tidak dihapuskannya di dunia ini, maka Allah akan memberikan ganjaran kepadamu di akhirat kelak sebagai ganti apa yang tidak diberikan-Nya kepadamu saat kamu memohon kepada-Nya di dunia, karena Allah itu Maha Pemurah dan tidak menghendaki balasan apa-apa.

Oleh karena itu, Allah tidak akan menyia-nyiakan permohonan orang yang memohon kepada-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak. Walau bagaimanapun, ia akan tetap mendapatkan apa yang dimohonnya. Jika tidak di dunia ini, maka di akhirat kelak ia akan mendapatkannya jua. Nabi SAW pernah mengatakan bahwa di hari perhitungan kelak, si mu’min akan melihat di dalam catatan-catatan perbuatannya beberapa perbuatan baik yang tidak ia laksanakan dan ia sendiri tidak menyadarinya. Ia akan ditanya, “Kenalkah kamu kepada perbuatan itu ?” ia menjawab, “Aku tidak tahu dari mana datangnya ini ?” Maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya ini adalah balasan doamu yang kamu lakukan di dunia dahulu, dan ini karena di dalam kamu berdoa kepada Allah itu kamu ingat kepada-Nya dan mengakui keesaan-Nya, meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya, memberi seseorang apa yang pantas diberikan kepadanya, tidak mengatakan bahwa daya dan upaya itu datang dari dirimu sendiri dan membuang kebanggaan dan kesombongan. Semua itu adalah perbuatan yang baik dan semua itu memiliki balasannya di sisi Allah Yang Maha Gagah lagi Maha Agung.”



AJARAN 67

Apabila kamu telah dapat membunuh dan mematikan dirimu, maka Allah akan menghidupkannya kembali, ia akan melawan lagi dan minta dipuaskan hawa nafsunya serta menikmati perkara-perkara yang haram dan yang diperbolehkan. Oleh karena itu, kamu masih perlu berjuang lagi dan mengawasi diri kamu itu. Dengan demikian, balasan akan dituliskan untukmu dalam setiap kali kamu berjuang. Inilah yang disabdakan oleh Nabi SAW, “Kita baru saja kembali dari jihad yang kecil (perang melawan orang-orang kafir) dan masuk kepada jihad yang besar (melawan hawa nafsu).”

Jihad besar ini ialah berjuang melawan hawa nafsu diri sendiri yang tiada putus-putusnya, berjuang melawan kehendak dan keinginan untuk melakukan dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksudkan oleh Allah di dalam firman-Nya, “… dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (QS 15:99)

Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya menyembah Dia saja. Ini memerlukan perlawanan terhadap ego atau diri beserta kehendak dan kemauannya yang selalu bertentangan dengan kehendak Allah. Demikianlah, perjuangan itu selalu ada sampai datang ajal.

Jika ada pertanyaan, “Bagaimana Nabi bisa kurang berkhidmat kepada Allah, sedangkan ia tidak mempunyai keinginan dan melulu hawa nafsu badaniah ? dan Allah berfirman, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53:3-4)”

Jawabannya ialah bahwa Allah menyatakan ini kepada Rasul-Nya dimaksudkan untuk mengiyakan atau menekankan perkara ini, agar menjadi ikutan bagi seluruh umatnya di sepanjang masa. Allah Yang Maha Agung memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya untuk mengontrol dirinya dan tidak bersusah payah lagi beliau melawan diri atau egonya sendiri, dan ini membedakan beliau dari para pengikutnya. Apabila si mu’min terus berjuang melawan dirinya sampai akhir hayatnya, maka Allah akan memberinya surga, sebagaimana firman-Nya ini, “Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS 79:41)

Apabila Allah telah memasukkan dia ke dalam surga itu, maka jadilah surga itu sebagai tempat beristirahatnya yang kekal dan abadi. Ia tidak akan dipindahkan ke tempat lain atau ke dunia lagi. Dari masa ke masa, semakin bertambah banyak dan baiklah karunia Allah yang diterimanya, ini juga kekal dan tidak ada putus-putusnya, sebagaimana ia berjuang melawan hawa nafsunya di dunia ini dengan tiada henti-hentinya.

Tetapi, orang-orang yang kafir dan munafik serta orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat, bila mereka berhenti melawan diri mereka sendiri dan keinginan mereka terhadap dunia ini, mereka mengikuti iblis dan setan, bercampur baur dengan berbagaik ekufuran dan syirik, dan bergelimang disa dan noda sampai nyawa mereka bercerai dengan badan mereka, tanpa masuk Islam dan bertobat, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang penuh dengan azab dan siksa, sebagaimana firman Allah, “Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS 2:24)

Allah menjadikan neraka sebagai tempat tinggal mereka. Di situ, kulit, tulang dan daging mereka akan dibakar hangus oleh api neraka. Kemudian, kulit, tulang dan daging mereka itu akan diganti dengan yang baru, yang akan dibakar lagi.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lainnya, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 4:56)

Allah berbuat demikian itu lantaran mereka telah bersatu dengan diri mereka sendiri dan dengan keinginan mereka terhadap dunia di dalam perkara berbuat dosa. Oleh karena itu, kulit dan daging mereka terus-menerus hangus terbakar, kemudian diganti dengan yang baru, setelah itu dibakar lagi dan diganti lagi dengan yang baru. Demikianlah, dengan tidak ada putus-putusnya. Mereka senantiasa berada dalam azab dan siksa yang pedih.

Sebaliknya, para penghuni surga senantiasa menikmati karunia Allah yang baru, terus berganti baru dan bertambah-tambah dengan tidak ada putus-putusnya. Dengan demikian, merekapun selalu bertambah syukur atas karunia Allah itu. Inilah balasan yang mereka dapati dari hasil perjuangannya yang tiada henti-hentinya di dunia dahulu, ketika mereka melawan kehendak dan keinginan hawa nafsu angkara murka mereka agar bersesuaian dengan kehendak Allah. Inilah apa yang disabdakan oleh Nabi besar Muhammad SAW yang maksudnya kurang lebih, “Dunia ini ialah ladang akhirat.”



AJARAN 68

Apabila Allah memperkenankan permohonan dan doa seorang hamba, maka ini tidak berarti bahwa simpanan Allah itu akan berkurang, karena Allah itu Maha Kaya; dan juga tidak semestinya Allah merasa terpaksa menerima permohonan hamba itu, seakan-akan Dia takluk kepada permohonan hamba itu. Sebenarnya, permohonan atau doa hamba itu sesuai dengan kehendak Allah dan juga sesuai dengan masanya. Sebenarnya, penerimaan doa itu telah tertulis dalam azalinya, dan hanya tinggal menunggu masa dikabulkan doa itu oleh Allah. Inilah apa yang dikatakan oleh orang-orang ‘arif di dalam menerangkan kalam Allah, “Setiap saat Dia dalam keadaan baru.”

Ini berarti bahwa Allah menerima permohonan hamba itu pada masa yang telah ditentukan-Nya. Allah telah menentukan masa dikabulkannya doa itu. Allah tidak akan memberi sesuatu kepada seseorang dalam dunia ini, kecuali dengan doa yang datang dari diri hamba itu sendiri. Begitu juga Allah tidak akan menolak sesuatu dari hamba itu, kecuali dengan doanya. Ada sabda Nabi yang menyatakan bahwa ketentuan takdir Illahi itu tidak akan terelakkan, kecuali dengan doa yang ditakdirkan Allah dapat menolak ketentuan takdir itu. Begitu juga, tidak ada orang yang akan masuk ke dalam surga hanya melalui perbuatan baiknya saja, melainkan dengan rahmat Allah juga. Walaupun demikian, hamba-hamba Allah itu akan diberi derajat di surga sesuai dengan amal perbuatannya.

Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Nabi, “Dapatkah seseorang itu memasuki surga hanya dengan melalui perbuatan baiknya saja ?” Nabi menjawab, “Tidak, kecuali dengan rahmat Allah.” Aisyah bertanya lagi, “Sekalipun engkau sendiri ?” Beliau menjawab, “Ya, sekalipun aku, kecuali jika Allah meliputi aku dengan rahmat-Nya.” Setelah bersabda demikian, beliau meletakkan tangannya di atas kepalanya.

Beliau berbuat demikian untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang berhak untuk melanggar ketentuan takdir Illahi, dan Allah itu tidak harus memperkenankan doa-doa hamba-hamba-Nya. Dia berbuat apa yang di kehendakinya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia menghukum siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia memiliki kekuasaan yang mutlak. Segala ketentuan kembali kepada-Nya. Allah tidak boleh ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi hamba itulah yang ditanya. Allah memberikan karunia-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada orang yang tidak dikehendaki-Nya juga. Segala apa yang berada di langit dan di bumi serta di antara keduanya adalah kepunyaan Allah belaka dan berada dalam kontrol-Nya. Tidak ada tuan-tuan yang memiliki semua itu, melainkan Allah saja. Dan tidak ada pencipta, melainkan Dia juga. Firman Allah, “Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah sesuatu pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan bumi ? Tidak ada Tuhan selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS 35:3). Firman-Nya lagi, “Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya ? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain) ? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).” (QS 27:63). Firman-Nya lagi, “Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS 19:65). Selanjutnya Allah berfirman, “Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan adalah (hari itu), satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir.” (QS 25:26)



AJARAN 69

Janganlah meminta kepada Allah SWT selain ampunan atas segala dosa yang telah lalu, perlindungan dari segala dosa yang sekarang dan dosa yang akan datang, kekuatan untuk ta’at kepada Allah, kekuatan untuk dapat melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, dapat rela dengan senang terhadap kesusahan dan ketentuan takdir-Nya, dapat sabar di dalam menghadapi malapetaka, dapat mensyukuri karunia-Nya, dapat mati di dalam keadaan iman dan baik serta dapat bersatu dengan golongan para Nabi, orang-orang besar, para syuhada dan orang-orang yang diridhai, karena inilah sebaik-baiknya rekan dan teman.

Janganlah kamu meminta kepada Allah perkara-perkara seperti dihindarkan dari kemiskinan dan kesusahan serta diberi kekayaan dan kesenangan. Tetapi, hendaklah kamu meminta rasa senang dengan apa yang telah ditentukan-Nya dan meminta perlindungan yang kekal untuk berada di dalam suasana dan keadaan yang telah ditentukan-Nya untukmu sampai kamu dipindahkan ke lain suasana dan keadaan atau ke lain keadaan yang berlawanan. Sebab, kamu tidak mengetahui letak kebaikan. Di dalam kayakah atau miskinkah ? Di dalam kesusahankah atau di dalam kesenangankah ? Allah merahasiakan pengetahuan tentang itu kepada kamu. Dia saja yang mengetahui baik buruknya sesuatu perkara.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata, “Keadaan yang aku lihat di pagi hari, tidak menjadi permasalahan bagiku, baik ia membawa apa yang aku sukai maupun tidak aku sukai, karena aku tidak tahu di mana letak kebaikan itu.”

Ia mengatakan itu, karena ia ridha dengan apa saja yang diperbuat Allah dan berpuas hati dengan ketentuan dan pilihan Allah untuknya. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216). Allah mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.

Tetaplah tinggal dalam keadaan ini sampai keinginan hawa nafsumu musnah dan dirimu hancur, hina, dapat dikuasai dan ditaklukkan. Setelah itu, tujuan, keinginanmu dan semua yang wujud akan keluar dari dalam hatimu dan tidak ada yang tinggal lagi di dalamnya, kecuali Allah saja. Ketika itu, hatimu akan dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah, dan niatmu untuk mencapai-Nya akan menjadi ikhlas. Setelah itu, dengan perintah-Nya, maka tujuan dan kehendakmu akan dikembalikan lagi kepadamu untuk menikmati dunia ini dan akhirat. Kemudian, semua ini akan kamu pinta dari Allah, dan kamu akan mencarinya di dalam kepatuhan kepada Allah dan bersesuaian dengan Allah SWT. Jika Dia memberikan karunia kepadamu, maka kamu bersyukur dan jika Dia menarik kembali karunia itu, maka kamu pun tidak berkecil hati dan tidak pula menyalahkan Allah. Jiwa dan pikiranmu akan tenang dan damai, karena kamu mencarinya bukan dengan keinginan dan hawa nafsumu, lantaran hati kamu telah kosong dari keinginan dan hawa nafsumu itu, dan kamu tidak melayani hasratmu terhadap perkara-perkara ini, tetapi kamu semata-mata hanya mengikuti perintah Allah saja melalui doamu kepada-Nya. Semoga ketentraman dan kedamaian dilimpahkan kepadamu.



AJARAN 70

Mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu sendiri, bangga dengan dirimu sendiri dan mengharapkan ganjaran sambil mengatakan bahwa semua ini adalah karena kekuatan yang dikaruniakan Allah kepadamu, pertolongan-Nya dan idzin-Nya ?

Jika kamu bisa mengelakkan dosa dan noda, maka hal itu adalah karena pertolongan dan perlindungan Allah. Mengapa pula kamu tidak bersyukur kepada Allah atas pertolongan dan perlindungan-Nya ? Dan mengapa pula kamu tidak menyadari bahwa kebiasaanmu menghindarkan dosa itu adalah karena karunia dan rahmat Allah ? Mengapa kamu bangga dengan sesuatu yang bukan kepunyaanmu sendiri ?

Apabila kamu tidak mampu membunuh musuhmu tanpa pertolongan orang yang lebih gagah daripada kamu yang dapat membunuh musuhmu itu, yang kamu hanya menyelesaikan pembunuhan itu saja dan yang jika tanpa pertolongan orang yang gagah itu kamu pasti kalah, maka mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu itu ?

Apabila kamu tidak dapat membelanjakan uangmu sendiri, kecuali jika ada seseorang yang pemurah, yang benar dan bisa diharapkan dapat menjaminmu dengan mengatakan bahwa seluruh uang yang kamu belanjakan itu akan digantinya, kamu baru berani membelanjakan uangmu itu, maka mengapa kamu merasa sombong dengan perbuatanmu itu ?

Cara yang baik bagimu ialah bersyukur dan memuji penolongmu itu, yaitu Allah SWT. Pujilah selalu Allah. Segala kejayaanmu itu adalah dari Allah jua. Janganlah kamu mengatakan bahwa kejayaan itu dari dirimu sendiri, kecuali perkara dosa dan maksiat. Perkara dosa dan maksiat ini hendaklah kamu katakan datang dari dirimu sendiri. Diri itulah yang patut kamu salahkan, karena di situlah terletak kesalahan dan kejahatan. Allah-lah yang menciptakan perbuatan dan tingkah lakumu itu, sedangkan kamu hanya tinggal menjalankan saja. Itulah sebabnya, ada orang-orang yang bijak di dalam ilmu ketuhanan berkata, “Perbuatan itu akan datang dan kamu tidak akan dapat lari darinya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda tentang hal ini, “Perbuatlah perbuatan yang baik, dekatilah Allah dan perbaikilah dirimu. Sebab, setiap orang itu dimudahkan untuk mendapatkan apa yang telah diciptakan untuknya.”



AJARAN 71

Kamu termasuk dalam salah satu dari dua perkara ini, pencari atau yang dicari.

Jika kamu menjadi murid, maka kamu adalah pencari. Tetapi, jika kamu seorang guru, maka kamu adalah orang yang dicari.

Jika kamu menjadi pencari, yaitu murid, maka kamu akan menanggung beban yang berat dan memayahkan. Kamu akan terpaksa bekerja keras untuk mencapai tujuan yang kamu idamkan itu. Tidak pantas kamu lari dari kesusahan yang menimpa dirimu, yang berupa kesusahan hidup, harta benda, keluarga dan sanak saudaramu. Pada akhirnya, beban yang kamu tanggung itupun akan diringankan juga dan diambil dari kamu serta kesusahan itu akan dibuang dari kamu. Kemudian, kamu akan diberi keselamatan dan kesentosaan serta akan dilepaskan dari dosa dan maksiat dan dari kebergantungan kepada mahluk. Kamu akan masuk ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang dikasihi dan dipelihara-Nya.

Sedangkan jika kamu menjadi seorang yang dicari, yaitu guru, maka janganlah kamu menyalahkan Allah manakala Allah menimpakan kesusahan kepadamu, dan jangan pula kamu meragukan kedudukanmu di sisi Allah, karena Allah hendak mengujimu supaya kedudukanmu ditinggikan di sisi-Nya. Allah hendak menaikkan kedudukanmu ke tingkat yang mulia dan tingkat Abdal.

Apakah kamu ingin kedudukanmu direndahkan dari tingkat yang mulia dan tingkat Abdal ? Ataukah kamu ingin memakai pakaian yang lain selain pakaian mereka ?

Sekalipun kamu rela dengan kedudukanmu yang rendah itu, tetapi Allah tidak rela. Allah berfirman, “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:232)

Allah hendak meninggikan, memuliakan dan membaikkan kamu, tetapi mengapa kamu tidak mau menerimanya ?

Mungkin kamu bertanya, mengapa hamba yang sempurna itu diuji, padahal menurut sepengetahuan kamu bahwa ujian itu ialah untuk orang yang mencintai Allah, yaitu orang yang dikasihi oleh Allah dan dicintai-Nya ?

Jawaban kami: Dahulu, kami telah mengatakan aturannya dan kemudian kemungkinan perkecualiannya. Nabi besar Muhammad SAW adalah orang yang paling dicintai Allah, tetapi beliaupun mendapat ujian yang paling berat. Beliau pernah bersabda, “Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah, sehingga tidak ada orang yang lebih takut kepada Allah daripada aku. Aku mendapatkan penderitaan yang paling hebat, sehingga tidak ada orang yang penderitaannya sama dengan penderitaanku. Pernah selama tigapuluh hari tigapuluh malam aku tidak mendapatkan makanan walau hanya sebesar yang dapat disembunyikan di bawah ketiak bilal.”

Sabda Nabi lagi, “Sesungguhnya kami dari golongan para Nabi adalah orang-orang yang paling berat diuji, kemudian orang-orang yang berada di bawah peringkat kami, kemudian orang-orang yang berada di bawah itu, dan begitulah seterusnya.”

Sabdanya lagi, “Akulah orang yang paling baik di sisi Allah dan paling takut kepada-Nya daripada kamu sekalian.”

Bagaimana bisa terjadi orang yang dicintai Allah itu diuji dan ditakutkan, padahal ia adalah hamba yang dicintai dan sempurna ? Sebenarnya ujian itu bertujuan meninggikan derajat mereka di akhirat kelak, karena derajat kehidupan akhirat itu tidak akan ditinggikan kecuali melalui amal saleh di dalam kehidupan dunia ini.

Dunia ini adalah ladang akhirat. Amal saleh para Nabi dan wali, setelah melakukan perintah dan meninggalkan larangan, adalah terdiri atas kesabaran, rela dengan suka hati dan menyesuaikan diri dengan ujian. Setelah itu, ujian itu akan dihindarkan dari mereka, dan mereka akan mendapatkan karunia, keridhaan dan kasih sayang Allah sampai mereka menemui Allah SWT.



AJARAN 72

Orang-orang yang beragama Islam yang pergi ke pasar dengan mematuhi kehendak agama, melakukan perintah Allah seperti pergi melakukan shalat Jum’at atau upacara-upacara keagamaan lainnya atau untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, terdiri atas pelbagai jenis.

Ada sebagian mereka yang apabila pergi ke pasar itu melihat barang-barang yang dijual di situ untuk mengisi perut dan memuaskan seleranya, terpengaruh oleh barang-barang itu dan hati mereka terikat dengannya, sehingga mereka masuk ke dalam suatu ujian. Hal ini mungkin dapat menjatuhkan dirinya dan merobohkan agamanya, lalu ia dipengaruhi oleh hawa nafsu kebinatangan, kecuali jika Allah memelihara mereka dengan rahmat-Nya dan perlindungan-Nya serta memberi mereka kesabaran dan kekuatan untuk menghadapi tarikan hawa nafsu itu. Hanya dengan pertolongan Allah sajalah mereka dapat selamat.

Ada pula sebagian mereka yang apabila telah menyadari bahwa mereka itu hampir tergelincir masuk ke lembah kemurkaan Allah, mereka lekas kembali masuk ke pangkuan agama dan mengontrol diri mereka agar tidak terjerumus. Mereka ini ibarat pahlawan yang menegakkan agama dan ditolong oleh Allah untuk mengontrol diri mereka agar tidak dijajah oleh hawa nafsu yang rendah itu. Allah akan memberikan ganjaran kepada mereka di akhirat kelak.

Nabi pernah bersabda, “Tujuhpuluh perbuatan baik akan dicatatkan untuk orang mu’min, apabila ia membuang kehendak hawa nafsunya ketika ia dikuasai oleh hawa nafsu itu atau apabila ia dapat menguasainya.”

Beliau bersabda pula, “Dan sebagian dari mereka ada yang mendapatkan kenikmatan ini, yang berupa kekayaan harta benda dunia, dan menggunakannya dengan karunia dan kehendak Allah, dan mereka bersyukur kepada Allah karena mendapatkan karunia itu.”

Ada pula di antara mereka yang tidak melihat atau tidak menyadari kenikmatan yang ada di pasar. Mereka buta terhadap selain Allah. Mereka hanya mengetahui Allah saja. Mata mereka buta terhadap yang lain dan telinga mereka pun tuli terhadap yang lain. Mereka sibuk dengan Allah, sehingga mereka lupa kepada yang lain. Mereka ini jauh dari dunia dan kesibukannya. Apabila kamu bertanya kepada orang semacam ini di pasar tentang apa yang mereka lihat, maka orang ini akan menjawab, “Kami tidak melihat apa-apa.” Memang mereka melihat barang-barang di pasar dengan mata kepala mereka, tetapi mereka tidak melihatnya dengan mata batin mereka. Mereka hanya melulu melihat, mereka tidak melihatnya dengan keinginan hawa nafsu yang rendah. Pandangan itu jatuh kepada rupa lahirnya saja dan bukan pada hakekatnya. Pandangan itu adalah lahiriah dan bukan batiniah. Pada lahirnya, memang mereka melihat barang-barang dan benda-benda itu di pasar, tetapi di dalam mata hati mereka, apa yang mereka lihat hanyalah Allah. Kadang-kadang tampak dengan sifat keagungan-Nya (Jalal) dan kadang-kadang pula tampak dengan sifat kelemah-lembutan-Nya dan keindahan-Nya (Jamal).

Ada pula di antara mereka yang apabila masuk ke pasar, hati mereka penuh dengan Allah Yang Maha Agung lagi Maha Indah, mereka mengasihi orang-orang yang ada di situ. Oleh karena perasaan kasih sayang mereka ini, maka pandangan mereka tidak langsung tertumpu kepada barang-barang milik orang-orang pasar dan barang-barang yang ada di hadapan mereka. Sejak memasuki pasar sampai keluar lagi darinya, orang-orang ini tetap berada di dalam shalat atau hubungan dengan Allah, mereka memohon perlindungan Allah dan mendoakan penghuni pasar dengan rasa kasih sayang. Hati mereka memohon kepada Allah supaya penghuni pasar itu diberi kebajikan dan dijauhkan dari kedurjanaan. Mereka tiada henti-hentinya memuji Allah atas karunia dan nikmat yang dilimpahkan kepada mereka. Orang-orang semacam ini dijuluki pengawal kerohanian untuk suatu pasar, bandar dan hamba-hamba Allah. Bisa juga kamu menjuluki mereka sebagai orang-orang yang memiliki ilmu ma’rifat, para Abdal, orang-orang wara’, orang-orang yang mengetahui perkara nyata dan perkara ghaib, orang-orang yang dicintai Allah, tujuan terakhir dari Allah, khalifah Allah di atas muka bumi, duta Allah, orang-orang yang menjalankan kebaikan dan kenyataan yang manis, orang-orang yang mendapatkan bimbingan ke jalan yang lurus dan benar, dan pembimbing rohani. Inilah kekasih Allah. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hikmat-Nya kepada orang-orang semacam ini dan siapa saja yang menghadapkan wajahnya kepada Allah serta kepada mereka yang mencapai puncak ketinggian kerohanian.



AJARAN 73

Kadang Allah memberitahu para wali-Nya, tentang kesalahan-kesalahan dan kepalsuan orang, dan pernyataan-pernyataan palsunya tentang tindakan, kata, fikiran dan tujuannya. Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan agama-Nya. Kemarahan batiniah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh fikirannya. Bagaimana bisa senang, bila mempunyai penyakit dalam dan luar. Bagaimana bisa beriman akan keEsaan Tuhan, bila berkencederungan kesyirikan manusia dari-Nya dan bila masih berpihak kepada musuh, si setan yang terkutuk, dan si munafik yang kelak dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya? Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan pengakuannya sebagai shiddiq, keberasingannya dengan mereka yang telah meluruhkan diri ke dalam takdir, terluncur dari lidah sang wali.

Kadang dikeranakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Kadang kerana menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya; kadang kerana Kemaha kuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yang mendustakan para wali. Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan "bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memerhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yang asing bagi orang-orang yang berkedudukan?" Pengutukan semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah:

"Dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya" (QS. 2:219)

Wajib baginya berdiam diri dalam keadaan-keadaan semacam itu, tunduk dan berupaya mendapatkan keabsahan-Nya, tak berkeberatan terhadap kehendak-Nya dan wali-Nya yang mencerca pernyataan-pernyataan si palsu. Jika ia bersikap demikian, maka ia mampu mencabut akar-akar kekejian dari dirinya dan dipandang sebagai kembalinya dari kejahilian dan kebiadabannya. Hal itu bagai serangan atas nama sang wali, dan juga menguntungkan si pongah yang berada di tepi jurang kehancuran, kerana kepongahan dan ketakpatuhannya. Dan Allah menunjuki yang dikehendaki-Nya kepada jalan kebenaran.



AJARAN 74

Masalah pertama yang patut diperhatikan oleh orang yang berakal ialah keadaan dan suasana dirinya sendiri, setelah itu barulah ia melihat atau memperhatikan seluruh mahluk dan ciptaan. Dari semua itu, dapatlah diketahui di mana sumber semua itu dan siapa yang mencipta semua itu. Sebab, mahluk itu adalah tanda Al Khaliq (yang mencipta), tanda yang menunjukkan kekuasaan Yang Maha Gagah dan menunjukkan bahwa yang menciptakan itu tentu Maha Bijaksana. Adanya mahluk menunjukkan adanya Al Khaliq, karena semua mahluk itu ada lantaran Dia menciptakannya. Inilah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dalam ulasannya tentang firman Allah, “Dan Dia jadikan untukmu segala yang di langit dan di bumi.”

Diriwayatkan bahwa ulasan ayat tersebut ialah sebagai berikut :
Dalam setiap sesuatu itu ada satu sifat di antara sifat-sifat Allah dan dalam setiap nama itu terdapat satu tanda untuk salah satu diantara nama-nama-Nya. Dengan demikian, kamu pasti berada dalam salah satu di antara nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Batin-Nya melalui kuasa-Nya dan zhahir-Nya melalui kebijaksanaan-Nya. Dia tampak di dalam sifat-sifat-Nya dan terpelihara diri-Nya. Diri-Nya terpelihara di dalam sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat-Nya terpelihara di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Dia menampakkan ilmu-Nya melalui iradat-Nya dan Dia menyatakan iradat-Nya di dalam gerak-Nya. Dia menyembunyikan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya, dan menyatakan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya melalui iradat-Nya. Maka, Dia bersembunyi di dalam ghaib-Nya dan tampak di dalam kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Firman Allah, “… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 42:11)

Sesungguhnya banyak rahasia-rahasia ilmu kerohanian di dalam kenyataan ini yang tidak diketahui oleh orang-orang yang hatinya tidak mempunyai sinar kerohanian. Ibnu Abbas mendapatkan ilmu itu karena doa Nabi Muhammad SAW untuknya. Nabi mendoakannya, “Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarlah ia pengertian tentang Al Qur’an.”

Semoga Allah melimpahkan karunia seperti ini kepada kita semua dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang diberi rahmat oleh Allah di hari pembangkitan kelak.



AJARAN 75

Aku memberi nasehat kepada kamu agar kamu takut dan patuh kepada Allah. Turutilah hukum-hukum Allah dan bersihkanlah hatimu. Kontrollah dirimu, relalah dengan Tuhanmu, tolonglah orang miskin dan orang yang sedang dalam kesusahan, jagalah kesucian orang-orang kerohanian, berbuat baiklah kepada seluruh anggota masyarakat, nasehatilah para kaula muda, hindarilah permusuhan dengan rekan dan teman, janganlah suka menimbun harta benda, hindarkanlah dirimu dari berkawan dengan orang-orang yang bukan golongan yang menuju jalan kerohanian dan dari menolong mereka di dalam perkara dunia dan agama. Menurut agama, hakekat kemiskinan itu ialah kamu tidak lagi memerlukan apa-apa dari orang lain yang seperti kamu juga, sedangkan kekayaan ialah kamu berada melampaui garis keperluan mahluk seperti kamu juga. Tasauf bisa didapati bukan melalui permbicaraan atau percakapan, melainkan melalui lapar dahaga dan menjauhkan diri dari apa yang kamu sukai. Janganlah kamu menonjolkan kepandaianmu di hadapan darwisy, tapi hendaklah kamu bersikap lemah lembut. Karena, jika kamu menonjolkan kepandaianmu, maka dia tidak akan merasa senang. Dia akan senang jika kamu bersikap lemah lembut.

Tasauf itu berdasarkan delapan sifat (kualitas) :
1. Bermurah hati seperti Nabi Ibrahim
2. Menyerah dengan suka rela seperti Nabi Ishak
3. Bersabar seperti Nabi Ya’qub
4. Shalat seperti Nabi Zakaria
5. Miskin seperti Nabi Yahya
6. Memakai pakaian bulu seperti Nabi Musa
7. Mengembara seperti Nabi Isa
8. Beragama seperti Nabi Muhammad SAW



AJARAN 76

Aku nasehatkan kepadamu supaya kamu bergaul dengan orang kaya dengan sikap mulia dan bergaul dengan orang miskin dengan sikap sopan santun. Hendaklah kamu bersikap sopan santun dan ikhlas. Keikhlasan itu membawa kepada pandangan yang kekal terhadap Allah. Janganlah kamu menyalahkan Allah di dalam masalah keduniaan. Rendahkanlah diri di hadapan-Nya. Janganlah kamu merusak hak saudaramu. Bergaullah dengan darwisy dengan sopan santun dan berakhlak baik serta ‘bunuh’-lah diri kamu, sehingga kamu hidup kembali di dalam alam kerohanian. Orang-orang yang dekat kepada Allah itulah yang baik kelakuannya. Yang penting ialah kamu harus menjauhkan diri dari mempersekutukan sesuatu dengan Allah Yang Maha Esa. Teruslah bergaul bersama manusia dengan berpegang kepada kebenaran dan kesabaran. Dan cukuplah kamu bergaul dengan darwisy dan berkhidmat kepada para wali.

Darwisy ialah orang yang tidak mempedulikan apa-apa selain Allah. Kamu menyerang orang yang lebih lemah daripada kamu menunjukkan bahwa kamu adalah orang pengecut. Sedangkan kamu menyerang orang yang lebih kuat daripada kamu itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang tidak tahu malu. Dan adapun jika kamu menyerang orang yang kekuatannya sepadan dengan kamu, maka itu menunjukkan bahwa kamu tidak berkelakuan baik. Untuk mengikuti kehidupan orang darwisy dan sufi, diperlukan suatu upaya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita.

Wahai wali Allah, kamu selalu mengikuti Allah di dalam semua keadaan, karena dengan itu kamu mendapatkan segala kebaikan, dan kamu juga terus melaksanakan perintah Allah, karena dengan demikian kamu terhindar dari perkara-perkara yang merusakkan diri kamu. Adalah juga termasuk tugas kamu untuk senantiasa bersedia menghadapi takdir Allah, karena ketentuan Allah itu pasti akan datang.

Ketahuilah, bahwa kamu akan ditanya tentang gerak dan diam kamu. Oleh karena itu, hendaklah kamu senantiasa berada dalam keadaan yang sesuai untuk sesuatu masa, dan janganlah kamu melakukan apa yang tidak memberi faidah kepada kamu. Patuhilah Allah, Rasul-Nya dan mereka yang memerintah sebagai ganti para Nabi. Hendaklah kamu memberi kepada mereka, jangan hanya meminta kepada mereka, dan doakanlah mereka. Ingatlah kepada saudara-saudaramu seagama (Islam), berniat baiklah dan berbuat baiklah kepada mereka. Janganlah memusuhi kaum muslimin dan muslimat, dan jangan pula hatimu dengki kepada mereka.

Kamu perlu mendoakan mereka yang berbuat dholim kepada kamu, dan takutlah kepada Allah. Adalah tugas kamu untuk hanya memakan barang-barang yang halal saja. Bertanyalah kepada orang-orang yang mengetahui ilmu Allah tentang apa yang tidak kamu ketahui. Tanamkanlah rasa sopan santun terhadap Allah dan senantiasalah berdampingan dengan-Nya. Dampingilah selain Allah sekedarnya saja, dan itupun ditujukan untuk berdampingan dengan Allah.

Sedekahkanlah uangmu setiap pagi. Lakukanlah shalat mayat pada malam hari untuk orang-orang islam yang meninggal dunia pada hari itu. Setelah selesai shalat Maghrib, lakukanlah shalat istikharah. Bacalah ayat di bawah ini setiap pagi dan petang sebanyak tujuh kali : “Allaahumma anjirnaa minannaar (Ya Allah, lindungilah kami dari api neraka)”. Bacalah selalu: “A’uu dzubillaahissamii’ul ‘aliimi minasysyaythoonirojiim (Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk”

Kemudian senantiasalah membaca Takbir dan akhirnya ditutup dengan ayat yang terdapat dalam surat Al Hasyr ayat 22 sampai 24, yang artinya “Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci. Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang membentuk Rupa. Yang mempunyai nama-nama yang paling baik. Apa saja yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 59:22-24)
Allah sajalah yang memberi kekuatan dan pertolongan, karena tidak ada kekuatan dan kekuasaan melainkan dengan Allah Yang Maha Besar lagi Maha Mulia.



AJARAN 77

Berdampinganlah dengan Allah, seolah-olah tidak ada yang lain lagi selain Dia. Berdampinganlah dengan mahluk, seakan-akan diri kamu itu tidak ada. Apabila kamu berada di sisi Allah, tanpa mahluk, maka kamu hanya mendapatkan Allah, sedangkan yang lain tidak ada. Apabila kamu berada beserta mahluk, tanpa diri kamu sendiri, maka hendaklah kamu menjadi orang yang adil dan menolong orang yang menuju jalan yang lurus dan menuju keselamatan dari kesusahan kehidupan.

Tinggalkanlah segala apa yang berada di luar pintu kamar tempatmu menyendiri, dan masuklah ke dalamnya seorang diri. Apabila kamu berada seorang diri di dalam kamar itu, maka kamu akan melihat temanmu di dalam batinmu, kamu akan mengalami sesuatu yang bukan mahluk, dan diri kamu akan lenyap dan sebagai gantinya datanglah perintah Allah dan kedekatan kepada-Nya. Di dalam peringkat ini, kejahilanmu akan menjadi pengetahuanmu, kejauhanmu akan menjadi kedekatanmu, diam kamu akan menjadi dzikir kepada Allah dan keadaanmu yang heran itu akan membuktikan persahabatan dengan Allah. Wahai saudaraku, pada peringkat ini tidak ada yang wujud kecuali Allah saja dan yang dijadikan-Nya. Jadi, jika kamu memaki Al Khaliq, maka katakanlah kepada yang lain, “Sesungguhnya mereka itu adalah musuhku, sedangkan Tuhan sekalian alam adalah sahabatku.”

Barangsiapa telah mengalami peringkat ini, maka ia akan mengetahui.

Beliau ditanya, “Bagaimana orang yang telah dikuasai oleh pahit empedu akan bisa merasakan rasa manis ?”

Beliau menjawab, “Ia harus berusaha menjauhkan kehendak dan keinginan hawa nafsunya. Wahai manusia, jika seorang mu’min membuat kebaikan, maka diri kebinatangannya itu akan berganti menjadi hatinya (ia akan menuruti perintah hatinya). Diri itupun mencapai kesadaran hati. Kemudian, hatinya bertukar menjadi rahasia. Rahasia itu juga berganti menjadi fana’. Keadaan fana’ itupun bertukar lalu menjadi suatu wujud yang lain.” Kemudian diperintahkannya agar kawan-kawan itu pergi melalui tiap-tiap pintu.

Wahai manusia, ketahuilah bahwa fana’ itu ialah mengesampingkan semua mahluk dan menukar keadaanmu menjadi keadaan malaikat, kemudian kembali kepada keadaan semula dan setelah itu Tuhanmu akan memelihara kamu sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Jika kamu menginginkan peringkat ini, maka gunakanlah Islam dan kemudian menyerahlah selalu kepada takdir Allah. Setelah itu, perolehlah ilmu Allah. Kemudian, sadarkanlah diri kamu sepenuhnya akan Allah dan berada dalam Allah. Jika kamu berada dalam wujud yang sedemikian itu, maka kamu akan menjadi kepunyaan Allah sepenuhnya. Bersikap wara’ itu ibarat kerja satu jam, bersikap sederhana di dalam segala hal itu ibarat kerja dua jam, sedangkan ma’rifat Allah itu ibarat kerja yang terus menerus.



AJARAN 78

Sekurang-kurangnya ada sepuluh sifat yang harus dimiliki oleh orang-orang yang berada dalam perjuangan kerohanian, yang sedang memeriksa diri sendiri dan yang berusaha mencapai tujuan kerohanian serta yang menginginkan kekal berada dalam keadaan itu. Apabila Allah telah mengizinkan mereka untuk tetap berada dalam keadaan itu dan berdiri teguh di dalamnya, maka mereka akan mendapatkan kedudukan yang tinggi.

Sifat pertama, hendaklah seorang hamba tidak bersumpah dengan menggunakan nama Allah, baik di dalam perkara yang benar maupun di dalam perkara yang salah, dan baik secara disengaja maupun tidak. Jika ia telah menyadari hal itu, yakni ia tidak bersumpah dengan menggunakan nama Allah, baik secara disengaja maupun tidak, maka Allah akan membukakan pintu cahaya-Nya baginya, ia akan menyadari faidahnya di dalam hatinya, pangkatnya di sisi Allah akan ditinggikan, kekuatan dan kesabarannya akan bertambah, sanak saudaranya akan memujinya dan tetangga-tetangganya akan memuliakan. Kemudian, orang yang kenal kepadanya akan menghormatinya dan orang yang melihatnya akan merasa gentar memandangnya.
Sifat kedua, hendaknya tidak berbuat bohong, baik berbohong yang sesungguhnya maupun hanya sekedar lelucon saja. Jika ia telah dapat membuang perbuatan yang tidak diinginkan itu dan telah menjadi satu dengan dirinya, maka Allah akan membukakan hatinya dan membersihkan ilmunya, sehingga seakan-akan ia tidak pernah berbohong dan apabila ia mendengar orang lain berbohong, maka hatinya akan merasa benci dan malu. Jika ia berdoa kepada Allah supaya Dia menghilangkan perbuatan bohong itu dari dirinya, maka Allah pun akan memperkenankan doanya itu.
Sifat ketiga, apabila berjanji, hendaklah tidak mengingkari janji itu, atau jangan berjanji sama sekali. Dengan tidak mengingkari janji atau tidak berjanji sama sekali itu, ia akan mendapatkan sumber kekuatan dirinya, dan inilah tindakan yang seimbang untuk diikuti. Sebab, pengingkaran janji itu termasuk ke dalam perbuatan bohong. Jika ia berbuat demikian, maka pintu kemuliaan akan dibukakan baginya, derajat ahlak yang tinggi akan diberikan kepadanya, orang-orang yang benar akan cinta kepadanya dan pangkatnya di sisi Allah akan ditinggikan.
Sifat keempat, hendaklah tidak mengutuk mahluk atau menyakiti mereka, walau ia sendiri disakiti. Karena sifat ini termasuk salah satu sifat yang baik dan termasuk kebajikan. Ini adalah suatu sifat yang benar. Jika seorang hamba bertindak berlandaskan pada sifat ini, maka ia akan berakhir dengan kehidupan yang baik di bawah lindungan Illahi, Allah akan menyediakan pangkat kerohanian yang tinggi untuknya, ia akan dipelihara dari jatuh ke lembah kebinasaan dan dari kejahatan manusia, dan Allah akan mengkaruniakan rahmat dan kedekatan kepada-Nya.
Sifat kelima, hendaknya tidak berdoa agar orang lain mendapatkan bahaya, walaupun orang itu memperlakukan dirinya dengan cara yang tidak baik. Janganlah membalas baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Bersabarlah dan serahkanlah kepada Allah. Janganlah menuntut bela, baik dengan perbuatan maupun dengan lisan. Orang yang dapat melakukan semua ini akan diberi kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Orang yang terlatih dengan cara seperti ini dan tetap menjalankan sifat ini akan mendapatkan kemuliaan di dunia ini dan di akhirat kelak, dan ia akan dicintai oleh orang-orang yang benar, baik yang dekat maupun yang jauh. Permohonannya akan diterima dan ia akan mendapatkan kemuliaan di hati orang-orang yang beriman.
Sifat keenam, janganlah seorang hamba itu mengatakan bahwa orang yang mengikuti kiblat yang sama, yaitu orang yang beragama Islam itu adalah musyrik, munafik atau kafir. Jika kamu tidak mengkafirkan, memunafikkan atau memusyrikkan seseorang, maka itu menunjukkan bahwa kamu mengikuti sunnah Nabi besar Muhammad SAW, menjauhkan diri kamu dari berbuat kekacauan dalam perkara yang hanya diketahui oleh Allah saja dan menjauhkan diri dari siksaan-Nya, serta Allah akan mendekatkan kamu kepada rahmat dan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, ini adalah pintu yang mulia untuk menuju Allah SWT. Yang mengkaruniakan sifat ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman sebagai balasan atas kasih sayangnya kepada semua orang.
Sifat ketujuh, hendaklah seorang hamba itu menghindarkan dirinya dari perkara dosa, baik secara lahir maupun secara batin, dan juga menjauhkan anggota badannya dari melakukan perbuatan dosa. Dengan demikian, hatinya dan juga seluruh anggota tubuhnya akan mendapatkan karunia Allah di dalam dunia ini dan karunia yang disediakan untuknya di akhirat kelak. Kita berharap semoga Allah memberikan sifat ini kepada kita dan membuang segala hawa nafsu keduniaan dari hati kita.
Sifat kedelapan, hendaklah seorang hamba itu tidak membebani seseorang, baik beban itu berat maupun ringan. Sebaliknya , hendaklah ia membuang beban yang ditanggung oleh seorang, baik itu meminta maupun tidak. Sebenarnya, sifat ini adalah sutau kemuliaan yang diberikan Allah kepada hamba itu dan sifat ini juga memberikan kekuatan kepadanya untuk menasehati orang lain supaya melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat. Ini adalah suatu kemuliaan bagi seorang hamba Allah. Hamba yang berada dalam peringkat ini akan memandang seluruh mahluk itu sama. Hati hamba yang berada dalam peringkat ini akan dijadikan oleh Allah tidak memerlukan apa-apa lagi. Hamba ini akan berpegang teguh dan menyerahkan kepada Allah saja. Allah tidak akan menaikkan derajat seseorang di sisi-Nya, jika ia masih terikat erat kepada kehendak hawa nafsunya. Menurut pandangan orang yang berada dalam peringkat ini, semua mahluk itu adalah sama dan mempunyai hak yang sama. Inilah pintu kemuliaan bagi orang mu’min dan orang-orang yang saleh, dan inilah pintu yang sangat dekat kepada keikhlasan.
Sifat kesembilan, hendaknya seorang hamba itu tidak mengharapkan pertolongan manusia dan juga hatinya tidak menginginkan mulia. Hamba ini tidak memerlukan apa-apa lagi. Inilah kebaikan yang besar keyakinan dan kebergantungan yang erat kepada Allah. Inilah salah satu di antara pintu-pintu tawakal kepada Allah yang menghantarkan seseorang untuk takut kepada-Nya. Ini menunjukkan kesempurnaan amal agamanya. Dan ini adalah tanda yang menunjukkan hubungannya yang langsung dengan Allah SWT.
Sifat kesepuluh, ialah merendahkan diri, yaitu tidak merasa bangga dan membesarkan diri. Dengan sifat ini, kedudukan seseorang akan ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah, ia akan disempurnakan di sisi Allah dan juga di sisi manusia. Ia diberi kekuasaan untuk mendapatkan kehendaknya dalam urusan keduniaan dan keakhiratan. Sifat ini merupakan akar dan ranting bagi batang kesempurnaan ketaatan kepada Allah dan ini juga merupakan penolong yang menaikkan seorang hamba ke posisi orang-orang saleh yang ridha dengan Allah di dalam kesusahan dan kesenangan. Dan inilah kesempurnaan wara’. Di dalam merendahkan diri itu, seorang hamba hanya melihat kelebihan orang lain dan ia berkata, “Barangkali, menurut pandangan Allah, orang itu lebih baik dan lebih kedudukannya daripada aku”. Jika orang itu adalah orang kecil, maka hamba itu berkata, “Orang ini tidak bersalah kepada Allah, sedangkan aku bersalah kepada-Nya. Oleh karena itu, sudah barang tentu ia lebih baik daripada aku”. Jika orang itu orang besar, maka ia berkata, “Orang ini telah menghambakan dirinya kepada Allah, sebelum aku berbuat demikian”. Jika hamba itu melihat seorang yang ‘alim, maka ia berkata, “Orang ini telah diberi apa yang tidak diberikan kepadaku, ia telah mendapatkan apa yang tidak aku dapatkan, ia mengetahui apa yang tidak aku ketahui dan ia bertindak menurut ilmu pengetahuan”. Jika orang itu orang jahil, maka hamba itu berkata, “Orang ini ingkar kepada Allah, karena ia jahil, sedangkan aku ingkar kepada-Nya, padahal aku berilmu. Aku tidak mengetahui bagaimana akhirnya aku dan bagaimana akhirnya orang itu”. Jika ia melihat orang kafir, maka ia berkata, “Aku tidak tahu, mungkin ia akan menjadi seorang muslim dan pada akhir hayatnya ia berada dalam kebaikan, sedangkan aku mungkin menjadi orang kafir dan berakhir di dalam kejahatan”.

Inilah pintu kasih sayang, pintu takut kepada Allah dan yang perlu kekal pada hamba-hamba Allah.

Oleh karena itu, apabila hamba Allah telah menjadi orang seperti digambarkan di atas, maka Allah akan memeliharanya dari marabahaya, derajatnya akan dinaikkan sebagai orang yang berdampingan dengan Allah SWT dan ia akan menjadi orang pilihan-Nya. Ia akan menjadi teman Allah dan musuh iblis. Di sinilah terdapat pintu rahmat. Di sinilah kebanggaan dan kesombongan diri akan hancur lebur. Rasa ketinggian diri di dalam hal keagamaan, keduniaan dan kerohanian akan hilang musnah. Inilah intisari penghambaan dan penyembahan kepada Allah. Tidak ada yang lebih baik daripada ini. Dengan tercapainya peringkat ini, maka lidahnya akan berhenti membicarakan hal-hal ahli dunia dan hal-hal yang sia-sia. Tidak ada kerjanya yang sempurna tanpa tangga ini. Rasa sombong, dengki dan melampaui batas akan hilang dari hatinya dalam semua keadaan. Perkataan dan tujuannya sesuai dengan apa yang terdapat dalam hatinya. Pendeknya, lahirnya sesuai dengan batinnya. Menurut pandangannya di dalam hal nasehat-menasehati, manusia ini semua manusia ini sama. Di dalam memberikan nasehatnya, ia tidak pernah membuat perumpamaan tentang kejahatan dengan diri seseorang dan tentang tindakan baik dengan dirinya sendiri atau ia membicarakan kejahatan orang lain, dan ia tidak suka mendengar kejahatan orang lain dijadikan perumpamaan, karena hal itu akan membahayakan hamba-hamba Allah, menyusahkan mereka dan membawa kerusakan kepada sifatnya, kecuali mereka yang ditolong Allah dengan rahmat-Nya untuk memelihara lidah dan hatinya agar selamat.



AJARAN 79

Ketika wali Allah ini (Syaikh Abdul Qadir Jailani) sakit yang membawa kematiannya, putranya yang bernama Syaikh Abdul Wahhab berkata kepadanya, “Berikanlah satu nasehat kepadaku sebelum ayah meninggal dunia untuk kujadikan pegangan.” Ia berkata kepada putranya, “Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu takut kepada selain Dia. Janganlah kamu berharap kepada siapapun selain kepada Dia saja, dan mintalah segala kebutuhanmu kepada-Nya. Janganlah kamu bergantung kepada siapaun selain kepada Dia saja dan tumpukanlah kepercayaanmu kepada-Nya saja. Bertauhidlah kepada-Nya. Semua orang setuju tentang hal ini”.

Lalu katanya lagi, “Apabila hati itu telah benar-benar bersatu dengan Allah, maka tidak ada lagi yang dirasakan tinggal di dalamnya kecuali Allah dan tidak ada yang datang kepadanya dari diri manusia”.

Sambungnya lagi, “Aku ini ibarat isi tanpa kulit”.

Selanjutnya ia berkata, “Orang lain datang berkunjung kepadaku. Berilah mereka ruang untuk duduk dan hormatilah mereka. Di sini ada manfaat yang besar. Janganlah kamu sesakkan tempat mereka itu”.

Terdengar juga ia berkata, “Selamatlah dan sejahteralah kamu berada di dalam rahmat dan kasih sayang-Nya. Semoga Allah melindungi aku dan kamu serta melimpahkan rahmat-Nya kepada aku dan kamu. Aku memulai sesuatu dengan nama Allah dengan tiada henti-hentinya”.

Sehari semalam, ia terus berkata, “Celakalah kamu ! Aku tidak takut kepada siapapun, sekalipun kepada malaikat maut. Wahai malaikat maut, bukanlah kamu yang aku takuti, melainkan Dia Yang menolongku dan Yang memberi karunia kepadaku”.

Kemudian, iapun diam. Ini terjadi pada malam hari kembalinya Syaikh ke rahmatullah. Aku diberi tahu oleh putra-putranya, Abdul Razaq dan Musa bahwa syaikh telah mengangkatkan tangannya lalu meluruskannya dan terdengar perkataannya, “Selamatlah dan sejahteralah kamu berada di dalam rahmat Allah. Bertobatlah dan masuklah ke dalam barisan-Nya. Tidak lama lagi aku akan datang kepada-Mu”.

Syaikh berkata, “Tunggu !”. Kemudian, iapun kembali ke rahmatullah.



AJARAN 80

Antara diriku dengan dirimu dan mahluk, hanya ada Dia saja, seperti antara langit dan bumi. Oleh karena itu, janganlah kamu samakan aku dengan sesuatu dari mereka dan janganlah kamu menyamakan sesuatu dari mereka dengan aku.

Kemudian, Abdul Aziz, putranya, bertanya kepadanya tentang sakit dan keadaannya. Ia berkata, “Janganlah ada seorangpun yang bertanya kepadaku. Aku sedang dibalik-balikkan di dalam ma’rifat Allah”.

Juga diriwayatkan bahwa Abdul Aziz bertanya kepada ayahnya tentang sakitnya. Berkenaan dengan hal ini, ayahnya menjawab, “Sesungguhnya tidak ada seorangpun, baik manusia maupun jin sekalipun malaikat, yang mengetahui penyakitku. Ilmu Allah tidak akan hilang dengan perintah Allah. Perintah itu akan berganti-ganti, sedangkan ilmu tidak akan pernah berganti. Perintah itu bisa dibatalkan, sedangkan ilmu tidak bisa. Allah menghilangkan dan mendatangkan apa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan-Nya adalah Al Qur’an. “Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya. Dan merekalah yang akan ditanya.” (QS 21:23)

Sifat-sifat itu, sebagaimana telah dikatakan, terus bergerak.

Kemudian tibalah masanya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika itu ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah dengan membaca: Tidak ada yang disembah kecuali Allah. Dia Maha Agung lagi Maha Tinggi, Yang Kekal Abadi selamanya, Yang tidak takut kepada kebinasaan. Segala puji bagi Allah Yang Menegakkan kekuasaan-Nya dengan kekuatan-Nya dan menguasai hamba-hamba-Nya dengan kematian. Tidak ada yang disembah kecuali Allah dan Muhammad itu adalah Rasulullah.”

Aku diberitahu oleh putranya yang bernama Musa bahwa ayahnya mengucapkan kata-kata ‘Ta’azzuz’ sambil lidahnya tidak dapat berkata dengan baik. Oleh karena itu, kata-katanya itu diucapkannya terus sampai ia bisa berkata dengan baik. Kemudian ia mengucapkan, “Allah, Allah, Allah”. Semakin lama suaranya semakin perlahan dan lidahnya melekat pada langit-langit mulutnya. Setelah itu, jiwanya yang mulia itupun berpisah dari badannya. Semoga Allah meridhainya. Semoga Allah mengkaruniakan kasih sayang-Nya kepada kita sekalian dan seluruh kaum Muslimin dan Muslimat. Dan semoga di akhir hayat nanti kita berada dalam keadaan iman, tanpa kita dihinakan-Nya dan diletakkan-Nya di dalam ujian. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Amin, amin, amin.