Senin, 04 Juni 2012
Menu Buang Stress
Banyak orang stress karena macam-macam latar belakangnya, mulai soal keluarga, soal harta, kedudukan, bahkan stress karena cara beragama yang keliru, dan stress karena merasa paling benar. Nah! Di Kafe Sufi sudah lama disediakan menu anti stress ini. Namun setiap orang yang antri, untuk mendapatkan menu ini selalu kehabisan, karena saking larisnya. Dulu ketika disediakan menu anti stress ini, banyak yang enggan datang, karena kalau datang antri nanti merasa malu, gengsi, dan takut kalau dikatakan orang stress. Aneh juga ya.
Ada paket hemat dan komplet anti stress. Ada juga paket minuman saja, ada juga makanan saja, bahkan ada juga yang sudah di ekstrak jadi kapsul.
Coba dibaca menu-menu yang ada dalam daftar makanan dan minuman yang tersedia:
Menu anti stress karena masalah ekonomi
Menu anti stress karena soal politik
Menu anti stress karena teror
Menu anti stress karena anak-anaknya nakal
Menu anti stress karena problem suami isteri
Menu anti stress putus cinta
Menu anti stress karena gejolak nafsu tidak tersalurkan.
Menu anti stress karena nafsu ibadah
Menu anti stress karena konflik dengan Tuhannya
Menu anti stress karena konflik dengan dirinya sendiri
Menu anti stress karena merasa serba salah
Menu anti stress karena merasa serba benar
Menu anti stress karena kegelisahan masa lalu dan ketakutan masa depan
Menu anti stress karena istidroj
Menu anti stress karena tidak tahu kalau dirinya stress
Menu anti stress karena trauma
Menu anti stress karena masalah beruntun
Menu anti stress karena siat-sifat buruknya sendiri Tapi uraian menu-menu ini rupanya akan dimuat edisi depan.
Menu Anti Stress Soal Politik & Teror
Menu Anti Stress karena Soal Politik
Anda stress karena ulah politisi atau karena ada seorang politisi jujur, atau anda tersingkirkan dari karir politik?
Coba racik garam istighfar, ditambah cabe lecutan dan cobaan, ditambah lagi dengan gula janji Allah di akhirat yang teramat manis tiada tara, dan masukkan dalam cobek besar kelapangan jiwa. Lembutkan semuanya dengan mengembalikan niat perjuangan suci anda menuju kepada Allah Swt, dan tercapainya keteraturan, ketentraman dan keadilan. Menu Anti Stress Karena Teror
Carilah buah-buahan dari ladang hati yang memandang besarnya kekuasaan Allah Swt. Siapkan madu dari lebah yang makan dari bunga-bunga kurma yang menjulang ke langit dan akarnya yang menghujam ke bumi.Lihatlah ke depan, dan pasrahkan ketakutan itu pada Allah Swt.
Minumlah madu itu dan makanlah buah-buahan itu, lalu sedikit garam dari lautan istighfar.
Mutiara Berserak Mutiara Sepuluh Kata-2
Ketika Yahya bin Mu’adz melihat seorang Fuqaha’ Yang gemar harta benda, ia berkata:
Wahai ahli ilmu dan ahli hadits
Istanamu laksana Kaisar Rum
Gedung-gedungmu seperti istana Raja Persia
Tempat tinggalmu bagaikan kediaman Karun
Pintu-pintu rumahmu (tinggi) bak pintu kaum Luth
Pakaianmu bagaikan jubah Raja Jaluth
Jalan Agamamu tak ubahnya jalan setan
Hasil karyamu sama halnya karya-karya Raja Marwan
Wilayah kekuasaanmu tak berbeda dengan Fir’aun
Hakim-hakimmu suka gegabah dan menerima suapan
Dan para Gubernurmu bodoh tak berpendidikan
Lantas mana yang sesuai dengan ajaran Rasulullah?
Seorang Filosuf mengatakan:
Allah murka atas sepuluh perilaku Yang melekat pada sepuluh pelaku
Sifat bakhil pada orang kaya
Sifat sombong pada orang tak punya
Sifat tamak pada orang berilmu
Sifat tak tahu malu pada perempuan
Sifat cinta harta pada orang tua
Sifat malas pada pemuda
Sifat aniaya pada penguasa
Sifat penakut pada perwira
Sifat ujub pada orang yang zuhud dunia
Dan sifat riya’ pada seorang hamba
Rasulullah Saw bersabda:
Ada sepuluh kesempurnaan Lima di dunia dan lima lagi di alam baka.
Lima hal yang di dunia adalah ilmu, ibadah, Rezeki halal, jiwa sabar dan syukur atas anugrah
Sedang lima hal dialam baka adalah
Dihampiri Pencabut Nyawa dengan ramah tamah
Didatangi Munkar Nakir tanpa gemuruh
Dilimpahi rasa aman saat pembacaan putusan
Dihapusnya kejahatan dan diterimanya kebajikan
Dan melewati shirath secepat kilat
kemudian masuk surga dengan selamat
Abu Fadhl mengatakan:
Allah menamakan Kitab-Nya dengan sepuluh nama:
Al-Qur’an, Al-Furqan, al-Kitab, at-Tanzil, al-Huda, an-Nur, ar-Rahmah, asy-Syifa’, ar-Ruh dan adz-Dzikr
Luqman al-Hakim menasihati putranya:
Jika ingin engkau peroleh hikmah Maka lakukanlah sepuluh langkah
Pertama, sulutlah pelita hati yang telah padam
Kedua, gaulilah mereka yang tak punya
Ketiga, jauhilah forum elit para raja
Keempat, agungkanlah pahlawan tanpa tanda jasa
Kelima, lindungilah para pengungsi yang merana
Keenam, merdekakanlah para hamba sahaya
Ketujuh, ulurkanlah tanganmu pada mereka yang nestapa
Kedelapan, muliakanlah orang-orang yang mulia
Kesembilan, hormatilah para junjungan massa
Dan kesepuluh, jagalah lidahmu saat bertutur kata
Itu semua lebih baik darimu dari harta benda
Untuk berlindung dari kecemasan
Untuk berbekal demi masa depan
Laksana niaga yang menguntungkan
Untuk bersiap diri menghadapi cobaan
Berbenah diri menghadapi kematian
dan ke alam baka dengan penuh keyakinan
Orang bijak berkata:
Jika orang-orang suci ingin bersuci
Dari debu-debu dosa yang menyelimuti
Hendaklah ia penuhi sepuluh piranti
Beristighfar dengan lisan
Disertai hati penuh penyesalan
Tinggalkan maksia seluruh anggota badan
Niati berhenti untuk selamanya
Tumbuhkan cinta pada alam baka
Menjaga diri dari gila harta
Tahan lapar dan nestapa
Tahan dahaga dan bertapa
Sedikit tidur dan tahan berjaga
Serta tak suka mengumbar kata
Anas bin Malik mengatakan Setiap hari bumi berseru: Wahai manusia!
Di atas punggungku kini engkau merajalela
Dalam perutku nanti engkau akan bermuara
Diatas punggungku kini engkau durhaka
Dalam perutku nanti engkau akan nikmati siksa
Diatas punggungku kini engkau bergelak tawa
Dalam perutku nanti engkau akan menangis penuh iba
Di atas punggungku kini engkau bersuka cita
Dalam perutku nanti engkau akan berduka lara
Di atas punggungku kini engkau menumpuk harta
Dalam perutku nanti engkau akan menyesali
Di atas punggungku kini engkau makan rezeki haram
Dalam perutku nanti engkau akan dimangsa cacing pita
Di atas punggungku kini engkau besar kepala
Dalam perutku nanti engkau akan hina dina
Di atas punggungku kini engkau berbangga diri
Dalam perutku nanti engkau akan berciut nyali
Di atas punggungku kini engkau mandi cahaya
Dalam perutku nanti engkau akan rasakan gelap gulita
Di atas punggungku kini engkau selalu ditemani
Dalam perutku nanti engkau kan terbaring seorang diri
Rasulullah Saw bersabda:
Banyak tertawa telah menjebak manusia
pada sepuluh konsekwensi
Pertama, padamnya pelita hati
Kedua, musnahnya air muka
Ketiga, membuat setan berbahagia
Keempat, memanggil murak Ilahi
Kelima, dipersulit hisabnya di hari Kiamat
Keenam, tidak diakui Rasulullah sebagai ummat
Ketujuh, didoakan laknat oleh malaikat
Kedelapan, dibenci penduduk bumi dan langit
Kesembilan, dihinggapi penyakit mudah lupa
Dan kesepuluh, dibuka aibnya saat itu juga
Mutiara Berserak Mutiara Sepuluh Kata-1
Ibnu Ibnu Hajar Al-Asqalani
Rasulullah Saw. bersabda:
Bersiwaklah, karena di dalamnya ada sepuluh keutamaan
Membersihkan mulut dari sisa makanan
Mendatangkan rahmat Tuhan
Mengundang amarah setan
Dicintai malaikat dan Tuhan
Memperkuat gusi
Mencegah hidung dari alergi
Menyehatkan empedu dan pencernaan
Menyembuhkam panas dari dalam badan
Menajamkan daya penglihatan
Dan menghilangkan bau mulut yang menjengkelkan
Abu Bakar r.a. mengatakan:
Apabila seseorang telah dianugrahi Sepuluh anugrah dari Ilahi Sungguh ia telah dilindungi Dari malapetaka yang menyelimuti Dan termasuk hamba yang dekat dengan Ilahi Serta memperoleh penghargaan “orang suci”
Pertama, kejujuran abadi disertai ketulusan hati
Kedua, kesabaran sempurna disertai rasa syukur sepanjang masa
Ketiga, kondisi fakir disertai sikap zuhud yang selalu hadir
Keempat, tafakur tentang makhluk disertai lapar yang mengetuk
Kelima, kegelisahan jiwa disertai ketakwaan pada Sang Esa
Keenam, kesungguhan hati disertai sifat rendah hati
Ketujuh, ramah tamah disertai sayang dan penuh kasih
Kedelapan, cinta sejati disertai upaya mawas diri
Kesembilan, ilmu manfaat disertai kemauan untuk berbuat
Kesepuluh, iman yang teguh disertai akal yang kukuh
Umar bin Khaththab r.a. mengatakan:
Akal akan binasa, tanpa usaha menjauhi dosa
Pekerjaan akan sia-sia tanpa didasari ilmu yang berguna
Kekuasaan akan sirna bila keadilan tidak tercipta
Jabatan tiada gunanyatanpa pekerti yang mulia
Kebahagiaan tiada artinya tanpa adanya hati yang rela
Kekayaan akan binasa apabila tak pernah diderma
Kefakiran akan nestapa tanpa adanya jiwa lapang dada
Kejayaan takkan tercipta tanpa rendah diri hati sang penguasa.
Perjuangan takkan lama tanpa upaya terus membina
Dan keuntungan tak akan seberapa tanpa didukung iman dan takwa
Utsman bin Affan r.a. berkata:
Sungguh sia-sia Orang alim yang tidak dimanfaatkan Ilmu yang tidak disosialisasikan Pemikiran benar yang dikesampingkan Pedang yang tidak dipergunakan Dan umur panjang yang disia-siakan
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
Sebaik-baik warisan adalah ilmu yang berguna
Sebaik-baik tindakan adalah akhlak yang mulia
Sebaik-baik bekal adalah takwa
Sebaik-baik dagangan adalah taat beragama
Sebaik-baik sahabat adalah perilaku utama
Sebaik-baik pendamping adalah sikap bijaksana
Sebaik-baik kekayaan adalah jiwa lapang dada
Sebaik-baik pertolongan adalah petunjuk yang sebenarnya
Dan sebaik-baik guru adalah kematian yang akan tiba
Rasulullah Saw. bersabda:
Sepuluh macam orang dari ummatku Mereka telah kafir namun merasa dirinya muslim
Ialah pembunuh muslim tanpa alasan
Ahli sihir, sebagaimana dikecam Al-Qur’an
Suami yang tak curiga terhadap istrinya
Orang yang enggan mengeluarkan zakat harta bendanya
Peminum minuman yang memabukkan
Orang yang telah wajib haji namun belum juga melaksanakannya
Penyebar fitnah dengan segala kebohongan
Penjual senjata pada pengacau keamanan
Menyetubuhi istri pada anusnya
Dan menikahi perempuan yang jelas mahramnya
Apabila mereka mengira Perbuatan-perbuatan tersebut diperbolehkan agama Maka sungguh kufurlah mereka.
Rasulullah Saw. bersabda pula:
Tidak dikatakan beriman, para makhluk Tuhan
Sehingga mereka saling berasih-asihan
Tidak dikatakan mereka berasih-asihan
Sehingga mereka menjalankan perintah Tuhan
Sehingga mereka menjadi ilmuwan
Tidak dikatakan mereka ilmuwan
Sehingga ilmunya benar-benar dipraktikan
Tidak dikatakan mereka mempraktikkan
Sehingga menjauhi cinta kebendaan
Tidak dikatakan menjauhi cinta kebendaan
Sehingga mereka dipenuhi sikap kehati-hatian
Tidak dikatakan penuh sikap kehati-hatian
Sehingga mereka rendah hati
TIdak dikatakan mereka rendah hati
Sehingga mereka memahami dirinya sendiri
Oh, Tuhan Segala Puji BagiMu
Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
“Allah Maha Mendengar orang yang memujiNya,” maka beliau langsung bersabda: “Ya Tuhan kami, dan hanya bagiMulah segala Puji.” (Hr. Bukhari dan Muslim)
Hadits mulia ini terdapat rahasia keserasian terhadap panggilan Allah Swt, yang datang melalui lisan hambaNya, dan hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki rasa jiwa dari kalangan pecintaNya.
Anak-anak sekalian! Wahid pernah ditanya, “Apakah hakikat cinta?” Ia menjawab, “Berselaras dengan Sang Kekasih.”
Nabi saw, berdoa: “Ya Allah berilah aku rizki mencintaiMu dan mencintai orang yang mencintaiMu, dan berilah aku rizki amal yang sampai bisa mencintaiMu, dan jadikanlah mencintaiMu itu sebagai sesuatu yang paling kucintai.”
Abu Bakr ash-Shiddiq ra, menandaskan, “Siapa yang merasakan ketulusan dari cinta kepada Allah, ia lari dari segala hal selainNya, dan meningalkan semua yang disenanginya demi Dia yang dicinta.”
Disebutkan, “Ancaman musuh bisa menggelisahkan, sedangkan ancaman sang kekasih bagai racun yang mematikan.”
Dzun Nuun al-Mishry ra, banyak membaca Al-Qur’an, dan dilanjutkan sibuk mendalami hadits, lalu dalam tidurnya mendengar syair berbunyi:
Bila dirimu merasa mencintaiKu
Tidak pula menghindari kitabKu
Tidakkah engkau merenung apa yang tersembunyi disana
Dari lembutnya cercaanKu?
Lalu beliau meninggalkan mendalami hadits dan konsantrasi pada membaca Al-Qur’an.
Diriwayatkan bahwa Allah Swt, memberi wahyu kepada Nabi Dawud as, “Janganlah engkau jadikan seorang alim yang tergoda oleh dunia dan isinya antara diriKu dengan dirimu, hingga dirimu terhalang menempuh jalan mencintaiK, mereka itu adalah para perompak jalan para hambaKu.”
Ragam Sirna
Disebutkan, “Asal cinta adalah pensirnaan, hanya saja cinta itu ada tiga tahap. Umum, Khusus dan Sangat Khusus.
Cinta umum, adalah sirnanya hati dari cinta pada dosa dan maksiat.
Cinta khusus, adalah sirnanya hati dari cinta dunia dan segala isinya.
Cinta sangat khusus, adalah sirnanya hati dari mencintai segala hal selain Allah Swt.
Yahya bin Mu’adz ra, mengatakan dalam munajatnya: “Ilahi…! Jika Engkau menyiksaku, berarti Engkau menyiksa orang yang mencintaiMu. Dan jika Engkau menghinaku, Engkau menghina orang yang mencintaiMu. Dan bila Engkau memuliakan diriku, Engkau memuliakan orang yang mencintaiMu.”
Dikisahkan, bahwa Abu Yazid ra, sedang bicara suatu hari dengan ucapan ahli pecinta Allah Swt. Datanglah burung yang terus mendekat padanya, hingga berada di depannya. Lalu burung itu mematuk ke tanah, sampai burung itu berdarah hingga akhirnya mati.”
Dikisahkan, seorang arif sedang menjumpai seorang dari kalangan pekerja keras. Orang itu sedang memukuli budak dengan kayu, sementara sang budak tetap tertawa di wajahnya.
“Hai! Kamu dipukuli tuanmu dengan cambuk, tapi kamu malah tertawa?” ditanyakan padanya.
“Karena saking manisnya mencintainya, hingga aku tidak menemukan pedihnya pukulan,” jawabnya.
Lalu sang arif berteriak menjerit sampai pingsan.
Yahya ra, mengatakan, “Tidak benar cintanya seseorang sepanjang ia tidak menjaga aturan-aturanNya, tidak menghargai kehormatanNya dan tidak mengenal anugerahNya.”
Dikisahkan sseorang sedang dating kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid ra, dan bertanya, “Kabari aku, apa amal yang paling mendekatkan kepada Allah Ta’ala, dan lebih agung keutamaannya?”
“Hendaknya engkau mencintai apa yang dicintai Allah,” kata Syeikh.
“Uraikanlah tentang sifatnya cinta.” Abdul Wahid malah menangis mendengar pertanyaan itu. “Apakah kamu mampu menanggung?”
“Masya Allah!” kata penanya.
Lalu beliau menguraikan sifat cinta dan hakikatnya. Lalu lelalki itu pingsan. Ketika sadar, ia bergumam, “Subhanallah! Siapa yang bias demikian itu? Adakah otrang istiqomah mewujudkan cinta?”
Maka Syeikh Abdul Wahid mengatakan, “Betapa banyak hati yang ingin sesuatu dari Kekasihnya, namun tidak meraih angin sepoi, juga tidak meraih kilatan yang menyambar, melainkan jika ia telah sampai pada Kekasihnya.”
“Apakah pecinta itu ada tandanya?”
“Sesungguhnya para raja itu ketika memasuki negeri, mereka menghancurkan semuanya. Begitu juga cinta, bila memasuki qalbu, seluruh nafsu akan hancur dan seluruh sifat naluri manusia di bawah kekuasaan cinta, lalu segalanya terbakar dengan apinya, selain Allah Swt.” Jawabnya.
Seorang sufi ditanya, “Bagaimana pecinta bisa seperti gila?”
“Karena mereka merasakan manisnya cintanya, dan mendengarkan suara-suara mengagumkan dari panggilan Kekasihnya, sampai akalnya terbang dan hatinya mabur menuju kepadaNya, lalu mereka menjadi terhanguskan.”
Duhai betapa jauhnya cinta? Manakah pilihan cinta? Manakah hakikat cinta? Siapakah yang berhak pada cinta? Sungguh, orang yang mencintaiNya tak pernah sabar sekejappun dari Kekasihnya.
Sang pecinta, di siang harinya terusir
Diantara para hamba ia terasing’
Mata hatinya sejuk disisi Sang Kekasih
Berharap bertemu sendiri tanpa siapa
Wahai betapa indah bahtera mereka
Ketika mereka menghadap Tuhan bersama Sang Nabi Muhammad.
Mutiara Berserak Mutiara Sepuluh Kata-4
Orang bijak mengatakan:
Kucari sepuluh tabiat pada sepuluh alamat Namun kesemuanya justru kutemukan di lain tempat
Kucari kehormatan pada kesombongan Namun justru kutemukan pada rendah diri Kucari pengabdian dalam shalat Namun justru kutemukan dalam mawas diri
Kucari kesejahteraan dalam harta Namun kutemukan pada hidup sederhana
Kucari cahaya hati pada shalat siang hari Namun kutemukan pada shalat malam hari
Kucari cahaya Kiamat dalam berderma Namun kutemukan pada laparnya puasa
Kucari cara melewati shirath dalam kurban Namun kutemukan pada sedekah
Kucari selamat dari neraka dalam hal-hal yang diperbolehkan Namun kutemukan dalam meninggalkan nafsu keinginan
Kucari cinta Allah dengan meninggalkan harta benda Namun kutemukan dengan banyak berdzikir kepada-Nya
Kucari ketenangan lewat diskusi-diskusi Namun kutemukan pada sikap menyendiri
Dan kucari pelita dalam nasihat Al-Qur’an Namun kutemukan dalam tafakkur dan tangisan
Ketika Allah berfirman:
“Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan perintah-perintah, maka ia pun menjalaninya”
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: Sepuluh perilaku terhitung Sunnah Lima dikepala dan lima lagi di dalam tubuh
Lima di kepala adalah:
bersiwak, berkumur, membersihkan hidung,mencukur kumis dan memotong rambut
Sedang lima di dalam tubuh adalah:
mencabuti bulu ketiak, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, berkhitan, dan bersuci dari buang hajat
Ibnu Abbas berkata:
Suatu saat Rasulullah bertanya pada iblis: Berapa kekasihmu diantara ummatku? Sepuluh, jawabnya
Satu, penguasa zalim dan aniaya
Dua, orang yang sombong dan keras kepala
Ketiga, orang kaya yang tak pernah perduli dari mana ia peroleh harta dan mana yang harus dizakatinya
Keempat, ilmuwan yang melegitimasi penguasa atas kedzaliman yang dilakukannya
Lima, pedagang yang curang transaksinya
Enam, para penimbun dagangan dan bahan makanan
Tujuh, para pezina
Delapan, penikmat harta riba
Sembilan, si bakhil yang enggan berderma
Sepuluh, pemabuk yang tak jera
Rasulullah Saw bertanya:
Dan berapakah musuhmu diantara ummatku? Dua puluh, jawabnya
Pertama-tama adalah engkau
Kemudian ilmuwan yang memanfaatkan ilmunya
Para huffadz al-qur’an yang menerapkan kandungannya
Muadzin shalat lima waktu yang ikhlas karena Allah Pecinta fakir miskin dan anak yatim
Orang-orang yang hatinya diliputi kasih sayang
Orang-orang yang patuh akan kebenaran
Pemuda yang sibuk taat perintah Tuhan
Orang-orang yang hanya makan rezeki yang halal
Dua pemuda yang saling mencinta karena Allah
Orang-orang yang melestarikan jama’ah
Orang yang rajin shalat malam
Orang yang menjaga dirinya dari haram
Orang yang tanpa pamrih menasihati kawan
Orang yang langgeng berwudhu, dalam kesucian
Orang-orang yang suka berderma
Orang-orang yang berakhlak mulia
Orang kaya yang menunaikan zakatnya
Penyantun fakir miskin dan janda-janda tua
Dan hamba Tuhan yang bersiap diri menuju kematian
Jangan Jual Agama Dengan Kekuasaan
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany (19 Ramadhan, tahun 545, H. di Pesantrennya)
Siapa yang rela pada akhirat, ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan sedikit ia mendapatkan banyak. Siapa rela dengan kerendahan, kemuliaan bakal tiba. Ridholah dengan ketakpunyaan hingga perkaranya berbalik pada anda dari kadar kerendahan dan rela dengannya, maka Allah Azza wa-Jalla menaikkan dirinya, Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya. Disanalah anda meraih tawadhu’ dan adab yang bagus mendekati anda. Sedangkan takabur dan su’ul adab menjauhi dirimu. Taat membuatmu baik dan mendekatimu, sedangkan maksiat menjauhi dan merusakmu.
Anak-anak sekalian…. Jangan engkau jual agama dengan buah tin. Jangan engkau jual agamamu dengan buah tin para penguasa, para raja dan orang-orang kaya serta dengan memakan barang haram. Jika kalian makan melalui agamamu, hatimu menghitam. Bagaimana tidak menghitam sedang anda menyembah makhluk?
Wahai yang terhina… Bila saja di hatimu ada cahaya, pasti anda memisahkan mana yang haram, syubhat, mubah dan antara yang hitam di hati, melalui cahayaNya, dan antara mana yang mendekat pada hatimu dan menjauh dari hatimu. Hai si bodoh, aku tidak tahu kecuali usaha dan tawakkal pada Allah Azza wa-Jalla. Meraih melalui usaha, di awal iman, kemudian meraih dari Allah Azza wa-Jalla setelah tersingkapnya merantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila hati kuat ia meraih dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk atas perintah Allah azza wa-Jalla.
Adapun arti ucapanku, “hilangnya perantara” adalah keterpakuan hati pada perantara dan kemusyrikan ketika menjalankan perintah Allah Azza wa-Jalla, tuli dari pujian, cacian, dan penerimaan serta penolakan mereka. Ketika diberi ia hanya melihat tindakan Allah azza wa-Jalla, begitu juga jika gagal. Kaum sufi itu harus bias tuli, bisu dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Tidak ada yang di sisi mereka kecuali Dialah Sang Penolong, Dia yang merendahkan, memberi, mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan memberi manfaat pada mereka.
Di sisi mereka hanya ada isi tanpa kulit, bening di atas bening, bagus di atas yang bagus. Semua makhluk keluar dari hati mereka. Tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa-Jalla. Hanya ada dzikir yang rahasia padaNya, bukan pada yang lian. Ya Allah limpahi kami rizki pengetahuan tentangMu.
Hati-hati, anda telah menyangka dan merasa mampu membuka dirimu. Kalau tidak ada hambatan hukum, pasti aku datangi anda dan aku cela hai si munafik. Jangan khawatir posisi utamamu bersamaku, karena aku tidak malu kecuali hanya kepada Allah Azza wa-Jalla, aku tidak malu kecuali pada hamba-hambaNya yang saleh.
Sang hamba ketika mengenal Allah Azza wa-Jalla, makhluk-makhluk berguguran dari hatinya sebagaimana gugurnya daun-daun kering dari pohon. Yang tersisa sudah tiada lagi makhluk secara total, hati dan batinnya buta dari pandangan pada mereka, tuli dari mendengar ucapan mereka. Bila jiwa telah tenteram, maka selamatlah dalam menjaga badan, kemudian hati pergi menuju Allah Azza wa-Jalla, mencari yang dari sisiNya, kemudian turun ke dunia, sehingga bisa mengatur nafsu yang tegak dengan kemaslahatannya. Inilah tindakan dan cipta Allah Azza wa-Jalla pada para penempuhNya, ketika dunia dating pada mereka untuk memenuhi bagiannya dalam rupa orang tua yang penuh uban nan buruk rupa, lalu memberikan bagiannya, lalu dunia menjadi pembantunya, dan tak mengambilnya kecuali mengambil bagiannya saja, dan sama sekali tidak menoleh padanya.
Anak-anak sekalian… Kosongkan hatimu hanya bagi Tuhanmu Azza wa-Jalla, dan sibukkan badanmu serta nafsumu untuk keluarga, lalu anda menjalankan perintahNya, bekerja untuk mereka dengan tindakanNya.
Diam di hadapan Allah Azza wa-Jalla, tidak bertanya padaNya dengan penuh sabar dan ridho lebih utama ketimbang berdoa, meminta dan memohon. Hapuskan ilmumu pada IlmuNya, serahkan pengaturanmu pada pengaturanNya, putuslah hasratmu bertambat pada hasratNya. Singkirkan akalmu ketika takdir dan ketentuanNya tiba. Lakukan itu semuanya bila anda menghendakiNya sebagai Tuhan, Penolong dan Tempat berserah diri.
Diamlah di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Kehendak dan cita orang beriman menyatu, hingga tidak memiliki lintasan sedikit pun kecuali lintasan yang datang dari Allah Azza wa-Jalla di hatinya. Ia mendekam di pintu TuhanNya Azza wa-Jalla. Bila ma’rifatnya mandiri, Allah membukakan pintu di hadapanNya, lalu dibalik itu, ia melihat sesuatu yang tak mampu diungkapkan dalam lintas hatinya dan isyarat, sebuah kalam yang tersembunyi dalam batin, senantiasa fana’ dari diri dan hawa nafsunya serta akhlak tercelanya, bahkan fana’ dari semua makhluk, dalam suasana penuh pemaafan, kebagusan dan kenikmatan. Dia menjadi objek dari tindakanNya seperti Ashabul Kahfi. Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)
Dengarkan ini hai anak-anakku, imanilah dan jangan engkau dustakan. Jangan sampai dirimu terhalang kebajikan dari berbagai arah.
Perwujudan Kehambaan (‘Ubudiyah)
"Jadilah dirimu bergantung pada Sifat-sifat Rububiyah, dan jadilah dirimu mewujudkan sifat-sifat 'ubudiyah"
Kebergantungan terhadap Sifat-sifat Rububiyahnya Allah swt, merupakan perwujudan kehambaan ('ubudiyah), sehingga sang hamba merasakan fana’nya diri dalam perwujudan kehambaannya. Sifat-sifat Rububiyah yang dijadikan gantungan hamba itu
adalah: Sifat Maha Cukup nan Kaya; Sifat Maha Mulia; Sifat Maha Kuasa dan Maha Kuat. Maka dengan Sifat-sifat Rububiyah tersebut, muncullah respon 'Ubidyah atau kehambaannya, yang menjadi kebalikan dari Sifat Rububiyah. Yaitu, sifat faqir, sebagai respon terhadap Maha Cukupnya Allah, sifat hina-dina, sebagai respon hamba terhadap Sifat Maha MuliaNya, dan sifat tak mampu hamba sebagai respon sifat Maha KuasaNya, serta sifat lemah hamba merupakan respon agar bergantung pada Maha KuatNya.
Dalam proses interaksi antara Ubudiyah dan Rububiyah tersebut, seorang hamba kadang-kadang mengalami dua situasi yang berbeda. Terkadang yang muncul adalah Sifat Maha Kaya dan Maha Cukupnya Allah dalam pandangan hamba, terkadang yang muncul adalah sifat fakirnya si hamba kepada Allah swt.
Apabila yang muncul adalah sifat fakirnya si hamba kepada Allah swt, maka sang hamba haruslah kembali untuk berselaras dengan adab
Pertama: Posisi dalam keleluasaan dan dan kemuliaan.
Kedua: Posisi adab dan pengagungan.
Rasulullah saw, pernah memberikan seribu sho' untuk menujukkan betapa Allah Maha Cukup nan Kaya, di satu sisi pun beliau mengikat batu di perutnya untuk menunjukkan sifat butuhnya kepada Allah swt. Pada kondisi pertama beliau menunjukkan betapa butuhnya manusia kepada Allah swt, dan kedua, untuk mendidik ummatnya.
Sepanjang manusia tidak memiliki rasa fakir, hina, tak berdaya, dan lemah, lalu dirinya merasa cukup, mulia, hebat, kuasa dan kuat, maka ia telah terhijab dari Sifat rububiyahnya Allah swt. Dan orang tersebut akan terlempar dari sifat kehambaanya, kemudian jadilah ego dan kesombongannya menguat.
Iblis dan Firaun adalah representasi "keakuan" paling fenomenal yang muncul kekuatannya dari kegelapan. Sifat "keakuan" yang sering dieksplorasi untuk pendidikan manusia modern, pendidikan yang menggiring manusia agar muncul dan eksistensial, sehingga lahir kekuatan-kekuatan adidaya manusia. Dan ketika kekuatan itu benar-benar muncul jadilah dirinya sebagai neo-Iblisian dan Firaunan.
Etika Berdo'a
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Janganlah pencarianmu (doa-doamu) sebagai sebab untuk diberi sesuatu dari Allah Swt, maka pemahamanmu kepadaNya menjadi sempit. Hendaknya pencarianmu (doa-doamu) semata untuk menampakkan wujud kehambaan dan menegakkan Hak-hak KetuhananNya.”
Pencarian merupakan arah yang menjadi sebab terwujudnya kehendak yang harus ada. Pencarian, usaha, doa, ikhtiar merupakan rangkaian sebab-sebab menuju apa yang ingin diraih. Termasuk disini adalah berdo’a
Umumnya orang berdoa agar terwujud apa yang diinginkan. Berikhtiar agar tercapai apa yang dicita-citakan. Padahal dimaksud Allah Swt memerintahkan kita berdoa dan berupaya, semata-mata agar eksistensi kehambaan kita yang serta fakir, serba hina, serba tak berdaya dan lemah muncul terus menerus di hadapanNya. Bukan, agar kita bisa mewujudkan apa yang kita kehendaki, karena hal demikian bisa memaksa Allah Swt menuruti kehendak kita.
Pemahaman yang sempit tentang Allah Swt, akan terus menerus berkutat pada sikap seakan-akan Allah-lah yang mengikuti selera kita, bukan kehendak kita ini akibat kehendakNya, perwujudan yang ada karena kehendakNya, bukan disebabkan oleh kemauan kita.
Ketika manusia berdoa seluruh kehinaan dirinya, kebutuhan dirinya dan kelemahannya serta ketakberdayaannya muncul. Itulah hikmah utama dibalik berdoa. Ketika kita berikhtiar, pada saat yang sama kita menyadari betapa tak berdayanya kita. Sebab kalau kita berdaya, pasti tidak perlu lagi ikhtiar dan berjuang.
Di sisi lain, kita dituntut untuk terus menerus menegakkan Hak-hak KetuhananNya, bahwa Allah berhak disembah, berhak dimohoni pertolongan, berhak dijadikan andalan dan gantungan, tempat penyerahan diri, berhak dipuji dan dipatuhi, berhak dengan segala sifat Rububiyahnya yang Maha Mencukupi, Maha Mulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat. Semua harus terus tegak di hadapan kita. Dan itu semua bisa terjadi manakala kehambaan kita hadir.
Ironi-ironi dalam ikhtiar dan doa kita sering terjadi. Kita lebih memposisikan sebagai “tuhan”, dengan banyak memerintah Tuhan agar menuruti kehendak kita, kemauan kita, proyeksi-proyeksi kita. Diam-diam kita menciptakan tuhan dan berhala dalam jiwa kita, agar dipatuhi oleh Allah Sang Pencipta. Inilah piciknya iman kita kepadaNya, yang sering memaksaNya sesuai dengan pilihan-pilihan kita, bukan pilihanNya.
Karena itu hakikatnya, menjalankan perintah doa itu lebih utama dibanding terwujudnya doa kita (ijabah). Ikhtiar kita hakikatnya lebih utama daripada hasil yang kita inginkan. Perjuangan kita hakikatnya lebih utama dibanding kemangan dan kesuksesannya. Ibadah lebih utama dibading balasan-balasanNya. Karena taat, doa, ikhtiar itu menjalankan perintahNya. Sedangkan balasan, ijabah, sukses, kemenangan, bukan urusan manusia dan tidak diperintah olehNya.
Banyak orang berdoa, beribadah, berikhtiar, tetapi bertambah stress dan gelisah. Itu semua disebabkan oleh niat dan cara pandangnya kepada Allah Swt yang sempit. Sehingga, bukan qalbunya yang menghadap Allah Swt, tetapi nafsunya.
Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily, ra berkata: “Janganlah bagian yang membuatmu senang ketika berdoa, adalah hajat-hajatmu terpenuhi, bukan kesenangan bermunajat kepada Tuhanmu. Hal demikian bisa menyebabkan anda termasuk orang yang terhijab.”
Bahwa kita ditakdirkan bisa bermunajat kepadaNya, seharusnya menjadi puncak kebahagiaan kita. Bukan pada tercapainya hajat kebutuhan kita. Kenapa kita bisa terhijab? Karena kita kehilangan Allah Swt, ketika berdoa, karena yang trampak adalah kebutuhan dan hajat kita, bukan Allah Tempat bermunajat kita.
Surat-Surat Sufi
Ibn ‘Abbad ar-Rundy Biografi Dan Surat-Surat Ibn ‘Abbad
Ibn ‘Abbad lahir pada 1332 di Ronda, sebuah kota puncak bukit di Spanyol, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan dinasti Mariniyah. Pada usia tujuh tahun, dia menghafal Al-Quran dan mulai mempelajari hukum Maliki yang dikodifikasikan oleh Ibn Abi Zayd dari Qayrawan (meninggal 996) dalam Risalah. Pada tahun 1340, Sultan Mariniyah, Abu Al-Hasan, menderita kekalahan di Spanyol dan terpaksa membatasi upaya militernya di sana. Meningkatnya penaklukan-kembali oleh orang-orang Kristen, membuat kehadiran kaum Muslim di Spanyol semakin sulit. Pada 1347, Ibn ‘Abbad pindah ke Fez, ibukota Maroko.
Sultan Abu Al-Hasan (1331-1348) berupaya menjadikan ibukotanya sebagal pusat utama ilmu dan kebudayaan. Dia melindungi seni, membantu kolese-kolese teologi baru, dan mengundang guru-guru ternama. Ayah Ibn ‘Abbad menjadi khatib di masjid Qashbah, sementara Ibn ‘Abbad melanjutkan kembali studinya di bidang agama. Mentor paling termasyhur Ibn ‘Abbad, Al-Syarif Al-Tilimsani (meninggal 1369), diakui secara luas sebagai pemimpin kebangkitan kembali Malikisme. Dia amat alim dalam ilmu prinsip-prinsip hukum (ushul) sehingga dianugerahi hak yang langka, yaitu berhak melakukan ijtihad. Tilimsani mengajar Ibn ‘Abbad, pertama di Tlemcen, dan kemudian ketika sang guru datang ke Fez atas undangan Sultan Abu ‘Inan.
Selama masa tinggal pertama di Fez, Ibn ‘Abbad mungkin tinggal di pondokan pelajar di kolese teologi tertua yang masih ada, yaitu madrasah Halfawiyin. Dan Al-Abili (meninggal 1356) dia mempelajari risalah teologi Asy’ariyah, Al-Irsyad, yang ditulis oleh Al-Juwayni (meninggal 1086), salah seorang guru Al-Ghazali, dan beberapa tulisan Ibn Al-Hajib (meninggal 1248) tentang hukum. Seperti Tilimsani, Al-Abili mendorong pembaruan hukum Maliki; dia mengkritik kekakuan mazhab-mazhab yang disponsori negara dan stagnasi yang dialami mazhab-mazhab itu.
Dengan diawasi Al-Maqqari (meninggal 1337), Ibn ‘Abbad membaca himpunan hadis Nabi karya Muslim dan juga karya-karya lain yang telah dipelajarinya sebelumnya dari Tilimsani. Dari Al-’Imrani (meninggal 1286) dia mempelajari himpunan hadis Malik ibn Anas (meninggal 795), Al-Muwaththa’. AI-‘Imrani adalah seorang faqih kenamaan yang disebut-sebut sangat tertarik kepada tasawuf. Seperti alim-alim Maliki lainnya, dia menulis beberapa ulasan tentang Al-Mudawwanah karya Sahnun (meninggal 854) — bagaimanapun juga karya paling berpengaruh di bidang fiqih Afrika Utara. Ikhtisar klasik Al-Baradzi’i (Qayrawan abad kesepuluh) tentang Mudawwanah merupakan sumber lain bagi pendidikan Ibn ‘Abbad, mungkin ketika dia tinggal di Madrasah Bou ‘Inaniyah yang baru selesai pembangunannya itu. Dalam Surat 6 dia memuji Abu Thalib Al-Makki, dengan mengatakan bahwa Qut AI-Qulub karya Abu Thalib itu amat penting bagi kehidupan spiritual, sebagaimana pentingnya Mudawwanah bagi fiqih: sempurna dan tak bisa digantikan oleh yang lain.
Dua alim lain Maliki perlu disebutkan di sini. Ibn ‘Abbad menulis Surat 16 untuk Abu Ishaq Ibrahim Al-Syathibi dari Granada (meninggal 1388). Muwafaqat karyanya merupakan sumbangsih utamanya pada suasana studi-studi keagamaan yang kiranya telah berkembang secara dramatis meskipun memiliki banyak sekali luka lama yang perlu disembuhkan. Akhirnya Ibn ‘Abbad menyebut-nyebut Ahmad Al-Qabbab (meninggal 1375), juga dalam Surat 16. Seperti Al-Abili, Al-Qabbab berupaya menyuntikkan kehidupan baru ke dalam studi-studi keagamaan yang terhuyung-huyung akibat pukulan keras yang dilancarkan Almuhadiyah terhadap studi-studi itu.
Ibn Khaldun mengatakan bahwa “kalangan ulama Maliki tidak pernah henti-hentinya menulis komentar, penjelasan, dan sinopsis tentang karya-karya utama ini.” Pendidikan yang diterima Ibn ‘Abbad di bangku sekolah tentang hukum agama itu luas, namun sangat tradisional dan agak kaku, dalam gaya Maroko. Nwiya menunjukkan tidak adanya secara menyolok-mata nama Fakhr Al-Din Al-Razi (meninggal 1209) dari sekian nama tokoh yang dibaca Ibn ‘Abbad. Sekitar tahun 1300 ada pemisahan antara gaya studi hukum yang dilakukan di Fez dan di Tunis. Tunis menjadi lebih spekulatif di bawah pengaruh Falchr Al-Din Al-Razi, yang, menurut M. Mahdi, “mempengaruhi persesuaian baru antara pengetahuan filsafat rasional dan studi-studi agama.” Sementara itu Fez tetap lebih konservatif di bawah pengaruh Ibn Al-Hajib. Meskipun dengan latar belakang studi-studi hukum tradisional yang luas, Ibn ‘Abbad menolak, dalam Surat-suratnya, untuk membahas langsung pertanyaan-pertanyaan tentang hukum dengan mengatakan bahwa dia kurang memiliki keahlian yang diperlukan untuk itu.
Barangkali Ibn ‘Abbad mengenal tasawuf lewatsalah seorang guru hukumnya, sebab banyak di antara mereka itu adalah sufi. Beberapa gurunya resmi berhubungan dengan tarikat-tarikat yang sudah diakui, tapi mereka mengajar tasawuf secara pribadi, dengan memakai karya-karya klasik Al-Maliki, AlGhazali, dan Suhrawardi.
Setelah meninggalnya Sultan Abu ‘Inan, pada tahun 1358 Fez rupanya mengalami suatu periode yang amat kacau. Terdapat tujuh belas sultan antara 1358 dan 1465, dan enam orang yang berusaha merebut kesultanan antara 1358 dan 1367. Tak lama setelah meninggalnya sultan, Ibn ‘Abbad pergi ke barat, ke Sale, kota di tepi laut Atlantik. Di sana Ibn ‘Asyir (sekitar 1300-1362) menjadi tokoh- poros dalam kebangkitan tasawuf di luar tarikat. Penziarah dan segenap penjuru Maroko datang mengunjungi syaikh ini untuk mendapatkan barakahnya. Ibn ‘Abbad terus menjadi murid terbaik syaikh ini. Dia banyak membaca tasawuf dan berbagai cabang setelah gayanya. Setidak-tidaknya dia memutuskan untuk mendukung Syadziliyah. Itulah informasi dan Ibn Al-Sakkak (meninggal 1451), penulis Maghribi pertama yang menulis dengan jelas tentang Syadziliyah. Dia pun mengatakan bahwa, ketika masih anak-anak, dia pernah bertemu Ibn ‘Abbad yang usianya jauh lebih tua dan sering makan bersamanya.
Ibn ‘Abbad pergi ke Sale untuk menghindari kondisi hidup yang sedang sekarat di Fez, dan untuk mencari keselamatan spiritual. Gurunya memandangnya “dalam kelas tersendiri.” Berkat kemandirian dan keinginannya untuk menempuh jalannya sendiri, sang murid tidak terkuasai oleh intensitas gurunya. Ibn ‘Asyir sangat halus perasaannya, karena terus-menerus berpuasa dan makan hanya dua hari sekali. Inilah praktik lama sufi yang disebut “Puasa Daud”, yang dimaksudkan untuk menjaga agar sang zahid tidak terbiasa dengan puasa atau rasa kenyang. Selaras dengan kecintaannya kepada tulisan-tulisan Al-Muhasibi, Ibn ‘Asyir menekankan praktik menguji hati nurani. Dia adalah sufi shahw yang tegar.
Pada sekitar 1362 atau 1363, setelah meninggalnya Ibn ‘Asyir, Ibn ‘Abbad meninggalkan Sale menuju Tangiers. Di sana dia berguru kepada sufi yang kurang begitu dikenal, Abu Marwan ‘Abd Al-Malik. Setelah tinggal di sana untuk waktu yang tidak diketahui, sang pencari muda ini kembali ke Fez. Selama berada-kembali di Fez, Ibn ‘Abbad berkenalan kembali dengan Yahya Al-Sarraj (sekitar 1344-sekitar 1400), pendiri cabang-Fez dari sebuah keluarga yang berakar di Ronda, dan penerima beberapa Surat ini. Ibn ‘Abbad juga menjadi sahabat karib Abu Al-Rabi’ Sulayman Al-Anfasi (sekitar 1377-1377). Atas permintaan kedua sahabat inilah dia menulis Tanbih, yang diselesaikan antara 1370-1372.
Ibn ‘Abbad kembali ke Sale pada tanggal yang tidak jelas, dan tinggal di sana sampai sekitar 1375. Kebanyakan, jika tidak semuanya, korespondensinya dilakukan sejak sebelum tahun itu. Sekitar 1375 dia diangkat menjadi Imam dan Khatib masjid Qayrawiyin di Fez, institusi agama dan ilmu tertua dan paling bergengsi di Afrika Utara. Sultan Abu Al-’Abbas Ahmad (pemerintahan pertama 1373-1384) rupanya melakukan pengangkatan itu berdasarkan reputasi Ibn ‘Abbad akan integritas pribadinya, dan kemasyhuran Tanbih-nya. Prospek pengambil-alihan pos khatib ketika khutbah telah turun derajatnya menjadi sedikit Iebih dari sekadar menyampaikan sesuatu secara hafalan tanpa pemikiran mendalam bagi banyak khatib, tentunya menimbulkan tantangan. Dengan merenungkan keadaan seni dalam salah satu Surat, terlihat dia mencatat lima jenis khatib yang menurutnya tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Sebagian hanya mengulang-ulang khutbah yang sama setiap Jumat; sebagian mengulangnya dengan sedikit variasi; sebagian berkhutbah tanpa mengaitkan pesan-pesan mereka dengan kebutuhan-kebutuhan yang berubah; sebagian memperhatikan kebutuhan-kebutuhan itu, namun tidak dapat mengaitkan pesan mereka secara efektif dengan kebutuhan-kebutuhan itu; dan sebagian juga kurang taat, dan semata-mata aktor-aktor yang berlagak. Khatib sejati adalah khatib yang memberikan nasihat dan mengajar orang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari mereka yang mendesak, dan mampu memadukan gaya penyampaiannya dengan tema yang telah dipilihnya. Ibn ‘Abbad lebih menyukai gaya didaktis ketimbang gaya nasihat atau peringatan, karena orang itu memerlukan peringatan, dia selalu menempatkan dirinya sebagai terikat kepada kewajiban yang diwajibkan pada audience nya.
Masih ada seratus dua puluh empat khutbah dalam sebuah manuskrip, yang telah dianalisis oleh Paul Nwiya. KhutbahJumat lazimnya terdiri atas dua bagian: Bagian pertama mengembangkan tema yang sesuai dengan keadaan, dan bagian kedua membahas topik baku, yaitu shalawat atas Nabi, para Shahabatnya, para istrinya, para penerusnya, dan umat Islam, dengan menyebutkan nama khalifah atau sultan umat Islam. Hanya satu di antara khutbah-khutbah Ibn ‘Abbad yang masih ada yang mengandung bagian kedua itu. Tapi bagian pembuka dari tiap-tiap bagian itu dimulai dengan doksologi (zikir), doa pendek untuk Nabi, dan Syahadat, yang semuanya diikuti oleh jamaah. Khutbah itu disampaikan sekitar dua puluh menit.
Frasa-frasa yang memukau, ritmis, pendek dan tepat, dimaksudkan untuk menandingi prosa-bersajak kitab suci. Karena doktrin dasar Islam itu sederhana, maka pembicara perlu mengandalkan keahlian berbahasa Arab, tanpa sekaligus membawakan sekadar suara yang indah namun tidak mengandung pengaruh personal dan tantangan moral. Ibn ‘Abbad suka menggugah-langsung hati nurani jamaahnya, dengan didukung oleh Al-Quran dan hadis, dan berupaya menanik perhatian melalui intonasi yang tepat. Dia mengaitkan tematemanya dengan keadaan: Selama bulan Ramadhan, dia berbicara tentang puasa, dan tentang perlunya terlebih dahulu menyucikan hati agar tindakan fisik ini memiliki makna spiritual. Selama bulan haji, yaitu bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam tahun Hijriah, dia menyerukan agar memeriksa keadaan hati nurani selama tahun-tahun yang lewat. Bila datang tahun baru, di bulan Muharram, dia menganjurkan agar bersedekah. Ibn ‘Abbad tidak memandang khutbah umum itu sebagai forum yang tepat untuk menyampaikan masalah-masalah tasawuf. Dia membahas masalah tasawuf dalam surat-surat pribadi yang berisi bimbingan spiritual.
Selama seperempat terakhir abad keempat belas, dinasti Mariniyah mengalami kemunduran. Kota besar Fez mengalami kesulitan politik besar dan lebih dan sekadar sedikit keresahan spiritual. Gambaran sosok Ibn ‘Abbad yang tinggal di rumah kecil di dekat masjid, yang menarik sederetan anak kecil berjalan di belakangnya ketika Ibn ‘Abbad berjalan menuju ke masjid, dan yang memperhatikan kebutuhan orang sedapat mungkin, merupakan gambaran tentang keyakinan dan harapan pada saat terjadi ketidakstabilan dan ketidakpastian. Menjelang akhir hayatnya, dia menulis kepada seorang sahabat Abu Al-’Abbas Al-Marrakusyi, bahwa dia merasa jenuh dengan Fez dan sudah lelah dengan kewajiban-kewajibannya, dan pasrah dengan kesehatannya yang memburuk serta sedang mempersiapkan diri menyongsong datangnya kematian. Nwiya mengatakan bahwa Ibn ‘Abbad tetap membujang sampai akhir hayatnya. Sebagian sumber mengatakan dia tidak pernah menikah. Kalau memang dia menikah pada akhir hayatnya, tentu dia melakukannya karena keinginan mengikuti contoh Nabi, bukannya karena dirinya lebih menyukainya. Dia tidak pernah pergi haji ke Makkah.
Pada l7 Juni 1390, Ibn ‘Abbad dimakamkan di hadapan sultan dan banyak penduduk Fez. Meskipun lokasi-lokasi makamnya tidak lagi diketahui, toh konon tetap menjadi tujuan penziarah selama bertahun-tahun. Sampai 1936, Serikat Sekerja Pembuat Sepatu mengadakan perayaan untuknya setiap tahun, sebab dia telah menjadi wali pelindung mereka.
Surat-surat Ibn ‘Abbad
Ibn ‘Abbad bukanlah sufi ternama pertama yang menggunakan surat-menyurat sebagai salah satu cara utamanya untuk berkomunikasi. Abu Nashr Al-Sarraj (meninggal 988) menyimpan bagian-bagian dari surat-surat yang ditulis oleh sejumlah sufi kenamaan kepada orang-orang yang amat ahli dijalan sufi. Karena sebagian besar surat-surat itu ditulis untuk sufi-sufi ulung, maka isinya cenderung agak esoteris dan terlalu sensitif bagi masyarakat awam. Sebagian surat itu ditulis untuk kelompok-kelompok sufi. A.H. Abdel-Kader telah menghimpun dan menerjemahkan beberapa surat Junayd, yang juga ditulis untuk sufi-sufi yang sudah mapan dalam kehidupan spiritual.
Dua sufi sangat terkenal lainnya menulis surat-surat yang berupa kategori kedua, surat-menyurat dengan pejabat-pejabat pemerintah. Dalam sebuah himpunan surat-surat Al-Ghazali, terlihat Al-Ghazali “menegur penguasa-penguasa Seljuq dan menteri-menteri mereka agar jangan membiarkan korupsi, nepotisme, pilih-kasih, kezaliman dan penyuapan terjadi, yang merupakan penyakit utama masyarakat pada masa itu.” Sufi Persia, Jalal Al-Din Rumi (meninggal 1273) membina hubungan surat-menyurat dengan beberapa penguasa lokal di ibukota Seljuq Turki di Konya. Sekitar seratus lima puluh surat Rumi masih ada, meskipun belum diterjemahkan ke bahasa Inggris.
Jenis-ketiga korespondensi sufi adalah antara guru dan murid. Paul Jackson, S.J., baru-baru ini telah menerjemahkan Seratus Surat sufi India, Syaraf Al-Din Maniri. Maniri menulis surat berbahasa Persia selama akhir abad ketigabelas dan awal abad keempatbelas. Bagian-bagian dari surat-surat Ibn Al-’Alif dan Al-Syadzili untuk murid-murid mereka masih ada. Seperti surat-surat Ibn ‘Abbad, surat-surat Ibn Al-’Arif dan Al-Syadzili itu juga bernada dan berkandungan non-esoteris dan pada umumnya praktis.
Yang khas dalam korespondensi Ibn ‘Abbad adalah, bahwa di sini kita mendapatkan dua koleksi-lengkap surat-surat yang masih utuh yang dimaksudkan untuk menerangkan pokok-pokok spiritualitas sufi kepada individu-individu yang sedang berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi. Dua koleksi ini mencakup lima puluh empat surat: tiga puluh delapan dalam “Koleksi Besar” (RK), dan enam belas dalam “Koleksi Kecil” (RS), yang diterjemahkan di sini. Semuanya disusun antara sekitar 1365 dan 1375 dari Sale untuk sahabat-sahabat di Fez. Nwiya juga telah menerbitkan beberapa surat yang ditulis setelah 1375, sebagai lampiran pada kedua edisi Koleksi Kecilnya. Dia mengatakan bahwa surat-surat itu merupakan sumber istimewa sedemikian, sehingga “memberikan pengetahuan tentang Ibn ‘Abbad, yang lebih sempurna dibanding pengetahuan kita tentang sufI lainnya.”
Tiga puluh delapan surat dalam Koleksi Besar barangkali ditulis selama dua atau dua setengah tahun, dan 1372 sampai 1374. Tiga puluh satu yang pertama ditujukan kepada Yahya Al-Sarraj. Kepada Yahya ini pula Ibn ‘Abbad menulis Surat 7 hingga 15 dalam terjemahan (buku tersaji di hadapan pembaca) ini. Terlihat jelas dan RK bahwa Yahya dan Ibn ‘Abbad memperkuat hubungan mereka, terutama selama Ibn ‘Abbad tinggal di Fez dari 1370 sampai 1372, sebab dalam sebuah surat dalam RS, Ibn ‘Abbad menunjukkan bahwa dia merasa tidak cukup kenal dengan korespondennya untuk membahas masalah-masalah tertentu yang sangat pribadi sifatnya. Surat-surat berikutnya dalam RK memberikan gambaran sangat berbeda tentang hubungan mereka, meskipun memberikan lebih banyak informasi tentang Yahya ketimbang Ibn ‘Abbad.
Dari surat-surat berikutnya itu, kita dapat mengetahui upaya Yahya untuk mencari nafkah, dan krisis hati nuraninya berkaitan dengan apakah dia dapat menekuni ilmu eksoteris, seperti ilmu hadis, dan tasawuf sekaligus. Di sana Ibn ‘Abbad menganjurkan agar Yahya mengesampingkan studi-studi hadis, karena dekadensi umum dan banyak orang yang menekum studi-studi seperti itu sudah sedemikian, sehingga Yahya hampir tidak dapat berharap akan memperoleh kebaikan dari studi-studi itu. Yahya cenderung ke solusi-solusi yang ekstrem, sehingga dia bahkan menjual kitab koleksi hadis Malik miiknya, Al-Muwaththa’. Dia kemudian menyesal telah menjualnya. Akhirnya, Yahya tidak dapat menghindar dari pesona studi-studi hadis. Dua tahun setelah meninggalnya Ibn ‘Abbad, dia menyusun sebuah ikhtisar tentang hadis-hadis yang telah disampaikan oleh Ibn ‘Abbad kepadanya.
RK Ibn ‘Abbad juga mengandung informasi tentang macam-macam masalah yang menjadi perhatian para ahli di dan di sekitar istana sultan. Tak diragukan lagi Ibn ‘Abbad secara pribadi tidak memakai spekulasi seperti itu, sekalipun demikian dia mencoba menanggapi masalah-masalah yang para korespondennya memintanya untuk memberikan penilaian bagi mereka. Paul Nwiya telah mengikhtisarkan beberapa masalah utama yang dibahas di sana.
Sebagian orang berdebat tentang apakah jiwa akan mengalami derita-mendalam ketika meninggalkan dunia ini dan ketika melewati alam barzakh, wilayah yang memisahkan dunia ini dari dunia ruh suci. Ibn ‘Abbad mengakui bahwa dia tidak memiiki jawaban yang jelas, namun dia menawarkan analogi dengan pendapat yang lazim dianut bahwa jiwa meninggalkan raga selama tidur. Karena jiwa tidak mengalami derita pada waktu tidur — penderitaan itu merupakan sesuatu yang berhubungan dengan raga — maka begitu pula keadaannya ketika jiwa meninggalkan raga dan melewati alam barzakh.
Sebagian lagi mempertanyakan apakah wali dapat bertemu atau meihat malaikat. Ibn ‘Abbad mengatakan bahwa ini mungkin, karena sebagian percaya bahwa melihat atau bertemu Allah pun mungkin saja terjadi. Selanjutnya, beberapa Sahabat Nabi melihat malaikat, meskipun mereka tidak melihatnya “dalam bentuknya yang asli”; dan karena semua Muslim juga mendapatkan barakah Nabi, seperti yang didapat para Sahabat itu, maka secara teori tentunya hak istimewa itu juga dimiiki semua Muslim. Dia menambahkan bahwa Abu Al-Hasan Al-Syadzili melihat malaikat dalam bentuk seekor burung putih besar, namun tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa ada wali yang pernah melihat malaikat dalam bentuk aslinya, sebab hanya para nabilah yang dapat melihat malaikat dalam bentuk aslinya.
Soal lain berkaitan dengan masyarakat Yahudi di Fez. Penguasa Almuhadiyah telah mencabut hak-memberi-suara dan orang Yahudi, namun penguasa Mariniyah mengembalikan banyak dari hak-hak mereka sebelumnya. Masyarakat Yahudi merupakan satu-satunya kaum non-Muslim di Fez, dan mereka memiliki kemerdekaan beragama, selama mereka mempraktikkan agama mereka secara pribadi. Sangatiah mungkin bahwa pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh kaum Yahudi yang telah masuk Islam: Apakah Muhammad itu lebih unggul daripada Musa sebagai nabi?Jawaban Ibn ‘Abbad adalah bahwa mengklaim Musa itu lebih unggul danipada Muhammad, itu berarti melakukan fitnah. Muhammad telah menyatakan dengan jelas bahwa dirinya itu lebih unggul, namun beliau tidak melakukannya semata-mata karena keinginan untuk memajukan jalan pribadinya. Menurut Ibn ‘Abbad, seandai nya Nabi Muhammad saw. demi mencari nama lalu membujuk kaum Yahudi di Madinah, tentu beliau akan mengatakan bahwa Musa adaiah pemimpin para Nabi. Bahwa beliau menyatakan dirinya itu iebih unggul, sekalipun mendapatkan tentangan keras, membuktikan kebenaran klaimnya. Nabi-nabi sebelumnya telah meramaikan bahwa seorang nabi yang iebih besar danpada mereka sendiri akan datang. Seorang Muslim yang mengatakan bahwa Musa lebih besar, berarti sama saja dengan mengakui bahwa Muhammad tidak memiliki misi untuk membawa orang non-Muslim ke dalam Islam, dan mengakui keunggulan Judaisme atas Islam. Akhirnya, Al-Quran menyatakan bahwa tidak semua nabi itu sama derajatnya; tapi karena ketidaksamaan derajat itu tidak berarti ketidaksempurnaan pada diri nabi, maka tidak ada gunanya terialu memuji Muhammad sedemikian, sampai-sampai merusak citra nabi-nabi lainnya.
Alim-alim Fez ini mengajukan banyak pertanyaan lain tentang status spiritual dan moral pribadi. Misalnya, mereka bertanya apakah orang miskin yang banyak menderita di dunia ini lebih unggul dibanding orang kaya yang bersikap masa bodoh di dunia ini. Mereka berdebat tentang apakah orang yang menyingkirkan segenap hartanya dan memberikannya kepada orang lain itu lebih baik dibanding orang yang memberikan hanya kelebihan dan hartanya. Dalam semua kasus seperti itu, prinsip pokok Ibn ‘Abbad kelihatannya begini:
Penampilan lahiriah kondisi seseorang itu tidak penting; yang menjadi persoalan adalah apakah orang itu benar-benar setia kepada kondisinya, apa pun yang akan terjadi.
Tujuh yang terakhir dalam RK ditujukan kepada orang yang tidak jeias identitasnya. Dua di antaranya penting, karena keiihatannya ditujukan kepada seseorang yang telah meninggalkan praktik agama. Dalam surat pertama di antara dua surat itu, nada penulisnya dapat dikatakan cukup lembut pada yang kedua, dia jauh lebih keras.
Nwiya menggambarkan enam belas surat dalam RS itu sebagai “risalah-risalah kecil tentang spiritualitas... dan bukan semata-mata surat-surat bersahabat yang kiasan-kisannya tak dapat dipahami karena hilangnya surat-surat yang mereka jawab, seperti yang terjadi pada Koleksi Besar.” Ibn ‘Abbad menggunakan superscription (kata-kata yang dituiis di atas atau di luar sesuatu, seperti alamat di amplop surat misalnya - penexj.) ringkas, dan ini menekankan bahwa surat-suratnya itu berkualitas seperti risalah. Enam surat pertama ditulis untuk Muhammad Ibn Adibah, seorang faqih yang rupanya tinggal di Fez setelah beremfgrasi dan Andalusia atau Tlemcen. Ibrahim Al-Syathibi (meninggal 1388), seorang faqih dan Granada yang terkenal dengan karyanya di bidang ushul (prinsip-prinsip hukum), menerima Surat 16, yang ditulis sekitar 1375 di Fez. Lima belas surat pertama dalam RS ditulis ketika Ibn ‘Abbad pertama tinggal di Sale, mungkin sebelum 1368. Telah saya sertakan dalam kepala tiap-tiap surat, nama si penerima surat, berdasarkan keterangan Nwiyajj.
Langganan:
Postingan (Atom)